NovelToon NovelToon
Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Pelakor / Keluarga / POV Pelakor / Tamat
Popularitas:208.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nike Ardila Sari

‘’Hei, Mbak! Ini lelaki yang kamu inginkan, bukan? Eh, suamiku maksudnya! Secara kan dia masih suamiku. Ambillah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Ardila Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Ke Rumah?

‘’Kamu nggak perlu melakukan ini semua sama aku, Ren.’’

‘’Aku nggak mau kamu jadi incaran Mas Deno, karena aku,’’ imbuhku kemudian.

Dia tampak menghela napas berat. Ya, aku hanya takut jika lelaki yang masih berstatus sebagai suamiku itu akan macam-macam sama Reno, terlebih lagi tatkala dia mengancam Reno yang masih terdengar samar olehku beberapa hari nan lalu. Aku tak mau hanya karena aku Reno jadi incaran lelaki pengkhianat itu, dia juga dengan beraninya menyelamatkan nyawaku dari dua lelaki asing yang menyekapku waktu itu.

Dia tampak menggeleng,’’Nggak, Nel. Ini udah jadi resiko aku karena aku jagain kamu dan itu bukan karena kamu, melainkan karena keinginanku yang ingin selalu menjaga kamu,’’ sahutnya dengan lirih.

‘’Please, Nel! Izinkan aku untuk tetap menjaga kamu. Ya, aku tahu kita nggak ada ikatan apa-apa.’’ dia tampak menelungkupkan kedua tangan di dadanya. Aku menghela napas dengan berat.

‘’Nah, itu kan kamu tahu. Kalo kita nggak ada ikatan apa-apa,’’ ketusku sambil mengalihkan pandangan.

Dia tampak menghela napas, lalu terdiam membisu begitu saja. Aku bergegas meraih benda pipih karena teringat dengan Naisya dan bibi Sum. Kucari kontak yang bertuliskan nama ‘’Bibi Sum’’ lalu kuketikkan pesan untuknya di aplikasi hijau itu.

‘’Assalamua’alaikum. Bagaimana keadaan Naisy, Bi? Panasnya udah turun kan? Oh ya, aku minta tolong, kalo ada Papanya ke rumah jangan dibukain pintu ya, Bi. Atau siapa pun yang ke rumah, jangan bukain pintu. Aku takut kalo orang-orang suruhan si Pelakor atau Papanya datang ke rumah, itu bahaya banget buat Naisya dan juga Bibi,’’ tulisku dan segera mengirimkannya ke kontak wanita yang setia menemaniku selama bertahun-tahun itu.

‘’Nel, aku nggak mau kamu diapa-apain sama Deno dan juga selingkuhannya,’’ katanya dengan lirih setelah beberapa saat tercipta keheningan di antara kami. Aku melirik padanya sekilas dan bergegas meletakkan benda pipih yang tengah kugenggam.

‘’Kamu tenang saja, Ren. Aku in syaa Allah bisa menjaga diri. Dan apalagi sekarang keadaanku semakin membaik,’’ sahutku yang menatapnya sejenak dan mencoba meyakinkan lelaki itu. Ya, kemarin itu karena kondisi tubuhku yang begitu lemah, tentu aku tak bisa berbuat apa-apa, apalagi ketika aku diculik dan disekap. Untung saja ada Reno yang menyelamatkanku.

‘’Permisi, Bu, Pak! Saya mau mencek keadaan Ibu,’’ kata wanita yang berseragam itu memasuki ruangan yang selama ini kuhuni. Membuat lelaki yang setia menjagaku itu bergegas mengganti posisinya, dia bergegas melangkah menuju sofa dan menghenyak di sana.

‘’Iya, Dok. Silakan!’’ sahutku sembari tersenyum ramah. Tampak wanita berseragam itu memeriksa keadaanku. Lantas dia bergegas membuka infus yang beberapa hari ini terpasang indah di tanganku.

‘’Ini keadaan Ibu udah membaik banget. Luka di kepala pun udah sembuh dan udah bisa dibuka perbannya,’’ tutur wanita berseragam itu dengan ramah. Membuat aku merasa lega dengan apa yang telah dijelaskan olehnya.

‘’Alhamdulillah.’’

‘’Dan nanti sore Ibu bisa pulang,’’ imbuhnya kemudian, sembari membuka perban di kepalaku. Tampak suster memasuki ruanganku, dia langsung membereskan selang infus dan perban yang masih tergeletak di meja.

‘’Akhirnya aku bisa pulang juga ke rumah. Alhamdulillah Ya Allah. Nggak sabar ingin bertemu denga putri mungilku,’’ kataku dalam hati.

Ya, semenjak panasnya tinggi dia tak lagi dibawa ke sini oleh bibi. Terkadang jika aku merindukan anakku hanya lewat video call saja aku mencoba mengobati rinduku, namun itu tak membuat rinduku berkurang, malah semakin bertambah dan apalagi tatkala aku memandanginya yang tengah terlelap, hatiku terasa teriris dibuatnya.

‘’Dan aku juga akan melanjutkan rencanaku.’’

Ya, kemarin aku mencoba menyebarkan videonya ke karyawan-karyawan kantornya. Untung saja ada beberapa orang karyawan nomor Wattsappnya yang tersimpan di ponselku, jadi aku mengirimkan ke mereka dan minta tolong agar dishare juga pada yang lainnya, yang belum mendapatkan beritanya. Walaupun aku tengah berada di rumah sakit, bukan berarti aku tak berusaha juga untuk melakukan sesuatu.

Aku tak sabar mendengarkan berita apa yang tengah terjadi sekarang di kantor lelaki pengkhianat itu. Ah, lebih tepatnya itu adalah kantor papa, beliau yang memberikannya pada lelaki pengkhianat itu dengan beberapa syarat.

Sore sudah menyapa. Aku jadi tak sabar untuk segera pulang ke rumah. Pakaianku sudah kubereskan sendiri dan memasukkannya dalam koper kecil. Kuletakkan di tepi dinding. Sedangkan Reno sedang mengurus pembayaran rumah sakit. Sebelumnya aku sudah melarangnya, namun dia tak mau dan tak mendengarkan ucapanku. Ahh! Begitu baiknya lelaki itu.

Tapi aku belum bisa percaya sepenuhnya pada lelaki yang belum lama kukenal itu. Oh iya, aku lupa. Jadi mobilku ke mana? Tak pernah aku mendengarkan kabarnya dari Reno. Padahal itu adalah mobil hadiah dari almarhum papa untuk anniversary pernikahan aku dan mas Deno.

‘’Ah, biarkan saja. Yang penting aku masih hidup sekarang,’’ gumamku dalam hati dan menghela napas pelan.

‘’Nel!’’

‘’Ah, iya.’’

‘’Yuk kita pulang. Semua udah beres,’’ katanya dengan semringah.

‘’Tapi, aku belum minta izin ke Dokter Irma dan Suster Andini.’’

Selama dirawat di sini dua orang wanita itu yang merawatku dengan baik.

‘’Beliau sedang sibuk. Aku sendiri udah menemuinya tadi dan mewakili kamu untuk minta izin serta minta terima kasih.’’

‘’Ya Allah, apa benar Reno sebaik ini?’’ aku bermonolog dalam hati lantas menggeleng berkali-kali.

‘’Kamu kenapa, Nel?’’

‘’Ah, aku baik-baik saja.’’ Aku bergegas bangkit dan meraih koper mungil, namun Reno ternyata hendak meraih koper juga, membuat tangan kami bertemu dan bersentuhan. Dia menatapku, aku memalingkan pandangan.

‘’Ma—ma’af, Nel. Biar aku aja yang bantu, ya?’’ katanya dengan gelagapan. Tanpa berkata sepatah kata pun, aku mengangguk dan membiarkannya menenteng koper mungil itu.

Aku bergegas melangkah ke luar dari ruang rawatku tanpa menunggunya. Dan langsung menuju parkiran rumah sakit. Tampak lelaki itu tengah melangkah menuju mobil dan meletakkan koperku di bagasinya.

‘’Yuk naik, Nel!’’ Aku menyahut dengan anggukan, dia bergegas membukakan pintu mobil yang di depan, namun tanganku menahannya.

‘’Nggak usah, Ren. Aku di depan aja duduk ya,’’ tolakku pelan, dia hanya tersenyum tipis.

Ya, tak mungkin aku akan duduk di depan bersama lelaki asing ini. Biar bagaimana pun statusku masih istrinya si Deno. Aku tak segila lelaki pengkhianat itu dan dalam keadaan apa pun aku akan berusaha menjaga diriku, lain dengan si lelaki itu. Yang beraninya berselingkuh di belakangku selama empat tahun tanpa sepengetahuanku dan dia berhasil menanam benih di rahim wanita murahan itu. Teringat itu saja membuat hatiku seperti diiris olehnya. Aku menarik napas pelan, lalu menghembuskannya. Tampak lelaki itu tengah fokus menyetir, sesekali melirikku lewat kaca spion.

‘’Kamu mikirin apa sih, Nel? Ingat, kamu itu baru saja keluar dari rumah sakit. Dan kamu nggak bisa terlalu memaksakan diri untuk berpikir yang membuat kesehatanmu jadi menurun!’’ tegasnya menoleh sejenak padaku, lalu fokus kembali pandangannya ke depan.

Dalam hati aku juga membenarkan ucapan Reno. Tapi entah kenapa begitu sulit untukku mengontrol pikiranku ini dan selalu saja teringat olehku kisah yang mampu membuat aku teriris itu. Aku hanya terdiam saja, hatiku terus bertanya. Kenapa lelaki ini bisa sepeduli dan sebaik itu padaku? Apa mau lelaki ini sebenarnya?

Tak lama kemudian, mobil milik Reno sudah tiba di depan rumah yang begitu kurindukan. Aku bergegas turun dan lelaki itu langsung membukakan pintu untukku.

‘’Makasih, Ren,’’ kataku yang disahut dengan anggukan oleh Reno, serta senyuman yang terbit di bibirnya. Tampak dia merogoh saku-sakunya.

‘’Kamu mau nelpon Bibi? Biar aku aja ya.’’

‘’Ya udah. Telponlah, Nel,’’ sahutnya yang bergegas menyimpan kembali ponselnya. Dan bergegas menurunkan koper mungilku.

‘’Assalamua’alaikum. Bi aku Alhamdulillah udah di depan nih. Aku minta tolong bukain pagar ya,’’ kataku to the point.

‘’Wa’alaikumussalam, Bu. Siap, laksanakan.’’ Membuat aku tersenyum lebar saja. Tak berselang lama, wanita separuh baya yang mengenakan kerudung itu bergegas membukakan pagar untukku.

‘’Alhamdulillah Ya Allah. Akhirnya do’aku terkabulkan,’’ katanya lirih yang memandangiku dan beralih memandang lelaki yang di sampingku.

‘’Emang apa do’a Bibi?’’ tanyaku dengan penasaran.

‘’Ya Allah sembuhkanlah Ibu. Biar Ibu bisa kembali ke rumah.’’ Dia tampak menengadahkan kedua tangannya ke langit, yang tentu saja membuatku tersenyum lebar dan juga terharu.

‘’Begitu do’a Bibi, Bu,’’ imbuhnya kemudian yang membuat Reno ikut tersenyum dan menggeleng.

‘’Ya Allah, makasih banyak ya, Bi.’’ Aku bergegas menghambur ke pelukan wanita yang selama ini setia menemaniku dalam keadaan apa pun. Ya, seperti aku menemukan sosok mama di diri bibi Sum.

‘’Makasih banget, Bibi selalu ada untukku,’’ kataku dengan suara bergetar. Dan masih memeluk beliau dengan erat. Membuat aku teringat oleh mama, yang selalu ada untukku dan beliau selalu memberi support dalam keadaan apa pun aku. Andaikan saja beliau masih hidup, aku yakin beliau akan selalu di sampingku.

‘’Sama-sama, Bu. Itu tugas Bibi dan seharusnya Bibi yang harus berterima kasih sama Ibu,’’ sahutnya lirih dan melepaskan pelukan dariku pelan. Bibi memandangiku dengan tatapan sendu.

‘’Bibi yakin Ibu adalah wanita yang kuat dan pasti bisa melewati ini semua,’’ imbuhnya yang mencoba memberikan semangat padaku.

Aku hanya mengangguk, tanpa sadar buliran air mataku menetes seketika. Ya, aku seperti mendapati sosok mama di diri bibi Sum, namun yang bedanya hanya di panggilan saja. Beliau memanggilku dengan panggilan ‘’Ibu’’ yang selalu aku larang untuk memanggilku dengan panggilan itu. Tapi, beliau beralasan lebih nyaman memanggilku begitu. Padahal aku ingin sekali dipanggil nama saja oleh bibi.

‘’Ibu pasti capek banget kan? Istirahat dulu ya.’’ Bibi tampak terangkat tangannya menyeka buliran air mataku, lalu beralih menatap lelaki yang mematung sedari tadi.

‘’Mas Reno, mau dibuatkan teh?’’ Membuat aku terheran.

Seperti sudah kenal dekat saja dengan lelaki itu. Apa iya seorang bibi yang kukenal selama ini bisa seakrab itu dengan orang lain? Apalagi dia adalah lelaki. Aku menatap aneh pada lelaki itu dan aku juga tak setuju jika bibi basa-basi padanya. Nanti gimana kalau dia benaran mau mampir? Ah, kali ini aku tak suka dan tak setuju.

‘’Ah, enggak usah, Bi. Kebetulan aku ada keperluan, jadi aku langsung pulang aja deh.’’ Dia langsung menatapku dan beralih menatap bibi.

‘’Syukurlah.’’ aku membatin.

‘’Makasih banget ya, Ren. Kamu udah jagain aku, bahkan udah menyelamatkan nyawaku.’’

Ucapanku membuat wanita separuh baya itu terkesiap.

‘’Sama-sama, Nel. Kalo begitu aku pamit dulu ya.’’

‘’Bi, aku pamit!’’

Aku dan bibi Sum mengangguk bersamaan, dia langsung menaiki keandaraannya dan membunyikan klakson. Aku menyahut dengan anggukan lalu tersenyum, mobilnya pun hilang dari pandangan kami.

‘’Bu, itu Ibu bilang tadi udah menyelamatkan nyawa Ibu? Maksudnya kecelakaan?’’

‘’Iya, Bi. Dan setelah itu aku juga disekap, lagi lagi Reno yang berhasil menyelamatkanku,’’ ucapku apa adanya yang membuat bibi membungkam mulutnya saking kaget mendengar ceritaku.

‘’Ya Allah. Gimana ceritanya sih, Bu? Kok bisa?’’

‘’Nanti aku ceritain di dalam.’’

‘’Ah iya, ma’af Bibi lupa. Ibu pasti capek.’’ Wanita itu bergegas membantuku untuk membawakan koper mungil yang berisi pakaianku selama di rumah sakit.

‘’Langsung ditutup aja pagarnya kan, Bu. Biar aman,’’ katanya yang bergegas mendorong pagar lalu menguncinya.

‘’Iya. Bibi benar juga.’’

‘’Apa sebaiknya aku mencari security aja kali ya untuk rumahku ini? Nggak mungkin Bibi yang akan selalu membuka dan menutup pagar. Dan juga jika ada security tentu akan lebih aman,’’ kataku dalam hati.

‘’Bu, kenapa sih Ibu nggak menyuruh Mas Reno untuk mampir dulu?’’ Wanita itu tergopoh-gopoh melangkah sembari menenteng koper dan mengikuti langkah kakiku.

‘’Padahal dia baik banget loh, Bu. Waktu Naisya panasnya tinggi, Mas Reno yang membelikan obat sampe dia kehujanan karena dia pakek motor. Katanya mobil dia di bengkel. Dia sampe kedinginan, Bu.’’

1
Ai Diah
udah curiga tapi tetap di terima justru yang aneh adalah pemikiran Melda 🙄
Anonymous
bisan bacanya
Jumiah
bisa jd mertua mu sdh tau kelakuan anak x..berselingkuh...
Jumiah
ngapain lg di tunda 2...
sebaik ap mertu klo sdh pisah ia anak nya urusan x..
Jumiah
klo gk mau ad masalah sma orang tua kenapa selingkuh ha dasar suami chemen ,
Jumiah
kesabaran mu nel akan berbuah manis pd ahir nya..
angel
Buruk
angel
langsung aja ksh tau mertuanya ... ngapain jg di simpan ...mertua sebaik apapun tetap anaknya yg di bela
Arin
mampir ach,sprtny menarik...Krn sy pling suka baca novel peran cweny tegas
Jumiah: ak salut bangat ..
semangat baca klo wanita x tegas gk bodoh..
total 1 replies
Mega Mkf
jujur aja si,nelda itu pwrempuan munagix,otak sm logikanya bertolak belaka,,,, makanya (maaf sebelumnya) jgn jadikan kebaikan sbgai kedok buat kemunafixan,dan itu jg banyak di kehidupan nyata/real,,,,,,
Mega Mkf
justru kl ortu ngk di ksh tau,nnti akan menyesal sndri,seberat apa pun mslh rumah tangga kita ortu pasti akan tau,jgn smp ortu tau dr org lain,itu mlh akan menambah ortu tersinggung,mmg ada yg mengatakan jg kl seberat apa pun mslh rumah tangga kita ortu tdk perlu tau,tp itu tergantung mslhnya,kl mslh perselingkuhan,salah kl ortu smp ngk di ksh tau,,,, jgn smp menyesal dan nnti ujung2nya,,, MAAF IBU,,, itu kata2 basi,,,,,
Vivi Bidadari
Eh dasat anak durhaka sdh tau salah malah menyalahkan ortu
Rosnelli Sihombing S Rosnelli
Jangan jangan itu anak si mita makanya mamanya mengusir dia dari rumah
Nike Ardila Sari: Baca sampe ending ya, Ka. Terima kasih banyak sudah membaca karyaku. Support terus ya.😍🙏
total 1 replies
Rosnelli Sihombing S Rosnelli
ou gitu ya
🧭 Wong Deso
semangat terus Bun, perjalanan mu untuk mencapai silver agaknya masih panjang..
Pa'tam
menarik
Nike Ardila Sari: Terima kasih banyak, Kak. Ikutin sampe ending ya. Semoga Kaka dan keluarganya sehat selalu. 🙏❤❤
total 1 replies
🧭 Wong Deso
Semangat terus Thor, votenya udah mendarat manis seperti karyamu 😊
Nike Ardila Sari: Terima kasih banyak, Bun. Sukses selalu dan semoga senantiasa diberikan kesehatan❤❤
total 1 replies
Rosnelli Sihombing S Rosnelli
jangan lama dong up nya sayang
Nike Ardila Sari: Ma'af, Ka. Kebetulan aku beberapa hari ini menstruasi. Seperti biasa, aku akan mengalami sakit perut luarbiasa. Alhamdulillah, sekarang udah mendingan. Aku barusan udah update kembali, silakan dibaca. ❤❤
total 1 replies
Daryati Idar
Aamiin yg sabar y thor
Nike Ardila Sari: Makasih Kak. Semoga Kakak sehat selalu.❤❤
total 1 replies
🍃yanni🍃
aamiin , yg sabar ya thor ttp semangat dn sehat slalu🤗💪
Nike Ardila Sari: Aamiin Ya Robb. Makasih banyak, Kak.❤❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!