Kemajuan teknologi di era globalisasi tetap tidak mampu menggerus dunia perdukunan
Bahkan masih banyak yang rutin dengan segala ritual ritualnya
Yang terang terangan ataupun yang sembunyi sembunyi
Ada banyak alasan tentunya
Ada yang pengen usahanya lebih maju
Ada yang ingin kaya tanpa harus memeras keringat
Ada yang ingin kebal senjata tajam dan ilmu santet menyantet
Ada juga yang sengaja membeli batu jimat, yang dipercaya bisa memberikannya kedudukan terpandang dan disegani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si_Ro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KT 26.
Ting tong….Ting tong
Suara bel membuyarkan lamunan Serena. Zahra bahkan memperlihatkan keterkejutan yang tidak biasa. Mungkin karena dia masih terbawa suasana aneh di apartemen kakaknya yang baru saja dialami.
Tanda waktu subuh baru saja berkumandang, siapa yang datang bertamu di pagi buta seperti ini. Bukankah itu terlalu tidak sopan.
Sejenak Serena dan Zahra saling beradu pandang, seolah sedang saling menunggu unutuk menentukan siapa yang akan membuka pintu. Zahra menggigit bibir bawahnya, dan itu bisa dilihat jelas oleh Serena.
“Biar gue aja” seru Serena pada Zahra yang berjalan dari kitchen set menuju ruang tamu untuk membuka pintu.
Sebenarnya Serena juga merasakan takut, sama seperti adiknya. Tapi tentunya Serenalah orang yang akan maju untuk membuka pintu, kan dia yang jadi tuan rumah disini.
Ini pertama kalinya ada orang yang bertamu dan menekan bel di pagi hari. Entah kenapa, Serena merasakan perasaan tidak enak di dalam hatinya. Jantungnya kini berdebar dengan nafas yang terasa sesak.
Hufh…..
Gagang pintu sudah ada digenggaman Serena, tapi dia masih belum berani menekannya ke bawah.
Ting tong…ting tong
Lagi lagi bel berbunyi, membuat Zahra makin takut dan Serena yang semakin berdebar. Seolah sedang bersiap untuk menghadapi sesuatu yang tidak baik, saat dia membuka pintu.
Ceklek
Perlahan pintu itu terbuka. Dan….
Serena membulatkan matanya sempurna. Apa yang dilihat saat ini membuatnya speechless. Nafasnya bertambah sesak. Dibelakang sana sudah terdengar suara tangisan yang menyayat hati. Suara tangisan Zahra yang juga sedang melihat sosok yang berdiri di depan pintu.
Seorang laki laki yang telah pergi dan meninggalkan luka itu kini kembali.
Laki laki yang membuat hidup mereka hancur dan sangat menyakitkan. Laki laki yang menjadi sumber sakit sang ibu. Laki laki yang dengan tidak punya rasa tanggung jawab meninggalkan keluarganya tanpa kata.
“Ayah….” Zahra bersuara
Lolos sudah air mata Serena. Menyusul tangisan sendu Zahra yang masih berdiri di samping kitchen set, dibelakang Serena.
Entah apa arti air mata itu. Sakit hatikah? Atau kerinduan yang mendalam.
Bertahun tahun ayahnya tidak ada kabar. Pergi dan menghilang begitu saja tanpa jejak. Dan tiba tiba berdiri di depan apartemen yang tidak semua orang tahu. Dan darimana sang ayah itu tahu letak bahkan nomer apartemen milik Serena?
Ada begitu banyak pertanyaan pertanyaan yang muncul di benak Serena saat ini. Dia masih terus berdiri dan menatap kosong orang yang ada di depannya tanpa ingin memersilahkannya masuk.
“Ayah….” lagi lagi Zahra memanggil sosok itu.
Belum sempat sang ayah bicara, muncul sosok lain yang berada dibelakangnya. Laki laki tinggi besar yang terlihat galak dan sangar.
“Inikah anak anak gadismu?” Tanya orang itu pada ayah Serena
Ayah Serena mengangguk lemah. Kerutan kerutan di wajahnya terlihat bertambah banyak sejak terakhir kali Serena melihatnya.
Laki laki sangar itu melangkah masuk tanpa izin. Mendahului ayah Serena yang masih berdiri kikuk, seolah tertusuk dengan tatapan mata dua anak anak yang lama ditinggalkannya.
“Jadi……yang mana?” Tanya pria sangar pada ayah Serena
Ayah Serena tiba tiba ambruk. Berlutut di kaki Serena dengan memegang erat tangan anak sulungnya itu. Tangannya terasa dingin dengan wajah pucat. Serena menelan ludah, bersiap untuk mendengar penjelasan sang ayah yang sudah pasti buruk. Bahkan sangat buruk.
“Masih kurangkah kau menyakiti kami?” Tanya Serena menyela, sebelum laki laki yang kini berada dibawah kakinya bersuara
“Tolong ayah Rena….”
***
Apa yang akan dilakukan para reader, kalau tiba tiba bertemu orang yang sudah lama ngga ketemu. Terus pas ketemu cuma mau nyusahin?