Hangga menatap gadis kecil di hadapannya,
" bunda sedang tidak ada dirumah om.. ada pesan? nanti Tiara sampaikan.." ujar gadis kecil itu polos,
Hangga menatapnya tidak seperti biasanya, perasaan sedih dan bersalah menyeruak begitu saja, mendesak desak di dalam dadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pasar
Setelah kejadian sore itu Rani merasa dirinya sudah tidak seperti sebelumnya,
ada sesuatu yang mengganjal hatinya, entah perasaan apa itu.
Yang jelas sentuhan Hangga masih bisa ia rasakan meski berhari hari sudah berlalu.
" Kau melamun terus, kenapa?" tanya bu diah saat istirahat kedua.
" Tidak," jawab Rani pelan,
" apa karena mantan suamimu itu?"
" huss! Jangan membahasnya disini?!" rani sontak melotot.
" kenapa? mantan suamimu itu impian semua orang di kampung ini.." goda diah sembari cekikikan.
" mulai kau mbak.." ujar Rani, saking akrabnya, rani sering memanggil diah dengan sebutan mbak.
dia tiga tahun lebih tua dari Rani, diah pun sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak.
" Balikan saja toh ran.. Mantan suami ganteng manis begitu, uangnya banyak lagi.." Diah masih cekikikan.
tapi diah kemudian diam sesaat, dan wajahnya sudah berubah serius,
" kau tidak lihat kemiripan anakmu dengan pak putra itu?"
ucap Diah membuat Rani membisu,
" andai saja semua orang tau, kalau dia mantan suamimu, semua orang pasti akan lebih memperhatikan tiara, dan terlihatlah banyak kemiripan itu, seperti mata, hidung, dan bibir tiara..
apakah tidak lebih baik kau jujur?"
" jujur?"
" iya jujur, dan biarkan semua mengalir.."
" tidak mbak, aku pernah di campakkan oleh kakaknya, kemudian dia, mbak pikir mudah untukku?"
" cobalah berbicara dari hati ke hati, siapa tau ada sebab dia melakukan itu dulu..
kurasa dia menaruh hati padamu sejak dulu, kalau tidak kenapa dia mendekatimu lagi segencar ini?"
" tentu saja karena dia merasa aku mudah dia permainkan,"
" dengan melibatkan Tiara? Rasanya tidak mungkin dia ingin mempermainkan mu sementara dia berusaha sebegitu nya mengambil hati tiara, padahal kau mengaku kalau tiara bukan putri kandungmu?" kata kata diah layak juga di pikirkan, tapi Rani tetap tidak ingin menerima alasan apapun, yang ia tau, ia sudah di tinggalkan.
" Kau tidak bertanya tanya, kenapa setelah menceraikan mu dia tidak menikah lagi? Dia bahkan hidup dengan tertutup di villa itu?"
" Ah, mana aku tau mbak, mungkin saja dia sudah berhubungan dengan banyak perempuan, tapi putus di tengah jalan?" jawab Rani.
" ah.. Kau ini, keras kepala memang.." ujar Diah.
Hangga sedang tidur siang saat villa yang biasanya senyap dan tenang itu tiba tiba saja berisik.
" Mas?! Mas?!" suara Hanum membuat hangga membuka matanya yang masih berat.
" Mas?!" suara hanum membuat hangga bangkit, rupanya bukan mimpi, itu benar benar suara Hanum.
" Hangga yang hanya bercelana pendek dan berkaos putih polos itu berjalan keluar kamarnya.
Betapa terkejutnya ia melihat papa mama dan hanum sudah duduk duduk di ruang tengah.
" Mau minum apa pak bu?" tanya bu woyo rupanya keluar dari dapur jug buru buru.
" Tidak usah, nanti kami buat sendiri bu Woyo," ujar Hanum tersenyum.
mendengar itu bu woyo mengangguk dan berjalan kembali ke dapur.
" Kenapa kesini?" tanya Hangga duduk diantara papa mamanya,
" mas ini?! Di jenguk malah begitu ekspresinya?!" protes Hanum mengacak acak rambut Hangga.
" Heh! Kurang ajar.." gerutu Hangga membenarkan rambutnya.
" Kau sedang tidur tho lee?" tanya Mamanya,
" iya, kenapa tidak memberi kabar ma, aku kaget.." hangga mengusap wajahnya agar lebih segar.
" kalau kami mengabari mu, kau pasti tidak memperbolehkan kami kesini," sahut ayahnya.
Mendengar itu hangga diam, tentu saja dia tidak akan mengijinkan, karena semakin ramai tempat ini semakin tidak fokus dia bekerja di kebun.
" Kami mau menginap disini," kata Hermawan pada anaknya,
" menginap? Dalam rangka apa??"
" dalam rangka liburan, dan ingin melihat mobil papa,"
" mobil papa baik baik saja di garasi,"
" bisa bisanya kau ini, bawa mobil, pulang juga tidak pamit," omel hermawan.
" Yang pentingkan mobilnya tidak ku jual.."
" Kau ini..! Siapkan kamar untuk kami..",
mendengar kata kata papanya hangga bangkit.
Ia mencari bu Woyo,
" bersihkan tiga kamar ya bu, keluargaku mau menginap,
terus nanti keluar ke pasar sm pak woyo apa sunar,
Belanja, saya tidak tau mereka menginap berapa hari,
tapi belanja saja yang banyak," kata Hangga setelah bertemu dengan bu Woyo di dapur.
" Nggih mas, nanti saya belanja di pasar, minta antar sunar saja nggih mas,"
" iya, bawa mobil saja mbok kalau belanjanya banyak, jangan lupa pisang,
papaku suka makan pisang goreng kalau pagi," beritahu Hangga, dan bu Woyo mengangguk.
" Wahhh.... Bonekanya Tia banyak, kasih mak Dar satu?" goda mak Dar karena sepulang dari rumah hangga Tiar membawa banyak boneka,
" Jangan, nanti om hangga marah.. Katanya harus di jaga baik baik.."
mendengar itu mak Dar tersenyum, ia turut senang.
" Mak.. Saya mau ke pasar ya, tolong jaga Tiara sebentar, mau beli ayam sama sayur.." Rani sudah bersiap dengan jaket dan helmnya.
pasar disini memang sampai malam, bahkan makin malam makin rame, Rani terbiasa belanja sore atau malam, karena ia tidak bisa ke pasar pagi pagi, bertabrakan dengan waktunya mengajar, toh letak pasar tidak terlalu jauh hanya sekitar enam kilo, hanya saja ia harus melewati jalan yeng berkelok kelok lalu menyebrang jalan raya.
sekitar tiga puluh menit Rani berbelanja, semua yang ia cari sudah terbeli, dari mulai ayam dan sayur.
Rani berjalan menuju parkiran, ia berniat untuk pulang,
Tapi tak disangka seseorang memanggilnya,
" Kirani?!"
" mbak Rani?!" dua suara yang tidak asing.
Dengan sedikit Enggan Rani menoleh, dan benar saja,
itu suara mantan mertua dan mantan adik iparnya.
" astaga?! Ini benar kau nak??!" suara Mantan ibu mertuanya begitu terdengar senang,
" Mbak Rani tinggal di kota ini? Astaga, bukankah sama dengan mas Hangga? Kenapa aku baru nyambung?!" sekarang Hanum yang bicara.
Rani tak bisa berkata apapun, ia hanya tersenyum sembari mengangguk.
" Saya mau pulang dulu, karena saya sudah selesai berbelanja.." ucap Rani beberapa saat kemudian,
" lho lho? Rumahmu dimana nak?? Biar kami antar pulang ya? Sekalian kami main kerumahmu?" cegah mama hangga,
Rani yang kebingungan melirik bu Woyo,
" Saya naik motor bu, tidak usah.." Ujar Rani.
Tapi mama hangga seperti tidak rela, ia ingin tau dimana Rani tinggal, di pegangnya tangan rani agar tidak pergi.
" Biar mama ikut kerumahmu ya? Mama ingin tau rumahmu??" mohon mantan ibu mertuanya.
Karena bingung, akhirnya Rani memandang bu Woyo,
" Bu woyo tau rumah saya bu," ujarnya,
" benarkah??!" mata Mantan mertuanya memandangnya dan bu woyo bergantian, seakan tak percaya.
" Inggih, saya tau rumah bu guru.. Kalau mau besok saya antarkan.." bu Woyo akhirnya bicara.
" Mama boleh main kerumahmu nak??"
Rani mengangguk agar tangannya di lepaskan, dan benar, tangannya di lepaskan.
.....