Jhon, bertarung demi kehormatan di medan perang. mengalami penyergapan yang terpaksa membuatnya harus meledakkan kekuatan terakhirnya. Dia kehilangan ingatan, kehilangan kekuatan, kehilangan identitas, bahkan nyaris kehilangan segalanya. Dari Jenderal bintang lima, Dari seorang pewaris keluarga William, seketika berubah menjadi bukan siapa-siapa dan bahkan dianggap lebih buruk dari sampah.
Mampukah Jhon menemukan kembali kekuatan yang pernah dia miliki, mampukah Jhon kembali menemukan jati dirinya? Ikuti kisahnya dalam karya saya yang berjudul 'PEWARIS YANG HILANG 2'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edane Sintink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tawaran menjadi pengawal bayangan
...Bab 26...
Kraaaak...
Terdengar suara kain sobek.
Jhon yang berdiri tampak sangat marah. Otot-ototnya menonjol membuat jubah perang yang dia kenakan hancur dan dengan sedikit dia menggerakkan tubuhnya, jubah tadi berhamburan ke berbagai arah dan yang terlihat saat ini adalah Jhon dengan penampilan bagaikan seorang dewa kematian.
Tubuhnya yang telanjang dada bermandikan darah. Rambutnya berkibar walaupun tidak ada angin yang bertiup. Di tangannya tergenggam sebilah pedang yang keseluruhannya berwarna merah darah. Tidak tau apakah memang pedang tersebut terbuat dari besi berwarna merah atau karena dilumuri dengan darah musuh.
"Zagraria dan sekte Alamud, hari ini, jika aku tidak mati, maka kalian akan mendapatkan pembalasan yang sangat pedih dari ku. Ingat! Aku, Jhon William adalah seorang yang pendendam. Kalian hanya punya satu pilihan yaitu membunuh ku. Jika kalian tidak berhasil hari ini, maka tidak akan ada lagi hari esok!"
Tring....
Jhon memutar pedangnya lalu mengibaskan ke arah depan.
Angin bersiur membawa hawa kematian.
Beberapa prajurit lawan yang berada di garis depan mendadak terjatuh ke tanah dengan tubuh gosong.
Itu adalah kekuatan tenaga dalam yang dipadukan dengan kemarahan yang meluap-luap.
Area perang itu tidak lagi ditumbuhi rerumputan. Semuanya berubah menjadi hangus. Bahkan pasir-pasir yang beterbangan ditiup angin pun terasa seperti bara api yang menusuk kulit.
Dewa kematian telah murka dan akan sangat sulit untuk menghentikannya.
Kembali ke kafe, lelaki tua yang melihat Jhon mulai menggila segera menekan ubun-ubun pemuda itu. "Jhon. Tahan dirimu. Jangan sampai kau menjadi gila!"
"Uhuuuk. Hueeek..!"
Seteguk darah menyembur dari mulut Jhon.
Sementara itu lelaki tua yang mengerahkan tenaga dalamnya ke atas kepala Jhon sudah jatuh terjungkal. Dia menerima serangan balik yang sangat dahsyat dari diri Jhon membuatnya terhentak duduk kemudian terjungkal beberapa meter.
"Uh.., sial sekali. Siapa Jhon ini sebenarnya?"
Sudah lama dia hidup di dunia ini. Tapi baru kali ini dia dirugikan sedemikian rupa.
"Eh..," Jhon seperti tersadar kemudian menatap lelaki tua yang tampak menyedihkan itu.
Ingin rasanya dia tertawa. Tapi tentunya itu tidak sopan. Kesannya seperti orang yang tidak tau berterimakasih. Sudah ditolong malah menertawakan.
"Pak tua, apakah anda baik-baik saja?" Tanya Jhon berusaha untuk membantu lelaki tua itu berdiri.
"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa," mulutnya berkata tidak apa-apa, tapi hatinya menyumpah.
"Terimakasih atas bantuan anda, pak tua. Saya merasa jauh lebih baik!" Ujar Jhon dengan ekspresi sangat bersyukur. Tapi dalam hatinya dia heran. Mengapa dia merasakan hawa yang sangat familiar di dalam tubuhnya. Seolah-olah dirinya terbiasa dengan metode seperti itu.
"Aneh, sebenarnya siapa aku? Apakah sebelum hilang ingatan, aku adalah seorang praktisi seni beladiri? Jika tidak, mengapa semua yang diajarkan oleh orang tua ini terasa tidak asing. Bahkan hanya dalam sekali percobaan aku langsung berhasil,"
"Kau sudah baik-baik saja. Aku lega!" Orang tua itu memegangi pinggulnya yang terasa nyut-nyutan. "Jhon. Apa kau ada menyembunyikan rahasia? Siapa kau sebenarnya?" Lelaki tua ini duduk sambil bertanya. Tatapannya tak lepas dari Jhon yang dianggapnya sangat mengejutkan.
Wajah Jhon menjadi muram. "Pak tua, saya juga sebenarnya tidak tau saya ini siapa. Tidak ada petunjuk dan juga tidak ada tempat untuk bertanya,"
"Hmmm. Ya sudah. Kalau begitu, aku pergi dulu!" Lelaki tua itu bersiap-siap untuk meninggalkan kafe sebelum Jhon mencegahnya.
"Pak tua, saya belum tau siapa nama anda. Dan juga, saya tidak terbiasa berhutang budi. Anda bisa menyuruhku melakukan sesuatu dan saya akan menganggapnya sebagai balas budi,"
Lelaki tua yang sudah hendak bergegas pergi itu kembali duduk lalu menatap wajah Jhon lekat-lekat.
Pengalaman tua nya tidak mungkin tidak berguna dalam menilai seseorang. Baginya, mumpung pemuda ini bersedia membalas jasa, maka dia pun tidak menolak. Andai berguna, itu akan menjadi keberuntungan. Andai tidak berguna pun, dirinya tidak rugi.
"Baiklah anak muda. Kau boleh memanggilku dengan sebutan pak tua Dosan Flair. Adapun kau ingin membalas budi, aku tentu tidak akan menolak. Ini...," lelaki tua itu mengeluarkan selembar foto seorang gadis kepada Jhon.
Jhon menerima kemudian memperhatikan. "Ini..,"
"Kau mengenalnya? Tapi ah.., cucuku itu sangat cantik. Sudah pasti kau mengenalnya. Mana ada pemuda yang tidak mengenal gadis cantik. Namanya Bianca Flair. Dia adalah cucu ku. Jika kau ingin membalas budi, maka kau cukup melindungi cucu cantik ku itu secara diam-diam. Pastikan dirinya aman dari gangguan orang-orang jahat!"
"Sebentar pak tua!" Jhon memotong pembicaraan lelaki tua itu. Kemudian dengan nada penuh pertanyaan dia bertanya, "orang-orang jahat yang anda maksud ini?"
"Akan aku jelaskan. Cucu ku ini selain cantik juga pebisnis muda yang menjanjikan. Perusahaan perhiasan yang dia dirikan sudah menduduki peringkat nomor satu di Canyon City ini dan akan merambah ke kota-kota lain di Erosia tak lama lagi. Hanya saja, itu tidak semudah yang dibayangkan. Persaingan di dunia bisnis sangat kejam. Terutama tentang persaingan mendapatkan bahan mentah. Canyon City ini memang terlihat kecil. Namun, ada beberapa kekuatan besar baik itu dari Erosia maupun negara abjad yang dengan sengaja menempatkan wakil-wakil mereka di kota ini dengan bermacam-macam niat. Sebagai kakek, lebih baik aku berjaga-jaga sebelum terjadi hal-hal yang tidak baik. Bukankah begitu? Ah kau akan tau sebentar lagi. Kalau kau memasuki dunia bisnis, kau akan tau sendiri bahwa ada banyak kekuatan yang terlibat. Air yang tenang dipermukaan tidak menjamin tidak memiliki arus yang deras di kedalamannya,"
"Hmmm." Jhon bergumam tak jelas. Namun dia dapat memahami apa yang dikatakan oleh lelaki tua itu. Dia sendiri menyesali mengapa terlalu gegabah ingin membalas budi. Andai dia tau bahwa dirinya akan dipaksa terlibat dalam masalah seperti ini, tentu sejak awal dirinya akan menutup mulutnya. Namun, untuk menarik kembali kata-katanya, itu bukan sifatnya.
"Kalau kau bersedia, aku akan membayar mu sepuluh ribu Dollar per bulan. Bagaimana?" Kata lelaki tua itu lagi untuk meyakinkan Jhon. Baginya, untuk seorang mahasiswa dari desa, sepuluh ribu Dollar itu adalah jumlah yang sangat besar. Hanya saja yang tidak dia ketahui adalah, andai kawan dan lawan Jhon mengetahui bahwa dia dipekerjakan hanya dengan upah sepuluh ribu Dollar, mereka pasti akan mencincang lelaki tua ini sampai jadi pasta daging. Jhon dengan identitasnya yang banyak cukup hanya sekali batuk saja untuk mendapatkan seratus juta Dollar. Sepuluh ribu Dollar per bulan bahkan lebih buruk dari kata penghinaan.
"Baiklah. Kalau begitu kita sepakat!" Jhon mengulurkan tangannya.
Lelaki tua itu merasa menang dalam hatinya lalu buru-buru menjabat tangan Jhon dengan sangat bersemangat sekali.
semangat author untuk terus berkarya..../Good/💪