Bercerita tentang kisah cinta segitiga antara Mayra , Rama dan Marcel' sahabat Rama
Setahun berpacaran akhirnya Rama mempersunting Mayra, di usia pernikahan pertama Mayra tengah hamil buah cinta mereka dan akhirnya Mayra melahirkan putra kecilnya yang diberi nama Darren Adiguna
Pada usia pernikahan ke-4 masalah besar datang melanda keluarga kecil itu, dari masalah perusahaan yang akan diakuisisi serta masalah Darren harus dirawat dirumah sakit karena sakit parah.
Itu semua membuat Rama frustasi, ia dihadapkan dengan pilihan yang sulit.
Akhirnya Rama meminta bantuan pada Marcel sahabat yang sekarang menjadi musuhnya. Marcel bersedia membantu Rama dengan syarat Rama harus menukarnya dengan istri tercintanya. Entah setan apa yang merasuki Rama sampai ia menerima syarat dari Marcel "Kamu bisa membawa Mayra setelah putraku mendapatkan donor sumsum tulang belakang"
🌹Next in bacanya ya readers 🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu_Merdeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mayra berhasil kabur
Akhirnya hari ini aku bisa jalan-jalan di luar villa tempat ku dikurung. Ya meskipun aku harus jalan berdua dengan cowok psychopat ini, yang penting aku bisa jauh dari beberapa pengawal pribadinya.
"Cel... aku kebelet pipis, dah nggak bisa ditahan nih. Aku pipis di sana ya, kamu tunggu disini" pintaku seraya memegangi perutku
"Ya udah kita pulang aja, masak kamu mau pipis di semak-semak" ajak Marcel
"Nggak bisa... dah nggak bisa di tahan lagi." ucap ku dengan wajah meyakinkan
"Ya udah sana" titah Marcel
Aku bergegas berlari ke semak-semak, setelah sampai di balik semak-semak aku mengintip ke arah Marcel yang berdiri menghadap ke arah ku.
Dengan sekuat tenaga aku berlari masuk ke dalam hutan. "Mayra...! jangan kabur kamu... mau mati ya?" teriak Marcel yang berlari mengejar ku.
ku tengok ke belakang... jarak Marcel cukup jauh dari ku, aku terus berlari melintasi lereng yang cukup terjal, sampai akhirnya aku harus menghentikan langkahku karena jalur yang kulewati ada sebuah jurang yang cukup dalam. "Bagaimana ini... kalau aku loncat... pasti aku akan mati" gumam ku sambil menundukkan kepalaku ke arah bawah.
"Mau lari ke mana kamu? berani sekali kamu kabur dari ku" kata Marcel. Aku membalikkan badanku. Aku lihat tampang marahnya sangat menakutkan sekali. Ia pelan-pelan mulai melangkah ke arah ku
"Berhenti... kalau kamu mendekat, aku akan loncat. Tolong berhenti" ucap ku seraya tak kuasa menahan air mata ku, aku sangat ketakutan, dia bahkan tak mau mendengarkan ancaman ku.
Dengan tubuh gemetar aku tak tahu lagi harus melangkah ke mana, dia semakin mendekatiku, jaraknya sudah hampir mencapai tubuhku.
"Aaaaaa....." dan akhirnya aku melompat dari atas tebing, aku rasa kali ini aku akan mati... bahkan di akhir hidupku, aku merasakan pelukan hangat Rama ada bersama ku.
"Blukkkkk" tak beberapa saat aku terjatuh ke dasar hutan. Aku masih sadar betul, tubuh ku rasanya perih karena gesekan beberapa ranting pohon yang mengenaliku. Dan anehnya lagi, rasanya aku jatuh di kasur yang kenyal dan empuk " apa ini cara Tuhan untuk menyelamatkan ku" ucap ku sambil merajuk di pohon sampingku
Aku mencoba duduk dan mengambil nafas panjang, tangan ku merasakan ada yang aneh, seperti memegang sesuatu yang berhulu lembut
"Aaaaaa..... Marcel..."
Kenapa kamu disini... bangun... bangun" aku kaget bukan main, ternyata kasur yang kuanggap kenyal dan empuk tadi adalah tubuh Marcel
Ya Tuhan... gimana ini, gimana kalau dia mati? Apa aku kabur saja ya?
Tapi dia sudah menyelamatkan nyawaku. Masak aku tega membiarkannya dalam keadaan seperti ini... Ah... aku bingung
Aku mulai memegang tangannya, ternyata denyut nadinya masih berdetak, meskipun dia tak sadarkan diri tetapi aku yakin dia masih hidup. Lalu aku membantu menyandarkan tubuhnya duduk di pohon besar yang ada di sampingku. Kulihat bajunya bagian belakang basah oleh darah, aku telangkupkan baju itu ke arah atas... tak ku sangka ternyata punggungnya sobek oleh goresan kayu. Luka itu terlihat lebar dan terus mengeluarkan darah.
Tanpa berfikir panjang, aku segera melepaskan bajunya, lalu aku menyobek bagian bawah dress ku dan melingkarkannya pada punggung Marcel yang terluka.
"Ah sakit" tiba-tiba Marcel tersadar karena aku mengencangkan ikatan kain yang kulingkarkan di punggungnya tadi
"Kamu udah sadar, kamu nggak papa kan?
Ngapain kamu ikut loncat... kamu udah kehilangan akal ya?" ucap ku kesal sekaligus khawatir
"Kenapa kamu mau meninggalkan ku, apa kamu tak bisa merelakan dirimu untuk ku" kata Marcel lirih
Suara itu cukup tulus didengar, tapi kata-kata bodoh macam apa itu? kenapa aku harus ngerelain diriku untuknya. Aku punya kebahagiaan ku sendiri, kenapa juga aku harus peduli dengan cowok psychopat ini.
"Kenapa May... kenapa kamu mau ninggalin aku disaat aku udah mulai nyaman dengan mu. Kenapa?" kata-kata Marcel dari nada rendah yang berujung kemarahan
"Maaf Cel... aku nggak bisa, aku sudah punya keluarga... aku punya suami dan juga anak. Jadi tolong lepasin aku. Maaf aku sudah membohongi mu. Kamu bisa mencari gadis perawan lalu lainnya yang lebih baik dari ku" jelasku pada Marcel. Aku yakin kalau Marcel sangat menginginkan keperawanan ku, dan sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk kejujuran ku
"Persyetan dengan perawan... Auw... sakit" ucap Marcel kesakitan sambil kesulitan memegang punggungnya yang tak sampai
"Udah kamu jangan terlalu banyak gerak, punggung mu terluka parah. Kamu tunggu disini aku akan cari obat untuk mu" aku bergegas melangkahkan kakiku menjauhi tubuh Marcel yang lemah
"Tunggu... jangan kabur.. May... jangan kabur" teriak Marcel
Dalam hati Marcel sangat hancur, kenapa ia tak seberuntung Rama. Wanita yang baru saja menempati hatinya, kini harus pergi meninggalkannya."Aku butuh kamu May... tolong jangan tinggalkan aku" gumam Marcel sambil menundukkan wajahnya.
Hatinya benar-benar sakit, ia sudah terlanjur menambatkan hatinya pada Mayra, tetapi lagi-lagi perasaannya harus bertepuk sebelah tangan.
"Mayra" teriak Marcel sambil meninjukan tangannya ke tanah
kalo di pikir 2semua nya gk kesalahan Rama aja,,