Namanya Felicia. Hidupnya biasa-biasa saja — sampai dia terbangun di tubuh orang lain, di sebuah mansion yang lebih besar dari kampusnya, dengan cincin pernikahan di jari manisnya.
Suaminya? Kevin Surya — pewaris nomor tiga Surya Group, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Wajah tampan yang tersembunyi di balik bekas luka. Tatapan sedingin freezer. Mulut yang tidak pernah mengucapkan lebih dari dua kalimat sekaligus.
Pernikahan mereka adalah kontrak. Tiga tahun. Tidak ada cinta, tidak ada harapan, tidak ada masa depan.
Tapi Felicia punya senjata rahasia — Sistem Kepo, AI misterius yang bersarang di otaknya dan memberinya informasi, obat-obatan ajaib, dan misi-misi gila.
Misi utama: Bantu Kevin Surya merebut kendali Surya Group. Deadline: 3 tahun. Gagal = konsekuensi fatal.
Dan Kevin? Dia punya rahasia sendiri.
Dia bisa membaca pikiran Felicia. Setiap. Kata. Yang. Dia. Pikirkan.
Termasuk saat Felicia berpikir:
"Abs-nya... ada berapa ya? Satu, dua, tiga— YA TUHAN DIA LIHAT AKU MENGHITUNG"
"Pasti gay. Pasti. Tidak mungkin cowok setampan ini straight."
"Kalau aku lempar Bola ke dia, dia bakal teriak kayak cewek tidak ya?"
"Kenapa... pelukan cowok ini sehangat ini..."
Di antara intrik mertua jahat (Madam Liem yang ingin menyingkirkan Kevin), adik tiri bermuka dua (Stella yang ingin mencuri segalanya), dan musuh dari luar negeri yang mengincar kehancuran keluarga Surya — Felicia harus bertahan, melawan, dan... jatuh cinta?
Padahal ini cuma kontrak. Kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25: Deklarasi Perang
Rumor pertama tentang Felicia Santoso mulai menyebar di Jakarta.
Judulnya cukup halus untuk tidak terlihat seperti serangan langsung, tetapi cukup tajam untuk menusuk.
Istri Kontrak atau Pengendali Baru? Sosok Felicia Santoso di Balik Perubahan Kevin Surya
Artikel anonim itu tidak menyebut sumber. Tidak menuduh secara terang-terangan. Ia hanya menyusun kalimat seperti orang yang khawatir.
Felicia yang dulu dikenal tertutup dan tidak menonjol mendadak tampil dominan setelah menikah.
Kevin Surya, yang selama ini jarang muncul, kini mengambil keputusan agresif dengan istrinya selalu berada di dekatnya.
Beberapa pihak mempertanyakan apakah perubahan itu murni strategi bisnis, atau ada pengaruh pribadi yang terlalu besar.
Di ruang pribadinya di Surya Mansion, Cynthia Liem membaca artikel itu tanpa ekspresi.
Di meja rias, lampu kuning lembut memantulkan wajahnya yang tetap rapi. Di luar, hujan malam masih turun. Di dalam ruangan, hanya suara pendingin udara dan notifikasi ponsel yang sesekali berbunyi.
Artikel itu mulai dibagikan ulang.
Belum meledak.
Tapi cukup untuk membuka celah.
Richard Liem berdiri di dekat jendela, wajahnya tegang. Brandon duduk di sofa, satu kaki bergerak gelisah. Setelah video rooftop, harga dirinya belum pulih. Setelah rapat keluarga, posisinya makin goyah. Dan setelah rumor ini naik, ia terlihat ingin tertawa sekaligus marah.
"Ini terlalu pelan," kata Brandon. "Kita harus serang lebih keras."
Cynthia meletakkan ponsel di meja.
"Karena kamu selalu ingin keras, kamu berakhir menyanyi tentang utang di depan separuh eksekutif Surya Group."
Wajah Brandon memerah. "Mama..."
"Diam."
Satu kata itu cukup untuk membuat Brandon menutup mulut.
Richard berdeham. "Narasi awal sudah berjalan. Akun kedua bisa masuk besok pagi. Kita dorong pertanyaan soal kontrak pernikahan, perubahan penampilan Felicia, dan pengaruhnya pada keputusan Kevin."
"Jangan terlalu jelas," kata Cynthia. "Kalau terlalu jelas, Kevin akan membalas dengan data. Dia selalu begitu."
Brandon mendengus. "Sejak kapan Mama memuji Kevin?"
Cynthia menatapnya.
"Sejak kamu berkali-kali membuatku harus membersihkan kekacauanmu."
Brandon terdiam.
Kemarahan Cynthia malam itu dingin. Bukan seperti wanita yang kehilangan kendali, melainkan seperti orang yang akhirnya mengakui bahwa permainan lama tidak cukup.
Felicia Santoso seharusnya mudah.
Gadis bodoh dari keluarga Santoso. Anak yang dibuat takut tampil. Istri kontrak yang bisa ditekan dengan tata krama, uang, dan rasa malu.
Ternyata ia membaca angka, membalik jebakan, mempermalukan orang kiriman, dan membuat Kevin bergerak.
Yang paling mengganggu Cynthia bukan keberanian Felicia.
Melainkan reaksi Kevin.
Anak itu, yang selama bertahun-tahun ia pisahkan dari pusat keluarga, mulai berdiri dengan seseorang di sisinya. Lebih buruk lagi, Hendrik mulai melihatnya.
Hendrik mulai melihat Kevin.
Itu tidak boleh terjadi.
"Masalahnya bukan Felicia saja," kata Cynthia akhirnya. "Masalahnya Kevin menjadi berbeda sejak dia datang."
Richard mengangguk. "Kalau begitu pisahkan mereka."
"Sudah kucoba."
"Sekretaris gagal karena Felicia memegang akses. Mbah Suryo gagal karena Jason membawa data. Brandon gagal karena..." Richard melirik Brandon, lalu memutuskan tidak menyelesaikan kalimat.
Brandon berdiri. "Aku masih bisa mendekati Felicia."
Cynthia menatap putranya dengan dingin. "Kamu tidak akan mendekati siapa pun tanpa instruksiku."
"Mama selalu begitu. Kalau dari awal aku diberi ruang..."
"Ruang apa? Ruang untuk menambah video viral?"
Brandon menggertakkan gigi.
Pintu diketuk pelan.
Cynthia mengangkat dagu. "Masuk."
Stella Santoso masuk dengan gaun sederhana dan wajah pucat. Rambutnya diikat rapi, tetapi matanya menunjukkan ia belum tidur. Ia menunduk pada Cynthia.
"Madam Liem."
Brandon menoleh. "Kenapa kamu ke sini?"
Stella menggenggam tas kecilnya. "Aku membawa update dari jalur Santoso."
Cynthia memperhatikan gadis itu.
Stella tidak sekuat Felicia. Tidak setenang Felicia. Tapi rasa iri dan rasa takut sering kali lebih mudah diarahkan daripada kesetiaan.
"Bicara," kata Cynthia.
Stella mengeluarkan ponsel. "Papa mulai bertanya-tanya soal Kak Cia. Dia melihat artikel anonim dan khawatir. Tante Linda bisa mendorong agar keluarga Santoso meminta Kak Cia pulang untuk bicara. Kalau Kak Cia pulang tanpa Kevin, kita bisa..."
"Tidak," potong Cynthia.
Stella membeku.
"Felicia tidak akan datang sendirian semudah itu. Kevin terlalu waspada."
Brandon menatap Stella. "Lalu apa gunanya kamu?"
Wajah Stella memucat, tapi ia menahan diri.
"Aku bisa mendekatinya lewat rasa bersalah," katanya pelan. "Kak Cia masih peduli pada keluarga Santoso. Dia berpura-pura keras, tapi dia tidak sepenuhnya membenci kami."
Cynthia menatapnya lebih lama.
Stella menelan ludah. "Aku bisa jadi orang yang tampak menyesal. Aku bisa minta maaf. Aku bisa bilang Brandon memaksaku. Kak Cia mungkin tidak langsung percaya, tapi dia akan mendengar."
Brandon berdiri. "Apa maksudmu menyalahkanku?"
Stella gemetar, tapi tidak mundur. "Kak Brandon memang memaksaku."
Ruangan menjadi sunyi.
Mata Brandon berubah gelap. "Stella."
Cynthia mengangkat tangan, menahan Brandon.
Menarik.
Ketakutan gadis itu mulai berubah menjadi keberanian kecil. Bukan keberanian murni, tentu. Lebih seperti orang yang terjepit dan mencari sisi yang paling mungkin menyelamatkan dirinya.
Itu bisa dipakai.
"Kamu bersedia menjadi jembatan?" tanya Cynthia.
Stella menunduk. "Iya. Asal..."
"Asal apa?"
Stella mengangkat wajah. "Asal Kak Brandon berhenti mengancamku dengan utang dan pesan lama."
Brandon tertawa sinis. "Kamu berani menawar?"
Cynthia berkata, "Diam, Brandon."
Brandon menatap ibunya, tidak percaya.
Cynthia berdiri. Kain gaunnya jatuh rapi, tidak ada satu lipatan pun yang salah.
"Mulai sekarang, kita tidak bergerak seperti orang panik. Felicia harus dibuat ragu pada semua orang di sekitarnya. Kevin harus dipaksa memilih antara melindungi istrinya atau mengejar posisi di keluarga. Hendrik harus melihat bahwa Kevin membawa kekacauan."
Richard mengangguk pelan. "Langkah pertama?"
"Besok rumor kedua naik. Stella mulai mendekati Felicia. Brandon tidak bergerak tanpa perintah. Richard, tekan vendor lama di proyek logistik. Kalau Kevin ingin memakai Jawa Timur sebagai panggung, kita buat panggung itu retak."
Nama Jawa Timur membuat Stella menoleh cepat. Ia tahu sedikit tentang keluarga Hartono, cukup untuk paham bahwa itu menyentuh sisi lain Felicia.
Cynthia melihat reaksi itu.
"Ada yang kamu tahu?"
Stella ragu. "Keluarga ibu Kak Cia dari Surabaya. Hartono. Kalau proyek Jawa Timur disentuh, mungkin Kak Cia akan ikut campur."
Cynthia tersenyum untuk pertama kalinya malam itu.
Lembut.
Berbahaya.
"Bagus."
Brandon akhirnya duduk lagi, wajah masih gelap. Richard mencatat beberapa instruksi di ponsel. Stella berdiri di antara mereka, sadar ia baru saja masuk lebih dalam ke lubang yang mungkin tidak bisa ia tinggalkan.
Cynthia berjalan ke jendela. Dari lantai dua, ia bisa melihat halaman Surya Mansion yang basah oleh hujan. Di kejauhan, lampu taman berkilau seperti mata kecil yang mengawasi.
"Kevin sudah terlalu lama dibiarkan hidup tenang di luar kendaliku," katanya pelan.
Richard dan Brandon sama-sama menunduk.
Cynthia menatap pantulan dirinya di kaca.
"Mulai malam ini, perang benar-benar dimulai."
Di layar ponselnya, artikel anonim itu terus bertambah share.
Dan di bawahnya, komentar pertama yang paling berbahaya mulai muncul.
Kalau Felicia cuma istri kontrak, kenapa Kevin membiarkan dia ikut semua urusan keluarga?