Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 22.
Tubuh Milea seketika menegang.
Lelaki yang berdiri di hadapannya adalah sosok yang pernah merenggut dunianya, membuatnya hidup dalam kegelapan, lalu pergi tanpa satu pun kabar... mantan kekasihnya. Lelaki blasteran, berdarah Indonesia–Australia.
Tanpa sadar, Milea mencengkeram lengan Jenny dengan kuat.
“Mil…” desis Jenny, meringis pelan.
Baru saat itu Milea tersadar. Jemarinya gemetar, napasnya memburu. Namun ia tak juga melepas pegangan itu, seolah jika ia melepaskannya, seluruh keberanian yang ia kumpulkan akan runtuh bersamaan.
Jenny menoleh menatap Milea, dan dari tatapan itu ia mengerti satu hal. Ini bukan sekadar keterkejutan, ini sebuah ketakutan.
Jenny menarik napas dalam-dalam, lalu dengan cepat berdiri sedikit di depan Milea, menjadikan tubuhnya sebagai tameng.
“Kamu siapa?” tanya Jenny singkat, nadanya datar tapi waspada.
Pria itu tak langsung menjawab. Pandangannya justru tertuju penuh pada Milea, seakan dunia di sekeliling mereka mengecil hanya menjadi dua orang yang terikat masa lalu.
“Milea…” ulangnya, lebih pelan kali ini. “A-aku nggak nyangka bakal ketemu kamu di sini.”
Milea menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Tangannya masih mencengkeram lengan Jenny, namun kini genggamannya berubah. Bukan lagi keras, melainkan seperti orang yang tenggelam dan takut kehilangan pegangan.
“Kita pergi,” bisik Milea lirih.
Jenny mengangguk tanpa banyak tanya. Ia hendak menarik Milea pergi, tapi langkah mereka terhenti ketika pria itu maju satu langkah.
“Tunggu! Aku cuma mau bicara, sebentar aja.”
Jenny berbalik, sorot matanya dingin. “Kamu siapa, sih?!“
Pria itu terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Nama aku Ethan.”
Ethan.
Nama yang dulu sering Milea ucapkan dengan tawa, nama yang dulu terasa aman untuknya. Nama yang kemudian menjadi awal dari kegelapan panjang dalam hidupnya, selama dua tahun penuh merenggut cahaya matanya.
“Jangan ganggu aku!” ucap Milea akhirnya. Suaranya pelan, tapi tegas. Ada getar di sana, namun bukan kelemahan melainkan luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Ethan tampak tersentak. “Lea… aku—”
“Aku sudah menikah,” potong Milea cepat, seolah kalimat itu adalah dinding terakhir yang bisa ia dirikan. “Dan aku nggak punya urusan apa pun lagi denganmu, sejak kau pergi setelah membuatku kehilangan mataku!”
Jenny menoleh sekilas ke arah Milea, ada keterkejutan di matanya. Apa cowok ini mantan kekasih Milea?
Ethan mengangguk pelan, rahangnya mengeras. “Aku tahu, aku sudah mendengar kau sudah menikah. Milea... aku salah. Dan aku hidup dengan penyesalan itu setiap hari.”
Milea tertawa kecil, nyaris pahit. “Penyesalanmu terlalu terlambat!”
Kalimat itu membuat Ethan membeku.
“Sekarang, aku nggak akan minta kamu bertanggungjawab. Aku sudah bisa melihat lagi, dan hidupku bahagia. Aku cuma minta satu hal... jangan ganggu hidupku yang sekarang.” Milea menarik napas panjang.
Jenny langsung meraih tangan Milea dan menggenggamnya erat.
“Ayo, kita belanja. Kamu butuh sesuatu yang baru, bukan drama lama.”
Milea mengangguk kecil.
Saat mereka melangkah pergi, Ethan masih berdiri di tempatnya, menatap punggung Milea yang menjauh. Ada banyak kata yang tertinggal di dadanya. Tentang kecelakaan yang membuat Milea buta, tentang rasa bersalahnya. Lalu tentang alasan dirinya menghilang, namun semuanya memang sudah terlambat.
Di sisi lain pusat perbelanjaan itu, Milea berjalan dengan langkah pelan tapi pasti. Dadanya masih sesak, tangannya masih dingin.
Langkah mereka terhenti di depan sebuah butik. Lampu-lampu putih terang memantul di kaca etalase, tapi Milea sama sekali tak benar-benar melihat apa pun. Pandangannya kosong, pikirannya tertinggal beberapa menit yang lalu.
Jenny menyadarinya.
“Hei,” katanya pelan sambil meremas tangan Milea. “Kamu okay?”
Milea berkedip, lalu mengangguk kecil. “Maaf.”
“Jangan minta maaf,” Jenny mendengus. “Aku malah pengin nyiram kepalanya pakai es kopi.”
Milea tersenyum tipis. “Aku kira aku sudah siap kalau suatu hari ketemu dia lagi.”
“Dan ternyata?” Jenny menaikkan alis.
“Tubuhku masih ingat lebih dulu sebelum kepalaku, rasa takutnya menyerbu tubuhku.”
Jenny mengangguk pelan. “Trauma itu memang nggak pakai izin, datang tanpa diundang.”
Mereka lalu masuk ke butik. Jenny sibuk memilih pakaian, dan sengaja terus bicara cerewet untuk memberi ruang agar Milea bisa tenang.
Namun bayangan Ethan kembali menyeruak ke dalam pikiran Milea, bukan wajah lelaki itu, melainkan potongan masa lalu yang belum pernah benar-benar sembuh.
Hari ketika Milea masih menjadi kekasihnya, Ethan menjemputnya dengan mobil. Senyum pria itu tampak biasa saja, sementara Milea tak pernah tahu bahwa sebelumnya Ethan baru saja menenggak alkohol bersama teman-temannya.
Tak lama setelah itu, segalanya runtuh, kecelakaan itu terjadi. Dan sejak hari itu, penglihatan Milea direnggut darinya.
Yang paling menyakitkan bukan hanya kegelapan yang menetap di matanya, melainkan kenyataan bahwa Ethan menghilang. Pria itu pergi tanpa penjelasan, tanpa tanggung jawab.
“Milea!”
Suara Jenny memanggilnya lagi, kali ini lebih keras, nyaris panik. Nama itu diucapkan berulang-ulang, namun Milea tetap terpaku. Pikirannya tertinggal jauh di masa lalu, terperangkap dalam ingatan yang tak diundang.
“Ya?” Milea mengerjap pelan, kesadarannya kembali setengah-setengah. Kepalanya terasa ringan, seolah dunia berputar terlalu cepat.
Jenny tak menunggu lebih lama, ia langsung membawa Milea pulang. Ia tahu, sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja.
Di dalam perjalanan, jemari Jenny sibuk mengetik pesan untuk Rangga.
Dan ketika kabar itu sampai padanya, Rangga yang saat itu berada di rumah orang tuanya tak berpikir dua kali. Ia segera bangkit, pergi untuk merengkuh istrinya ke dalam pelukan perlindungannya.
skrg dah terlambat untuk bersama Milea, tapi tuh Ethan terobsesi bgt sme Milea. semoga rencana Rangga berhasil.
apa gak seharusnya Milea dikasih tau ya, takutnya nanti bisa salah paham. apa orang tua Milea dikasih tau Rangga?
malah datang kayak maling, datang dengan cara tidak baik baik
Lebih baik kamu kasih tahu Rangga deh, biar Rangga yang urus semuanya... 😌