Tujuannya untuk membalas dendam sakit hati 7 tahun lalu justru membuat seorang Faza Nawasena terjebak dalam pusara perasaannya sendiri. Belum lagi, perasaan benci yang dibawa Ashana Lazuardi membuat segalanya jadi semakin rumit.
Kesalahpahaman yang belum terpecahkan, membuat hasrat balas dendam Faza semakin menyala. Ashana dan perusahaan ayahnya yang hampir bangkrut, tak memiliki pilihan selain berkata 'ya' pada kesepakatan pernikahan yang menyesakkan itu.
Keduanya seolah berada di dalam lingkaran api, tak peduli ke arah mana mereka berjalan, keduanya akan tetap terbakar.
Antara benci yang mengakar dan cinta yang belum mekar, manakah yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LYTTE 26 — Apologize
Di ruang tamu, Vanya terduduk dengan canggung. Butuh banyak keberanian untuk datang ke sini, ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di rumah kakak iparnya.
Berbeda dengan rumah Faza yang bergaya modern, rumah Ashana justru bergaya klasik dengan sentuhan perabotan kayu yang terkesan antik bagi Vanya. Warna-warna dindingnya berwarna coklat keemasan, membuat suasana rumah terasa lebih hangat.
Saat Vanya tengah asik memerhatikan dekorasi rumah itu, Ashana terlihat turun dari tangga. Meski hanya mengenakan pakaian rumah, Ashana tetap terlihat cantik.
Perempuan itu nampak terkejut saat melihat kehadiran Vanya di rumahnya, sebersit prasangka buruk hinggap di benaknya. Untuk apa Vanya datang ke rumahnya? Apakah ia datang atas perintah dari Faza?
Keduanya sama-sama tersenyum canggung, Ashana menatap Vanya dengan agak heran. “Bagaimana keadaanmu?” tanya Ashana menyapa gadis itu lebih dulu.
Vanya mengulas senyumnya yang canggung, “Aku baik, Kak. Aku harap Kak Ashana tidak keberatan dengan kedatanganku ke sini.”
Sebelum Ashana sempat menjawab, Bi Asih datang membawakan dua cangkir teh beserta kudapan berupa buah kering dan kukis.
“Silakan dinikmati,” kata Bi Asih ramah setelah menata teh dan kudapan itu di meja.
“Aku senang kau mau datang ke rumahku, Van. Tapi … “ ucap Ashana menggantung.
“Kakak pasti mengira aku datang ke sini atas perintah Kak Faza, biar aku beritahu lebih dulu. Aku datang ke sini atas kemauanku sendiri, Kak Faza bahkan tak tahu kalau aku ke mari,” ungkap Vanya jujur.
“Maaf, sudah salah mengira, kalau begitu ada apa? Kau tidak mungkin datang ke sini tanpa alasan, kan?” tanya Ashana kemudian. Meraih cangkir teh miliknya, menyesapnya pelan, ia kembali menatap Vanya lekat.
Perempuan itu tidak kelihatan baik, wajahnya sedikit pucat, Ashana tebak bahwa Vanya memaksakan diri untuk datang ke rumahnya. Ashana bahkan yakin sekali bahwa kaki gadis itu masih belum sembuh sepenuhnya.
Vanya terdiam sesaat, memikirkan kata dan kalimat yang tepat untuk mengutarakan niatnya, bahwa ia ingin mengajak Ashana untuk pulang bersamanya. Setidaknya mereka harus saling bicara untuk menyelesaikan masalah.
“Vanya? Are you okay?” tanya Ashana sedikit cemas lantaran gadis itu masih belum membuka suara.
“Aku … aku datang ke sini, ingin meminta maaf secara langsung kepada Kak Ashana,” kata Vanya memulai aksinya. Ia harap permintaan maaf darinya dapat membuat Ashana sedikit merasa dihargai.
“Minta maaf? Minta maaf untuk apa? Jangan bilang kau ingin mewakili kakakmu, Van.” Ashana kembali meletakkan cangkit teh-nya dengan agak keras, meninggalkan bunyi berdenting setelahnya.
Gadis itu meremas rok yang dikenakannya. “Tidak! Aku tahu kesalahan Kak Faza begitu besar, tapi aku bukan ingin mewakili dirinya. Aku ingin meminta maaf karena aku juga bersalah padamu, Kak.” Kedua mata Vanya menatap Ashana lekat.
Ashana semakin dibuat bingung oleh tingkah Vanya. “Lalu?” tanyanya masih penasaran dengan tujuan gadis itu datang ke rumahnya di sore hari begini.
“Apa Kakak ingat saat kita akan pergi ke pesta pernikahan Kak Indira?” Vanya bertanya dengan mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
Ashana mengangguk, tentu saja ia masih ingat dengan baik, karena hal itulah ia merasa sangat terhina dan merasa sangat buruk. Gaun merah yang terkutuk dan juga heels itu!
“Sebenarnya, gaun merah dan heels itu bukan pemberian Kak Faza,” kata Vanya tertahan, tenggorokannya terasa tercekat. “Aku yang memberimu gaun itu, Kak.”
Ashana terkejut bukan main, tak pernah menyangka akan mendapat pengakuan semacam itu dari adik iparnya sendiri. “Maksudmu? Jadi bukan Faza yang ingin mempermalukan aku? Tapi kau?”
Gadis itu mengangguk lemah dengan kepala tertunduk, ia yakin sekali setelah ini ia pasti akan dibenci atau bahkan dimaki.
“Astaga! Aku benar-benar … kenapa kau melakukannya, Van? Aku tahu kau membenciku, tapi kenapa dengan cara seperti itu? Apa kau tahu apa yang kau lakukan itu bisa saja membuat seseorang kehilangan kehormatan dan harga dirinya?” sembur Ashana penuh kemarahan.
“A-aku, aku minta maaf, Kak ... aku ... aku sudah menyadarinya sekarang, Kak. Aku tahu aku sudah salah dan sangat konyol, Kak Faza juga sudah memarahiku waktu itu,” ucap Vanya dengan suara yang agak bergetar.
Mendengar itu, Ashana pun mencoba menekan emosinya, menghela napas panjang selama beberapa kali. “Katakan saja jika kau membenciku, Van. Aku akan menjaga jarak dan menjauhimu,” lirih Ashana, dari nada bicaranya, jelas sekali bahwa ia kecewa.
“Dulu aku memang membencimu, Kak. Aku selalu berpikir bahwa kau adalah wanita jahat yang sudah menghancurkan kehidupan kami. Tapi … setelah melihat ketulusanmu saat merawatku, aku tahu bahwa kau tidak seperti yang aku pikirkan.”
Pengakuan tulus dari Vanya itu berhasil membuat hati Ashana sedikit terenyuh ketika mendengarnya. Yah, Vanya juga tidak seperti yang Ashana pikirkan selama ini. Gadis itu bahkan berani mengakui kesalahannya, dan menurut Ashana itu sudah lebih dari cukup untuk menilai bahwa Vanya bukanlah gadis manja.
“Setelah kau pergi dari rumah malam itu, aku berpikir dengan keras. Aku tidak tahu kejadian yang sebenarnya, meski aku ada di sana waktu itu, tapi usiaku masih 13 tahun dan aku belum mengerti situasinya. Hanya saja ….” Vanya menghela napas.
Mengingat sikap sang kakak selama beberapa hari terakhir yang seperti merasa kehilangan kakak iparnya, Vanya cukup yakin bahwa sang kakak masih mencintai Ashana. Hanya saja, sebuah tembok besar bernama kebencian menghalangi perasaan itu.
“Hanya saja, kau merasa bahwa aku bersalah, dan harus menebus kesalahan itu pada kakakmu,” sela Ashana dengan getir. “Apapun yang terjadi malam itu, aku sudah melakukan hal yang benar, Van. Aku bisa menerima semua luka, tapi tidak dengan luka karena dikhianati.”
Vanya tersentak kaget. “Dikhianati? Itu tidak mungkin, Kak!” seru Vanya merasa tak terima jika sang kakak dituduh sebagai pengkhianat. “Kak Faza tidak mungkin mengkhianatimu, Kak. Dia sangat mencintaimu, bahkan sampai sekarang aku yakin perasaannya padamu masih tak berubah.”
“Benarkah? Aku merasa ragu untuk hal yang satu itu, Van. Kau adalah adiknya, sudah tentu kau akan membelanya,” ketus Ashana.
“Tapi, Kak—”
“Aku rasa sudah cukup untuk hari ini, Van. Sebentar lagi malam akan datang, kau sebaiknya pulang sebelum dia mencarimu,” ujar Ashana berniat mengusir Vanya.
Melihat gurat kemarahan kakak iparnya, Vanya pun akhirnya memutuskan untuk pulang. Niatnya untuk membujuk Ashana gagal sudah.
“Kalau begitu, aku pamit dulu, Kak. Jaga dirimu, ya,” pamitnya lalu berjalan dengan agak tertatih ke luar.
Namun, di depan pintu, ia tak sengaja bertabrakan dengan seseorang yang tidak ia kenali.
“Maaf, apa kau baik-baik saja?” tanya perempuan itu seraya membantu Vanya kembali berdiri.
Lov Yu till the end ... ekspektasiku bakal ada salah satu yg meninggoy, lalu yg satunya akan minum racun atau menceburkan diri ke laut while saying "i lov you till the end, my lovely."
(cinta apa bego ya🥴) but it was in my mind✌️