Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:
Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.
Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.
Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.
Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.
Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."
"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16: Boleh Peluk Kamu Tidur?
Minggu pertama tinggal di apartemen Kelvin membuat Naomi belajar menghafal suara-suara baru.
Suara lift pribadi yang terbuka langsung ke ruang tamu. Suara mesin kopi otomatis Kelvin pukul tujuh pagi. Suara kuku Felix di lantai kayu saat berlari dari kamar Kelvin ke kamar tamu yang sekarang ditempati Naomi. Suara pintu kamar Kelvin yang tertutup pelan setiap malam, selalu setelah Naomi masuk kamar lebih dulu.
Tidak ada suara Ibu kos.
Tidak ada langkah laki-laki berhenti di depan pintu.
Tidak ada lorong sempit dengan lampu mati.
Tetap saja, rasa aman tidak datang secepat pindah alamat.
Naomi masih mengunci pintu kamar dua kali. Ia meletakkan koper di depan pintu pada malam pertama, kebiasaan bodoh yang membuat Felix duduk di depan koper itu selama sepuluh menit, bingung kenapa Mommy membangun tembok kecil di dalam kamar.
Kelvin tidak mengomentari.
Ia hanya menaruh kunci tambahan di meja makan.
"Kalau mau kunci dari dalam, pakai ini. Kunci lama kadang macet."
Naomi menerima kunci itu dengan dua tangan. "Terima kasih."
"Jangan bilang terima kasih setiap lima menit."
"Baik."
"Itu juga tidak perlu."
Naomi menutup mulutnya.
Kehidupan bersama mereka terasa seperti latihan berjalan di ruangan yang terlalu bersih. Naomi takut menyentuh barang. Takut memakai air terlalu lama. Takut meletakkan gelas di meja tanpa alas. Kelvin tampak memperhatikan semuanya, tapi jarang menegur. Justru karena ia tidak menegur, Naomi semakin canggung.
Felix satu-satunya penghuni yang tidak punya konsep canggung.
Setiap malam, setelah makan, Felix membawa mainan kunyah ke kaki Naomi, menjatuhkannya, lalu menatap sampai Naomi mau bermain. Jika Kelvin duduk di sofa, Felix akan mondar-mandir di antara mereka seolah sibuk memastikan keluarga barunya tidak duduk terlalu jauh.
"Dia cerewet," kata Naomi suatu malam.
Kelvin yang sedang membaca dokumen di tablet melirik Felix. "Dia mirip kamu."
"Saya tidak cerewet."
"Dalam hati."
Naomi ingin membantah, tapi Felix menggonggong sekali, seperti setuju dengan Kelvin.
Untuk beberapa detik, apartemen itu terasa hangat.
Malam keempat, rasa hangat itu pecah oleh mimpi.
Naomi bermimpi berdiri di gerbang sekolah lama. Hujan turun, tapi bukan hujan yang bersih. Airnya membawa suara tawa. Seragamnya basah. Di tangannya ada nasi bungkus yang kertasnya mulai robek. Seseorang berbisik di belakangnya.
Si Anak Warteg.
Lalu suara lain.
Lihat saja, dia pikir berubah bisa menghapus semuanya.
Naomi ingin berjalan, tapi kakinya terlalu berat. Tubuhnya terasa seperti masa lalu, napasnya pendek, kulitnya panas oleh tatapan. Di seberang gerbang, mobil hitam berhenti. Kacanya gelap. Ia tidak tahu siapa di dalamnya, tapi semua orang menatap ke sana seolah menunggu hakim memutuskan apakah ia pantas berdiri di tempat itu.
Ketika seseorang menarik nasi bungkus dari tangannya, Naomi terbangun.
Napasinya tercekat.
Kamar tamu itu gelap, hanya disinari garis lampu kota dari sela tirai. Selimut kusut di kakinya. Kaos yang ia pakai terasa lembap oleh keringat. Untuk beberapa detik, ia tidak tahu sedang berada di mana.
Lalu Felix mengangkat kepala dari karpet dekat tempat tidur.
Naomi menekan dada.
"Tidak apa-apa," bisiknya, entah pada Felix atau dirinya sendiri.
Felix berdiri, menghampiri sisi ranjang, lalu menempelkan kepala ke kasur.
Naomi mengusapnya dengan tangan gemetar. "Aku baik-baik saja."
Felix tidak percaya. Ia merengek pelan.
Naomi tidak ingin membangunkan Kelvin. Ia turun dari ranjang, membuka pintu kamar perlahan, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil air. Jam di dinding menunjukkan pukul dua lewat sedikit.
Lampu ruang kerja Kelvin masih menyala.
Naomi berhenti di depan dapur.
Seharusnya ia kembali ke kamar. Minum air, berbaring, memaksa mata tertutup. Ia sudah terlalu sering melakukan itu di kos. Mimpi buruk bukan hal baru. Yang baru hanyalah ada orang lain di rumah yang mungkin bisa mendengar jika napasnya berantakan.
Pintu ruang kerja terbuka.
Kelvin keluar dengan tablet di tangan. Rambutnya sedikit berantakan, kemeja rumahnya longgar, wajahnya masih terlihat dingin meski lampu hanya separuh menyala.
Matanya langsung jatuh pada wajah Naomi.
"Mimpi buruk?"
Naomi menggenggam gelas yang belum diisi. "Tidak."
Felix menggonggong kecil dari belakangnya.
Kelvin menatap Felix. "Dia bilang kamu bohong."
Naomi menunduk. Tangannya masih gemetar. Air dari dispenser belum sempat ia tuang, tapi gelas kosong itu sudah terasa terlalu berat.
Kelvin meletakkan tablet di meja. "Duduk."
"Saya mau minum saja."
"Duduk dulu."
Kali ini Naomi tidak punya tenaga untuk membantah.
Ia duduk di ujung sofa. Felix langsung naik ke dekat kakinya, menempel seperti penjaga. Kelvin mengambil air hangat dari dapur, menaruhnya di meja, lalu duduk di sisi sofa yang lain. Jarak di antara mereka masih cukup untuk Felix berbaring.
"Mimpi tentang kos?" tanya Kelvin.
Naomi menggeleng.
"Tentang sekolah?"
Jari Naomi menegang di gelas.
Kelvin melihat gerakan itu, tapi tidak memaksa.
"Tidak perlu cerita."
Kalimat itu membuat Naomi lebih sulit menahan air mata daripada pertanyaan apa pun.
Ia menunduk, minum sedikit. Air hangat masuk ke tenggorokan, tapi dingin di dadanya tidak langsung pergi.
"Saya akan kembali ke kamar," katanya.
Ia berdiri, tapi langkahnya goyah sedikit. Bukan karena sakit. Karena tubuhnya masih belum sepenuhnya kembali dari mimpi.
Kelvin ikut berdiri.
"Naomi."
Ia menoleh.
Kelvin tampak ragu sesaat. Ragu yang sangat kecil, hampir tidak pantas ada di wajahnya.
"Boleh aku peluk kamu sampai kamu tidur?"
Naomi tidak langsung mengerti.
Kalimat itu terlalu lembut untuk keluar dari orang yang sama yang pernah berkata sekali lagi kamu resign sendiri. Terlalu hati-hati untuk laki-laki yang biasanya membuat keputusan seperti menutup pintu.
"Kalau tidak nyaman, bilang tidak," tambah Kelvin.
Naomi menatapnya lama.
Ia seharusnya menolak. Mereka bukan pasangan sungguhan. Pelukan seperti itu bukan bagian dari perjanjian. Tidak ada acara keluarga, tidak ada teman yang perlu diyakinkan, tidak ada kamera, tidak ada alasan untuk berakting.
Tapi mungkin justru karena tidak ada orang lain, Naomi lebih sulit berpura-pura kuat.
Ia mengangguk pelan.
Kelvin tidak langsung menyentuhnya. Ia mengambil selimut tipis dari sandaran sofa, duduk kembali, lalu membuka satu sisi lengannya.
Naomi duduk di dekatnya dengan gerakan canggung. Jarak kecil masih ada di antara mereka sampai Kelvin bertanya dengan mata, bukan suara. Naomi mengangguk lagi.
Baru setelah itu Kelvin menariknya pelan.
Pelukannya tidak erat sampai menyakitkan. Hanya cukup untuk membuat sisi tubuh Naomi bersandar pada dada dan bahunya. Satu tangan Kelvin berada di luar selimut, tidak bergerak ke tempat lain. Felix naik ke karpet dekat sofa, menaruh kepala di kaki Naomi.
Naomi memejamkan mata.
Aroma sabun dingin Kelvin bercampur dengan wangi kain selimut yang bersih. Detak jantungnya terdengar samar di telinga Naomi, lebih pelan daripada miliknya sendiri.
"Tidur," kata Kelvin rendah.
"Kamu?"
"Aku bisa duduk."
"Tidak pegal?"
"Kamu ringan."
Naomi terlalu lelah untuk tersinggung.
Perlahan, napasnya mengikuti ritme yang lebih stabil. Gerbang sekolah dalam mimpi menjauh. Suara tawa mengecil. Yang tersisa hanya lampu kota dari balik jendela, Felix di dekat kakinya, dan lengan Kelvin yang tidak menuntut apa-apa selain diam.
Sebelum benar-benar tertidur, Naomi berpikir dengan kesadaran yang setengah hilang.
Kalau ini palsu, biarkan saja palsu sedikit lebih lama.