NovelToon NovelToon
Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / Cinta Lansia / Mandul
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26

Maya terbangun di kamar apartemen, bukan rumah sakit.

Hal pertama yang ia lihat adalah lampu tidur di sisi ranjang. Hal kedua adalah Raka yang duduk di kursi dekat jendela, masih memakai kemeja dari acara Sabrina, hanya jasnya yang sudah dilepas. Wajahnya gelap, matanya merah karena menahan marah terlalu lama.

Maya bergerak sedikit.

Raka langsung berdiri.

"Jangan bangun."

Suara itu rendah, tapi serak.

Maya menurut. Tenggorokannya kering. "Mbak Wati?"

"Memar sedikit. Sudah diperiksa. Dia di kamar staf."

"Orang-orang itu?"

"Ditahan keamanan. Polisi sudah datang."

"Sabrina?"

Raka diam.

Maya memahami dari diam itu.

"Belum ada bukti."

"Belum."

Ia menekankan kata itu seperti janji.

Maya menutup mata. Bau saputangan tadi masih teringat di hidung. Tangannya tanpa sadar bergerak ke perut.

Raka melihat.

"Dokter sudah memeriksamu di sini. Janinnya baik-baik saja."

Air mata Maya langsung keluar.

Raka duduk di tepi ranjang. Ia tampak ingin menyentuhnya, tapi menahan diri.

"Maaf."

Maya membuka mata.

"Kenapa Mas minta maaf?"

"Aku membiarkanmu pergi."

"Saya yang minta."

"Aku tetap membiarkan."

Maya menatapnya. "Mas Raka tidak bisa mengunci saya di saku jas."

"Aku sedang mempertimbangkan."

Maya tertawa kecil, lalu menangis lebih keras.

Raka akhirnya mengulurkan tangan, mengusap air matanya dengan ibu jari.

"Jangan menangis. Tekanan darahmu naik."

"Mas benar-benar..."

"Apa?"

"Tidak romantis."

"Tapi berguna."

Maya memegang tangan Raka sebelum ia menariknya.

"Saya takut."

Wajah Raka berubah.

Maya melanjutkan, "Bukan hanya karena tadi. Saya takut karena rasanya kejadian di hotel terulang lagi. Saya takut tubuh saya tidak bisa melawan. Saya takut anak ini..."

Suaranya pecah.

Raka menggenggam tangannya.

"Tidak akan ada yang menyentuhmu lagi."

"Mas tidak bisa selalu ada."

"Bisa."

"Mas Raka."

"Kalau aku tidak ada, orangku ada. Kalau orangku gagal, aku hancurkan semua yang terlibat."

Nada itu seharusnya menakutkan.

Maya justru merasa aman.

Ia menatap Raka dalam-dalam. Di wajah pria itu ada kemarahan, rasa bersalah, dan sesuatu yang hampir putus asa.

"Mas Raka," bisiknya, "jangan terlalu marah sampai lupa saya ada di sini."

Raka diam.

Maya menarik tangannya pelan, menaruhnya di atas perut.

"Kami di sini."

Telapak Raka menegang di bawah tangan Maya.

Beberapa detik kemudian, napasnya berubah lebih pelan.

"Aku tahu."

Maya memejamkan mata.

Malam terlalu panjang. Tubuhnya lelah. Tapi ada satu hal yang belum ia katakan sejak acara tadi.

"Sabrina bilang pernikahan sah bukan berarti dicintai."

Raka menatapnya.

"Kamu masih memikirkan itu?"

"Iya."

"Setelah semua yang terjadi?"

"Justru karena semua yang terjadi."

Maya membuka mata. "Saya tidak ingin menuntut sesuatu yang tidak Mas janjikan. Tapi saya juga tidak ingin terus menebak. Kalau Mas menjaga saya karena anak ini, saya bisa mengerti. Kalau Mas membela saya karena tanggung jawab, saya juga bisa mengerti."

Raka menatapnya tanpa berkedip.

"Dan kalau bukan hanya itu?"

Maya merasa napasnya tersangkut.

"Mas Raka..."

"Kamu pikir aku memainkan piano untuk janin?"

Wajah Maya memerah bahkan di tengah lelah.

"Mungkin untuk menjawab Sabrina."

"Aku bisa menjawabnya dengan pengacara."

"Untuk menjaga nama saya?"

"Aku bisa membeli seluruh acara itu."

"Lalu kenapa?"

Raka menatap tangannya yang masih berada di perut Maya.

"Karena saat dia mengatakan kamu tidak dicintai, aku marah."

Maya diam.

"Bukan karena dia menghina istriku di depan orang. Tapi karena aku sadar aku belum pernah membuatmu merasa sebaliknya."

Air mata Maya berhenti sejenak.

Raka mengangkat wajah.

"Aku tidak pandai mengatakan hal seperti ini."

"Saya tahu."

"Jangan memotong."

Maya menutup mulut.

Raka menarik napas.

"Aku menikahimu karena tanggung jawab. Itu benar. Aku melindungimu karena kamu mengandung anakku. Itu juga benar. Tapi kalau hanya karena itu, aku tidak akan cemburu pada Yudha. Aku tidak akan ingin tahu masa sekolahmu. Aku tidak akan marah melihatmu menangis untuk anak yang menyakitimu. Aku tidak akan duduk semalaman hanya karena kamu memintaku jangan pergi."

Maya menatapnya, matanya kembali basah.

"Jadi?"

Raka tampak frustrasi.

"Jadi jangan percaya Sabrina."

Maya hampir tertawa di antara tangis.

"Itu saja?"

"Untuk sekarang."

"Mas Raka benar-benar..."

"Tidak romantis?"

"Sangat."

Raka menunduk sedikit. "Tapi kamu mengerti?"

Maya menatapnya.

Ia mengerti.

Mungkin belum dalam bentuk kata cinta. Mungkin belum seperti novel yang dulu ia baca diam-diam saat muda. Tapi Raka sedang membuka sesuatu yang bagi pria itu jauh lebih sulit daripada membeli kotak musik mahal atau memarahi satu ruangan.

Ia sedang jujur.

Maya mengangguk pelan.

"Saya mengerti."

Raka terlihat lega, meski hanya sedikit.

Maya tiba-tiba merasa sangat lelah. Matanya hampir tertutup.

"Tidur," kata Raka.

"Mas jangan ke ruang kerja."

"Aku di sini."

"Di kursi lagi?"

"Ya."

Maya menggeleng lemah.

"Nanti leher Mas sakit."

Raka menatapnya.

Maya menggeser tubuh sedikit, memberi ruang di sisi ranjang. Gerakan itu kecil, tapi maknanya membuat udara berhenti.

"Kalau Mas mau," bisiknya, "tidur di sini. Tapi jangan terlalu dekat. Saya masih takut."

Raka tidak langsung bergerak.

"Maya, kamu yakin?"

"Saya percaya Mas."

Kalimat itu membuat mata Raka menggelap, tapi bukan karena nafsu. Lebih seperti seseorang menerima sesuatu yang terlalu berharga.

Ia naik ke ranjang dengan hati-hati, tetap menjaga jarak. Maya berbaring miring membelakanginya. Beberapa menit berlalu dalam diam.

Lalu Maya berbisik, "Mas Raka."

"Hmm."

"Kalau saya mimpi buruk..."

"Aku bangunkan."

"Kalau saya menarik baju Mas lagi?"

"Aku sudah terbiasa disandera."

Maya tersenyum dalam gelap.

Malam itu, mereka tidur di ranjang yang sama untuk pertama kalinya tanpa menyentuh banyak. Hanya ujung jari Maya yang akhirnya, di tengah tidur, menemukan lengan Raka.

Raka terbangun karena sentuhan itu.

Ia tidak bergerak menjauh.

Di ruangan lain, ponsel Bima menyala dengan pesan dari penyidik.

Salah satu pria yang menyerang Maya mengaku menerima uang dari perantara.

Nama perantara itu terhubung ke perusahaan kecil milik Dimas.

Bima tidak langsung masuk ke kamar rawat. Ia berdiri di lorong, membaca pesan itu dua kali, lalu menatap kaca pintu tempat Raka masih duduk di sisi Maya.

Untuk pertama kalinya sejak bekerja pada Raka, Bima ragu memberi laporan secepat biasanya. Ia tahu nama Dimas akan melukai Maya lebih dalam daripada luka di lengannya. Tetapi menyembunyikan hal itu juga berarti memberi waktu pada orang yang salah.

Raka membuka pintu sebelum Bima mengetuk.

"Ada apa?"

Bima menyerahkan ponsel.

Raka membaca tanpa ekspresi. Hanya rahangnya yang mengeras.

"Jangan bilang ke Maya malam ini," katanya pelan.

"Pak, kalau Dimas benar terlibat--"

"Aku tahu." Raka memotong, tetapi suaranya tetap rendah. "Besok pagi aku bicara dengannya sendiri. Malam ini dia harus tidur tanpa merasa anaknya ikut menjual nyawanya."

Bima mengangguk.

Di dalam kamar, Maya bergerak gelisah, seolah mendengar nama itu dalam tidurnya.

Raka kembali masuk dan menggenggam tangannya.

"Tidur saja," bisiknya. "Besok aku yang menanggung dulu."

1
naira
lanjutkan thor
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍
naira
cerita nya bagus,tapi kenapa bisa sepi pembaca yaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!