NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Gasekil (Gadis Seratus Kilo)

Mengejar Cinta Gasekil (Gadis Seratus Kilo)

Status: tamat
Genre:Cinta Karena Taruhan / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:46.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Raska adalah siswa paling tampan sekaligus pangeran sekolah yang disukai banyak gadis. Tapi bagi Elvara, gadis gendut yang cuek dan hanya fokus belajar, Raska bukan siapa-siapa. Justru karena sikap Elvara itu, teman-teman Raska meledek bahwa “gelar pangeran sekolah” miliknya tidak berarti apa-apa jika masih ada satu siswi yang tidak mengaguminya. Raska terjebak taruhan: ia harus membuat Elvara jatuh hati.

Awalnya semua terasa hanya permainan, sampai perhatian Raska pada Elvara berubah menjadi nyata. Saat Elvara diledek sebagai “putri kodok”, Raska berdiri membelanya.

Namun di malam kelulusan, sebuah insiden yang dipicu adik tiri Raska mengubah segalanya. Raska dan Elvara kehilangan kendali, dan hubungan itu meninggalkan luka yang tidak pernah mereka inginkan.

Bagaimana hubungan mereka setelah malam itu?

Yuk, ikuti ceritanya! Happy reading! 🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Dirundung

"Ras," panggil Elvara.

Raska menoleh.

“Lo kelihatan pucat.”

Raska langsung memalingkan wajah. “Cuma kurang tidur.”

Ia membuka buku, berpura-pura fokus.

Elvara merogoh sakunya, lalu menyodorkan sesuatu kecil. Permen jahe. “Ini.”

Raska menerimanya tanpa komentar berlebihan. “Thanks.”

Senyumnya muncul lagi, tanpa sadar.

Elvara tak langsung berpaling. “Jalani hidup boleh serius,” ucapnya pelan. “Emang harus.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, datar tapi tepat.

“Tapi jangan terlalu sering mikirin hal-hal yang bikin lo gak nyaman.”

Raska menatapnya. “Kenapa lo tiba-tiba bilang gitu?”

Sekilas matanya melirik trio komentator, seolah menuduh. "Kalian ngomong apa?"

Asep, Vicky, dan Gayus kompak mengangkat bahu. Sumpah mati gaya.

Elvara menghela napas pelan. “Dari awal gue kenal lo,” katanya jujur, “gue gak pernah lihat muka lo santai.”

Ia menatap lurus ke depan. “Lo selalu keliatan dingin. Tegang. Kayak tali yang ditarik terus.”

Ia menoleh, kali ini menatap Raska. “Tali yang terlalu kencang… pas putus, mentalnya sakit.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang ia kira.

Raska terdiam.

Di samping mereka, trio komentator saling pandang tanpa suara.

Tak ada label. Tak ada pengakuan. Tapi sesuatu jelas bergerak maju. Pelan, hati-hati.

Dan untuk pertama kalinya… Raska tidak merasa sendirian saat lukanya disentuh.

***

Hari demi hari berlalu.

Tanpa ada status. Tanpa pengakuan resmi. Tanpa kata pacaran. Namun siapa pun bisa melihat, Raska dan Elvara semakin dekat.

Duduk berdampingan saat belajar. Berjalan sejajar tanpa saling menggenggam. Bicara seperlunya, tapi selalu dalam jarak yang sama.

Dan justru di situlah masalahnya.

Di mata para penggemar Raska, kedekatan itu terasa… salah.

Bisik-bisik mulai bermunculan di koridor. Di kantin. Di grup chat yang isinya wajah cantik dan senyum dibuat-buat.

“Serius? Sama dia?”

“Gak seimbang banget, gak sih?”

“Cuma pinter doang. Selain itu apaan?”

Elvara mendengar sebagian. Merasakan sisanya. Ia tidak menunduk. Tidak membalas. Tidak merasa perlu membela diri. Ia hanya berjalan seperti biasa, menuju belakang sekolah.

Di bawah pohon itu, Raska dan trio komentator pasti sudah menunggu. Namun langkah Elvara terhenti.

Bella berdiri di sana.

Bukan sendirian. Dua siswi lain berdiri di sisi kanan-kirinya, senyum mereka terlalu rapi untuk disebut ramah.

“Elvara,” sapa Bella, suaranya manis. Terlalu manis.

Elvara mengangkat wajah. Ekspresinya datar. Seperti biasa. “Ada apa?”

Bella melangkah setengah langkah lebih dekat. Menilai. Menimbang. “Lo ke belakang sekolah terus, ya akhir-akhir ini.” Nada suaranya terdengar santai, tapi matanya tajam.

“Belajar.” Jawaban Elvara singkat. Jujur. Tidak defensif.

Bella terkekeh kecil. “Belajar… atau numpang dekat?”

Salah satu gadis di belakang Bella menimpali dengan tawa tertahan. “Lumayan, ya. Dekat pangeran sekolah.”

Elvara menatap mereka satu per satu. Tidak tersinggung. Tidak marah.

Hanya lelah.

“Ada urusan lain?” tanyanya datar.

Bella menyilangkan tangan. Kepalanya sedikit mendongak, posisi khas orang yang terbiasa menang.

“Gue cuma heran,” ucapnya pelan, “Raska itu punya segalanya. Tampang, status, masa depan.”

Tatapan Bella turun, menelusuri tubuh Elvara tanpa sopan. “Dan lo… ya, cuma pintar.”

Diam. Elvara tidak membantah.

Bella maju selangkah. “Jadi jangan salah paham. Kalau Raska dekat sama lo, itu mungkin cuma—” Ia tersenyum tipis, merasa menang. “—kenyamanan sementara.”

Kalimat itu meluncur seperti pisau tumpul. Tidak langsung melukai, tapi meninggalkan rasa perih.

Elvara menarik napas pelan. Ia menatap Bella lurus-lurus untuk pertama kalinya.

“Kalau itu cuma sementara,” ucapnya tenang, “harusnya lo gak perlu repot-repot nyamperin gue 'kan?”

Senyum Bella retak sepersekian detik.

Elvara melanjutkan, suaranya tetap datar. “Dan kalau ukuran seseorang cuma dari penampilan, mungkin masalahnya bukan di gue.”

Ia melangkah melewati mereka. Tidak berlari. Tidak menoleh lagi. Langkahnya tetap stabil, meski dadanya terasa sedikit berat.

 

Di kejauhan, di bawah pohon rindang, Raska berdiri lebih dulu saat melihat Elvara mendekat.

Tatapan mereka bertemu.

Raska tidak bertanya. Hanya memiringkan kepala sedikit. Pertanyaan tanpa suara.

Elvara duduk di tempatnya seperti biasa. Mengeluarkan keripik. Menghela napas tipis.

“Telat,” gumam Asep.

Elvara menjawab ringan. “Ketemu hambatan kecil.”

Raska menatapnya lama. Ada sesuatu di sorot matanya. Dingin, tapi waspada.

Dan jauh di belakang mereka, Bella berdiri dengan tangan terkepal. Untuk pertama kalinya, ia menyadari satu hal yang membuat dadanya panas:

Elvara tidak perlu menyingkirkan siapa pun. Keberadaannya saja sudah cukup untuk membuat orang lain merasa kalah.

Dan itu jauh lebih berbahaya.

***

Jam pulang sekolah baru saja berbunyi.

Gerbang sekolah mulai ramai. Suara tawa, langkah kaki, dan motor yang dipanaskan bercampur jadi satu. Elvara melangkah sendirian menuju arah belakang sekolah, ransel di satu bahu, wajah datar seperti biasa.

Ia baru melangkah beberapa meter ketika langkahnya terhenti.

Sekelompok siswi berdiri menghadangnya. Jumlah mereka tidak sedikit.

Ada yang menyilangkan tangan. Ada yang menatap sinis. Ada pula yang sengaja tertawa mengejek.

“Eh,” salah satu dari mereka berseru lantang. “Jangan sok deketin Raska lagi, ya.”

Elvara melirik sekilas. Ekspresinya nyaris bosan.

“Sadar diri dikit dong,” sambung yang lain.

“Ngaca. Lo tuh apa sih dibanding dia?”

Elvara berdecak pelan. Suara itu keluar spontan, malas. Ia hendak melangkah memutar, tidak tertarik meladeni.

Namun tiba-tiba—

PLAK! PLAK! PLAK!

Sesuatu menghantam dadanya, punggungnya, bahunya. Tomat busuk pecah. Kuning telur mengalir. Tepung menempel di seragam abu-abu itu, mengotori semuanya.

Tawa meledak.

“Karung beras ngarep cinta pangeran!”

“Jangan mimpi ketinggian!”

“Lo gak pantes!”

“Putri kodok mau jadi cantik dan dicintai pangeran? Itu cuma dongeng!”

Elvara menunduk, menatap seragamnya yang kini penuh noda.

Napasnya tertahan sesaat.

Ia mengangkat kepala, berniat melangkah pergi. Tangannya terkepal di sisi tubuh, urat-uratnya menegang.

Wajahnya tetap datar. Terlalu datar.

Dan justru itulah yang membuat kekejaman itu terasa semakin telanjangg.

Lemparan kembali datang.

Tomat, telur, terigu, bertubi-tubi, tanpa jeda.

Elvara akhirnya menunduk, mengangkat kedua tangan untuk menutupi wajahnya.

Lalu sebuah suara memotong udara—

“HENTIKAN.”

Satu suara berat memotong udara. Tajam. Dingin. Penuh tekanan. Suara langkah berat mendekat.

Semua terdiam. Berhenti melempar. Kepala-kepala menoleh bersamaan.

Raska berdiri di sana.

Seragamnya rapi. Bahu tegap. Wajahnya tidak marah, tapi justru itulah yang membuatnya mengerikan.

Di belakangnya, Asep, Vicky, dan Gayus berdiri sejajar.

Asep sudah mengepalkan tangan. Vicky memasang senyum tipis yang tidak ramah. Gayus menatap lurus, tenang. Terlalu tenang.

Raska melangkah maju satu langkah. Tatapannya menyapu satu per satu wajah di hadapannya.

“Siapa,” ucapnya pelan, “yang ngerasa punya hak nyentuh dia?”

Tak ada yang menjawab. Sunyi menekan.

Raska berhenti tepat di depan Elvara. Tanpa bicara, ia melepas jaket dan menyampirkannya ke bahu Elvara yang ternoda. Gerakannya tenang. Protektif.

Ia lalu menoleh kembali ke kerumunan. “Mulai sekarang,” katanya dingin, “kalau ada yang ganggu dia lagi, kalian urusan sama gue.”

Asep menambahkan dengan nada berapi-api, “Dan percaya deh, itu bukan pilihan hidup yang bijak.”

Vicky menyeringai. “Cantik itu bonus. Otak kosong itu masalah.”

Gayus menutup dengan suara datar, “Secara hukum sekolah, ini sudah masuk perundungan. Kalian mau lanjut?”

Tak satu pun berani menjawab. Satu per satu mundur.

Elvara berdiri diam di samping Raska. Ia menoleh sedikit, menatap wajah pemuda itu.

Untuk pertama kalinya… ia melihat sesuatu yang tidak dingin di mata Raska.

Amarah yang terkendali. Dan ketakutan, bukan untuk dirinya sendiri. Untuknya.

...🌸❤️🌸...

Like & komen dulu dong~ 😏❤️

Siapa tahu penulis lagi khilaf dan langsung crazy up hari ini.

Tiga bab? Bisa jadi lima. Bisa jadi… lebih. 😜🔥

Kalau rame, tangan auto gatal ngetik.

To be continued

1
Kyky ANi
ngak sabar baca kisah selanjutnya,, pasti makin seru,,,
Kyky ANi
kasian Elvara,, dia pasti sakit banget dengar ini semua,,
Kyky ANi
mungkin,orang2, akan aneh, melihat Raska yang tampan berjalan bersama Elvara yang size jombo,, tapi Raska tidak peduli,,karna dia bahagia,, bersama Elvara,,
Kyky ANi
bagus deh, kalau Elvara mau nikah siri sama Raska,, dan semoga tidak ada tahu,, sampai saatnya tiba,,
naifa Al Adlin
top bgt buat kak nana
🌠Naπa Kiarra🍁: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Kyky ANi
benar yang dikatakan Raska, Elvara ,,, kalian nikah siri dulu,, supaya lebih aman kedepannya,,
Ass Yfa
lanjut part 2. yg dewasa...mereka ketemu setelah dewasakah
Kyky ANi
Raska dan Elvara,, terpengaruh obat, yang diberikan pelayan itu,, gimana ya,, kalau mereka sadar nanti,,,
Ass Yfa
duh..Vara kecewa berat...apa Raska bisa yakinin si Vara
Kyky ANi
siapa ya, kira2 yang akan meminum gelas itu,,
Ass Yfa
oh ternyata saksinya dari ustad...mereka 17thn tapi harus dewasa dini...huh kalo itu ankku kok nggk rela😄😄😄aku juga pubya bujang...bikin dar der dor...
Ass Yfa
menikah siri harusnya juga ada saksi kan....kalo ndak salah...2 orang...tadi ada saksi ndak thor
Ass Yfa
insting Asep nggk pernah salah....itu di Raska tidure nyenyak lo berkat Vara...trs mukanya bercahaya kata si Asep yaiyalah..dpt asupan vitamin😁😁
Kyky ANi
semoga Raska,Elvara, dan teman2nya lulus ya,,
Ass Yfa
wah...kejadian juga..Vara ama Raska...tapi siapa cowok yg ama Bella...bukan Roy lo...Bella aja nggk kenal
sunshine wings
I really enjoy this novel.. From the beginning till the end of season 1.. Banyak suka dukanya melibatkan emosi sesaat.. I really loved it.. 👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings: 🫶🏻🫶🏻🫶🏻🫶🏻🫶🏻
total 2 replies
sunshine wings
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings
Trima kasih author kerana banyak memberi wejangan kehidupan di dunia nyata.. I really appreciate it and loved the novel very much..❤️❤️❤️❤️❤️
Kyky ANi
Good,, trio komentator,, kalian adalah sahabat terbaik Raska,,
Siti Jumiati
udah tamat aja, nyesek deh bacanya, kasihan elvara dan rasa...
makasih kan nana atas karya-karya lanjut ke sesok 2...💪💪💪
🌠Naπa Kiarra🍁: Sama-sama, Kak🤗🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!