Kehidupan Zenaya berubah menyenangkan saat Reagen, teman satu kelas yang disukainya sejak dulu, tiba-tiba meminta gadis itu untuk menjadi kekasihnya.
Ia pikir, Reagen adalah pria terbaik yang datang mengisi hidupnya. Namun, ternyata tidak demikian.
Bagi Reagen, perasaan Zenaya tak lebih dari seonggok sampah tak berarti. Dia dengan tega mempermainkan hati Zenaya dan menginjak-injak harga dirinya dalam sebuah pertaruhan konyol.
Luka yang diberikan Reagen membuat Zenaya berbalik membencinya. Rasa trauma yang diberikan pria itu membuat Zenaya bersumpah untuk tak pernah lagi membuka hatinya pada seorang pria mana pun.
Lalu, apa jadinya bila Zenaya tiba-tiba dipertemukan kembali dengan Reagen setelah 10 tahun berpisah? Terlebih, sebuah peristiwa pahit membuat dirinya terpaksa harus menerima pinangan pria itu, demi menjaga nama baik keluarga.
(REVISI BERTAHAP)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Pemulihan.
Kini Liam, Adryan, Craig, Noah, dan Reagen duduk bersama di ruang tamu. Noah sibuk membersihkan luka di wajah Reagen, sementara Liam dan Craig tenggelam dalam perbincangan serius mengenai rencana Reagen yang ingin menikahi Zenaya.
“Apakah Anda tahu apa dampak psikologis yang akan dialami seorang korban bila dipaksa menikah dengan pelakunya?” tanya Liam, nadanya berat dan tegas.
“Saya paham,” jawab Craig, tatapannya tak kalah serius. “Namun, bagaimanapun juga, mereka pernah bersama dan pernah saling mencintai. Jadi, tidak ada salahnya bila anak saya bertanggung jawab dengan menikahi putri Anda. Terlebih keluarga Anda terpandang. Tolong, pikirkan baik-baik dampaknya ke depan.”
Liam tentu mengerti apa yang dimaksud Craig. "Hal itu belum tentu terjadi, insiden ini hanya terjadi sekali."
“Kita tidak pernah tahu. Anda seorang dokter, tentu lebih mengerti hal-hal seperti ini daripada saya,” Craig menimpali. Pandangannya lalu beralih pada putra bungsunya yang tampak menahan sakit. Noah sama sekali tidak berbelas kasih ketika mengobati luka sang adik, seolah ingin menyalurkan seluruh amarahnya lewat setiap sentuhan.
Liam memijat pelipisnya yang berdenyut. Ucapan Craig memang tidak sepenuhnya keliru. Matanya sekilas menatap Reagen yang baru saja selesai diobati. Wajah pria itu tampak sedikit lebih baik, meski tetap menyedihkan.
Adryan hanya bergeming. Dadanya sesak menahan amarah. Ia ingin sekali menolak rencana gila itu karena tak sudi melihat adik tercintanya dipaksa bersanding dengan pria yang telah merenggut kehormatannya. Zaman sudah berubah, begitu banyak pasangan hidup dalam pergaulan bebas. Untuk apa mereka repot memikirkan formalitas pernikahan ini? Bukankah seharusnya mereka lebih memikirkan kondisi mental Zenaya?
Adryan menghela napas panjang. Getir meremas hatinya. Entah mengapa, memikirkan hal itu sama saja dengan menjadikannya pria brengsek tak tahu malu.
...***...
Amanda, Jennia, dan Krystal mengantar Zenaya kembali ke kamarnya. Amanda menjelaskan bagaimana putrinya tertabrak mobil saat berusaha kabur dari apartemen Reagen. Untung saja lokasi kecelakaan tak jauh dari rumah sakit, dan para penabrak bertanggung jawab membawa Zenaya yang kala itu tidak sadarkan diri.
Jennia menatap wajah pucat Zenaya dengan sendu. Tangannya bergetar ketika mengelus surai halus gadis itu sambil berulang kali menggumamkan kata maaf. Ia lalu menggenggam tangan Zenaya yang dingin bagai es, seolah mencoba meminjamkan sisa hangat dari tubuhnya.
Zenaya tak memberi reaksi selain hanya air mata yang terus menetes membasahi wajahnya yang rapuh. Batin gadis itu terguncang hebat, terlebih ketika bayangan tangisan Adryan dan kekecewaan kedua orang tuanya kembali menghantam ingatannya.
Ia merasa seperti telah menghancurkan keluarganya sendiri.
Tak lama kemudian, seorang asisten rumah tangga masuk ke kamar Zenaya. Atas perintah Liam, ia meminta para wanita turun ke lantai bawah, sementara ia tetap menemani Zenaya.
Amanda, Jennia, dan Krystal pun menuju ruang tamu. Pandangan Amanda tercekat saat melihat kondisi ruangan yang kacau balau, lalu beralih pada sosok Reagen yang tertunduk dengan wajahnya penuh luka.
Dengan ketabahan yang menyakitkan, Amanda mendekati pria itu. Tangannya terulur untuk menyentuh pipi Reagen yang bengkak dengan penuh kelembutan. "Pasti sakit sekali," ucapnya pelan.
Reagen terkesiap. Hatinya bergetar hampir runtuh. Bagaimana mungkin Amanda masih memperlakukannya lembut, setelah semua luka yang ia torehkan pada putrinya? Rahangnya mengeras dan tangan mengepal guna menahan air mata agar tidak jatuh kembali.
"Kompres dengan air hangat nanti di rumah, lalu oleskan Oparin Gel pada memarnya. Tapi jangan sampai mengenai lukanya yang terbuka," pesan Amanda kepada Noah yang duduk di samping Reagen.
Noah mengangguk, suaranya singkat penuh kesantunan dan rasa tak enak hati.
Liam kemudian menginterupsi. Dengan wajah muram, ia menjelaskan pada Amanda perihal maksud kedatangan Craig dan rencana pernikahan itu.
Amanda mendengarkan dengan tenang, meski hatinya koyak. Ia paham maksud keluarga Walker, apa lagi mereka pernah menjalin hubungan bertahun-tahun lalu. Namun, luka kali ini berbeda dan tidak begitu saja bisa sembuh hanya dengan selembar janji pernikahan.
"Zenaya masih terguncang. Lebih baik kita bicarakan kembali nanti." Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Amanda. Semua keputusan akan ia serahkan pada Zenaya ketika kondisi sang putri sudah jauh lebih baik.
Craig mengangguk lalu berpamitan bersama keluarganya. "Saya berharap bisa mendengar kabar baik dari Anda," kata pria itu seraya mengulurkan tangan pada Liam.
Liam menyambutnya, sekadar basa-basi. Namun, kepada Reagen, ia bahkan tidak sudi memberikan tatapan. Adryan sendiri langsung pergi meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun, seolah tak ingin berbagi udara dengan pria itu.
...***...
Demi memulihkan kondisi fisik dan mental Zenaya, Liam mendatangkan tenaga medis profesional dari rumah sakit ternama lainnya. Ia tak ingin mengambil risiko dengan menggunakan staf dari rumah sakit miliknya sendiri.
Perlahan, kondisi Zenaya membaik. Memar di tubuhnya memudar dan kulit pucatnya mulai kembali berwarna. Namun, jiwanya masih retak. Meski kini ia bisa tidur lebih nyenyak, bayangan malam itu masih kerap mengusir tenangnya. Dua bulan pasca kejadian, tubuhnya sudah kehilangan sembilan kilogram, seolah sisa hidupnya ikut tercabik.
Grace yang mengetahui kabar soal Zenaya pun rajin mengunjunginya di rumah. Ia bahkan pernah menginap selama beberapa hari saat sang suami dinas keluar kota.
Perasaan bersalah tentu saja turut melingkupi hati Grace. Andai saja ia bisa lebih menjaga Zenaya, semua ini mungkin saja tidak akan terjadi.
"Biar kubantu," Grace yang baru datang langsung menghampiri Zenaya yang tengah sibuk mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer.
"Kamu tidak praktek?" tanya Zenaya.
"Masih pagi, aku masih punya waktu untuk mengganggumu," jawab Grace jenaka.
Zenaya tersenyum.
"Emily dan Alice sudah menghubungimu?" tanya Grace sembari mengeringkan rambut Zenaya dan menyisirnya.
"Sudah. Mereka berencana datang minggu depan."
Grace mengangguk. Setelah mendapat kabar dari mereka berdua, Emily dan Alice memang langsung mengosongkan jadwal mereka agar bisa kembali ke tanah air.
Di sisi lain Reagen sama sekali tidak terdengar kabarnya sejak terakhir kali datang ke rumah. Pria itu hilang bak ditelan bumi.
Reagen sebenarnya tidak menghilang. Ia hanya diasingkan Craig di suatu tempat demi merenungi kesalahannya dan tidak diperkenankan masuk kantor dulu sampai masalah ini selesai.
Di antara keluarga Walker, Jennia lah yang paling rajin menghubungi keluarga Winston, yaitu Amanda. Ia juga sudah beberapa kali mengunjungi Zenaya untuk melihat kondisinya.
Zenaya tidak dapat menolak kehadiran Jennia. Sejujurnya, ia malah merasa nyaman akan kebaikan hati wanita cantik itu. Apa lagi Jennia sama sekali tidak menuntutnya untuk menerima pinangan Reagen. Tak ada satu pun dari keluarga Reagen yang membahas pernikahan lagi demi menghargai Zenaya dan kondisinya.
"Kamu praktek sampai jam berapa, Grace?" tanya Zenaya lagi. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih karena telah membantu mengeringkan rambut panjangnya.
"Jam 3 sore. Kenapa?" Grace balik bertanya.
"Aku bosan di rumah dan ingin jalan-jalan keluar. Rencananya besok aku juga akan kembali bekerja." Jawab Zenaya menjelaskan.
Grace mengernyit. "Kamu belum pulih benar, Zen!" serunya khawatir.
"Aku sudah jauh lebih baik. Papa juga sudah mengizinkanku kembali," akunya.
Grace menghela napas panjang. Jika ayah gadis itu saja kalah, bagaimana dengannya? "Terserah kamu saja, deh!" Grace mengangkat bahu dengan ekspresi malas.
Zenaya tersenyum dan langsung memeluk Grace erat. "Kamu sahabat terbaikku," ucapnya tulus.
Grace pun tersenyum dan membalas pelukan itu. "Kamu juga, Sayangku," katanya dengan nada menggemaskan.