~BEBERAPA PART MENGANDUNG MATURE CONTENT~
Hidup Regan tiba-tiba rumit sejak dipindah tugaskan mengajar di kampus keluarganya dan bertemu dengan Yona, model cantik dengan sejuta tingkah menyebalkannya.
Parahnya, mereka ternyata dijodohkan.
"Jika yang merindu adalah jiwa, kenapa yang sakit sekujur raga?" tanya Yona Anantasya William memeluk erat kekasih hatinya.
Kepulangan Yona ke Indonesia atas paksaan dari orang tuanya ternyata bukan tanpa sebab. Orang tuanya telah memilihkan seorang lelaki untuk menjadi suaminya.
Kata pepatah, 'Orang tua ikut menuliskan takdir anak-anaknya'.
Bagaimana takdir Regan dan Yona? Akankah perjodohan mereka berjalan dengan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiya Corlyningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruqyah
Awas saja kamu Yona, beraninya wanita mengatakan senjataku kecil. Batin Regan sebelum dia terlelap malam ini, mengingat perkataan Yona yang sudah melukai harga dirinya.
Lelaki itu menguap, rasa kantuk mulai menyergapnya. Semalaman dia tidak bisa tidur karena kehadiran Yona disampingnya. Lalu paginya, saat dia baru saja terlelap tiga jam teriakan Yona membangunkannya lagi. Dan setelah itu Regan harus mengajar hingga jam sembilan malam.
Regan mengecek ponselnya, dia mendesah kecewa saat ponselnya tidak mendapati pesan masuk ataupun panggilan dari Yona. Memang kemanakah Yona setelah diantarkan Regan pulang?
Jangan-jangan Yona menemui Nino, mantan kekasihnya lagi?
Regan menekan tombol memanggil di kontak Yona, mendengarkan nada sambung di sana. Mata Regan semakin berat, Regan terlelap begitu saja melupakan panggilannya di nomor Yona.
"Hallo?"
"Hallo? Kalau tidak niat menelpon jangan menelepon! Huh, menyebalkan sekali," keluh Yona di seberang sana.
Merasa tidak mendapatkan jawaban, Yona mengakhiri panggilan Regan. Mungkin saja kepencet, begitulah pikir Yona saat ini.
Malam berlalu sangat cepat, sinar matahari sudah menampakkan dirinya.
"Pagi Sayang, mau sarapan apa?" Lilian menyapa Regan yang sudah siap untuk mengajar pagi ini.
"Pagi Bun, roti aja Bun biar praktis. Soalnya bentar lagi aku mau bagiin kisi-kisi buat ujian akhir," kata Regan tersenyum.
Regan melihat jam dinding, disana sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Sepertinya dia harus berangkat sekarang.
"Buat bekal aja deh Bun, mepet nih," kata Regan pada Lilian.
Lilian mengangguk, wanita itu dengan sigap memasukkan roti sarapan untuk Regan kedalam kotak makan.
Regan langsung bergegas menuju mobilnya setelah berpamitan kepada Lilian dan membawa bekalnya ke Kampus.
"Selamat pagi semua, saya akan mengadakan kuis untuk ujian akhir," ucap Regan membuka perkuliahan pagi ini.
Mengajar mahasiswa pascasarjana tidak serumit mengajar mahasiswa sarjana. Mereka lebih dewasa dan juga mudah diatur. Kebanyakan dari mereka sudah memiliki pekerjaan yang berpenghasilan besar.
Kampus ini merupakan Kampus swasta favorit di Kota ini. Selain mempunyai akreditas A untuk Universitasnya, semua fakultas disini juga memiliki akreditasi A. Ditambah lagi Kampus itu benar-benar mengutamakan mutu pendidikan.
Wajar saja biaya di Kampus itu terbilang mahal. Banyak anak pejabat dan artis yang melanjutkan kuliah disana.
"Yes Sir," jawab mereka semua kompak.
Regan menyerngit melihat ke seluruh bangku, sepertinya ada seseorang yang belum ada ditempatnya. Tentu saja kalian mengenal dengan baik siapa dia. Si pembuat onar dan juga mulut ompreng.
Regan tersenyum, sepertinya dia bisa mendapatkan pembalasannya setelah dijadikan babu Yona seharian penuh ditambah penghinaan wanita itu terhadap senjatanya.
Regan berjalan membagikan kisi-kisi ujian akhir pada mahasiswanya.
"Maaf Pak saya terlambat," kata seseorang didepan kelas, nafasnya terengah-engah.
Mobilnya belum dikembalikan Om Hendra kah? Pikir Regan di dalam hatinya.
"Kamu telat lagi," tegurnya pada Yona tanpa menatap wanita itu.
Yona justru menyengir kuda. "Hehe, iya Pak," jawab Yona, berjalan memasuki kelas untuk duduk di sana.
Regan berbalik menatapnya, lelaki itu menaikkan satu alisnya.
"Siapa yang menyuruhmu duduk?" tanya Regan padanya.
Pandangan mereka beradu, dari matanya seolah wanita itu mengatakan
Apa maumu kali ini hahhh?
Yona melipat tangannya ke depan dada. "Lalu?" tanya Yona menyipitkan matanya.
"Berdiri di sana," kata Regan padanya, menunjuk kursi tempat dirinya mengajar.
Bibirnya menganga, wanita itu bodoh saja masih cantik. Bukan bodoh sih, kudengar dia mendapatkan gelar terbaik di pendidikan Sarjananya. Lebih tepatnya dia wanita ceroboh.
Dia berjalan ke depan dan berdiri dengan wajah sebal menahan amarah. Regan tengah mati-matian untuk tidak terbahak di tempatnya.
Memangnya Yona anak SMA yang bisa dia hukum berdiri di depan papan tulis ketika telat masuk kelas?
"Kuis dikerjakan sekarang, sebisanya. Kalau ada materi yang perlu ditanyakan, silahkan," ucap Regan diangguki mereka semua.
Yona ternganga, kenapa kisi-kisi harus dikerjakan segala? Yona mencium aroma tidak adil hari ini. Regan pasti sengaja memberatkannya.
"Pak Regan?" panggil Yona membuat Regan menoleh ke arahnya.
"Ya?" Regan menaikkan satu alisnya.
"Saya mau bertanya, Pak," ucap Yona.
Regan mengangguk mempersilahkan, lelaki itu menatap lembar kuis yang masih tersisa di tangannya.
"Silahkan Yona."
"Saya mau tanya, semua yang ada di lembar soal ini," ucap Yona tidak terima.
Bukankah tadi Regan mengatakan jika ada yang perlu ditanyakan dia bisa bertanya. Lalu apa salahnya?
Teman satu kelas Yona menggelengkan kepalanya, mereka terkekeh mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut wanita cantik itu.
"Kalau semua masih ditanyakan, kamu pasti mengulang di mata kuliahku," jawab Regan membuat mata Yona terbelalak.
Regan menatap semua mahasiswanya.
"Oke bisa dikumpulkan sekarang," ucap Regan pada mereka.
Semua mahasiswa berdiri, mereka berjalan ke depan kelas untuk mengumpulkan jawaban kisi-kisi mereka.
"Baik, semua materi sudah saya share di E-learning. Silahkan untuk mengunduhnya dan mempelajarinya dengan baik," jelas Regan sebelum lelaki itu menutup perkuliahannya.
Mereka keluar dari ruangan, begitu pula Yona.
Mau kemana kau Nona Manis, pelajaranmu belum selesai sampai di sini saja Sayang.
"Yona, siapa yang mengizinkanmu keluar juga?" Regan memanggilnya dengan suara yang keras, memang sengaja agar wanita itu mendengarnya.
Langkah Yona terhenti, dia menoleh ke arah Regan.
"Apa lagi?" katanya sebal.
"Aku tidak menyuruhmu keluar, bawa hasil jawaban itu ke ruanganku," suruh Regan mendapat pelototan matanya.
"Tidak mau," katanya memalingkan wajahnya.
"Oke aku akan menelepon daddymu," ancam Regan sambil mengibaskan ponselnya ke arah Yona.
"Hari ini kau menang Regan, tunggu pembalasanku," katanya menyerah dan mengambil lembaran jawaban itu.
Dia berjalan di depan Regan dengan menghentak-hentakkan kakinya. Dibelakangnya, Regan hanya terkikik melihatnya. Siapa suruh wanita itu menghina senjata masa depannya?
"Ini, sudah kan?" kesal Yona meletakkan lembar jawab itu dengan kasar.
"Bantu aku mengoreksinya, biar aku tahu kekurangan dalam sistem mengajarku," ucap Regan dengan sengaja.
Kesabaran Yona rupanya tengah diuji oleh lelaki itu.
"Tuan muda yang terhormat, saya kelaparan dan belum makan dari tadi malam. Kalau saya tidak makan nanti saya kurus, kalau saya kurus saya tidak seksi lagi, kalau saya tidak seksi tidak ada yang melirikku, kalau tidak ada yang melirikku lalu aku bagaimana hemmm?" Katanya tanpa henti membuat Rehan menggeleng-gelengkan kepalaku.
"Kenapa kamu harus dilirik orang lain? Kamu kan sudah dijodohkan denganku. Kita sebetar lagi bertunangan, lalu menikah," jawab Regan.
Yona mendengus lemah.
"Ck, dasar kejam. Hiks Daddy anakmu tersiksa di sini," gerutunya.
Regan menyerahkan materinya kepada Yona, memerintah wanita itu untuk mencari jawaban dari sana sekaligus membiarkan Yona menghafal semua materi itu untuk ujian akhirnya nanti. Jika tidak seperti itu, Regan yakin Yona tidak akan membuka materinya sama sekali.
Regan memicingkan matanya, wanita itu belum makan sejak semalam?
"Emh Regan, apa maksudnya ini," tanyanya ragu-ragu, menunjuk soal kuis pada point ke 4.
"Kan sudah kujelaskan, salahmu tidak mencatatnya minggu lalu," kata Regan memarahinya.
Dia menghembuskan napasnya, entah sudah ke berapa.
"Kau ini pelit sekali. Bolehkah aku melarikan diri dari Indonesia. Di sini semua orang kejam sekali denganku," cibirnya dengan wajah memelas.
Melarikan diri? Enak saja! Mana mungkin Regan akan membiarkannya pergi begitu saja setelah wanita itu memasuki kehidupan Regan dengan segala keunikan wanita itu.
Kriiiuuuukkkkk.
Tawa Regan meledak saat mendengat suara dari perut Yona. Regan mengacak rambut Yona dengan gemas, wanita itu selalu bisa menciptakan suasana.
"Apaan sih, apanya yang lucu?" tanya Yona mencibir ke arah Regan.
Tawa Regan semakin pecah, wajah merah Yona membuatnya semakin gemas dengan wanita itu.
"Kau .. kau sangat lucu .. hahahaha."
"Tertawa saja yang keras," jawab Yona cemberut, menekuk wajahnya.
Regan berdiri dari tempat duduknya, Regan mengambil kotak makan yang sudah Lilian siapkan untuknya.
"Nih, kita makan berdua saja. Bunda yang buat tadi," katanya membuka kotak makanan.
Mata Yona berbinar bahagia, setidaknya dia mendapatkan makanan disela-sela penyiksaan yang Regan lakukan matanya.
"Mau tidak?" tanyanya Regan pada Yona.
"Ya mau lah," jawab Yona dengan cepat.
Tadi perut sekarang mulut, Yona pengen balik keperut Mommynya lagi jika terus begini.
"Yona-Yonaa," tawanya tiba tiba meledak lagi.
Dasar dosen gila, tadi marah marah sekarang malah tertawa sendiri seperti orang gila.
"Perlu di ruqyah kayaknya," decak kesal Yona membuat tawa Regan semakin keras.
Mari lanjut membaca..