Enrico Costra yang tampan dan kaya merasa hidupnya tidak lengkap. Melihat teman sekaligus rekan bisnisnya berbahagia bersama istri dan anak-anak, membuat ia merasa hidupnya kurang. Rasa sepinya bertambah ketika gadis perwaliannya dibawa pergi oleh suami yang menikahinya. Ia menyadari untuk pertama kalinya bahwa kata 'pernikahan' adalah hal yang menarik, lalu memutuskan ia juga menginginkan hal itu.
Vivianne Margue datang ke Mansion Costra mencari sepupunya yang bekerja sebagai asisten kepercayaan pemilik perkebunan Costra Land. Ia datang bersama neneknya, membawa masalah yang akan menentukan hidup Vivianne di masa depan.
Pertemuan pertama dengan Vivianne membuat Enrico terkesima ... gadis itu ... sama sekali tidak tertarik kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIANAZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Olivia plan 2
Vivianne melirik ke arah Enrico yang tampak fokus menyetir. Pria itu masih mengenakan kemeja biru yang tadi ia pakai untuk makan malam. Tampilan wajahnya tampak santai, dari samping Vivianne melahap wajah tampan itu dengan leluasa.
Dia ....
Apapun pemikiran yang baru saja mau terlintas di otak Vivianne langsung buyar karena suara Enrico tiba-tiba terdengar.
"Apa Bibi Oliv sudah sempat mengajakmu berjalan-jalan di sekitar perkebunan, Vivi?"
Enrico sekuat tenaga menahan kepalanya agar tidak menoleh. Instingnya mengatakan kalau Vivianne kerap memandangnya sejak mereka meninggalkan mansion. Enrico tidak mau membuat gadis itu gugup dengan menangkap basah mata gadis itu sedang memandangi dirinya.
"Apa? Jalan-jalan? Itu ... mm, belum. Lagipula aku tidak mau Bibi Oliv repot. Pekerjaan Bibi di rumah kaca masih banyak."
"Jika Alan sudah pulang, akan sangat menyenangkan mengunjungi aliran sungai berbatu di dekat perkebunan. Kami kerap berpiknik di sana. Mumpung kau masih di sini untuk berlibur, sebaiknya kau sekalian mengunjungi tempat itu, atau bahkan keliling perkebunan, banyak tempat indah yang bisa memanjakan mata." Enrico tidak percaya diri langsung mengajak Vivianne. Akan terasa canggung bila pergi berdua saja. Namun akan tampak biasa jika Alan ada di sana dan mengajak Vivianne. Seketika ia jadi ingin menjemput Alan.
"Sebenarnya saya dan Nenek kemari tidak murni ingin berlibur, Tuan. Kami ... Well, saya membawa masalah pada sepupu Frederic. Masalah yang sekarang harus sepupu Fred hadapi karena kami."
Vivianne meremas kedua tangannya, tiba-tiba teringat akan sepupunya. Tawa sumbang Vivianne terdengar ketika ia kembali bersuara.
"Apakah Sepupu Fred pernah menghubungi Anda, Tuan? Mengatakan kapan ia akan pulang mungkin?"
"Sebenarnya kemarin ketika aku sedang bekerja, Frederic sempat menelepon. Mengatakan jika urusan disana sepertinya memerlukan waktu agak lama."
Hati Vivianne jadi gundah mendengar ucapan Enrico.
"Sepupu Fred tidak mengatakan apa penyebabnya? Kenapa ia memerlukan waktu agak lama?"
Enrico melirik ke samping dan mendapati wajah gadis itu terlihat cemas. Ia memutuskan mengatakan yang sebenarnya pada Vivi bahwa ia tidak tahu alasannya.
"Fred tidak mengatakan alasannya Vivi. Dia hanya menyampaikan bahwa dia akan berusaha menyelesaikan semua urusan secepat mungkin, tapi waktu yang ia butuhkan tidak dapat ia pastikan ... apakah dia tidak memberi kabar padamu?"
Vivianne menarik napas panjang sambil menggelengkan kepalanya. "Sepupu hanya menelepon untuk bertanya mengenai kabar kami, lalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan menyuruh kami agar tidak khawatir. Tapi ...." Ucapan Vivianne terhenti, tiba-tiba ia merasa tidak tepat bila menceritakan semuanya pada atasan sepupunya itu.
"Semua akan baik-baik saja. Sejauh ini Frederic masih bisa mengatasi semuanya. Itulah yang dia katakan," ucap Rico berusaha untuk menghibur Vivi.
"Aku sungguh berharap itu benar, Tuan."
Perjalanan mereka selanjutnya diisi oleh keheningan. Vivi sibuk dengan pikirannya sendiri, sedang Rico jadi memikirkan rekannya Erick yang ada di kota Broken Bridge saat ini. Hingga sekarang, rekannya tersebut belum memberi kabar yang tidak baik.
Setelah beberapa menit yang berlalu dalam keheningan, mobil Enrico mulai memasuki jalanan Desa Costra Land. Setelah terus berkendara masuk ke arah desa, suara musik mulai terdengar oleh mereka.
"Kau dengar itu? Aku yakin kedai Alona sangat ramai malam ini."
Vivianne mengangguk, kedua matanya mengintip ke arah luar kaca. Dari kejauhan ia dapat melihat lampu sebuah bangunan yang berada di tengah desa, bangunan tersebut terlihat dipasangi lampu lebih terang dibandingkan bangunan-bangunan lain yang ada di sekitarnya. Suara musik pun sepertinya berasal dari bangunan tersebut.
"Itu tempatnya bukan?" tanya Vivi.
"Ya."
Beberapa saat kemudian, Enrico memarkirkan mobilnya di pelataran parkir yang amat luas di depan bangunan. Ia sengaja mencari di bagian pinggir dan sedikit tertutup kegelapan, agar mobilnya tidak terlalu mudah dikenali oleh orang yang lewat.
"Kita turun, Vivi. Ayo," ajak Rico. Ia membuka pintu lalu berjalan mengitari mobil, bermaksud membukakan pintu untuk Vivianne. Tapi Vivi yang semangatnya telah kembali ketika melihat suasana luar kedai yang terang benderang dan suara musik yang sangat indah dari arah dalam telah membuka sendiri pintunya dan kemudian turun dari mobil.
Vivianne terdiam sesaat sambil memandang ke arah bangunan, setelah beberapa menit tanpa ada yang bergerak dan bicara, ia akhirnya menoleh ke arah Enrico yang masih berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
"Kita ... benar-benar tidak bisa masuk ya?" tanya Vivi sambil tersenyum. Rico membalas senyum Vivi, lalu melangkah pelan sambil mengajak gadis itu mengikutinya.
"Ayo, ikuti aku. Aku tahu satu tempat yang memberikan kita akses pemandangan ke arah dalam tanpa diganggu." Enrico melewati Vivianne dan menahan keinginannya mengeluarkan tangan dari dalam kantong. Tadinya ia bermaksud membukakan pintu mobil, lalu mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu turun, lalu setelah Vivi menyambut tangannya dan turun dari mobil, ia bermaksud terus memegang tangan gadis itu dan menggandengnya menuju tempat yang sekarang ia tuju. Senyum masam menghiasi bibir Enrico.
Sepertinya, tanpa bantuan Alan atau Bibi, aku akan sulit sekali membuat Vivi tertarik padaku. Jika ingin pendekatan yang tidak membuat gadis ini takut, aku butuh bantuan orang lain. Tidak bisa mengandalkan diri sendiri seperti biasa ...
Enrico mengajak Vivi berjalan ke bagian samping bangunan, Vivi menyadari kalau mereka tidak akan mendatangi tempat itu dari bagian depan. Setelah beberapa langkah masuk ke samping bangunan dan mulai memasuki bagian yang agak temaram. Mereka dikejutkan oleh satu sosok yang tiba-tiba mendatangi dari arah berlawanan. Suasana yang agak gelap dari tempat sosok itu datang membuat Vivi menahan napas dan memilih tetap berdiri di tempatnya. Membiarkan Enrico terus berjalan beberapa langkah di depannya.
"Itu kau bukan? Pedro?" tanya Rico pada sosok yang mendekat.
"Ya ampun, saya kira saya salah lihat. Tapi rupanya benar ini Anda, Tuan," sahut Pedro.
"Kenapa kau muncul dari sana?"
Pedro menggaruk kepalanya sambil tersenyum malu. Membuat Rico menaikkan alis sambil berkata, "Jangan katakan kalau kau baru saja dari tempat itu."
"Mmm, sebenarnya iya, Tuan. Saya tidak diperbolehkan untuk masuk, padahal saya ingin melihat mereka menari. Jadi saya ke sana, lalu saya melihat Anda, saya mendekat untuk memastikan." ucap Pedro sambil menunjuk ke arah tempat tadi ia datang.
Rico mengangguk, lalu ia menoleh ke arah belakang, menatap Vivi yang berdiri beberapa langkah darinya. Tanpa direncanakan tangannya terulur, sudah kebiasaan ia akan mengulurkan tangan pada wanita mana pun jika mengajaknya berjalan dalam gelap.
"Ayo, kita hampir sampai. Pedro juga baru saja dari sana."
Vivianne mendekat dan tanpa sadar menyambut uluran tangan Rico. Setelah berada di telapak tangan yang besar itu dan merasakan kalau tangannya digenggam, ia kemudian ditarik hingga terpaksa berjalan mengikuti Rico.
Dari tempatnya berdiri Pedro tersenyum sambil menaikkan alisnya. Nyonya Olivia sudah mengatakan pada mereka para penghuni Mansion Costra kalau Rico sebenarnya jatuh hati pada sepupu Frederic tersebut. Awalnya Pedro dan Lori sedikit sangsi atas perkataan Nyonya Olivia. Namun setelah melihat cara Tuan Rico menatap Vivi setelah kepulangannya, Pedro dan Lori jadi percaya. Mereka akan menjauhkan Vivi tentu saja, jika tuan mereka hanya berniat bermain-main seperti pada para wanita yang pernah bersamanya. Namun Nyonya Olivia meyakinkan mereka bahwa Rico sudah saatnya beristri dan Vivi adalah gadis yang membuat pria itu tertarik akan kata pernikahan.
Setelah melihat pasangan itu menghilang, Pedro berbalik dan kembali berjalan ke arah halaman. Ia berniat menunggu di mobil saja dan memejamkan matanya selagi menunggu.
**********
Terima kasih ya kak Diana 😍😍😍😍
Tata bahasa baku,rapi,lain dari pada yang lain.