NovelToon NovelToon
Jatuh Dalam Bara

Jatuh Dalam Bara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Sekar tidak seharusnya hidup lagi.

Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.

Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.

Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.

Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.

Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.

Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 034

Sebelum Senin

Mulai Senin, resmi.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi akhir pekan Sekar berjalan tidak sederhana sama sekali.

Sabtu pagi, Oma Lien memberi tahu satpam kompleks untuk tidak membiarkan Om Budi, Tante Rina, atau Tommy masuk tanpa izin. Sekar menunjukkan foto Tommy dari profil WhatsApp pada satpam. Kevin berdiri di sampingnya, tidak banyak bicara, tetapi menghafal nama pos, jalan samping, dan jam pergantian petugas seperti sedang membaca peta perang.

"Kamu ini mau sekolah atau jadi kepala keamanan?" bisik Sekar.

Kevin menjawab datar, "Kalau mereka datang lewat jalan samping, kepala keamananmu telat."

Oma Lien yang mendengar dari ruang tamu tertawa kecil. "Kevin benar. Orang yang mau cari masalah biasanya suka pintu samping."

Sebelum pulang, Kevin memeriksa bel rumah, lampu teras, dan kunci pagar. Ia tidak mengubah rumah Oma Lien menjadi benteng, tetapi ia menempelkan satu catatan kecil di dekat telepon rumah: nomor satpam, nomor Bu Wati, nomor Pak Arief, nomor Kevin. Tulisannya tidak rapi, tetapi jelas.

Oma Lien membaca catatan itu, lalu menepuk lengan Kevin.

"Kamu serius sekali."

Kevin menunduk sedikit. "Lebih baik terlalu serius daripada terlambat, Oma."

Sekar berdiri di belakang mereka, merasakan sesuatu di dadanya melunak. Rumah yang dulu dalam ingatannya terasa rapuh, hari itu mulai punya orang-orang yang berjaga di pintunya.

Minggu siang, ancaman Tommy tidak datang dalam bentuk ketukan pintu.

Yang datang hanya satu pesan.

Tommy: Papa ada urusan. Minggu lain saja. Jangan kangen.

Kevin membaca pesan itu dari ponsel Sekar, lalu langsung berkata, "Screenshot."

Sekar sudah melakukannya sebelum ia selesai bicara.

Kevin menatapnya.

"Apa?" tanya Sekar.

"Udah makin pintar."

"Karena gurunya galak."

"Gue bangga."

Sekar hampir tersenyum, tetapi pesan itu tetap membuat perutnya dingin. Ancaman yang tidak datang bukan berarti hilang. Hanya pindah waktu.

Senin pagi, Kevin datang ke sekolah lebih awal dari biasanya.

Ia memakai seragam rapi, rambut hitamnya masih sedikit lembap, dan tasnya tampak lebih penuh. Bryan berjalan di sampingnya dengan wajah seperti baru ditinggal teman kos pindah kota.

"Jadi lo beneran pindah kelas?" tanya Bryan untuk kesekian kalinya.

"Iya."

"Lo sadar gue bakal sendirian?"

"Lo masih punya Steven."

"Itu bukan pengganti. Steven kalau bercanda terlalu sehat."

Kevin berhenti di depan loker lamanya. "Lo lebay."

Bryan melihatnya memasukkan buku catatan biru, beberapa fotokopi, dan pulpen ke tas. Wajah bercandanya turun sedikit.

"Serius, Bro. Jangan jadi asing."

Kevin menoleh.

Bryan jarang bicara seperti itu. Biasanya ia menyembunyikan semua hal serius di balik lelucon, persis seperti Kevin dulu menyembunyikan takut di balik marah.

Kevin menutup loker. "Istirahat bareng. Pulang juga kalau jadwal sama. Gue pindah kelas, bukan pindah negara."

"Janji?"

"Iya."

"Kalau lo jadi anak rajin terus lupa sama gue?"

"Gue minta Sekar gigit lo juga."

Bryan langsung mundur. "Tidak perlu. Persahabatan kita kuat."

Tawa mereka pendek, tetapi cukup untuk membuat udara pagi tidak terlalu berat.

Di ruang guru, Bu Wati sedang menerima lembar persetujuan dari kepala sekolah. Pak Arief berdiri di samping meja, membawa map cokelat.

"Sudah disetujui," kata Bu Wati ketika Kevin masuk.

Kevin berhenti di depan meja. "Mulai hari ini, Bu?"

"Mulai hari ini, tetapi kamu masuk setelah jam pertama. Ibu perlu mengumumkan dulu di kelas supaya tidak jadi tontonan."

Kevin mengangguk. "Baik, Bu."

Pak Arief menyerahkan map cokelat. "Ini salinan jadwal, daftar tugas yang harus kamu kejar, dan catatan dari wali kelas lama. Tidak semuanya bagus."

"Saya tahu, Pak."

"Tahu saja tidak cukup."

"Saya baca."

"Bagus." Pak Arief menatapnya lebih lama. "Kevin, pindah kelas ini bukan hadiah karena kamu pacaran dengan Sekar. Ini kesempatan. Kalau kamu merusaknya, orang yang paling repot bukan cuma kamu."

Kevin menunduk. "Saya paham."

"Dan kalau ada urusan Tommy atau Om Budi, kamu lapor. Bukan bergerak sendiri."

"Iya, Pak."

Di kelas Sekar, suasana sudah berisik sebelum Bu Wati masuk. Yola duduk di sebelah Sekar, berbisik, "Kamu siap?"

"Untuk apa?"

"Pacarmu resmi jadi penghuni kelas."

Sekar merapikan buku di meja. "Dia bukan hantu."

"Hantu aja mungkin lebih sedikit bikin heboh."

Bu Wati masuk membawa absensi dan satu lembar pengumuman. Kelas langsung lebih tenang karena wajahnya serius.

"Sebelum mulai pelajaran, Ibu sampaikan satu hal," katanya. "Mulai hari ini, ada siswa yang pindah ke kelas kita. Ini keputusan sekolah, berdasarkan kebutuhan akademik dan pengawasan. Jadi tidak ada komentar aneh, tidak ada gosip, dan tidak ada yang menjadikan ini bahan lelucon."

Beberapa siswa langsung saling pandang.

Dinda berbisik dari depan, "Kevin?"

Yola pura-pura batuk.

Bu Wati mengetuk meja. "Ibu belum menyebut nama, tapi sepertinya kalian sudah tahu. Bagus. Berarti Ibu tidak perlu menjelaskan panjang."

Sekar menunduk, menyembunyikan senyum.

"Kevin Senja Halim akan masuk setelah jam pertama. Perlakukan dia seperti teman sekelas. Kalau dia bertanya soal materi, jawab. Kalau dia mengganggu, lapor Ibu. Kalau kalian mengganggu dia, juga lapor Ibu. Jelas?"

"Jelas, Bu."

Suara kelas tidak kompak, tetapi cukup patuh.

Yola menyenggol Sekar. "Bu Wati mode pelindung."

Sekar mengangguk pelan.

Di luar kelas, langkah seseorang berhenti di depan pintu.

Bayangan tinggi jatuh di kaca kecil pintu, diam menunggu dipanggil.

Bu Wati melihat jam, lalu menutup buku absensi.

"Baik. Setelah jam pertama, kita mulai dengan anggota baru."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!