NovelToon NovelToon
BECOME A MAFIA QUEEN

BECOME A MAFIA QUEEN

Status: tamat
Genre:Tamat / Mafia / Reinkarnasi / Identitas Tersembunyi / Pemain Terhebat / Roman-Angst Mafia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nuah

Seorang Jenderal perang yang gagah perkasa, seorang wanita yang berhasil di takuti banyak musuhnya itu harus menerima kenyataan pahit saat dirinya mati dalam menjalankan tugasnya.

Namun, kehidupan baru justru datang kepadanya dia kembali namun dengan tubuh yang tidak dia kenali. Dia hidup kembali dalam tubuh seorang wanita yang cantik namun penuh dengan misteri.

Banyak kejadian yang hampir merenggut dirinya dalam kematian, namun berkat kemampuannya yang mempuni dia berhasil melewatinya dan menemukan banyak informasi.

Bagaimana kisah selanjutnya dari sang Jenderal perang tangguh ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Kebimbangan

Hari itu, aula besar sekolah dipenuhi oleh para siswa yang bersuka cita. Balon-balon warna-warni menghiasi langit-langit, musik menggema di seluruh ruangan, dan suara tawa serta obrolan memenuhi udara. Hari ini adalah pesta kelulusan, momen yang telah ditunggu-tunggu oleh semua siswa, termasuk Kirana.

Dia berdiri di antara kerumunan, mengenakan gaun biru muda yang sederhana namun anggun. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai, dan riasan ringan di wajahnya membuatnya tampak lebih bersinar daripada biasanya.

Alice, yang berdiri di sampingnya, menatapnya dengan bangga. "Lihatlah dirimu, Kirana. Kau terlihat sangat cantik malam ini. Aku yakin banyak pria akan jatuh hati padamu."

Kirana tersenyum malu. "Jangan bercanda, Alice. Aku hanya ingin menikmati malam ini."

Alice tertawa kecil. "Baiklah, baiklah. Oh, ngomong-ngomong, Kak Kael akan datang sebentar lagi."

Mendengar nama itu, jantung Kirana berdetak lebih cepat.

Kaelus…

Sudah beberapa hari sejak ujian nasional berakhir, dan selama itu pula Kaelus tidak banyak menghubunginya.

Meskipun Kirana berhasil masuk dalam lima besar siswa dengan nilai tertinggi tahun ini—hal yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya—Kaelus hanya mengiriminya pesan singkat yang berisi ucapan selamat.

Tidak ada pujian secara langsung.

Tidak ada tatapan penuh kebanggaan.

Dan Kirana tidak bisa membohongi dirinya sendiri… dia merindukan pria itu.

Namun dia menepis perasaan itu jauh-jauh.

Baginya, Kaelus hanyalah seorang kakak yang baik. Tidak lebih.

Tapi mengapa jantungnya berdebar kencang setiap kali mendengar namanya?

.

Pesta semakin meriah. Para siswa menari, berbincang, dan tertawa bersama. Beberapa guru memberikan pidato singkat, sementara kepala sekolah mengumumkan peringkat lima besar siswa terbaik tahun ini.

Saat nama Kirana disebut, semua orang bertepuk tangan.

Alice menggenggam tangannya dengan bangga. "Kirana, kau luar biasa!"

Kirana tersenyum malu-malu dan berjalan ke atas panggung untuk menerima sertifikat penghargaan.

Namun saat dia kembali ke tempatnya, dia merasakan tatapan seseorang yang begitu familiar.

Tatapan yang tajam namun hangat.

Tatapan yang selalu membuatnya kehilangan keseimbangan.

Tatapan dari seorang pria bernama Kaelus Moretti.

.

Kaelus datang dengan mengenakan setelan hitam yang sempurna. Rambutnya ditata rapi, wajahnya seperti biasa terlihat tenang dan berwibawa.

Namun yang membuat Kirana benar-benar terpaku adalah bagaimana pria itu berjalan langsung ke arahnya tanpa ragu sedikit pun.

Alice, yang menyadari kedatangan kakaknya, tersenyum jahil. "Baiklah, sepertinya aku harus memberi kalian sedikit privasi."

Dia pun pergi, meninggalkan Kirana dalam keadaan panik.

"Kirana," suara Kaelus terdengar begitu dekat, membuat Kirana menegang.

"Kael…" Kirana menundukkan wajah, merasa canggung.

Kaelus tersenyum kecil, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Kirana dan berbisik,

"Aku sudah terlalu lama membohongi diriku sendiri. Aku tidak bisa menahannya lagi."

Jantung Kirana nyaris berhenti berdetak.

"Aku menyukaimu."

Bisikan itu begitu lembut, begitu nyata, namun juga begitu mengejutkan hingga Kirana tidak tahu bagaimana harus bereaksi.

Dia membeku di tempatnya, matanya melebar, mulutnya sedikit terbuka, namun tidak ada kata-kata yang keluar.

Kaelus menatapnya dengan intens. "Aku tahu ini mungkin terdengar gila, tapi aku tidak bisa menyangkal perasaanku lebih lama lagi. Aku jatuh cinta padamu, Kirana."

Kirana masih tidak bisa berkata apa-apa.

Ini… lelucon, bukan?

Kaelus, pria yang sempurna itu… jatuh cinta padanya?

.

Kirana merasa seperti berada dalam mimpi.

Kaelus, pria yang selama ini dia anggap sebagai sosok yang tak tersentuh, kini berdiri di depannya, mengakui perasaannya dengan begitu jujur.

"T-Tapi… aku…" Kirana mencoba berbicara, tapi suaranya bergetar.

Kaelus tersenyum tipis. "Aku tidak mengharapkan jawaban sekarang. Aku hanya ingin kau tahu apa yang sebenarnya kurasakan."

Dia menatap Kirana dalam-dalam sebelum berkata lagi, "Pikirkanlah, Kirana. Apa yang sebenarnya kau rasakan?"

Dan setelah mengatakan itu, Kaelus berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Kirana yang masih terdiam dengan pikiran yang berantakan.

.

Sepanjang malam, Kirana tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata Kaelus.

"Aku jatuh cinta padamu."

Kalimat itu terus terulang dalam pikirannya.

Dia menggigit bibir, mencoba mengendalikan debaran di dadanya.

Apakah dia juga… mencintai Kaelus?

Ataukah ini hanya perasaan kagum semata?

Namun satu hal yang pasti, sejak pengakuan itu, Kirana tidak bisa lagi melihat Kaelus sebagai seorang 'kakak' seperti sebelumnya.

Dan itu membuatnya semakin bingung.

Bagaimana dia harus menghadapi Kaelus setelah ini?

.

Malam itu, Kirana duduk sendirian di balkon kamarnya. Angin malam yang sejuk menerpa wajahnya, membuat rambut panjangnya sedikit berantakan. Namun bukan angin yang membuat pipinya terasa panas, melainkan kata-kata Kaelus yang terus terngiang di kepalanya.

"Aku jatuh cinta padamu."

Setiap kali mengingat suara lembutnya, Kirana merasakan kehangatan merayapi tubuhnya. Jantungnya berdetak lebih cepat, tangannya menggenggam erat selimut di pangkuannya, dan tanpa sadar, kedua pipinya memerah.

"Kenapa aku begini?" pikirnya dengan frustrasi.

Selama ini, dia selalu melihat Kaelus sebagai sosok kakak yang baik hati, pelindung yang selalu ada untuknya. Dia percaya bahwa perhatian Kaelus hanyalah bentuk kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Namun setelah mendengar pengakuan itu, segalanya terasa berbeda.

"Apakah aku juga… mencintainya?"

.

Kirana menggigit bibirnya. Dia tidak bisa membohongi diri sendiri—ada sesuatu dalam dirinya yang menginginkan Kaelus.

Bukan hanya sebagai sosok pelindung.

Bukan hanya sebagai pria yang membantunya melewati masa sulit.

Tapi sebagai seorang pria… yang dia cintai.

Dia mengubur wajahnya di antara lututnya.

"Apa yang harus aku lakukan?"

Dia ingin bersandar pada Kaelus.

Dia ingin merasakan hangatnya pelukan pria itu.

Dia ingin mendengar suaranya setiap hari.

Tapi… bolehkah dia melakukan itu?

Kirana mengingat siapa dirinya.

Dia bukan siapa-siapa.

Dia hanya seorang gadis biasa yang datang dari keluarga bermasalah. Seorang gadis yang dulunya hidup dalam penderitaan dan kekerasan.

Sedangkan Kaelus…

Dia pria luar biasa. Tampan, sukses, kuat, dan memiliki segalanya. Dia berasal dari keluarga yang sangat berpengaruh dan dihormati.

"Aku tidak pantas untuknya," Kirana berpikir, hatinya mencelos.

"Aku hanya beban baginya."

Mungkin Kaelus hanya merasa kasihan.

Mungkin perasaannya hanyalah rasa ingin melindungi, bukan cinta yang sesungguhnya.

Kirana menghela napas panjang.

Dia takut.

Takut berharap terlalu tinggi.

Takut kehilangan hubungan yang telah ia bangun dengan Kaelus.

Takut bahwa pada akhirnya, dia hanya akan terluka.

.

Kirana terus bergumul dengan pikirannya hingga larut malam.

Dia mencoba mencari jawaban di hatinya, tapi semakin dalam dia berpikir, semakin rumit semuanya terasa.

Dia meraih ponselnya, menatap layar dengan bimbang.

Ada satu pesan dari Kaelus.

"Tidurlah yang nyenyak. Jangan terlalu banyak berpikir."

Kirana menatap pesan itu lama, seolah berharap ada jawaban yang tersembunyi di baliknya.

Kaelus selalu tahu.

Dia tahu Kirana akan kebingungan.

Dia tahu Kirana akan menghabiskan malam dengan memikirkannya.

Dan dengan pesan sederhana itu, dia mencoba menenangkan Kirana.

Namun justru pesan itulah yang semakin membuat Kirana sadar.

"Aku tidak ingin kehilangan dia."

Dan saat menyadari perasaan itu, air matanya jatuh perlahan.

Mungkin, selama ini, dia sudah mencintai Kaelus tanpa pernah menyadarinya.

Tapi apakah dia memiliki keberanian untuk mengakuinya?

Malam itu, Kirana tertidur dengan hati yang masih gelisah. Namun satu hal yang pasti.

Esok hari, dia harus menghadapi perasaannya sendiri.

Karena dia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa Kaelus hanyalah seorang kakak baginya.

Tidak ketika hatinya berdebar setiap kali pria itu tersenyum padanya.

Tidak ketika dia merasa hangat hanya dengan mendengar suaranya.

Dan yang paling penting…

Tidak ketika dia mulai membayangkan masa depannya bersama pria itu.

1
Shai'er
innalillahi wainnailaihi roji'un 🥺
semoga, arwahnya diterima disisi Allah SWT yang sebaik-baiknya, dan segala amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT, dan keluarga,kerabat,sahabat yang ditinggalkan, diberi kesehatan dan ketabahan, Amiiin 🙏🙏🙏
Shai'er
end 🥺🥺🥺
tapi happy🥰🥰🥰
makasih banyak Thor 🥰🥰🥰
sehat selalu💙💙💙
Shai'er
🥰🥰🥰🥰🥰
Shai'er
🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳
Shai'er
🥰🥰🥰🥰🥰
Shai'er
good job, Leo 👍👍👍
Shai'er
halalin dong bang Leo
Shai'er
👍👍👍👍
Shai'er
hayoo loh
Shai'er
iya iya lagi
Shai'er
terulang lagi
Shai'er
oke 👍👍👍
Shai'er
🥺🥺🥺🥺🥺
Shai'er
👍👍👍👍👍👍👍👍
Shai'er
hajar terooos 👊👊👊👊👊
Shai'er
hajarrrrrrrrrrrrrr
Shai'er
mantan adalah maut😭😭😭
Shai'er
tuh kan
Shai'er
mencurigakan nih, pasti ada sesuatu di minuman itu
Shai'er
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!