Dion Arvion, siswa kelas tiga SMA yang kurus dan pendek, menjalani hari-harinya sebagai korban penindasan.
Diperas, dihina, dan dipaksa menyerahkan uangnya oleh teman-teman sekelas, Dion hidup dalam ketakutan dan keputusasaan tanpa jalan keluar.
Hingga suatu hari, saat hatinya hampir hancur, sebuah suara terdengar di dalam benaknya, sebuah layar hologram muncul di hadapannya.
[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]
Sejak saat itu, hidup Dion berubah drastis. Dengan bantuan sistem misterius, ia tidak hanya menjadi semakin kuat, tetapi juga berubah menjadi crazy rich dalam waktu singkat.
Uang, kekuatan, dan pengaruh, semuanya berada dalam genggamannya. Kini, Dion bukan lagi korban.
Dengan senyum dingin dan kekuatan sistem di sisinya, ia bersiap membalas semua penghinaan, menghancurkan para penindas, dan menginjak dunia yang pernah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: DION YANG MARAH
Sreeet.
Pintu kelas Bahasa dan Sastra digeser perlahan. Suaranya memotong udara kelas yang semula riuh. Dion melangkah masuk dengan wajah dingin, tatapannya tajam dan lurus ke depan.
“Dimana Rangga, kemarilah.”
Suaranya tidak keras, namun cukup untuk membuat seluruh ruangan membeku.
Puluhan pasang mata langsung beralih ke arahnya.
“Bukankah itu Dion?”
“Dia nyari Rangga?!”
“Serius mau ribut di sini?”
“Gila… aslinya lebih ganteng dari video…”
Bisik-bisik bermunculan. Murid-murid perempuan terpaku, mata mereka berbinar, sementara murid-murid laki-laki justru tampak bersemangat, bau pertarungan terasa kental.
Di salah satu bangku, Rangga yang tadi tiduran dengan kepala di atas meja langsung tersentak bangun.
“BANGSAT!” teriaknya kasar.
“Siapa yang berani ganggu tidurku?!”
Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti.
“Dion?” bibirnya menyeringai marah.
“Apa yang kau mau di kelasku?!”
Dion melangkah maju satu langkah.
“Lihat dirimu,” ucapnya dingin.
“Masih bisa santai tidur, setelah membuat temanku terluka parah seperti itu. Kau tidak merasa bersalah?”
Rangga terdiam sejenak, lalu tertawa mengejek.
“Temanmu…?”
“Oh, maksudmu si kurus itu?”
Nada suaranya penuh penghinaan.
“Dia aku hajar karena berani menolak perintahku. Itu salahnya sendiri.”
Ia melangkah mendekat, bahunya tegak, wajahnya penuh arogansi.
Kelas mendadak hening. Tak ada yang berani bergerak. Tekanan di antara Dion dan Rangga membuat udara terasa berat.
Di bangku belakang, Alex memperhatikan dengan tenang, matanya setengah menyipit, seolah semua ini masih berada dalam jangkauan kendalinya.
“Memangnya kau siapa?” lanjut Rangga.
“Aku sudah bilang, siapa pun yang mengganggu urusanku, akan kuhajar.”
Urat di leher Dion menegang.
“Kau salah,” ucap Dion pelan.
“Aku datang bukan untuk mengganggu. Aku datang untuk menagih.”
Rangga tersulut.
“BANGSAT!”
“Apa kau tidak tahu situasi?! Aku bisa membunuhmu di sini!”
Wuuush!
Rangga bergerak lebih dulu.
Tubuhnya melesat, tinjunya menghantam dengan lintasan lurus, teknik boxing murni, presisi dan cepat. Pukulan pertama, kedua, ketiga, semua diarahkan ke titik vital.
Namun.
Dion menghindar.
Langkahnya ringan, hampir santai. Sedikit memiringkan bahu, setengah langkah ke samping, kepala menunduk tipis. Pukulan Rangga hanya menghantam udara.
“Bajingan!” teriak Rangga.
“Hanya segini?!”
Pukulan demi pukulan diluncurkan. Kombinasi cepat, jab, hook, uppercut. Teknik yang jelas terlatih bertahun-tahun.
Siswa-siswi menjerit pelan dan menjauh, merapat ke dinding. Beberapa murid dari kelas lain berhenti di ambang pintu, ponsel terangkat, merekam dengan napas tertahan.
Dion terus menghindar.
Tenang, efisien. Seolah ia hanya sedang membaca gerakan yang sudah ia hafal.
“Orang selemah ini,” gumam Dion dingin,
“berani membuat Barra sampai hampir mati.”
Rangga semakin brutal. Pukulannya mulai diarahkan ke tubuh, ke rusuk, ke dada, bahkan ke arah jantung.
Namun tetap, tak satu pun mengenai sasaran.
“Bangsat!” desis Rangga.
“Kenapa… pukulanku tidak bisa menyentuhmu?!”
Keringat mulai muncul di dahinya. Napasnya memburu. Untuk pertama kalinya, keraguan muncul.
'Orang ini… kuat.'
Amarah Rangga justru makin meledak.
“Kau cepat, ya bangsat!”
“Kali ini aku akan serius!”
Tangannya merogoh saku celana.
Sebuah pil hitam muncul di telapak tangannya.
Tanpa ragu, ia menelannya. Detik berikutnya.
BOOM.
Gelombang energi tak kasat mata meledak dari tubuh Rangga. Udara di sekitarnya bergetar. Meja dan kursi berderak pelan.
Mata Rangga memutih. Pupilnya menghilang, seolah kesadarannya lenyap, namun tubuhnya justru berdiri lebih tegak, lebih padat, lebih berat.
Tenaga mentah memancar darinya.
“Apa itu…” gumam Dion, matanya menyipit.
“Sebuah pil? Pil yang bisa meningkatkan kekuatan seseorang?”
Di bangku belakang, Alex mendecak pelan.
“Bangsat…” gumamnya kesal.
“Dia malah pakai pil itu.”
Wajah Alex mengeras.
“Itu pil mahal,” lanjutnya lirih.
“Dan dia memakainya sembarangan.”
Alex-lah yang menyediakan pil tersebut. Ia tahu betul harga dan risikonya.
Sementara di tengah kelas, Rangga, dengan mata kosong dan aura liar, perlahan mengangkat kepalanya.
Dan untuk pertama kalinya…
pertarungan itu benar-benar memasuki fase berbahaya.
Wuuush!
Gerakan Rangga tiba-tiba berubah liar dan brutal. Udara di sekitarnya seakan terbelah oleh langkahnya, tekanan kasar menyapu ruang kelas yang sudah porak-poranda.
Boooom!
Sebuah pukulan penuh tenaga menghantam ke arah Dion, lebih cepat, lebih berat, lebih ganas dari sebelumnya.
Namun.
Dion menahannya dengan satu tangan.
Telapak tangannya menempel pada kepalan Rangga, kaki Dion menapak mantap di lantai. Tidak terdorong. Tidak bergeser.
“Apa ini…” gumam Dion pelan, matanya menyipit.
“Kekuatannya naik drastis… kira-kira dua kali lipat.”
Dari sentuhan itu saja, Dion bisa merasakan perubahan jelas. Tenaga yang dipancarkan Rangga bukan sekadar emosi, melainkan kekuatan mentah yang dipaksa keluar oleh sesuatu yang asing.
Pil Hitam itu…
“Kesadarannya sudah hilang,” gumam Dion lagi. “Efek samping pil itu pasti besar.”
Rangga tidak menjawab. Matanya yang memutih kosong. Tubuhnya bergerak seperti mesin rusak yang dipaksa bekerja, pukulan demi pukulan menghujani Dion tanpa jeda, tanpa pola, hanya amarah murni.
Namun Dion tetap berdiri.
Ia menahan, menghindar, membaca.
“Percuma,” ucap Dion dingin.
“Berbicara dengan orang yang sudah kehilangan akal.”
Napasnya mengendap.
“Kalau begitu… kita sudahi saja.”
Wuuush!
Dalam sekejap, Dion menghilang dari pandangan Rangga.
Buaaak!
Tinju Dion menghantam wajah Rangga dengan presisi mutlak.
Braaak!!
Tubuh Rangga terlempar keras, menghantam tembok kelas. Dinding beton bergetar, retakan menjalar seperti sarang laba-laba. Rangga terkulai, tak sadarkan diri sepenuhnya.
Kelas terdiam.
Debu jatuh perlahan.
“Sial…” desah Dion, menatap tubuh Rangga yang tergeletak. “Pil apa sebenarnya itu…”
Ia melangkah mendekat, berniat menyeret Rangga keluar, membawanya ke hadapan Barra.
Namun.
Sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya dari samping.
“Kau tidak bisa membawanya.”
Suara itu dingin. Terkontrol.
Dion menoleh.
Alex.
“Kenapa tidak bisa?” jawab Dion tanpa emosi.
“Atau kau juga ingin mati?”
Gelombang aura Dion meledak keluar.
Tekanan tak kasat mata menghantam Alex seperti tembok baja.
“Kugh!”
Alex terhuyung. Matanya membelalak.
'Bangsat… tekanannya… Ini terlalu kuat!!'
Kakinya menyerah.
Bruk!
Tubuh Alex ambruk ke lantai kelas. Tangannya terlepas dari Dion. Seluruh badannya gemetar, seolah ditindih gunung. Ia bahkan tak mampu mengangkat kepala.
“Apakah kau benar-benar ingin melawanku, Alex?” tanya Dion dingin.
“Jika iya… aku akan membunuhmu sekarang.”
Auranya menekan lebih dalam.
Alex menggertakkan gigi, wajahnya menegang oleh amarah dan ketidakberdayaan. Namun akhirnya, Ia menggelengkan kepala.
Pelan, tunduk. Dion menatapnya sejenak, lalu menarik kembali auranya.
Tekanan menghilang seketika. Alex terengah, terkapar di lantai, tak mampu bangkit.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Dion membungkuk, mencengkeram kerah Rangga, lalu menyeret tubuh itu keluar kelas, menuju UKS, menuju Barra.
Murid-murid yang menyaksikan kejadian itu menelan ludah.
Tak seorang pun menyangka, bahkan Alex, yang dianggap terkuat di Kelas Bahasa dan Sastra, harus bertekuk lutut.
“BANGSAT!!”
Alex menghantam lantai dengan tinjunya, berteriak sendirian di kelas yang hancur.
“Dion…!”
“Sekarang aku tahu… kau sangat kuat!”
Matanya memerah.
“Aku akan mengingat ini!”
“Awas kau!!”
Kelas Bahasa dan Sastra porak-poranda. Meja terbalik, kursi berserakan, dinding retak, debu menggantung di udara.
Dan di antara murid-murid yang gemetar, beberapa ponsel masih menyala.
Rekaman terus berjalan.
Tak lama kemudian, video pertarungan itu, termasuk momen ketika Alex ambruk ke lantai. mulai menyebar ke seluruh sosial media.
Nama Dion kembali naik, namun kali ini, bukan lagi sekadar viral. Ia telah menjadi ancaman nyata.