Kehadiran buah hati adalah salah satu hal yang paling dinanti dalam sebuah pernikahan. Begitu pun yang diharapkan oleh Raditya dan Riena. Namun, apa jadinya jika kehamilan itu justru datang disaat kondisi psikologis Reina masih belum pulih benar dari traumanya? Alih-alih merayakan kabar kehamilan tersebut dengan pesta tasyakuran secara besar-besaran, diam-diam Riena malah berusaha menyembunyikan kehamilannya dari Raditya. Bahkan dia memutuskan untuk pergi menjauh dari suaminya itu.
Apakah yang terjadi sebenarnya? Akankah Raditya masih sanggup berjuang demi mempertahankan mahligai rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part twenty six
Rosyani baru menyadari apa yang diucapkan oleh besannya memang benar adanya. Tubuh Riena terlihat lebih padat dan berisi. "Iya, dhek. Saya baru merhatiin. Semoga saja, ya," bisiknya.
Retno beserta Rosyani seketika kompak menutup mulut karena Riena dan Raditya semakin mendekati sofa di mana mereka berada.
"Maafkan sikap Riena tadi ya, Ma. Rien benar-benar tidak bermaksud membantah mama. Rien hanya sedang tidak enak hati. Jujur, Rien baru saja berhenti kerja. Rien capek," lirih Riena sesaat setelah mendudukkan bokongnya di samping Rosyani persis.
"Ada masalah apa? Cerita sama mama, Rien." Rosyani mengelus rambut Riena dengan lembut.
"Apa Radit sudah mulai berani neko-neko? Dia main perempuan?" tanya Retno langsung menatap tajam pada Raditya yang sudah duduk di sofa single tepat di sebrangnya.
"Tidak begitu, Ma. Akhir-akhir ini, Rien merasa mudah capek dan mood pun naik turun tanpa bisa Rien kendalikan. Mungkin Rien memang butuh santai sejenak." Riena buru-buru membela Raditya sebelum mama mertua tecintanya itu semakin menjadi-jadi tuduhannya.
"Sebelumnya mama minta maaf, ya, Rien. Mama Minta maaf kalau menurutmu ini salah. Perubahan mood yang terlalu cepat, bisa jadi karena tubuhmu juga sedang mengalami perubahan hormon. Kalau mama perhatikan, kamu sepertinya sedang hamil, Rien. Co---,"
"Tidak mungkin! Rien tidak mungkin hamil." Riena langsung memotong ucapan Rosyani. Perempuan itu berdiri dan menatap mamanya sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Raditya hanya bisa menarik napas dalam. Untuk saat ini, dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Dalam kondisi normal, Raditya pasti akan senang mendengar apa yang menjadi praduga ibu mertua dan juga mamanya. Namun, memulihkan kesehatan mental Riena jauh lebih penting di atas segalanya. Kehamilan, bukan tidak mungkin malah akan membuat mental Riena kembali down.
"Rien pasti akan memberi mama cucu. Tapi tidak sekarang. Tolong jangan bicarakan masalah ini dulu, ma. Tolong," pinta Riena dengan suara lirih dan tatapan mata yang mulai berkaca-kaca.
Retno dan Rosyani kompak berdiri, Masing-masing mengusap pundak kiri dan kanan Riena dengan lembut. Di lubuk hati terdalam, keduanya, terutama Rosyani, merasa alasan Riena yang ingin bersantai dan baru berhenti kerja hanyalah alasan formalitas belaka. Masalah yang lebih besar, mungkin sedang menimpa putrinya.
"Maafkan mama, Rien. Kita tidak akan membahas masalah ini lagi." Rosyani merengkuh pundak Riena dan membawanya ke dalam dekapannya.
Sementara itu, Retno dengan menggunakan isyarat mata, mengajak Raditya untuk mengikuti langkahnya. Sama halnya dengan Rosyani, naluri seorang ibu---mengantar Retno pada pemikiran bahwa anak dan menantunya sedang menghadapi ujian yang cukup rumit. Perempuan tersebut memilih mengajak Raditya bicara di taman belakang bangunan utama rumah.
"Jujur sama mama, Dit. Ada apa sebenarnya? Mama seumur-umur nggak pernah lihat Reina begitu. Meski anak tunggal, Reina itu tangguh. Nggak ada cengeng dan manjanya sama sekali," desak Retno begitu mereka sudah sama-sama duduk di bangku anyaman rotan yang menghadap ke kolam ikan.
Raditya terdiam. Semenjak memutuskan menjalin hubungan serius dengan Riena, berbohong adalah hal yang sangat dihindari. Sudah cukup dia membuat kedua orangtuanya malu, marah, kesal dan banyak mengeluarkan uang karena kenakalannya yang tidak biasa. Saat ini, Raditya hanya berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Baik itu dalam peranannya sebagai anak, pemimpin di perusahaan atau pun sebagai seorang suami.
"Dit, mama bukannya mau ikut campur urusan rumah tanggamu. Kamu boleh tidak menjawab pertanyaan mama. Sebagai kepala keluarga, mama harap kamu bisa berpikir tepat dan cepat. Jangan terburu-buru, tetapi juga jangan terkesan lamban. Ibarat seorang anak, rumah tanggamu ini masih dalam tahap belajar merangkak. Jalan kalian ke depan masih sangat panjang. Ingat pesan papamu, pantang bagi pria sejati membuat seorang perempuan menangis dan hidup dalam kesulitan."
Raditya membalas tatapan teduh Retno dengan tatapan yang begitu sendu. Disatu sisi dia tidak ingin membohongi mamanya, tetapi di sisi lain dia juga khawatir Riena malah semakin tertekan jika orangtuanya tahu akan kejadian yang menimpanya.
"Ma, apa mama benar-benar sayang sama Riena?"
Tatapan Retno berubah menjadi tatapan keheranan. Perempuan tersebut sampai harus memicingkan matanya karena tidak percaya pertanyaan bodoh itu keluar dari bibir putra semata wayang kesayangannya.
"Coba kalau pertanyaan itu mama balik, apa jawaban kamu, Dit?"
Raditya tidak menjawab. Seharusnya bukan pertanyaan itu yang dia lontarkan. Retno sangat menyayangi Riena. Bahkan hubungan keduanya lebih terlihat nyata sebagai ibu dan anak kandung ketimbang hubungan sebagai mertua-menantu pada umumnya.
Disaat Raditya masih dilanda kegamangan untuk menceritakan hal yang sebenarnya, Riena tampak bersimpuh di kaki perempuan yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu dengan air mata yang berderai. Permintaan maaf berkali-kali dia ucapkan karena merasa tidak bisa menjaga kehormatan serta harga diri keluarga. Tidak kuasa berbohong dan menyembunyikan lukanya, Riena akhirnya menceritakan yang sebenarnya terjadi pada sang mama.
"Sudah, Rien, sudah. Siapa yang ngomong semua ini salah kamu? Jangan seperti ini, Ndhuk. Sekarang kamu berdiri dengan tegak, kamu kuat. Jangan biarkan laki-laki brengsekk itu bebas begitu saja. Kalau kamu tau dan ingat siapa dia, tunjukkan ke mama. Ben mama sing nugel manuke urip-urip. Kurang ajar tenan, lanangan nggateli." Rosyani mengumpat dengan logat bahasa jawa timuran yang khas. Perempuan tersebut tengah merasakan kemarahan dan juga kesedihan disaat bersamaan.
Sesak hati seorang ibu, tentu tidak lagi bisa terlukiskan dengan kata-kata. Sedari kecil Rosyani menjaga dengan segenap jiwa raga. Bahkan seekor nyamuk yang menggigit kulit putih Riena pun tidak hanya akan di tepok hingga mati, tetapi juga selalu terkena sumpah serapahnya.
"Rien, dengar mama, ujian ini bukan hanya milik kamu. Mungkin ini teguran untuk mama sama papa, terutama juga untuk Radit. Maafkan kami yang tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Maaf ya, Ndhuk. Kami bisa ikut marah dan benci pada pria laknat itu. Kami juga bisa ikut bersedih melihat keadaanmu sekarang. Tapi, tidak satu pun dari kami yang bisa mengambil alih atau pun mengurangi luka yang kamu rasakan. Lihat mama, Ndhuk. Lihat mama!" Rosyani jelas sedang berusaha keras untuk tetap terlihat tegar di depan Riena.
"Ada saatnya, kita berada dalam situasi di mana kita tidak perlu lagi merayu Allah untuk mengangkat beban cobaan yang ditimpakan pada kita. Cukup memohon diberi kekuatan agar kita bisa melalui semuanya hingga akhir. Kita akan hadapi bersama. Kamu tetap putri kebanggaan dan kesayangan mama. Siapa pun dan keadaan apa pun, tidak bisa merubahnya." Tangan Rosyani menangkup kedua sisi pipi Reina hingga mata keduanya yang sama-sama basah saling beradu tatap.
Riena tidak bisa berkata-kata lagi. Isaknya semakin keras terdengar. Begitu pun dengan Rosyani. Tidak ada satu hal pun yang sanggup membuat hati seorang ibu patah berpuing-puing, selain ketika melihat anak kesayangannya terpuruk dalam kesedihan.
Tanpa disadari oleh Rosyani atau pun Riena, sejak beberapa saat yang lalu, Retno tengah berdiri bergeming di ambang batas antara ruang keluarga dengan ruang makan. Setelah kejujuran yang sama dilakukan oleh Raditya, dia pun segera ingin menemui Riena untuk memeluk dan meminta maaf atas kelalaian Raditya yang menyebabkan peristiwa memilukan itu terjadi. Namun, melihat bagaimana Riena menangis dibawah kaki Rosyani, remuk redam sudah hati Retno. Baginya, Riena lebih dari sekadar menantu.
"Maafkan, Radit, Ma," lirih Raditya sembari menggenggam tangan mamanya.
"Kembalikan keceriaan Reina, Dit. Apa pun caranya. Dulu kita meminta Riena pada orangtuanya dengan janji akan menjaga Riena dengan baik. Tapi apa yang terjadi sekarang?" Retno begitu menyesali kejadian yang sudah menimpa sang menantu kesayangan. "Astaghfirullahalazim ... Ampuni dosa hamba dan anak hamba ya Allah. Hukum kami yang sudah lalai dalam menjaga amanah dan janji" tambahnya dengan suara bergetar menahan tangis sembari mereemas baju atasan di bagian dadanya yang terasa begitu sesak.
Raditya memeluk mamanya dengan erat, tangisnya pun pecah. Bahkan hingga sesenggukan. Tidak mengapa dianggap lelaki cengeng, pada kenyataannya, dia juga butuh meluapkan kesedihan, kekecewaan dan juga amarah yang selama ini selalu dia tahan.
"Rie ... bangun, Rie ... Tolong!" Rosyani berteriak panik, Tiba-tiba saja Riena tidak sadarkan diri, terkulai lemas dengan kepala menempel di pangkuannya.