Felicia Winarko bukan gadis biasa.
Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.
Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.
Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.
Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.
Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.
"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."
Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29 - Pagi Setelah Dipilih
"Terima kasih sudah memilihku."
Kalimat Nathan menjadi suara terakhir sebelum Felicia tidur.
Pagi harinya, yang pertama bangun justru Nathan.
Ia tidak benar-benar tidur nyenyak. Sepanjang malam, tubuhnya berusaha menjadi bantal hidup yang tidak bergerak. Tangan kanannya masih berada di pinggang Felicia, tepat di tempat yang ia izinkan. Bahunya sendiri kaku, punggungnya pegal, dan lengan kirinya mati rasa karena ia menahan posisi terlalu lama.
Namun ketika ia membuka mata dan melihat Felicia masih tidur tanpa mengernyit kesakitan, semua rasa pegal itu tampak tidak penting.
Felicia bernapas pelan.
Rambut hitamnya tersebar di bantal. Wajahnya lebih pucat daripada gadis sehat, tetapi tidak setegang kemarin. Perban di pelipisnya masih bersih. Bahu kiri aman. Rusuknya tidak tertekan.
Nathan menatap terlalu lama.
"Kalau kamu terus melihat, aku pasang tarif."
Nathan hampir tersedak napas sendiri.
Mata Felicia belum sepenuhnya terbuka, tetapi sudut bibirnya sudah naik.
"Kamu bangun?"
"Tidak. Aku bicara dari mimpi."
Wajah Nathan memerah seperti selalu. "Maaf."
"Pagi-pagi sudah minta maaf."
"Refleks."
"Kurangi."
"Baik."
Ia hendak menarik tangannya, tetapi Felicia menahannya.
"Lenganmu mati rasa?"
Nathan terdiam.
"Jawab."
"Sedikit."
"Bodoh."
"Aku tidak ingin membangunkanmu."
Felicia membuka mata penuh dan menatapnya. "Kalau lenganmu rusak, aku harus mengurus satu pasien tambahan."
"Aku akan lebih pintar lain kali."
"Harus."
Kalimat itu membuat Nathan tersenyum kecil. Ada sesuatu yang berbeda pada senyum itu. Tidak lagi hanya sopan. Lebih longgar, seperti ada pintu dalam dirinya yang semalam tidak tertutup rapat lagi.
Pintu diketuk tiga kali.
"Masuk," kata Felicia.
Jayden membuka pintu sebelum ketukan keempat sempat ada. Di belakangnya, Calvin membawa nampan sarapan, dan Sebastian memegang termometer tanpa ekspresi.
Tiga pasang mata langsung berhenti pada posisi Nathan.
Tangan Nathan masih berada di pinggang Felicia.
Jayden melihat tangan itu.
Calvin melihat wajah merah Nathan.
Sebastian melihat penyangga bahu yang tetap aman, lalu termometer di tangannya.
"Gue mau protes," kata Jayden.
"Protes ditolak," jawab Felicia.
"Belum gue ajuin."
"Ditolak lebih awal."
Calvin meletakkan nampan di meja dengan senyum yang terlalu manis. "Selamat pagi, Ketua. Tidurmu nyenyak?"
Nathan duduk perlahan, menjaga agar Felicia tidak tertarik. "Cukup."
"Kemejamu kusut."
"Aku tahu."
"Rambutmu juga."
"Aku tahu."
"Kamu kelihatan bahagia."
Nathan berhenti.
Felicia tertawa pelan.
Jayden menunjuk Calvin. "Nah, itu yang bikin gue emosi. Dia bahagia."
Sebastian akhirnya bicara. "Suhu dulu."
Ia menaruh termometer di dekat Felicia tanpa menunggu drama pagi menjadi rapat panjang. Nathan membantu Felicia duduk dengan bantal tambahan. Calvin membuka kotak sarapan: bubur ayam halus, telur rebus, potongan buah, air putih. Tidak ada susu hangat.
"Mama Wenny mengganti staf dapur pagi ini," kata Calvin. "Semua makanan dicek dua orang."
"Sri?" tanya Felicia.
"Sudah dipindahkan sementara ke unit laundry hotel keluarga. Lebih aman dari Tante Lina."
Felicia mengangguk. "Bagus."
Hana dan Ningrum muncul di layar ponsel Nathan lewat video call. Keduanya duduk di kantin sekolah dengan wajah serius.
"Laporan," kata Hana tanpa basa-basi, lalu langsung terlihat sadar ia terdengar terlalu formal. "Maksudku, kami sudah cek."
Ningrum mengangkat catatan. "Video lengkap dari rumah sakit sudah naik dari akun siswa lain. Potongan yang menyerang Felicia mulai kalah. Akun anonim yang kemarin menyebarkan versi salah sudah menghapus dua unggahan."
Nathan menambahkan dari meja, "Sekolah juga sudah menerima salinan rekaman parkir sponsor. Keluarga Prasetyo mengirim data kendaraan, tapi sopir yang membawa Alphard putih mengaku sedang menunggu instruksi lanjutan dari 'panitia dokumentasi'. Nama pengirim masih mereka tutup."
Jayden mendengus. "Mereka pikir semua orang bodoh?"
"Tidak," kata Sebastian. "Mereka pikir semua orang takut."
Felicia mengaduk bubur pelan. "Takut itu mahal. Suruh mereka bayar lebih banyak kalau mau terus main."
Hana di layar menatap Felicia seperti baru mendapat kalimat untuk ditulis di dinding kelas.
Hana menambahkan, "Tapi ada julukan baru."
Felicia mengangkat alis. "Apa?"
Hana tampak menahan tawa. "Ratu Kursi Roda."
Jayden tertawa meledak.
Calvin menutup mulut, bahunya bergetar.
Nathan mencoba tetap sopan dan gagal di ujung bibirnya.
Sebastian berkata datar, "Secara branding, cukup kuat."
Felicia menatap layar. "Siapa yang mulai?"
Hana menunjuk dirinya sendiri dengan wajah bersalah. "Aku... tidak sengaja komentar di grup kelas bahwa kamu bahkan duduk saja bisa bikin orang jatuh."
Ningrum menunduk. "Lalu orang lain menyebarkan."
Felicia memandang mereka beberapa detik.
"Lumayan."
Hana langsung cerah. "Berarti tidak dimarahi?"
"Belum."
"Itu tetap terdengar seperti ancaman."
"Karena memang."
Ningrum mencatat sesuatu lagi.
Felicia melihatnya dan memutuskan untuk tidak bertanya.
Setelah panggilan ditutup, suasana kamar kembali pada empat pria dan satu nampan sarapan. Nathan menyuapi bukan karena Felicia tidak bisa, tetapi karena tangan kiri masih terbatas dan tangan kanan harus hemat gerak. Felicia membiarkan tiga suap pertama. Suap keempat, ia menggigit sendok sedikit lebih lama.
Nathan menahan napas.
Jayden membanting punggung ke kursi. "Gue nggak kuat."
"Keluar kalau lemah," kata Felicia.
"Gue nggak lemah. Gue cemburu."
"Itu juga kelemahan."
"Sayang!"
Calvin tersenyum. "Akhirnya mengaku."
Sebastian menatap angka suhu. "Normal. Pusing?"
"Sedikit."
"Nyeri rusuk?"
"Masih."
"Maka tidak ada aktivitas berlebihan hari ini."
Jayden langsung berkata, "Definisikan berlebihan."
Sebastian menatapnya. "Kamu."
Felicia tertawa. Rusuknya protes, tetapi tawanya keluar juga.
Nathan meletakkan sendok, matanya langsung khawatir. "Sakit?"
"Sedikit."
"Maaf."
Felicia menepuk punggung tangannya. "Aku sudah bilang kurangi."
Nathan mengangguk, kali ini benar-benar berusaha.
Siang itu berjalan dengan cara yang lebih tenang daripada dua hari terakhir. Nathan mengurus laporan rumah sakit dan keamanan dari meja kecil. Sebastian mengecek obat sesuai jadwal. Calvin mengatur ulang kamar supaya alat gambar dan obat tidak saling mengganggu. Jayden menjaga pintu dengan wajah seperti penjaga galak yang tidak boleh dipancing.
Felicia tidur dua kali, makan sedikit lebih banyak, dan membiarkan tubuhnya pulih karena semua orang di ruangan akan berubah menyebalkan kalau ia menolak.
Menjelang sore, Sis muncul dengan suara riang. "Tuan Rumah, data emosi Nathan stabil di 6%. Tidak ada star lighting. Sistem aman. Tapi tiga target lain menunjukkan kecemburuan tinggi."
"Aku punya mata, Sis."
"Benar juga."
Malam hampir turun ketika Felicia akhirnya membuka mata dari tidur pendek.
Keempat pria itu berada di kamar lagi, seolah tidak pernah punya kehidupan lain.
Jayden berdiri dekat jendela, cahaya senja memantul pada anting dan lip ring-nya. Ia terlihat lebih diam dari biasanya. Tidak sabar, tetapi menahan diri. Sejak pagi, ia protes paling keras, tetapi tidak sekali pun melanggar batas pintu atau menyentuh Felicia tanpa izin.
Felicia menghargai kepatuhan yang sulit.
"Malam ini," katanya.
Empat kepala terangkat.
Nathan menahan napas. Calvin tersenyum tipis. Sebastian menutup buku. Jayden lurus seperti baru mendengar pistol start.
Felicia menunjuk Jayden.
"Giliranmu."