NovelToon NovelToon
Mahar 5000

Mahar 5000

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Romantis / Pengantin Pengganti / Duda
Popularitas:130.7k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"

Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.

"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"

baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Pagi menjelang siang di taman rumah sakit itu terasa tenang, hanya suara dedaunan yang bergesek lembut dan kicau burung dari pepohonan. Citra duduk di bangku panjang, menatap air mancur kecil di tengah taman. Udara hangat menyentuh kulitnya, tapi hatinya justru dingin dan bergejolak.

Ia menatap jemarinya sendiri. Dalam hati, ada sesak yang sulit dijelaskan. Rava memang sudah membuat kesalahan besar — meninggalkannya, mengkhianatinya, dan menghancurkan rumah tangga yang dulu ia impikan. Tapi saat mendengar ia kecelakaan, Citra tetap merasa iba. Seburuk apa pun, dia pernah jadi orang yang kucintai, pikirnya lirih.

Namun sebelum pikirannya sempat jauh melayang, langkah cepat terdengar mendekat. Lani berdiri di hadapannya dengan wajah merah padam dan mata yang menyala seperti api.

“Kamu masih bisa duduk santai di sini, Citra?!” suaranya meninggi, tajam.

Citra menatapnya pelan, tapi tidak berdiri. “Ada apa lagi, Tante?”

“Apa kamu senang, hah? Rava sampai celaka karena kamu! Kalau bukan karena kamu pamer kemesraan di depan umum, anakku enggak akan stres dan nyetir ngawur!”

Citra menegakkan punggungnya, menatap Lani tanpa gentar. “Tante, Rava kecelakaan karena kecerobohannya sendiri. Jangan bawa-bawa saya. Kalau mau nyalahin orang, lihat dulu siapa yang mulai semua ini.”

“Mulai?!” Lani menatap tajam.“Kamu pikir aku enggak tahu, kamu sengaja deketin Rama biar bisa bales dendam sama Rava, kan? Kamu tau kalau Rama itu papanya Rava. lalu sekarang malah pamer depan Rava. selamat ya, kamu berhasil bikin anakku hancur!”

Citra menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis — senyum yang penuh sindiran. “Aku enggak paham kenapa Tante malah nyalahin aku. Tapi, Tante terus sebut-sebut Mas Rama. Jangan-jangan Tante masih peduli sama Mas Rama ya? Bicaranya sampai segitu emosinya. Jangan-jangan…” ia menatap lurus ke mata Lani, “…Tante belum bisa move on dari Mas Rama?”

Wajah Lani langsung memerah, antara malu dan marah. “Apa-apaan kamu bicara begitu!”

“Lalu kenapa setiap lihat kami berdua, Tante selalu marah? Kalau memang sudah bahagia dengan suami Tante sekarang, harusnya enggak perlu segitu sensinya.” Citra menyilangkan tangan, tenang tapi tajam. “Tante marah bukan karena Rava, tapi karena Tante masih belum bisa terima Rama sudah bahagia tanpa Tante.”

Suara Lani tercekat. “Citra! Mulut kamu itu—”

Tapi belum sempat ia melanjutkan, dari arah belakang terdengar suara berat, “Lani… apa yang dikatakan Citra itu benar?”

Suaminya berdiri tak jauh dari mereka, wajahnya tegang. “Kamu masih cinta sama Rama?”

Lani menoleh cepat, panik. “Ng… ngaco kamu! Aku marah karena Citra itu—”

“Karena Citra itu apa? Karena dia istri Rama sekarang?” suara sang suami menekan. “Kamu sendiri yang bilang dulu engak bahagia sama Rama, tapi dari tadi kamu terus marah, nyalahin dia, seolah kamu masih punya hak atas hidup mantan suami kamu!”

"Mas, jangan salah paham. Aku enggak mungkin," elak Lani. Lalu melotot pada Citra, "Ini gara-gara kamu!"

Citra hanya diam, menatap dari bangku. Tapi jelas ia tidak takut.

“Cukup, aku enggak mau dengar lagi,” lanjut sang suami dingin. “Kalau kamu masih mau ribut di sini, aku anggap kamu belum bisa lepas dari masa lalu!”

Lani menggertakkan gigi, matanya berkaca. “Aku cuma… aku cuma enggak mau lihat Rava menderita!”

“Dengan menyalahkan orang yang enggak bersalah?” Citra akhirnya berdiri, nadanya tenang tapi menusuk. “Kalau Rava menderita, itu karena perbuatannya sendiri, Tante. Dia yang ninggalin saya, dia yang milih jalannya sendiri. Sekarang dia kecelakaan sendiri, kenapa malah nyalahin Citra?”

Lani membuang muka, "Nyatanya emang semua karena kamu! Rava jadi begini! Karena kamu nikah sama Rama!"

"Lani!"

Saat suasana makin tegang, langkah cepat terdengar dari arah lorong. Rama muncul, tadi dia sempat dengar namanya dan rava di sebut. ia semakin marah melihat Lani berdiri di depan Citra dengan wajah penuh amarah, ia langsung maju.

“Ada apa ini?” tanyanya dengan nada dalam.

Citra menatap suaminya sebentar, lalu menunduk. “Enggak apa-apa, Pak. Tante cuma lagi curhat.”

"Curhat?" Rama menatap Lani tajam. “...apa kalian pikir aku enggak dengar? Kamu nyalahin Citra. Citra aja jelas sama aku, bisa-bisanya kamu menyalahkan Citra. Rava celaka karena dia tidak hati-hati. Kecelakaan tak ada seorangpun yang menginginkan nya.”

Lani mendengus. “Kenapa kamu malah ikut nyalahin aku, Ram?!”

“Justru kamu yang nyalahin! Jangan suka memutar balikkan fakta,” jawab Rama dingin. “Dengar, Lani, kalau kamu berani sedikit aja kasar sama Citra, aku enggak akan tinggal diam. Aku masih menghargai kamu karena kamu mamanya Rava, tapi jangan uji batas kesabaranku.”

Suami Lani segera menarik lengannya. “Sudah, Lani. Kamu bikin malu di tempat umum.”

“Tapi, Mas—”

“Cukup! Sekarang ikut aku!” bentaknya. Ia menyeret Lani pergi meninggalkan taman, suara langkah mereka bergema pelan di jalan setapak.

Citra menatap punggung keduanya yang menjauh, lalu mendesah.

"Kamu enggak papa, Cit?"

"Enggak papa, Pak."

"Kamu enggak nanya gimana keadaan Rava?"

"Bapak kembali cepat, artinya... Dia tidak parah."

"Rava tulang retak, dan sedikit luka di kepala. Tapi, kata dokter tidak parah. Bersyukur karena Rava cukup kuat."

“Kasihan juga, ya, Pak. Tapi mungkin itu balasan karena dulu mereka juga nyakitin banyak orang.”

Rama menoleh ke istrinya, senyumnya lembut tapi matanya masih menyimpan emosi. “Maaf, Cit. Kamu enggak seharusnya diseret-seret ke masalah lama begini.”

Citra meliriknya dan pura-pura manyun. “Maafnya diterima… asal dibeliin es krim.”

Rama mengerjap. “Hah? Es krim?”

“Dan seblak.”

Rama tertawa pelan, lalu mengacak rambut istrinya. “Kamu tuh, ya. Lagi marah aja masih bisa minta seblak.”

“Laper itu hak asasi manusia, Pak.”

Rama terkekeh, menatap wajah cerah Citra. “Baiklah, kita cari seblak yang paling pedas dan es krim paling manis buat istri yang paling sabar.”

Mereka berjalan beriringan meninggalkan rumah sakit, tangan Rama menggenggam tangan Citra erat. Setelah hari yang penuh emosi itu, langkah mereka terasa ringan.

****

Pagi itu, matahari belum terlalu terik. Suara sapu lidi terdengar seret di halaman rumah Yani. Daun-daun mangga yang gugur semalam disapu satu per satu, namun bukannya tenang, wajah Yani justru tampak tegang. Keningnya berkerut, matanya sesekali melirik ke arah pagar.

Dari arah rumah sebelah, suara tawa dan bisik-bisik terdengar jelas. Tiga ibu-ibu duduk di bawah pohon jambu depan rumah Bu Mira, sambil sesekali menyeruput teh manis dan mengipasi diri dengan tutup panci.

“Eh, Bu, resepsinya Cantika kemarin mewah, ya?” ujar Bu Reni sambil meneguk tehnya. “Aku aja kaget, di hotel, bagus sekali. Tapi tetap aja, ya, omongan orang nggak bisa dicegah.”

“Iya, katanya Cantika itu rebut tunangan sepupunya sendiri,” timpal Bu Mira dengan nada merendahkan. “Citra, kan, dulu mau nikah sama si Rava itu. Eh, sekarang malah sepupunya yang nikah. Gimana, nggak jadi bahan omongan?”

“Lha, yang lebih heboh lagi,” potong Bu Tari sambil mencondongkan badan, “Citra malah nikah sama ayahnya Rava! Ya Allah, pusing aku mikirnya. Jadi menantu sekaligus mantan calon istri. Lah, kok bisa muter-muter gitu urusannya?”

Ketiganya tertawa pelan, tapi cukup keras untuk terdengar sampai ke halaman rumah Yani.

Sapu di tangan Yani berhenti. Dadanya sesak. Ia berusaha menahan diri, pura-pura tak mendengar, tapi setiap kalimat terasa seperti paku yang ditancapkan di hatinya.

Bu Mira masih lanjut, dengan suara agak meninggi. “Aku dengar, Citra sekarang hidupnya enak banget. Rumahnya dikasih perabot baru semua, bahkan dapat mobil. Lha, Cantika cuma dapat pesta mewah. Ya kalah, Bu!”

“Pantas aja Bu Yani kelihatan sibuk banget minggu ini,” sahut Bu Reni, terkikik. “Mungkin takut orang-orang ngomongin. Tapi ya gimana, Bu, yang namanya omongan, nggak bisa disapu kayak daun.”

Mereka tertawa lagi.

Sapu lidi di tangan Yani mencengkeram kuat. Rahangnya mengeras. Nafasnya mulai cepat. Dalam hati, bara amarah mulai menyala.

“Ngomong aja kerjaannya,” ujarnya membuat para ibu tetangga kaget. “Sirik kalian kan? Anak kalian enggak ada yang dibuatkan pesta mewah kan? Dasar mulut panjang…”

"Eh siapa juga yang sirik."

"kalian itulah yang iri! Kalau cuma mobil perabot gampang aja Cantika minta. Orang tua Rava kaya semua. Tapi, dia enggak matre kayak sebelah!"

Ia mencoba menyapu lagi, tapi tangannya gemetar. Daun-daun yang baru dikumpulkan malah berserakan lagi. Tapi matanya tak lepas dari arah pohon jambu tempat ibu-ibu itu duduk.

“Eh, Bu Mira,” suara Bu Tari terdengar lagi. “Aku heran deh, gimana rasanya ya kalau sepupu sendiri nikah sama papa mertua? Gimana manggilnya? Mama citra? Enggak mungkin dong tetap manggil Citra. Hihihihi."

"Aku aja dengarnya geli.”

Tawa meledak lagi, kali ini lebih keras.

Yani akhirnya tak tahan. Ia menancapkan sapu ke tanah, melangkah cepat ke arah pagar, suaranya bergetar menahan marah.

“Heh! Bu Mira!” panggilnya keras.

Ketiga ibu-ibu itu sontak terdiam. Tatapan mereka beralih ke arah Yani yang berdiri dengan tangan di pinggang. Wajahnya merah, matanya menyalak.

1
Rahmawati
nah nah, apa rava bukan anak Rama ya
Rahmawati
opo meneh to, nenek peyot😂
Rahmawati
setres bu lani ini, gagal move on padahal udah punya suami
Rahmawati
makanya belajar sopan santun km cantika
Rahmawati
ke PD an km lani😂
Rahmawati
enaknya punya mertua kayak bu lilis
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
anak ku lahir Oktober 2011
meninggal Juni 2012
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
ya allah cerita ini sama seperti aku yang kehilangan anakku di usia 7 bulan sedih
😭😭
tenny
suaminya lani namanya rubah2 kadang Fahri kadang Fadli entah mana yg bener 😄
tenny: semangat Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
Rahmawati
cantika gk tau diri bgt
Rahmawati
syukurin km rava, siapa suruh tinggal dirumah rama
Ma Em
Innalillahi wainnailaihi rojiun Cinta anak yg blm punya dosa pasti akan masuk sorga , semoga Cantika dan Rava diberikan kesabaran menghadapi cobaan ini manusia hanya berusaha tapi nasib Allah yg menentukan .
Rahmawati
gk boleh dong, nanti rava gangguin citra lagi
Rahmawati
beruntung bgt pak Rama dapet gadis ting ting
Rahmawati
dih si pak Bram cuma numpang beol😂
Ma Em
Semoga Cinta segera sembuh dari penyakitnya dan sehat kembali .
Rahmawati
jeng jreng jreng
Rahmawati
kok nanyain raga terus sih
Rahmawati
kepanasan tuh si yani😂😂😂
Rahmawati
sumpal mulut tetangga yg nyinyir itu😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!