NovelToon NovelToon
Hanya Istri Pengganti

Hanya Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Pengantin Pengganti Konglomerat / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak
Popularitas:28.5k
Nilai: 5
Nama Author: BlackCat61

"Kau hanyalah sebatas istri pengganti!"

Clara Lyman terpaksa mengubur keinginannya karena paksaan dari orang tuanya untuk menggantikan sang kakak yang kabur dari pernikahan.

Calon kakak iparnya, Keenan Gibson, merasa ditipu dengan keluarga Clara!

Namun, karena pesta pernikahan sudah di depan mata dan tidak ingin mempermalukan keluarga, Clara dan Keenan akhirnya memutuskan menikah.

Setelah menikah, perlakuan Keenan dingin pada Clara. Namun, Clara tak gentar untuk membuat sang suami menerima dirinya. Masalah kian rumit ketika kakak Clara datang kembali dan ingin merebut Keenan. Di samping itu, benih-benih cinta sudah muncul di hati Clara pada Keenan.

Lalu, bagaimana dengan nasib pernikahan Clara? Akankah Clara memperjuangkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlackCat61, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Sebuah Pekerjaan

“Clara!”

“Clara!”

“Iyah! Ini aku datang!” teriak Clara yang berlari ke arah Keenan yang sedari tadi meneriaki namanya.

“Bisa sabar enggak sih?! Ada apa?” tanya Clara

“Pasangkan aku dasi,” jawab Keenan menyerahkan dasi berwarna hitam bergaris biru pada Clara.

Clara memasang wajah bingung pada hal itu.

“Bukankah biasanya kau memasangnya sendiri? Kenapa sekarang butuh bantuanku?” tanya Clara

“Aku bukan butuh bantuanmu. Ini sudah kewajibanmu sebagai seorang istri. Ayo cepat! Kau mau dicap sebagai istri yang tak berbakti pada suaminya?” timpal Keenan

Clara memutar bola matanya jengah seraya menghela napas kasar. Ia mengambil dengan paksa dasi di tangan Keenan dan mulai memasangkan dasi pada pria itu. Clara harus sedikit berjinjit karena tubuh Keenan yang begitu tinggi.

Entahlah, sejak malam itu. Keenan tiba-tiba berubah sikapnya. Pria itu senantiasa mengganggu dirinya. Menyuruhnya banyak hal. Jika ia menolak, pasti ia akan diancam dengan perkataan akan dicap sebagai istri yang tak berbakti pada suaminya. Mau tak mau, Clara harus dengan sabar menghadapi tingkah random dari suaminya itu.

“Kenapa kau tak pernah menggunakan kartu yang aku berikan?” tanya Keenan tiba-tiba.

Clara terdiam sejenak. “Untuk apa aku menggunakannya? Tak ada yang ingin aku beli. Lagipula, jika aku ingin sesuatu, aku akan membelinya dengan uangku sendiri,” jelas Clara menatap tepat ke arah mata Keenan.

Clara berjalan menjauhi Keenan. Namun, dengan cepat tangannya ditahan oleh Keenan.

“Kenapa? Kenapa kau tak ingin menggunakannya? Kau berhak menggunakan kartu itu. Kau itu istriku bukan,” timpal Keenan

Clara menghadap ke arah Keenan. Ia berdecih pelan. “Istri? Sejak kapan kau menganggapku seperti itu. Sudahlah, aku tak mau berharap banyak. Kau kan tau sendiri, kenapa pernikahan ini terjadi. Tak akan ada yang pasti pada hubungan ini,” balas Clara melepas pegangan tangan itu dan berjalan keluar dari kamar Keenan.

Keenan terdiam di tempatnya. Ia melihat tangannya yang habis menggenggam tangan Clara.

Ia juga merasa aneh pada dirinya akhir-akhir ini. Benar saja, jika dia yang dulu mengatakan pada Clara kalau ia tak akan pernah menganggap Clara itu sebagai istrinya. Tapi, kenapa sekarang hatinya jadi mulai goyah yah?

Ketikan demi ketikan dari tuts keyboard sebuah laptop. Kaca mata baca nampak bertengger di wajah cantiknya itu. Sesekali ia menghentikan ketikannya itu untuk memikirkan apa yang harus ia tulis kembali. Terkadang terlihat wajah berpikirnya disertai dengan gigitan pada bibir mungilnya itu.

Suara dering dari ponsel mengalihkan pandangannya. Segera ia mengambil ponselnya itu, yang berada di atas meja.

“Ya. Halo!”

[“Halo, selamat pagi! Benar ini dengan Nona Bellona?”]

“Benar, itu nama pena saya. Ini siapa yah?”

[“Kami dari pihak Cluster Publisher ingin mengajak Nona untuk bekerja sama dengan menerbitkan buku Nona yang berjudul Hope. Apa Nona bersedia melakukannya bersama kami?”]

Sontak matanya melebar mendengar hal itu. Apakah ini benar? Apakah ia benar-benar mendapatkan kesempatan untuk menerbitkan bukunya itu? Apalagi di penerbit yang sangat terkenal itu?!

“A-Apa ini benar? Cerita saya akan segera diterbitkan?” tanyanya dengan tatapan tak percaya.

[“Iyah, Nona. Itu benar. Jika anda menerimanya, mohon datang ke tempat kami untuk melakukan tanda tangan kontrak yah,” jelasnya]

“Baik! Baik! Saya pasti akan segera datang sekarang. Terima kasih atas kesempatannya. Sampai jumpa,” balasnya seraya mematikan panggilan itu.

Tatapan tak percaya masih terlihat di wajahnya. Ia melepaskan kaca mata baca yang ia kenakan. Tak terasa air matanya mengalir menuruni wajah cantiknya itu. Karena saking senangnya ia dengan berita yang baru saja ia dengar, ia pun langsung loncat-loncat kegirangan dengan hal itu.

“Yeayyy! Yeayyy! Ceritaku akan segera diterbitkan!” jeritnya dengan senyuman lebar.

“Clara? Kamu kenapa loncat-loncat kayak gitu?”

Sontak wanita yang ternyata Clara itu menghentikan loncatannya. Ia hanya cengengesan melihat Bibi Nani yang memandang heran padanya.

“Enggak ada apa-apa kok, Bi. Hanya senang aja film yang aku tonton berakhir bahagia,” ucap Clara

Bibi Nani menggelengkan kepalanya. “Ya udah, kamu kan belum makan siang. Bibi udah siapkan makan siang untukmu di meja makan. Makan yah. Nanti Tuan Muda malah marah lagi karena kamu enggak makan” jelas Bibi Nani

Clara tersenyum miris. Memang benar jika beberapa hari ini Keenan agak ketat menyuruhnya untuk makan. Tapi, ia tak mau terlalu berlebihan menanggapi hal itu.

Clara sengaja tak memberitahu siapapun mengenai dirinya sebagai penulis. Tak ada yang tahu, kecuali dirinya sendiri. Karena ia memang menulis hanya untuk meluangkan waktu senggangnya. Apalagi saat ini ia tak memiliki banyak aktivitas. Sebuah kebahagiaan terbesar mendapatkan berita jika ceritanya akan diterbitkan. Bukankah itu impian setiap penulis di muka bumi?

“Aku harus pergi ke penerbit untuk menandatangani kontrak itu. Ini bisa aku gunakan sebagai pekerjaan untukku saat ini,” gumam Clara dengan senyuman lebar.

Clara sangat senang bisa mendapatkan sesuatu dengan usahanya sendiri. Ia memang sedari dulu terbiasa dengan kehidupan mandiri. Meskipun keluarganya itu adalah orang yang berada.

Clara segera beranjak menuju ke kamarnya. Ia tak bisa berlama-lama karena ingin segera pergi ke tempat penerbitan itu.

“Bibi, aku mau pergi sebentar yah,” pamit Clara saat sudah rapi dengan pakaiannya.

“Kamu mau ke mana Clara? Kamu juga belum makan siang itu?” tanya Bibi Nani

“Nanti saja aku makan habis pulang dari urusanku. Aku pergi dulu yah, Bi,” ucap Clara seraya berlalu dari hadapan Bibi Nani.

Bibi Nani hanya bisa menghela napas pelan. “Clara sebenernya mau ke mana yah? Kenapa buru-buru gitu?” tanya Bibi Nani yang jadi terheran.

Clara menaiki bus untuk pergi ke tempat penerbitan itu. Padahal dia bisa saja meminta supir atau tidak mengendarai mobilnya sendiri untuk ke sana. Tapi, sekali lagi. Ia tak mau melakukan hal itu. Ia tak mau ada orang yang tahu joka dirinya adalah seorang penulis.

Sekitar dua puluh menit, akhirnya Clara sampai di depan sebuah kantor penerbitan. Ia segera masuk ke dalam.

“Permisi, saya Bellona. Tadi disuruh datang oleh Mba Yanti ke sini,” ucap Clara pada salah satu staf di sana.

“Oh gitu. Silahkan duduk dulu Nona. Saya akan panggilkan Mba Yanti ke sini,” ucapnya

Clara berjalan duduk pada sofa yang ada di sana. Tak lama kemudian, sosok wanita tinggi dengan kaca mata datang menghampirinya.

“Nona Bellona?” panggilnya

Sontak Clara bangkit dari duduknya dan menghampiri wanita itu.

“Mba Yanti, kan?” sapa Clara

“Iyah, saya Yanti Harsa. Yang tadi menghubungi Nona. Mari, ikut saya ke ruangan,” ajak Yanti

Clara segera mengikuti langkah Yanti menuju ke sebuah ruangan.

“Silahkan duduk dulu,” ucap Yanti

Clara segera duduk di hadapan Yanti yang langsung mengulurkan sebuah map hijau berisi kertas di dalamnya.

“Ini adalah kontrak kerja sama yang sudah saya bahas di telpon tadi. Mohon dibaca baik-baik sebelum menandatanginya,” ucap Yanti

Clara mengangguk pelan seraya membaca isi kontrak itu. Cukup menguntungkan dengan pembagian benefit 70% untuknya.

“Isi kontraknya bagus. Saya akan segera menandatanganinya,” ucap Clara seraya membubuhkan tanda tangannya di kertas itu.

“Terima kasih yah Nona Bellona. Anda tenang saja. Pembagian ini bisa naik saat semakin banyaknya peminat yang datang. Selamat yah Nona Bellona. Selamat bergabung di Cluster Publisher sebagai penulis,” jelas Yanti mengulurkan tangannya.

Clara meraih uluran tangan itu untuk saling menjabat atas kerja sama yang mereka lakukan.

“Sama-sama Mba Yanti! Mohon kerja samanya ke depannya, balas Clara dengan senyuman lebar.

Dengan ini, ia sudah memiliki pekerjaan yang sesuai dengan kehebatannya. Meskipun ia tak harus menempuh jenjang pendidikan tinggi.

1
Holipah
lanjut kak
infinite soul
Karena pake bahasa sehari2 aku jadi gampang ngerti! Lanjut thor!
moonjuice
Apa benar Thor, kelanjutannya Pipip pipip calon mantu *sensor maksudnya wkwk. Hanya Author yang tahu!
Holipah
lanjut
moon struck traveller
Thor, aku nungguin crazy up karena ceritamu sudah drive me crazy~
BlackCat61: Siap. Selalu tunggu yah
total 1 replies
Harlina Mami
cerita x cukup bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!