Perjuangan seorang CEO dingin dan suka gonta ganti wanita, yang jatuh hati pada wanita cantik beranak satu yang penuh misteri.
penasaran dengan kisah mereka. ayo baca ceritanya.
Jangan lupa like and comment.
kritik dan saran dari pembaca sangat di hargai.
Follow me on :
Instagram @agistawulur
Facebook @Derry Agista Wulur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Derry Agista Wulur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 26
Didalam kamar Bunga duduk di atas tempat tidur Rara dan memainkan HPnya, sedangkan Rara sedang sibuk dengan komputernya.
"Misi selesai mommy."
Rara meregangkan tangannya ke atas setelah menyelesaikan tugasnya.
"Hhmm., anak mommy memang genius."
Bunga menundunk melihat ke arah layar komputer Rara dan membelai kepala Rara dengan lembut.
tuut., tuut., tuut
"Aku sudah kirim lokasinya, kerahkan semua anak buahmu."
"Roger."
Bunga mematikan teleponnya setelah mendapat balasan yang diinginkannya. Dia keluar dari kamar Rara, membiarkan anaknya untuk istirahat dan Bunga kembali ke tokonya untuk melanjutkan pekerjaannya.
-----
"Felix?? Negara Z?? dimana aku pernah mendengar nama itu ya. "
Dalam perjalanan kembali ke kantornya pikiran Alex dipenuhi tanda tanya tentang percakapan Bunga di telepon tadi. Sesampainya di kantor Alex berjalan cepat ke ruangannya.
"Arya, ikut aku."
Sebelum masuk ke ruangannya Alex memanggil Arya untuk ikut masuk kedalam ruangannya.
"Ada apa pak?? "
"Berikan dokumen informasi mengenai laki - laki di cafe waktu itu."
Ucap Alex yang sudah duduk di kursi kebesannya. Alex melihat kearah luar jendela sambil mengingat nama yang sangat mengganggu pikirannya dari tadi.
ceklek
"Ini pak."
Alex mengambil dokumen itu dan memeriksanya dengan teliti, dia mengerutkan dahinya setelah membaca nama laki - laki yang ada di informasi tersebut. Alex semakin yakin Felix yang ada di informasi ini sama dengan Felix yang berbicara dengan Bunga lewat telepon tadi dan dia bukan orang biasa saja, dengan di rahasiakannya identitas Felix dan keberadaan dia sekarang di negara Z yang merupakan negara tempat berkumpul dan bertemunya semua jenis kejahatan entah itu *******, perdagangan senjata ilegal maupun transaksi narkoba. Yang semakin membuat Alex bingung adalah hubungan apa yang dimiliki Bunga dengan si Felix ini, kenapa Felix sampai menelepon Bunga untuk meminta bantuan.
"Arya carikan informasi mengenai wanita ini."
Alex memberikan kartu nama Bunga yang dia dapat saat berkunjung ke toko Bunga tadi.
"Baik pak."
Arya mengerutkan dahinya saat melihat nama Bunga tertera di kartu nama yang diberikan Alex tapi dia tidak berani bertanya alasannya, dia hanya bisa mengerjakan tugas yang diberikan bosnya dengan baik. Alex saat ini tidak bisa fokus dengan pekerjaannya, pikirannya dipenuhi pertanyaan mengenai Bunga, dia tahu Bunga pasti bukanlah orang yang memiliki latar belakang yang biasa juga, setelah memikirkan semuan kejadian dirumah Bunga tadi dan kejadian saat di mall Bunga menyergapnya dengan mudah.
tok,. tok., tok.,
"Masuk."
ceklek
"Apa yang kau dapat?? "
Alex yang dari tadi melihat keluar jendela kini menatap Arya dengan penuh harap.
"Tidak ada yang aneh dengan wanita bernama Bunga ini pak, informasi yang saya dapat hanya menunjukkan dia seorang ibu tunggal dari anak perempuan berumur 5 tahun dan pemilik dari The Florist."
"Apa hanya itu informasi yang kau temukan?? "
Ucap Alex tak percaya dengan informasi yang didengarnya, Alex yakin pasti ada informasi yang sengaja disembunyikan entah apa itu.
"Iya pak, tapi saya menemukan ada kejanggalan dari latarbelakang wanita ini pak."
"Apa itu?? "
"Di informasi ini tidak ada keterangan mengenai keluarganya dan pendidikannya."
"Periksa lebih dalam lagi."
"Baik pak."
Arya memberi hormat pada Alex dan keluar dari ruangannya.
"Bunga, aku semakin penasaran tantang kamu."
Gumam Alex dalam hatinya dengan menunjukkan senyum penuh artinya.
tok,. tok,. tok.,
"Masuk."
ceklek
"Permisi pak, ada nona Maya ingin bertemu."
"Hah,. biarkan dia masuk."
Alex memijat dahinya saat mendengar Maya datang menemuinya.
"Honey,. aku terpaksa harus datang sendiri kesini untuk menemuimu karena aku sudah tidak bisa lagi menahan rindu ini."