Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.
Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.
Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.
Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.
Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.
"Sayang, kamu kembali."
Kembali? Kiara baru saja tiba.
Atau... benarkah?
Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.
"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."
Kiara tahu dia harus takut.
Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 013
Gerbang Majapahit
Kiara masih berdiri di depan logo Kiara Media ketika pintu kantor terbuka tanpa peringatan.
"Rayhan! Kamu benar-benar keterlaluan!"
Suara itu memenuhi seluruh ruangan sebelum pemiliknya muncul. Seorang pria berusia matang dengan rambut sedikit berantakan, kacamata bundar, dan syal tipis yang sama sekali tidak cocok dengan cuaca Jakarta melangkah masuk seperti badai kecil.
Adi langsung menunduk. "Om Gunawan."
Rayhan tampak tidak terkejut. "Om datang lebih cepat."
"Tentu saja aku datang cepat. Kamu mendadak kirim dana investasi sebesar itu, lalu bilang ada aktris kecil yang harus kulihat. Apa kamu pikir aku ini sutradara yang bisa dibeli pakai angka?"
Kiara menegang.
Ci Lucy yang berdiri di sampingnya ikut diam.
Gunawan Halim berhenti tepat di depan Kiara. Matanya menilai dengan terang-terangan, bukan seperti orang yang merendahkan, melainkan seperti seniman yang sedang mencari retakan pada porselen.
"Jadi ini Kiara Tanuwijaya."
Kiara menunduk sopan. "Selamat siang, Om Gunawan."
"Jangan sopan dulu. Aku belum tentu suka."
Kiara berkedip.
Rayhan berkata datar, "Om."
"Apa?" Gunawan menoleh padanya. "Kalau kamu mau orang yang selalu memujinya, cari fan account. Kalau kamu memanggilku, aku akan bicara sebagai sutradara."
Anehnya, Kiara justru sedikit rileks.
Orang ini tidak berpura-pura.
Gunawan mengangkat map tebal yang dibawanya, lalu melemparkannya ke meja meeting. Sampulnya bertuliskan Gerbang Majapahit.
Kiara melihat judul itu dan jantungnya langsung berdetak cepat.
Dalam dunia film Indonesia di cerita ini, Gerbang Majapahit bukan proyek kecil. Drama sejarah epik, anggaran besar, kru terbaik, kostum rumit, dan rumor bahwa film itu disiapkan untuk festival internasional. Bahkan Kiara di dunia asalnya, sebagai pembaca novel, ingat bahwa film ini menjadi titik balik karier karakter Kiara.
Dalam novel asli, kesempatan itu seharusnya jatuh ke tangan orang lain.
"Aku butuh pemeran Putri Mahkota," kata Gunawan. "Bukan wajah cantik yang hanya bisa menangis manis. Aku butuh seseorang yang kelihatan rapuh, tapi begitu berdiri di depan kamera, penonton percaya dia bisa membawa runtuh satu istana."
Kiara menatap map itu.
Rayhan berdiri sedikit di belakangnya, tidak bicara.
Gunawan menyipitkan mata. "Rayhan bilang kamu bisa."
Kiara menoleh pada Rayhan.
Rayhan hanya berkata, "Aku bilang Om harus melihat sendiri."
Kalimat itu membuat sesuatu di dalam dada Kiara menghangat.
Ia tidak bilang Kiara pasti bisa. Ia tidak memaksa sutradara menerimanya. Ia hanya memberi kesempatan agar kemampuannya dilihat.
Gunawan membuka salah satu halaman naskah.
"Baca adegan ini. Putri Mahkota baru tahu ayahnya mengorbankan rakyat untuk mempertahankan tahta. Dia tidak bisa menangis di depan pejabat istana. Dia harus menahan semuanya, lalu tetap memberi perintah."
Ci Lucy menahan napas.
Kiara menerima halaman itu dengan dua tangan.
Dialognya panjang. Bahasa period drama, formal, berat, penuh kata yang tidak biasa dipakai sehari-hari. Untuk aktris muda yang terbiasa diberi peran tempelan, ini jelas jebakan yang bagus.
Gunawan duduk di kursi meeting dan menyilangkan kaki.
"Tidak perlu akting besar. Aku benci akting besar."
Kiara membaca naskah sekali.
Lalu sekali lagi.
Di dunia asalnya, ia pernah membaca bagian ini. Tidak persis kalimatnya, tapi ia ingat emosi dasarnya. Putri Mahkota bukan perempuan yang baru belajar sedih. Ia lahir di istana, diajari untuk tidak retak di depan siapa pun. Jika hatinya hancur, hancurnya harus terdengar lewat jeda, bukan tangis.
Kiara meletakkan naskah.
Gunawan mengangkat alis. "Tidak dibawa?"
"Sudah cukup."
Ruangan menjadi sunyi.
Rayhan menatapnya, matanya gelap dan fokus.
Kiara mengubah cara berdirinya.
Bahu yang tadi sedikit menunduk perlahan lurus. Dagunya terangkat. Tatapan matanya tidak lagi seperti gadis muda yang bingung menerima perusahaan baru, melainkan seseorang yang seumur hidup belajar menelan darah agar mahkota di kepalanya tidak miring.
Ketika ia bicara, suaranya rendah.
"Jika darah rakyat harus menjadi tinta untuk menulis nama Ayah di sejarah, maka biarkan sejarah itu kosong."
Gunawan berhenti bergerak.
Kiara tidak menatap siapa pun di ruangan itu. Matanya jatuh ke satu titik kosong di depan, seolah di sana berdiri seorang raja yang ia cintai sekaligus benci.
"Aku putrimu. Karena itu aku tahu, tahta yang harus dijaga dengan mengorbankan mereka yang lapar bukan lagi tahta. Itu altar keserakahan."
Jeda.
Napasnya tidak bergetar.
Tapi matanya perlahan memerah.
"Mulai malam ini, gerbang selatan dibuka. Gudang beras kerajaan dibagi. Siapa pun pejabat yang menahan perintahku, namanya kucoret dari istana sebelum fajar."
Kalimat terakhir keluar lebih pelan.
Tidak berteriak.
Justru karena tidak berteriak, ruangan terasa seperti benar-benar berada di depan seorang putri yang baru saja memutuskan melawan darahnya sendiri.
Kiara menunduk sedikit, keluar dari karakter.
Tidak ada yang langsung bicara.
Ci Lucy menutup mulut dengan map.
Adi yang biasanya datar pun menatap Kiara beberapa detik lebih lama.
Gunawan berdiri pelan.
"Ulangi bagian terakhir."
Kiara mengangguk.
Ia mengulang.
Kali ini lebih dingin. Lebih rapi. Air mata tidak muncul, tapi rahang yang mengeras membuat rasa sakitnya lebih tajam.
Gunawan menepuk meja.
"Itu."
Kiara terkejut.
"Itu yang kucari." Mata Gunawan menyala. "Wajahmu bisa membuat orang ingin melindungi, tapi matamu bisa membuat mereka percaya kamu akan membakar istana. Bagus. Sangat bagus."
Rayhan tidak tersenyum lebar.
Tapi tatapan lembutnya jatuh pada Kiara seperti cahaya hangat yang diam-diam.
Gunawan menunjuk Rayhan tanpa menoleh. "Kamu jangan senang dulu. Aku memilih dia karena dia cocok, bukan karena kamu."
"Aku tahu."
"Dan kalau nanti dia buruk di lokasi, aku marahi juga."
Rayhan menatapnya dingin.
Gunawan tertawa. "Lihat? Baru bilang akan kumarahi saja kamu sudah seperti mau membeli seluruh studio."
Kiara hampir tertawa.
Ketegangan di ruangan mencair sedikit.
Gunawan mengambil naskah, lalu menyerahkannya langsung pada Kiara.
"Selamat datang di Gerbang Majapahit. Kita mulai pembacaan naskah resmi minggu depan di studio Jakarta. Kamu akan bertemu pemain lain, pelatih dialog, pelatih gerak, dan tim kostum. Jangan terlambat. Aku benci aktor terlambat."
Kiara menerima naskah itu.
Beratnya hanya beberapa ratus halaman, tapi di tangannya terasa seperti pintu.
"Terima kasih, Om Gunawan. Saya akan bekerja keras."
"Jangan cuma keras. Pintar juga." Gunawan menunjuk dahinya sendiri. "Film sejarah itu bukan tempat untuk cantik-cantikan."
"Baik."
Gunawan lalu melirik Rayhan. "Dan kamu, jangan tiap hari muncul di lokasi. Aktorku nanti tidak bisa fokus."
Rayhan menjawab tanpa ragu, "Tidak bisa."
"Rayhan."
"Aku akan tetap muncul."
Gunawan memijat kening. "Aku tahu dari dulu kamu anak susah diatur."
Kiara menatap dua pria itu, satu dramatis, satu dingin, dan untuk pertama kalinya sejak masuk dunia novel, ia merasakan jalan karier di depannya bukan lagi lorong sempit penuh pintu terkunci.
Ada satu pintu terbuka.
Bukan karena Rayhan membukanya paksa.
Tapi karena saat ia diberi kesempatan berdiri di depannya, ia sendiri yang melangkah masuk.