Selama 2 tahun menjalin mahligai rumah tangga, tidak sekali pun Meilany mengucapkan kata 'tidak' dan 'tidak mau' pada suaminya. Ia hanya ingin menjadi sosok seorang isteri yang sholehah dan dapat membawanya masuk surga, seperti kata bundanya.
Meski jiwanya berontak, tapi Mei berusaha untuk menahan diri, sampai pada akhirnya ia tidak bisa menahan lagi ketika suaminya meminta izinnya untuk menikah lagi.
Permintaan itu tidak membuat Mei marah. Ia sudah tidak bisa marah lagi ketika sudah kehilangan segalanya. Tapi ia juga tidak bisa tinggal di tempat yang sama dengan suaminya dan memilih pergi.
Selama 7 tahun Mei memendam perasaan marah, sampai pada suatu ketika ia menemukan kebenaran di dalamnya. Kebenaran yang sebenarnya ada di depan matanya selama ini, tapi tidak bisa ia lihat.
Bisakah Mei memperbaiki semuanya?
*Spin off dari "I Love You, Pak! Tapi Aku Takut..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jnxdoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 - Penolakan
"Mei?"
"Mei ga mau denger penolakan apapun. Rumah ini masih rumah Mei, kan? Mas Aslan yang bilang sendiri, jadi mas ga bisa ngusir Mei dari sini. Pokoknya sejak hari ini, Mei akan tinggal di rumah ini."
Seharian ini, Mei membereskan barang-barangnya di hotel. Ia juga menghubungi seseorang di NY sana untuk membantunya memindahkan barang dari apartemennya ke gudang untuk sementara, sampai ia bisa kembali dan mengurus semuanya. Untungnya, semua barang berharganya telah ia simpan di satu kotak deposit bank di Indonesia. Semua berjalan mudah, seperti ia memang ditakdirkan pindah lagi ke rumahnya.
Ia PIKIR, semuanya berjalan lancar sampai ia mendengar penolakan Aslan.
"Mas masih ga ngerti, kenapa kamu berubah pikiran, Mei? Dua hari lalu, kamu berkeras minta cerai dari mas dan sekarang, kamu malah ingin kembali. Sebenarnya apa maumu, Meilany? Jangan buat mas bingung lagi!"
Berhenti dari kegiatan mengeluarkan barang-barang dari koper, Mei menghela nafas dan berdiri. Ia menatap suaminya dengan sorot penuh permohonan.
"Mas... Mei minta maaf... Waktu itu pikiran Mei ga jernih. Tapi Mei sudah sadar sekarang. Mei-"
"Stop Mei. Mas ga mau denger."
Tatapan Mei nanar saat memandang raut suaminya yang keras. Suara berat pria itu berkata datar, tapi jelas, ia telah ditolak kehadirannya dalam rumah itu.
"Mas?"
Pria itu sedikit mundur dan menggeleng pelan.
"Mas ga tahu apa tujuanmu saat ini, Mei. Tapi kalau kamu memang akan meninggalkan mas lagi, lebih baik kamu segera pergi dari sini. Rumah ini akan jadi milik kamu saat kita sudah cerai nanti. Tapi untuk sekarang, mas ga ingin lihat kamu di sini. Biarkan mas menenangkan diri dulu di sini."
"Mas. Mei bilang, Mei ga mau cerai dari mas Aslan. Kenapa mas ga mau denger penjelasan Mei? Mei-"
"Kenapa mas mesti denger penjelasan kamu? Apa waktu kamu tuduh mas selingkuh, kamu juga mau denger penjelasan mas? Kenapa sekarang harus beda? Kenapa kamu nuntut perlakuan yang berbeda dari mas?"
Kata-kata dingin tapi penuh kebenaran itu seolah tamparan bagi Mei. Wanita itu menunduk, tampak malu.
"Maafin Mei, mas... Mei-"
"Kalau kamu memang sudah check out dari hotel dan masih cari tempat tinggal lain, kamu boleh tinggal di sini. Tapi hanya malam ini. Besok, kamu harus cari tempat lain. Mas ga mau lihat kamu di sini lagi, Meichan."
Panggilan mesra yang tidak sengaja keluar dari mulut Aslan membuat kedua orang itu mematung. Dua orang itu sangat tahu, kalau lelaki itu tidak benar-benar serius mengusirnya.
Jakun Aslan naik-turun di tenggorokannya. Tingkah laku pria itu terlihat serba salah dan canggung.
Lelaki itu berdehem dan tidak mau memandang wanita di depannya. "Kamu boleh nempatin kamar tamu-"
"Mei mau tidur di kamar utama. Kamar kita."
Mulut Aslan menipis dan ia memandang geram isterinya. Kedua tangannya mengepal erat.
"Oke! Kalau gitu, mas yang akan tidur di kamar tamu!"
Mei mend*sah lelah. Pria ini ternyata seperti anak kecil saat sedang ngambek. "Mas Aslan-"
"Besok, mas ga mau lihat kamu di rumah ini lagi, Meichan!"
Wajah pria itu langsung memerah, saat sadar melakukan kesalahan tolol itu lagi. Penuh kemarahan, lelaki itu berbalik dan masuk ke kamar tamu, setelah membanting pintunya kencang.
Mendengus, Mei menggigit bibirnya dan mencibir menatap pintu tertutup di depannya.
"Kita lihat sampai kapan kamu tahan di sana, mas. Besok, paling badan kamu bentol-bentol karena debu."
Sama sekali tidak terganggu, Mei kembali meneruskan mengeluarkan barang-barangnya. Wanita itu tampak tersenyum dengan gembira. Ia tahu, ia hanya butuh waktu dan sedikit rayuan untuk bisa membuat suaminya kembali padanya. Ia sangat yakin itu.
Keyakinan yang sedikit memudar, saat ia melihat Aslan keluar dari kamar tamu keesokan harinya.
Benar seperti perkiraannya, kulit suaminya memerah dan bentol-bentol di daerah sekitar leher, lengan dan juga kakinya. Rambut hitamnya acak-acakkan. Tampak kantong di bawah matanya, menandakan ia kurang tidur. Pria itu sepertinya bergadang semalaman, dan terlalu gengsi untuk tidur di sofa ruang tamu.
"Tuh, bener kan? Mas Aslan alergi debu. Makanya jangan keras kepala."
Pria itu tidak menjawab. Cemberut, ia melangkah ke kamar tidur utama.
"Mau ambil baju."
"Tunggu mas, biar Mei salepin dulu kulit mas-"
"Jangan sentuh aku!" Tanpa diduga, Aslan mengibas kasar tangan isterinya yang ada di lengannya.
Tindakan itu tidak hanya mengagetkan Mei, tapi lelaki itu juga terkejut dengan reaksi refleks-nya. Mata cokelatnya terlihat nanar dan ia segera menurunkan pandangan. Nafasnya terdengar tidak teratur.
Ia memundurkan tubuhnya yang besar. "Maaf, Mei. Tapi tolong jangan sentuh mas. Jangan sentuh mas lagi."
Tidak mengatakan apapun lagi, Aslan ke kamar. Saat keluar lagi, tampak pria itu membawa beberapa lembar bajunya. Ia melewati isterinya dan langsung masuk ke kamar mandi.
Ketika keluar dari kamar mandi dengan pakaian olahraga, Aslan melihat isterinya yang masih mematung di tempat yang sama seperti saat ia tinggalkan tadi.
Meski hatinya mulai diselimuti rasa bersalah, tapi pria itu berusaha mengenyahkannya. Segera, ia memakai sepatu olahraganya dan mulai melangkah keluar dari rumah.
"Mas lari dulu. Mas akan pulang 1 jam lagi. Kalau kamu pergi, kunci pintunya."
Telinganya mendengar suara derap langkah kaki suaminya meninggalkan rumah, tapi Mei tidak berbalik. Ia masih menatap kosong entah ke mana. Detik itu, ia akhirnya menyadari, kalau pria itu telah banyak berubah. Lelaki itu Aslan, tapi juga bukan Aslan. Hilang sudah pria sabar yang dulu dikenalnya 7 tahun lalu.
Mei sadar, ia adalah salah satu sumber yang menjadi penyebab perubahan itu.
Sepertinya, misinya kembali ke suaminya tidak segampang perkiraannya tadi. Ia telah meremehkan pria itu.
meican Ama aslan gak terpisah
bibit bebet bobot penting, agama penting, kaya penting....
tapi juga gak penting penting amat
yang terpenting watak dan akhlak...
jika baik insyaallah rumah tangga juga baik.....
makasih Thor.........
payah loe Aydin