Untuk mengungkap penyebab adiknya bunuh diri, Vera menyamar menjadi siswi SMA. Dia mendekati pacar adiknya yang seorang bad boy tapi ternyata ada bad boy lain yang juga mengincar adiknya. Siapakah pelakunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Sagara menarik Vera dari cengkeraman Novan dengan kasar. Napasnya memburu, tatapannya penuh amarah. Begitu Vera berhasil lolos, dia segera mundur menjauh. Sagara berdiri di antara Vera dan Novan untuk melindunginya.
“Lo pikir gue bakal diem aja setelah semua yang lo lakuin ke Rhea, hah?!” bentak Sagara, suaranya penuh kemarahan.
"Kamu terlalu ikut campur!"
Sagara tidak memberi Novan kesempatan untuk berbicara lebih lama. Dalam sekejap, tinjunya melayang ke arah wajah Novan.
Bugh!
Novan terhuyung ke belakang, bibirnya langsung berdarah akibat pukulan keras itu. Dia menyeka darah yang mengalir dengan punggung tangannya, lalu melirik Sagara dengan tatapan penuh kebencian.
“Kamu berani sekali!” geram Novan.
Sagara hanya menatapnya tajam, napasnya masih stabil meski amarahnya menggelegak.
Vera melirik ke belakang, melihat teman-teman Sagara yang berdiri tak jauh. Mereka tampak siap untuk ikut membantu, tapi Sagara mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mereka tidak ikut campur.
“Jangan ada yang ikut. Gue mau selesaikan ini sendiri.”
Sagara kembali maju, kali ini lebih agresif. Dia menghantam perut Novan dengan keras, membuat lawannya tersungkur ke tanah.
Novan terbatuk, mencoba menghirup udara dengan susah payah. Tapi Sagara tidak memberinya kesempatan untuk bangkit. Dia menarik kerah baju Novan dan meninjunya lagi, kali ini mengenai pipinya dengan keras.
Bug!
Novan jatuh ke tanah. Tapi dia tidak mau kalah begitu saja. Dengan sisa tenaganya, dia menendang kaki Sagara, membuatnya kehilangan keseimbangan.
Namun, Sagara jauh lebih siap. Dia menangkis tendangan itu dan balas menyerang dengan lututnya tepat ke rahang Novan.
Dughh!
Novan kembali tersungkur, darah mengalir dari bibirnya. Matanya berkunang-kunang, tubuhnya mulai melemah.
Sagara mencengkeram kerah Novan dengan kasar dan menarik wajahnya hingga sejajar.
“Lo pikir gue gak tahu? Lo yang jebak Dwiki, lo yang bikin Rhea hancur! LO YANG SEHARUSNYA MASUK PENJARA! GUE JUGA BISA HANCURIN LO!"
Novan tidak bisa menjawab, napasnya tersengal. Tapi Sagara masih belum puas. Dendam yang dia pendam belum terbayar.
Dia mengangkat tinjunya sekali lagi.
Namun sebelum pukulan itu mendarat, suara sirene menggema di udara.
“POLISI! BERHENTI!”
Cahaya merah dan biru berputar di sekitar mereka. Mobil polisi berhenti dengan cepat di halaman rumah Novan. Beberapa petugas keluar dari mobil dengan sigap, senjata mereka siap di tangan.
Sagara membeku. Dia masih menggenggam kerah Novan yang hampir pingsan.
Dua petugas berlari ke arah mereka, salah satunya langsung menarik Sagara menjauh dari Novan.
“Lepaskan dia dan mundur!” perintah salah satu polisi dengan tegas.
Sagara masih menatap Novan dengan tatapan penuh kebencian, tetapi akhirnya dia melepaskan cengkeramannya.
Dua petugas lainnya segera mengamankan Novan yang sudah tak berdaya.
“Novan, kamu ditangkap atas tuduhan pengedaran narkoba dan pelecehan," kata seorang polisi, memborgol Novan yang tidak bisa melawan.
Sagara masih berdiri di tempatnya, tangannya mengepal kuat.
“Kalian berdua ikut kita ke kantor polisi."
Sagara hanya mengangguk, lalu menatap Vera.
“Lo udah dapat buktinya kan?” tanya Sagara pelan.
Vera mengangguk pelan. "Sudah." Dia menahan sesak di dadanya.
...***...
Dwiki menundukkan kepala, tangannya mengepal erat di atas meja interogasi kantor polisi. Ayahnya berdiri di depannya dengan wajah merah padam, matanya menyala penuh amarah.
"Dari kecil Ayah sudah mengajarkan kamu untuk jadi orang yang benar! Tapi sekarang, lihat! Kamu memakai narkoba! Apa kamu juga pengedar!" suara Pak Dodik menggelegar di ruangan itu.
Dwiki mengangkat kepalanya. “Ayah, aku sumpah! Aku gak ngelakuin itu! Aku gak tahu kenapa barang itu ada di tasku!” Dwiki terus membela dirinya tapi tanpa adanya bukti yang kuat, dia tidak mungkin dilepaskan begitu saja.
Pak Hardi mendengus kesal. “Hah! Kamu pikir polisi akan percaya? Barang bukti sudah ada! Ini bukan masalah kecil, Dwiki! Kamu bisa dipenjara kalau tidak ada bukti yang membebaskan kamu! Ayah pikir kamu sudah berubah!"
Dwiki mengeratkan rahangnya. Bagaimana dia bisa membuktikan bahwa dia dijebak?
Saat itu, pintu ruang interogasi terbuka dengan kasar.
Sagara dan Vera masuk. Di belakang mereka, dua polisi menggiring seseorang yang juga dalam keadaan babak belur.
Dwiki langsung berdiri dari kursinya. Ternyata benar dugaannya.
Sagara menyerahkan rekaman suara. “Tolong periksa ini, Pak. Di dalamnya ada rekaman suara Kevin yang mengakui bahwa Novan yang menjebak Dwiki.”
Sagara juga melempar ponsel Novan ke meja dengan kasar karena sangat kesal. “Buka juga video di ponsel ini. Ada bukti kalau Novan yang memperkosa Rhea hingga hamil. Dia menghancurkan hidupnya dan membuatnya bunuh diri.”
Seorang petugas dengan cepat memutar rekaman suara yang diberikan Sagara.
“Gue disuruh sama Pak Novan untuk jebak Dwiki. Dia bayar gue."
Pak Dodik yang tadi marah besar, kini mulai terdiam. Matanya beralih pada Dwiki yang masih duduk dengan tangan mengepal.
Petugas lain memeriksa ponsel Novan dan segera memutar video yang ditemukan di dalamnya. Di layar, terlihat dengan jelas Novan memaksa Rhea dan mengancamnya.
Polisi menatap Novan dengan tajam. “Novan, dengan bukti ini, kamu resmi ditahan atas tuduhan penyebaran narkoba, pemalsuan bukti, dan percobaan tindak kriminal lainnya.”
Dua polisi segera menyeret Novan dan memasukkannya ke dalam sel tahanan agar tidak kabut.
Pak Dodik mengalihkan pandangannya ke Dwiki, wajahnya kini penuh penyesalan. “Dwiki … Maafkan Ayah.”
Namun, Dwiki sudah melangkah cepat ke arah Vera. Tatapan matanya menelusuri luka-luka di tubuh gadis itu.
“Vera, lo kenapa? Si brengsek itu nyakitin lo?” suaranya penuh kekhawatiran.
“Gue gak apa-apa, Dwiki. Yang penting sekarang lo udah bebas dan Novan akan mendapatkan hukumannya," jawab Vera. Dia merasa sangat lelah.
"Vera, lo duduk saja. Gue sudah hubungi bokap yang akan mengurus masalah ini. Gue akan pastikan Novan dihukum seberat-beratnya."
Vera menganggukkan kepalanya. Dia kini hanya menatap Dwiki yang sedang berbicara dengan ayahnya dan juga Sagara yang sibuk dengan ponselnya. Dia sadar, dia tidak bisa menilai seseorang hanya dari tampilan luarnya saja. Nyatanya, dia tertipu dengan Novan yang sangat baik dan bertitel guru. Sedangkan, sekarang dua pria yang pernah dia tuduh itu dan sama-sama berpenampilan bad boy, justru orang yang baik dan terus membantunya.
"Sekarang, aku merasa sendiri. Aku sudah tidak punya tujuan lagi."
Ayooo semangat Dwiki cari dalangnya😥