Panggil saja aku, Mheta. Ya, orang-orang lebih mengenalku dengan sebutan demikian. Walau sebenarnya, itu bukanlah nama pemberian dari kedua orang tuaku. Namun, entah mengapa aku lebih suka dipanggil dengan kata Mheta. Mungkin karena arti dari kata Mheta adalah sebuah keadilan dan keseimbangan. Jadi, aku ingin dikenal sebagai orang yang bisa berbuat adil kepada siapapun yang mengenalku. Walau sebenarnya, aku tak pernah berlaku adil terhadap diriku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Matahari tertutup mendung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK TENTANG PENGELANA
Tiga minggu setelah pertemuanku dengan Pengelana di stasiun Jogja, entah bagaimana kami tak saling menyapa. Kadang, diam-diam aku memandang namanya di kontak whatsapp, sambil membatin, “semoga kamu baik-baik saja.”
Lalu, semakin hari aku menyadari bahwa namanya semakin tenggelam ke bawah dari barisan pesan-pesan yang masuk.
Biasanya, aku melewati sabtu dan minggu dengan kabar-kabar perjalannya. Foto-foto pantai, potongan-potongan
senja, cerita hujan yang menjebaknya. Cangkir kopinya, kadang dia sekedar mengirim foto sepiring siomay atau pempek, meski tanpa kalimat apapun. Tapi, kini aku tidak lagi mendapatinya.
Tidak ada sama sekali.
Jadi, aku menghibur diri dengan melihat satu persatu foto yang pernah dikirim, yang telah kusimpan dalam folder
khusus yang kunamai atas namanya. Setiap gambar memutar moment-moment percakapan kami. Oh Tuhan, apakah aku terlalu berlebihan? Tetapi, memang itu yang aku lakukan.
Sudah hampir tiga minggu juga, dia tidak memosting apapun di akun media sosialnya. Bukan tidak pernah, karena
pernah beberapa kali dia mengunggah status. Namun, ketika aku mengomentari, postingannya langsung dihapus. Dia posting lagi, aku komentar lagi dan komentarku diabaikan. Aku lihat di IG nya, dia tidak mengunggah apa-apa. Jadi, aku hanya bisa memutar semua lagu yang pernah dikirmkannya padaku.
Kemudian, aku sampai pada kesimpulan, bahwa inilah perasaan kehilangan itu. Dia tidak boleh tahu, jika kau diam-diam mengecek semua media sosialnya. Dia tidak boleh tahu, kalau diam-diam…. Aku mencarinya. Aku bukan sedang merindukannya, kan? Aku hanya ingin tahu kabarnya. Iya hanya kabarnya saja.
“Allah…”
“Seminggu…”
“Tiga minggu… dan kenapa rasanya lama sekali? Apakah dia baik-baik saja? Apa aku masih boleh bicara dengannya? Masih bolehkah ya Rabb?”
Aku memejam mata sejenak. Dan saat membuka mata. Pandanganku jatuh pada buku harian di atas meja. Hanya buku tulis biasa. Berisi jadwal sehari-hari, target bulanan, deadline dan ide-ide kecil yang mendadak muncul.
Aku membukanya, dan baru menyadari bahwa sejak kenal Pengelana. Buku ini lebih banyak berisi puisi-puisi pendek. Aku biasa mencoret-coret di buku setelah bercakap-cakap dengannya, atau dari potongan-potongan gambar yand dikirim.
Puisi pertama tentangnya sudah kukirim padanya, dan di unggahnya dalam status di fb, lalu aku memberinya
emoticon bentuk senyum malaikat. Puisi yang kubuat sebelum dia masuk rumah sakit. Saat itu, kami membahas kenangan sepanjang siang. Kenangan dia tentu saja. Karena itulah aku menyebutnya seorang yang terbungkuk-bungkuk memanggul ingatan.
Waktu itu Pengelana bertanya padaku. Berapa saja buku yang aku habiskan dalam waktu satu bulan? Aku tertawa
saja, karena dalam sebulan aku memang bisa mengehabiskan banyak buku untuk kubaca.
Di lembar yang lain, aku juga menyalin kalimat Pengelana saat kami membahas kopi. Aku komentar tentang apa
enakanya minum kopi di gelas plastik bekas? Saat itu hari minggu tepatnya. Hampir jam delapan pagi. Lihatlah, bahkan jam percakapan kami saja, aku masih ingat.
‘Bagi penikmat kopi, sejatinya kopi itu tetap sama’
‘Hanya pikiran kita yang membuatnya berbeda’
‘Sebab rasa kopi ada pada pikiran, dan hati kita sendiri-sendiri.’
Pernah juga, aku dan Pengelana terlibat pedebatan panjang. Saat itu awalnya membahas kalau kami sedikit sama.
Aku selalu tertawa setiap membahasnya. Karena seolah-olah dia begitu tidak mau kami mempunyai persamaan yang banyak. Jadi, kutulis saja percakapan itu menjadi sebuah bait puisi.
Katamu…
Kita hanya sedikit sama?
Selalu kau tegaskan hanya sedikit…
Jadi, kau bilang aku tak boleh besar kepala…
Meski seringkali membacamu…
Seoalah aku sedang berhadapan dengan cermin kehidupan…
Bicara kepadamu…
Seolah bicara dengan sisi diriku yang lain…
Kau tahu?
Kenapa Tuhan memepertemukan kita?
Barangkali agar kita menjadi teman baik…
Dan kau tahu kenapa, aku memanggilmu teman baik?
Agar kita tak saling melukai…
Lihatlah, bahkan sejak awal pun aku seolah bersiap-siap perihal luka. Entah bagaimana aku bisa berfikir begitu.
Sekarang apa! Aku kan yang terluka? Tidak, aku tidak mau mengatakan bahwa aku terluka. Mungkin aku hanya pengecut. Takut pada lara. Takut pada ketiadaaan. Takut ditinggalkan. Takut kehilangan. Padahal seharusnya aku paham, bahwa dalam hidup ini, tidak ada sesuatu yang kekal.
Aku menganjur napas panjang. Kemudian membalik halaman berikutnya.
Betapa sibuk jalanan…
Orang-orang pergi dan menuju dengan segala yang mereka bawa…
Seransel luka dipundakmu apa kabar?
Sudah habis, kan? Dikikis musim demi musim?
Seingatku tulisan ini aku foto dan kukirim kepadanya saat dia liburan di luar kota. Wakti itu dia menjawab, “tinggal sedikit.” Aku tertawa.
Adakalanya, aku langsung membuat tulisan singkat setelah Pengelana mengirim foto. Misalnya, saat dia sedang
makan siang di kantin kantornya dan emngirimiku sisa hujan yang menempel di jendela.
Apa yang kau lihat?
Dari gelincir air yang bergulir diatas jendela kayu?
Apa yang kau dengar?
Dari suara gerimis yang jatuh satu-satu itu?
Sepotong sajak?
Atau sebuah lagu?
Aku juga baru menyadari kalau puisi-puisi kecil tentang hujan lebih mendominasi buku catatanku.
Orang-orang yang menepi dari deras hujan itu…
Untuk menunggu reda atau untuk melihat air yang jatuh?
Kalau kau?
Memilih berteduh atau menerobos deras hujan?
Aku tahu, dia memilih menerobos hujan. Dia pernah cerita suatu sore sengaja ke pantai hanya untuk hujan-hujan.
Sekali waktu, saat hujan turun, aku sengaja mematikan semua panggilan telepon. Hanya untuk melihat hujan dari
balik jendela. dan, puisi ini adalah favoritku.
Kau tak peduli…
Ada yang diam-diam mengabaadikan cuaca di rautmu…
Kaupun tak peduli….
Ada yang diam-diam tumbuh dan bertunas dari tepian musimmu.
Dan, masih banyak lagi. Puisi-puisi kecil yang kutulis. Yang terinspirasi selama berinteraksi dengan Pengenala. Ada yang kujadikan status di media sosial, yang kupakai caption foto-foto instagram, atau yang sekedar kusimpan di note ponselku.
Sekonyon-konyong aku berfikir bagaimana kalau mengumpulkan puisi-puisi itu menjadi sebuah buku? Setidaknya,
sebagai prasasti kecil, bahwa aku pernah memiliki hari-hari yang manis di suatu musim yang deras?
Mungkin terlalu berharap ada penerbit yang mau. Tetapi biar tidak tercecer aku bisa mencetaknya terbatas.
Aku akan promosikan dulu, siapa saja yang mau. Selain itu, tentu saja aku akan mengirimkan satu untuk Pengelana. Semoga kekasihnya tidak cemburu.
*****
Pemikiran perihal membukukan puisi membuat perasaanku menjadi hangat. Aku menyalin, dari draft-draft berantakan. Menyusun menjadi lebih rapi. Mengetiknya kembali sambil mendengar lagu Dealova yang dinyanyikan oleh Pengelana.
Aku tidak sedang patah htai. Aku hanya mengenang. Bukan, bukan mengenang. Lebih tepatnya, mendengar teman baikku bernyanyi. Ya, teman baik. Selamanya akan menjadi teman teman baik, dan aku akan selalu memanggilnya sebagai teman baikku. Teman baik, tidak akan tergeser oleh status masing-masing yang kami sandang sekarang, bukan?
Hanya saja aku tidak tahu, apakah setelah ini masih bisa menulis puisi-puisi tentangnya? Apakah kami masih
memiliki hari-hari seperti kemarin? Sekarang saja baru tiga minggu rasanya sudah lama sekali.
Apakah dia pernah mengingatku, sekali saja? Entahlah…
*****
Aku menjauh dari layar laptop, bersandar di punggung kursi sambil meregangkan tangan. Angin membawa hawa sejuk sisa hujan, menerobos lewat jendela. semantara ‘Puisi’nya Jikustik terdengar mengalun lirih. Lagu itu benar-benar mewakili perasaanku saat ini. kadang tanpa sadar aku sering menyenandungkannya.
Seminggu ini benar-benar kufokuskan untuk menyusun puisi-puisiku menjadi satu kesatuan, dan kuberi judul
‘Bunga Rampai’. Itu semua membuat perasaanku jauh lebih baik. Sebenarnya akan bagus jika ditambah lukisan. Apalagi jika yang melukis adalah Pengelana. Tapi, tidak mungkin memintanya, kan? Aku tidak akan merepotkannya.
Mungkin sebagai gantinya, aku akan menampilkan beberapa foto kirimannya. Nanti, kutambahi foto-fotoku sendiri. Tidak perlu setiap puisi ada gambarnya. Untuk selingan tiap beberapa halaman saja. Lagi pula, dengan begitu bisa mengurangi biaya cetak.
Saat aku hendak berdiri, pandanganku menangkap satu pesan masuk di layar ponsel.
Dari pengelana.
“Apa kabar?”
Aku membacanya, namun tak kubalas.
“Apakabar hujan di sana?”
Aku masih tetap tidak membalasnya.
“Kuharap kamu baik-baik saja, meski kemarau sebentar lagi membawanya pergi.”
Bibirku mengatup. Mataku tiba-tiba buram.
“Kuharap kamu tetap menyukainya, meskipun hujan tak singgah lagi.”
Aku membacanya satu kali, dua kali, tiga kali, dan pendanganku benar-benar buram dan memanas. Akhirnya aku
mendapati namanya muncul dilayar kecilku lagi.
Aku tidak segera membalas pesan Pengelana. Yang aku lakukan justru menyalin kalimat-kalimat itu dan menaruhnya di bagian penutup kumpulan puisi dengan judul ‘Bunga Rampai.’ Setelah selesai dan membaca ulang aku tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
Begitu hendak kuketik balasan, satu pesan Pengelana masuk lagi. Pesan suara tepatnya. Lebih tepatnya sebuah
lagu yang sangat lama sekali. Di zamannya, aku pernah menyukai lagu ini. bahkan saat itu aku belum bisa memahami apa maksudnya. Sekarang aku diam, mendengarkan alunan Shifter. ‘Karena Kau Nafasku.’
‘Pernah terlintas dalam hatiku, untuk pergi jauh tinggalkan dirimu.’
‘Mengapa kita harus begitu, satu rasa harus terapung di sini.’
...................................., hingga petikan-perikan lagu.
itu ☝️☝️ petikan-perikan
artinya apa ya Thor 🙏🙏