NovelToon NovelToon
Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.

"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."

Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.

Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.

Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.

Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.

Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.

Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 004

"Kita bertaruh, Lo Hafeng."

Kalimat itu menggantung di koridor seperti lampu yang tiba-tiba padam.

Dua mahasiswa di ujung lorong benar-benar berhenti berjalan. Wanyu berdiri di pintu studio dengan wajah lembut yang makin lama makin sulit dipertahankan. Hafeng menatap Meiran seolah sedang menilai apakah perempuan di depannya masih waras.

"Aku tidak main-main denganmu," kata Hafeng.

"Bagus. Aku juga tidak."

Meiran membuka map sketsanya, mengeluarkan selembar kertas kosong dari bagian belakang. Ia mengambil pulpen, lalu menulis di atasnya dengan cepat.

Taruhan Ujian Tengah Semester.

Peserta: Lim Meiran dan Lo Hafeng.

Penilaian: total nilai mata kuliah Desain Dasar, Teori Visual, dan proyek lintas studio.

Jika Lim Meiran menang: Lo Hafeng harus mengikuti instruksi Lim Meiran selama satu bulan dalam batas kampus, hukum, dan batas pribadi.

Jika Lo Hafeng menang: Lim Meiran berhenti mengejar Lo Hafeng, meminta maaf di grup angkatan, dan tidak mengganggunya lagi.

Tulisan tangan Meiran rapi. Terlalu rapi untuk suasana yang mulai panas.

Hafeng membaca cepat. "Kamu pikir ini lucu?"

"Tidak. Aku pikir ini adil."

"Adil?" Hafeng tertawa pendek tanpa humor. "Kamu yang selama ini menggangguku, lalu kamu membuat taruhan seolah aku punya kewajiban membuktikan sesuatu padamu?"

"Kalau kamu menang, kamu bebas dariku."

Kalimat itu membuat Wanyu langsung menatap Hafeng.

Meiran melihatnya. Tentu saja Wanyu ingin Hafeng menang. Di atas kertas, hadiah itu seperti mimpi bagi mereka berdua: Lim Meiran pergi, reputasi Hafeng bersih, Wanyu bisa kembali berdiri sebagai perempuan yang paling dekat dengannya.

Justru karena itu Hafeng akan sulit menolak.

Hafeng melipat tangan di depan dada. "Aku tidak perlu taruhan untuk bebas darimu."

"Kalau begitu kenapa sampai sekarang kamu belum bebas?"

Koridor makin sunyi.

Sistem di kepala Meiran tidak berbunyi, tetapi angka -100 masih menyala seperti bara. Ia bisa merasakan semua mata di sekitarnya. Ini bukan lagi soal cinta. Ini soal kendali atas cerita. Selama ini semua orang punya versi mereka tentang Lim Meiran: putri konglomerat manja, perempuan yang tidak tahu malu, pengganggu kehidupan Hafeng.

Hari ini ia akan menulis versinya sendiri, di depan mereka semua.

Wanyu melangkah mendekat. "Meiran, aku tahu kamu mungkin sedang emosi. Tapi taruhan seperti ini tidak baik. Ko Hafeng tidak perlu meladeni hal yang kekanak-kanakan."

"Kamu benar," kata Meiran.

Wanyu tertegun.

Meiran menatapnya. "Dia tidak perlu meladeni. Tapi kalau dia menolak, semua orang akan tahu Lo Hafeng lebih memilih kabur daripada mengambil kesempatan resmi untuk membuatku berhenti."

Wajah Hafeng berubah dingin total.

"Jangan pakai namaku untuk permainanmu."

"Namamu sudah ada di semua gosip karena aku," jawab Meiran tenang. "Aku sedang memberimu jalan keluar."

"Dengan syarat menjadi milikmu satu bulan?"

"Aku sudah tulis batasnya." Meiran menunjukkan kertas itu. "Instruksi dalam batas kampus, hukum, dan batas pribadi. Kamu akan membawa buku kalau aku minta, mengambilkan kopi kalau aku minta, menungguku selesai kelas kalau aku minta. Tidak lebih."

Seorang mahasiswa di ujung lorong berbisik, "Jadi kayak asisten pribadi?"

Meiran menoleh sedikit. "Anggap saja begitu."

Hafeng menyambar kertas itu dari tangan Meiran dan meremasnya.

"Aku tidak akan jadi mainanmu."

Remasan kertas itu terdengar jelas. Wanyu menunduk, seolah sedih melihat Hafeng dipaksa. Dua mahasiswa di ujung lorong sudah jelas merekam, meski pura-pura melihat layar ponsel biasa.

Meiran tidak menghentikan mereka.

Biarkan.

Alur lama membunuhnya di tempat sepi. Alur baru harus dimulai di depan saksi.

"Takut?" tanya Meiran.

Hafeng melangkah maju. "Jangan ulangi kata itu."

"Takut kalah dariku?"

"Kamu bahkan tidak pernah serius belajar."

"Mungkin karena selama ini aku terlalu sibuk menggambar wajahmu."

Hafeng mengerutkan dahi. Ia tidak suka jawaban itu. Terlalu jujur untuk diejek, terlalu tenang untuk disebut memalukan.

Meiran mengambil satu langkah lagi.

Jarak mereka menjadi pendek.

Panel sistem berkedip.

**【Sistem Predator】Peringatan: Target berada pada Nilai Cinta -100. Provokasi berlebihan dapat meningkatkan Nilai Kehancuran.**

Meiran berhenti setengah detik.

Nilai Kehancuran di sudut panel bergerak dari 12 ke 13.

Jadi setiap permainan punya harga.

Baik. Ia mencatatnya.

Hafeng melihat jeda kecil itu dan salah mengartikannya sebagai ragu. "Sudah selesai?"

"Belum."

"Kalau begitu cepat. Aku muak melihat wajahmu."

Kalimat itu seharusnya menyakitkan.

Memang menyakitkan.

Tapi Meiran pernah mendengar kalimat yang jauh lebih dingin saat darahnya mengalir di aspal. Dibandingkan suara Hafeng di ujung telepon kematiannya, hinaan pagi ini hanya goresan.

Ia mengangkat wajah.

"Kamu akan lebih muak setelah ini."

Sebelum Hafeng sempat memahami maksudnya, Meiran meraih kerah kemejanya dan menariknya turun.

Bibirnya menyentuh bibir Hafeng.

Tidak lama.

Hanya satu detik yang cukup untuk membunuh seluruh suara di koridor.

Kertas remuk jatuh dari tangan Hafeng. Ponsel seseorang hampir terlepas. Wanyu menutup mulutnya, tetapi matanya terbuka lebar bukan karena sedih saja, melainkan karena marah yang terlambat disembunyikan.

Hafeng membeku.

Meiran melepaskannya lebih dulu.

Ia tidak mundur jauh. Ia hanya berdiri di sana, menatap pria yang baru saja ia cium secara paksa di depan saksi, dan ia tahu ini bukan tindakan manis. Ini serangan. Ini tanda perang. Ia mempertaruhkan reputasinya sendiri untuk memecahkan kebekuan yang terlalu lama mengikat alur lama.

Detik berikutnya, tangan Hafeng terangkat.

Plak.

Wajah Meiran tersentak ke samping.

Suara tamparan itu lebih keras dari yang ia kira.

Pipi kirinya langsung panas. Rambutnya jatuh menutupi separuh wajah. Luka di telapak tangannya berdenyut bersamaan dengan rasa perih di pipi, seolah tubuhnya ingin mengingatkan bahwa hidup kembali bukan berarti kebal.

Koridor kacau.

"Astaga."

"Dia menamparnya."

"Tapi Meiran yang cium duluan."

"Rekam, rekam."

Wanyu maju cepat. "Ko Hafeng!"

Hafeng menatap tangannya sendiri selama sepersekian detik. Jari-jarinya kaku. Kemarahannya masih ada, tetapi di balik itu ada sesuatu yang lebih tajam: terkejut pada dirinya sendiri.

Ia tidak meminta maaf. Harga dirinya terlalu tinggi untuk itu, apalagi di depan orang-orang yang mulai berkerumun. Namun warna di wajahnya berubah sedikit pucat. Tamparan itu bukan kemenangan. Bagi pria sebeku Hafeng, kehilangan kendali di depan umum adalah noda yang lebih menyakitkan daripada gosip apa pun.

Meiran melihatnya.

Catatan pertama: Lo Hafeng lebih takut kehilangan kendali daripada kehilangan muka karena perempuan.

Meiran menyentuh sudut bibirnya. Tidak berdarah.

Sialnya, tidak ada darah. Darah akan membuat adegan ini lebih mudah diingat.

"Meiran, kamu keterlaluan," kata Wanyu, suaranya gemetar dengan sangat terukur. "Kamu tidak bisa memaksa orang seperti itu."

"Benar," jawab Meiran.

Semua orang kembali diam.

Meiran menurunkan tangannya dari pipi. Bekas merah mulai terasa berdenyut, tetapi matanya tetap lurus pada Hafeng.

"Aku salah karena menciummu tanpa izin," katanya jelas, cukup keras untuk ponsel yang sedang merekam. "Dan kamu salah karena menamparku. Kita sama-sama membuat adegan buruk pagi ini."

Hafeng tidak bicara.

"Karena itu," Meiran mengambil kertas taruhan yang jatuh, merapikannya sebisanya meski sudah kusut, "kita ubah menjadi aturan yang bisa diawasi semua orang."

Hafeng menatapnya seolah baru pertama kali melihatnya.

Mungkin memang begitu.

Di kehidupan sebelumnya, Meiran setelah ditampar akan hancur. Ia akan menangis, meminta maaf, dan semakin terlihat seperti perempuan putus asa.

Sekarang ia berdiri dengan pipi merah, suara stabil, dan kertas taruhan di tangan.

**【Sistem Predator】Respons target berubah. Kebencian tetap maksimum. Variabel baru terdeteksi: keterkejutan, kewaspadaan, rasa ingin tahu.**

Nilai Cinta: -100.

Tidak naik.

Namun ada sesuatu yang bergerak.

Meiran menahan rasa puas tipis di dadanya.

Wanyu melihat ke arah mahasiswa yang merekam. "Tolong hapus videonya. Ini masalah pribadi."

"Jangan hapus," kata Meiran.

Wanyu menoleh cepat. "Meiran?"

"Aku sudah minta maaf atas bagian yang salah. Kalau video itu menyebar, semua orang juga akan melihat aku menawarkan taruhan yang jelas dan dia menamparku setelahnya. Biarkan publik menilai seimbang."

Wanyu kehilangan kata.

Hafeng akhirnya bicara, suaranya rendah. "Kamu benar-benar gila."

"Mungkin."

"Kamu pikir setelah ini aku akan menerima taruhanmu?"

"Ya."

"Kenapa?"

Meiran melipat kertas itu, lalu menyodorkannya lagi.

"Karena kalau kamu tidak menerima, ciuman tadi menjadi satu-satunya hal yang orang ingat. Tapi kalau kamu menerima, kamu punya kesempatan mengubah cerita menjadi kemenanganmu."

Hafeng menatap kertas itu.

Meiran menambahkan, lebih pelan, khusus untuknya, "Kalahkan aku. Buat aku meminta maaf di depan semua orang. Bukankah itu yang kamu mau?"

Hafeng diam lama.

Di belakangnya, Wanyu tampak ingin berkata sesuatu, tetapi ia tidak berani memotong saat mata Hafeng sudah terpaku pada Meiran. Untuk pertama kalinya pagi itu, Wanyu bukan pusat kelembutan yang perlu dilindungi. Ia hanya penonton.

Itu cukup untuk membuat Meiran tahu serangannya mengenai sasaran.

Hafeng mengambil kertas itu.

Ia merapikannya dengan gerakan kasar, lalu menarik pulpen dari saku kemejanya. Ujung pulpen menekan kertas begitu kuat sampai hampir robek.

Lo Hafeng.

Tanda tangannya tajam.

Setelah selesai, ia menyodorkan kertas itu kembali ke dada Meiran.

"Baik," katanya di antara gigi yang terkatup. "Satu bulan. Tapi jangan menyesal ketika kamu kalah."

Meiran menerima kertas itu, pipinya masih panas, dadanya masih berdenyut, tetapi senyumnya tidak runtuh.

"Aku tidak punya kebiasaan menyesal dua kali."

Hafeng berbalik pergi.

Wanyu memanggilnya, "Ko Hafeng!"

Kali ini Hafeng tidak berhenti.

Meiran menatap tanda tangan di kertas kusut itu.

**【Sistem Predator】Ikatan taruhan terbentuk. Jalur interaksi berulang terbuka.**

Di depan semua orang, Lo Hafeng baru saja masuk ke permainan yang ia benci.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!