Gimana ya rasanya punya empat kakak yang bad boy? Ditambah satu sahabat dari kecil yang sama bad boy nya?
Itu yang Clarissa rasakan. Awalnya gadis itu merasa senang, karena ia merasa terlindungi dengan adanya cowok-cowok itu. Tapi lama kelamaan ia merasa terkekang karena sifat protektif kakak dan sahabatnya itu. Apalagi saat Clarissa jatuh hati kepada seorang laki-laki yang awalnya adalah musuh bebuyutannya.
Akankah Clarissa diijinkan untuk merasakan manisnya jatuh cinta di masa putih abu-abu ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kdk_pingetania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback
Darrel Pov
4 tahun kemudian
Inilah gue sekarang, seorang suami dari seorang perempuan. Yakali laki-laki, lo kata gue homo?
Gue nggak nyangka sebenarnya, kalau ini bisa terjadi. Ini semua berkat William.
Flashback On
Setelah gue tahu kalau Rissa udah tunangan. Gue banyak berubah. Gue kembali seperti dulu. Gue kembali menjadi bad boy. Gue kembali membuat keributan.
"Lo kesini bukannya buat ketemu Clarissa?" tiba tiba suara laki laki masuk ketelinga gue.
"Siapa lo?" tanya gue saat melihat William.
"Udah lama kita gak ketemu," ujarnya, gue pun mendongak.
"Mau apa lo?"
"Kenapa lo nggak minta maaf ke Clarissa?" tanya William.
"Untuk apa?" tanya gue.
"Lo emang gak tau kalau lo itu salah?" tanya William.
"Untuk apa? Toh jugaan gue udah nggak punya kesempatan lagi,"
"Maksud lo?" ni orang pura pura **** atau **** beneran sih? Heran gue.
"Nggak usah sok **** deh lo!"
"Siapa yang sok **** sih?"
"Lo."
"Maksud lo apaan sih?" tanya William.
"Lo kan udah tunangan sama Rissa, jadi gue nggak boleh deketin tunangan orang kan? Jadi untuk apa gue minta maaf?" jelas gue panjang lebar.
"Hah!? Sejak kapan gue tunangan sama Sasa?" tanya William kaget.
"Jadi lo nggak tunangan sama dia?" tanya gue heran.
"Nggak," jawabnya.
"Terus, waktu itu Rissa bilang lo sama dia tunangan,"
"Ohh.., dia cuma asal nyeplos aja, soalnya lo nggak lepasin tangannya,"
"******, kenapa lo baru bilang?" gue langsung ninggalin William. Gue berjalan menuju taman, kali aja ada Rissa.
"Rissa!" gue memanggil Rissa yang sedang duduk di rumput.
"Apa?" tanyanya datar.
"Gue mau jelasin sesuatu sama lo," kata gue.
"Cepetan, waktu gue gak banyak,"
"Lo kan nggak tau kenapa penyebab gue pindah, jadi daripada lo mikir yang aneh-aneh tentang gue, mending gue jelasin," "Jadi gini, gue waktu itu di D.O gara gara mukulin orang di sekolah, dan bokap gue marah, makanya gue dikirim ke rumah nenek gue di Amerika," jelas gue.
"Oh ...," katanya ber'oh' ria.
"Kok cuma oh sih?" tanya gue kesal.
"Terus?" tanya Rissa.
"Au ah, sama satu lagi gue kesini mau ngomongin sesuatu,"
"Emangnya dari tadi kita ngapain?"
"Serius dong Ris," rengek gue.
"Ya, ya,"
"Mau nggak lo jadi pacar gue?" tanya gue.
"Nggaklah!" ceplosnya.
"Kok?" jantung kenapa engkau berdetak?
"Ya karena gue pinginnya langsung nikah," ceplosnya.
"Kapan? Sekarang aja yuk!" canda gue, hari itu pun menjadi hari terindah gue.
Flashback Off
"Papa kenapa senyum senyum?" tanya anak gue.
Jeandra Putri Bramasta. Anak pertama gue yang baru berumur empat tahun.
"Enggak kenapa napa kok," jawab gue.
"Ihh.., Papa gila ya? Mama, Papa udah gila, masukin rumah sakit jiwa aja," Jea berlari menghampiri Rissa yang baru datang.
"Masa sih sayang?" tanyanya sambil menggendong Jea.
"Iya Ma,"
Gue tertawa pelan melihat reaksi anak gue. “Nakal ya kamu ngeledekin papa mulu,” ujar gue sambil berjalan mendekati Jea. Tangan gue terarah ke pinggang Jea untuk menggelitikkannya.
“Hahaha ... papa geli,” ucap Jea sambil tertawa.
Clarissa ikut tertawa. Tatapannya kini tertuju ke arah gue. Gue balas menatap Clarissa. Clarissa masih secantik dulu. Kecantikannya tidak berkurang sekalipun, walaupun usianya bertambah. Gue bersyukur banget bisa dapetin Clarissa. Dan gue udah janji sama diri gue kalau gue nggak bakalan nyakitin dia lagi.