Sejak pertemuan pertama mereka, Nada sudah mulai memasang alaram tanda bahaya di hatinya. Kesalah pahaman terjadi ketika Nada di minta untuk menjadi dokter pribadi dari neneknya Arga, si tuan muda pemilik perkebunan teh di kota tempat Nada bertugas.
Pertemuan yang kerap terjadi, membuat Nada harus membentengi hatinya dari pesona si tuan muda, walaupun pada kenyataannya dia mulai tertarik dan jatuh cinta pada Arga.
Lalu bagaimana sikap Arga menghadapi kekerasan hati Nada, dan bagaimana cara dia meluluhkan hati dokter cantik kesayangan neneknya itu.
Ini karya pertama ku,
Mohon dukungannya ya reader 🥰
Makasih 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RisFauzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Terluka parah
Nada tersenyum cerah, diliriknya tangan yang menggenggam tangannya dengan begitu erat. Arga tersenyum lebar, bahagia rasanya melihat Nada yang mulai membuka hatinya untuk menerima perasaan cintanya.
"Aku mau tunjukin sesuatu sama Kamu," kata Arga penuh semangat.
Arga menarik tangan Nada yang berada dalam genggamannya, membawanya melangkah memasuki sebuah ruangan besar dimana terdapat banyak alat-alat medis di dalamnya.
Ada beberapa meja dengan masing-masing komputer di atasnya. Sofa panjang dengan bantalan warna-warni dan meja panjang terbuat dari kayu jati asli, terletak di ruang tunggu pasien. Ruangan besar itu dilengkapi dengan dua buah pendingin ruangan yang berada tepat di atas sofa panjang, dan di sudut atas ruang administrasi.
Ruang obat berdampingan dengan ruang administrasi. Di setiap sudut ruangan banyak terdapat tanaman hias dengan pot besar menambah keteduhan dalam ruangan tersebut. Benar-benar terlihat asri.
Nada memandang takjub, mulutnya tak henti-henti mengeluarkan seruan kekaguman. Apalagi saat masuk ke dalam ruangan periksa dokter, melihat ranjang pasien yang desainnya membuatnya kembali berdecak kagum. Jauh sekali dengan ranjang pasien yang ada di kliniknya. Walaupun modern tetap saja tak sebagus ranjang yang ada di depannya itu.
"Wah wah!" Serunya tak dapat menyembunyikan rasa kagumnya. Desain dalam ruangan itu di buat lebih mirip hotel ketimbang klinik kesehatan pada umumnya. Sehingga memberikan ketenangan dan kenyamanan saat pasien berada di dalamnya. Benar-benar memanjakan orang yang berada di dalam ruangan itu dan yang pasti sangat ramah pasien.
"Ada beberapa orang tenaga medis yang akan melengkapi klinik ini. Salah satunya adalah dokter Azka yang sudah menyatakan kesediaannya untuk bergabung."
"Dokter Azka?"
"Iya, pastinya Kamu sudah mengenalnya. Dokter pribadi keluarga Radjasa, dia bersedia bergabung selain tertarik dengan lingkungan di perkebunan kita ini, juga biar lebih mudah dalam memantau keadaan kesehatan nenek."
Nada mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penuturan Arga. Bibirnya membentuk senyum kecil, Arga berjalan semakin mendekatinya memangkas jarak di antara mereka berdua.
"Apaan sih?!" Nada tersipu malu, semburat warna merah menjalar di pipinya. Arga terkekeh geli melihat tingkahnya, gemes😍
"Gimana menurut Kamu?"
"Gimana apaan?" Nada bertanya bingung.
"Kliniknya Nada, gimana menurut Kamu. Apakah fasilitas yang Aku berikan untuk karyawan di perkebunan ini sudah baik menurut penilaianmu?"
"Ohh gitu, sangat baik. Aku sangat bersyukur karena Mas benar-benar serius memperhatikan pelayanan kesehatan untuk para karyawan. Luar biasa." Nada mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Jadi? Apakah aku sudah layak untuk mendapatkan hatimu?" Arga menaikkan kedua alis matanya berniat menggoda.
"Nggak ada hubungannya Mas, hati Aku sama klinik ini." Nada melengos.
"Ada hubungannya Nada, ini salah satu pembuktianku padamu. Melalui klinik ini, Aku membuktikan keseriusan dan kesungguhan hatiku padamu." Arga bersungguh-sungguh.
Nada tersenyum hangat dan menatap Mata Arga yang melihatnya penuh harap. Saat kepalanya mengangguk, Arga dengan cepat langsung memeluknya erat.
"Makasih sayang, sudah mau menerimaku." Arga mengetatkan pelukannya, dan Nada hanya mampu tersenyum menanggapinya.
"Kita pulang, Mas. Sudah malam, kasian nenek di rumah." Nada menengadahkan wajahnya. Arga mengecup keningnya lembut.
"Iya, kita pulang," jawab Arga kemudian dan menyuruh Nada menunggunya sementara dirinya mengambil mobil.
Saat berjalan keluar menuju tempat mobilnya di parkir, Arga melihat seseorang yang gerak-gerik tubuhnya terlihat sangat mencurigakan. Seorang lelaki dengan perawakan tinggi besar, memakai jaket hoody dan topi berwarna gelap di kepalanya serta masker yang menutupi wajahnya.
Lelaki itu berjalan terburu-buru, dan saat melewati Arga tiba-tiba dari balik punggungnya, lelaki itu mengeluarkan sebuah benda tajam berbentuk runcing dan langsung mengarahkannya pada tubuh Arga.
SREEETTT
"Astagfirullah!! Ya Allah, Mass!!"
Nada memekik histeris saat tangan lelaki itu berhasil menyabet lengan kanan Arga dengan pisau di tangannya yang bergerak bebas.
Arga meringis kesakitan menahan rasa nyeri yang timbul akibat luka sabetan benda tajam di lengannya. Lelaki misterius itu kembali menyerang Arga, kali ini tendangannya telak mengenai dada Arga hingga membuatnya terjengkang.
Melihat hal itu tanpa pikir panjang Nada sontak berlari menghampiri Arga, tanpa menghiraukan bahaya yang telah siap mengancam nyawanya.
"Jangan mendekat!! Tetap di tempatmu Nada!" Arga berteriak memperingatkan Nada.
Seolah tak mendengar teriakan Arga padanya, Nada terus saja berlari sambil menangis. Ia hanya ingin menolong Arga, hatinya hancur saat melihat laki-laki yang disayanginya terluka. Apalagi saat melihat lengan kanan Arga yang terus mengucurkan darah.
Nada terhenyak ditempatnya berdiri, terduduk seketika saat pisau lelaki misterius itu menghunjam perut sebelah kirinya. Darah segar mengalir, Nada memegang perutnya mencoba menahan lukanya. Nafasnya tersengal-sengal, kepalanya seakan berputar. Samar-samar dilihatnya bayangan seorang wanita cantik yang berdiri dari kejauhan sedang menatapnya.
"NADA!!!"
Teriakan Arga menggema. Emosinya memuncak, melihat gadis yang dicintainya terluka di depan matanya tanpa ia mampu berbuat apa-apa untuk mencegahnya.
Melihat korbannya jatuh bersimbah darah, lelaki misterius itu melarikan diri dan menghilang di balik kegelapan malam.
Arga berjalan menghampiri Nada, dipeluknya erat tubuh itu. Tak pernah terbersit sedikitpun dalam benaknya, ia akan mengalami hal mengerikan seperti ini.
Peristiwa ini benar-benar di luar dugaannya. Ia tak punya musuh, tak pernah berbuat curang sedikitpun dalam menjalankan usahanya. Ia tak pernah merugikan orang lain. Tapi mengapa ada orang yang ingin menyakitinya, bahkan berniat mencelakainya.
"Bertahanlah sayang, kita ke Rumah Sakit sekarang. Sadar sayang, sadar!! Jangan pingsan!!"
Arga segera meraih Nada dalam pelukannya, dan segera membawa Nada masuk ke dalam mobilnya. Di letakkannya tubuh Nada dengan hati-hati, saat ini Nada masih setengah sadar. Matanya terpejam tapi mulutnya masih mengeluarkan suara.
"Mas, bagaimana lukamu?" Nada bertanya dengan suara serak. Tangannya masih memegang luka di bagian perutnya yang kini ditekannya dengan jaket milik Arga. Suaranya makin melemah, tapi Nada mencoba bertahan.
Tak terasa setitik air mata menetes jatuh di pipi Arga. Hatinya dipenuhi keharuan, perhatian Nada padanya membuat rasa sayangnya semakin bertambah. Disaat dirinya terluka parah, Nada masih tetap memikirkannya.
"Aku baik-baik saja, lukaku tidak separah luka di perutmu. Hanya tergores kecil saja," kata Arga mencoba menahan suaranya yang bergetar. Tak dihiraukannya lagi luka di lengannya. Saat ini pikirannya hanya fokus pada luka di perut Nada.
Nada berdecak, tersenyum kecil sambil menahan rasa nyeri di perutnya. Terlalu banyak berbicara membuat nafasnya sesak.
30 menit kemudian mereka sampai di Rumah Sakit. Arga segera membawa Nada masuk dengan cara menggendongnya. Samar-samar didengarnya suara teriakan Arga yang menanyakan keberadaan dokter di Rumah Sakit itu, dan suara ribut lainnya yang entah siapa sedang berbicara pada Arga.
Tubuhnya terasa ringan dan pandangannya gelap, dirasakannya tangan yang menggenggam tangannya terlepas. Nada benar-benar tak sadarkan diri saat brangkar yang membawanya, masuk ke dalam menuju ruang operasi.
🌹🌹🌹
Happy Reading All 🌹❤💝💙💕
Hai reader semua, ini akun baru Risfa penulis novel @ Cinta untuk Nada
@ Me Before You
@ I am Yours
@ Eight Years Larer
@ Bodyguard dan Presdir Bucin,
Akun NT Risfa yang lama dgn nama pena @Risfauzi gak bisa kebuka sejak kemarin sore. Foto profil aku pakai covel novel kelimaku.
Teeima kasih atas perhatiannya, love you all 🥰🥰
kenapa harus korea juga...??
💃💃💃💃💃💜💜💜💜💜💜
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️