Selby dan Bagas saling mencintai dalam diam. Saat Bagas menyatakan cinta Selby menolak karena berpikir mereka saudara sedarah.
Padahal mereka bukan sedarah. Akankah hal itu bisa terungkap?
Akankah ibu dari Bagas mengungkap rahasia yang selama ini dia simpan rapat?
Dapatkah Bagas dan Selby bersatu.(Disarankan baca lebih dulu novel Benih Kakak Iparku.)
Baca kisah mereka hanya di Mangatoon/Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss ning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Uhghhh ahhh
Nyanyian khas orang bercinta terdengar menggoda. Santoso mengerang. Lili benar-benar hebat. Ia membuat Santoso melayang. Walau sudah tua senjata milik Santoso ternyata besar dan berurat. Rasanya penuh dan nikmat.
Sial
“Dasar jalang kecil. Aku pikir dapat santapan perawan ternyata sudah longgar.” Ucap Santoso sambil terus maju mundur diatas tubuh Lili.
Santoso pikir Lili itu masih tersegel. Ternyata saat senjatanya masuk ke goa milik Lili tidak ada hambatan sama sekali. Lurus seperti jalan tol. Tidak ada yang menghalangi. Tidak ada yang robek dan tidak ada rasa sakit yang dialami oleh Lili. Yang ada Lili menikmati setiap sentuhan yang Santoso berikan.
Tentu saja tidak ada. Sebab Lili memang jalang kecil yang dipelihara oleh Toni. Anak angkatnya itu adalah senjata untuk memuluskan setiap usahanya. Toni selalu menumbalkan Lili hanya demi kesenangan teman bisnisnya.
Awalnya Lili menolak tetapi Toni selalu mengancam akan memasukkannya ke dalam penjara atas meninggalnya istri pertama Toni. Padahal Toni lah yang membunuh istrinya. Sebab istri Toni sudah tidak sanggup menjadi pemulus bisnisnya. Toni dengan biadabnya menjual tubuh istrinya kepada teman bisnis mereka seperti yang ia lakukan kepada Lili.
Istri baru Toni yang sekarang belum tahu bagaimana kelakuan Toni. Sepertinya Toni tidak akan menumbalkan istrinya yang sekarang sebab wanita itu anak dari seorang perwira TNI.
Lili tidak lemah seperti ibunya. Ia akan melakukan apa yang diperintahkan oleh ayahnya asal ada imbalan yang sepadan dengan kerja keras yang ia lakukan.
Plak
Santoso menampar pantat Lili. Wanita itu tertawa pelan. Lalu kembali melenguh. Rasanya begitu memabukkan. Ini luar biasa. Selama ia melakukan penyatuan dengan lelaki, milik Santoso paling nikmat, paling besar dan paling gagah. Membuat dirinya terlena.
Ughhh
“Kau tua sialan. Milikmu memenuhiku bang*sat.” racau Lili.
“Kau yang sial jalang kecil. Kau terus meracau membuatku tambah semangat.”
Lili merintih. Bukan karena sakit tetapi karena rasa nikmat yang ia dapat dari milik Santoso. Gerakan Santoso makin lama makin cepet. Ada sesuatu yang hampir meledak. Ia tidak dapat menahan. Ia meledak. Ia lepaskan di dalam.
“Brengsek, kau membuangnya di dalam tua bangka.”
“Yeah, aku tidak kuat. Lepas kendali. Lagipula kau juga menikmatinya.”
Efek obat itu masih terasa. Lili hanya diam beberapa menit. Mengatur nafas lalu perlahan ia mulai bergerak lagi. Lili menyentuh tubuh Santoso.
“Fuck!”
“Aku ingin lagi…tubuhku masih panas, brengsek. Ini karena kau terlalu banyak memberiku obat.”
Sial
Sial
Sial
Tangan Lili bergerak ke bawah di sela-sela paha Santoso. Laki-laki itu menggeram pelan. Ia butuh waktu sejenak untuk mengatur nafas. Tetapi Lili sudah menginginkannya kembali. Santoso berusaha menahan diri. Tetapi tangan Lili terlalu lihai. Senjatanya sudah berdiri tegak lagi.
Lili mengulumnya. Santoso mendesis. Semakin menahan ia semakin tersiksa. Lili berhasil. Wanita itu terlalu pandai membangkitkan has*rat laki-laki.
Santoso membiarkan Lili bergerak sesuka hati. Menikmati tubuhnya yang sudah tidak ideal lagi.
Ughh…
Lili sangat pandai. Ia tahu dimana titik-titik sensitive laki-laki. Santoso benar-benar dibuat geleng-geleng dengan keahlian Lili.
“Dasar jalang. Kau pandai memuaskan laki-laki ternyata.”
“Tentu saja. Ini karena si Toni tua bangka sialan itu yang terus menjual ku ke lelaki hidung belang.” Ucap Lili dalam hati.
Pergumulan itu berlangsung selama tiga jam. Santoso lelah. Penyatuan itu sungguh menguras tenaga. Keringat membasahi tubuh keduanya. Lili sudah terkulai lemas. Ia langsung tertidur saat pelepasan ronde terakhir.
“Walau kau bukan perawan tapi kau membuatku cukup puas jalang kecil.”
Santoso memakai celananya. Ia mengambil kamera. Lalu menyalin isi di dalamnya. Dan langsung mengirimkan video itu kepada anak buah Tuan Marco. Ia tidak ingin berurusan lagi dengan pemimpin dunia gelap bawah tanah.
“Bos, video sudah dikirim oleh Santoso.”
“Lakukan tugas selanjutnya. Patahkan tangan yang menyentuh pipi nona besar.”
“Laksanakan Bos.”
Santoso pergi dari kamar setelah ia membersihkan diri. Dia sudah tidak ingin berurusan lagi dengan Lili. Meskipun tubuh wanita itu nikmat ia tidak akan mengorbankan posisinya saat ini hanya demi uang yang tidak seberapa dan menghancurkan hidupnya.
Baru beberapa meter keluar dari club sebuah mobil SUV hitam menghadang mobil milik Santoso.
“Sial, siapa mereka.” Umpat Santoso.
Segerombolan lelaki bertubuh kekar keluar dari mobil. Meminta Santoso untuk segera keluar.
Brengsek
“Beraninya keroyokan.”
“Ah sial. Harusnya aku ajak anak buahku untuk berjaga-jaga.”
Santoso mengumpat. Ia sudah kalak telak. Satu lawan lima tentu saja tidak seimbang. Dia pasti kalah. Lebih baik cari jalan damai saja.
Santoso membuka kaca jendela mobilnya. “Siapa kalian?”
“Keluar atau aku hancurkan mobil ini .”
Mau tidak mau Santoso pun keluar. Seseorang langsung memegang tangan kanannya. Memilin, memutarnya ke arah belakang. Sehingga membuat Santoso sedikit menunduk.
“Mau apa kalian?”
“Tentu saja mematahkan tanganmu.”
“Jangan!!!”teriak Santoso.
“Aku mohon jangan. Kalian mau apa aku kasih. Uang? Mobil? Apapun asal aku bebas.”
Salah satu orang bertubuh kekar itu memegang rahang Santoso. “Kau pikir kami kekurangan uang?”
“Siapa kalian?”
“Kau tidak perlu tahu siapa kami.”
“Ah!!!” teriak Santoso saat tangan kanannya dipatahkan.
“Ah!!!” lalu kedua kakinya ikut dipatahkan.
“Ampun. Siapapun kalian tolong ampuni aku.”
Pemimpin orang itu memberi isyarat dengan tangan untuk segera menyelesaikan urusan ini. Semua mengerti.
“Ah!!”
Semua tangan dan kaki Santoso kini sudah patah. Lalu dua orang bertubuh kekar itu membawa tubuh Santoso dan melemparkannya ke jalan raya.
Brak
Sebuah truk menabrak tubuh Santoso. Pria itu terpental hingga beberapa meter. Mulutnya muntah darah. Kepala dan tubuhnya penuh dengan luka.
Hancur
Tubuh itu hancur terlindas truk. Beberapa detik kemudian Santoso berhenti nafas. Lelaki itu sudah meninggal dengan kondisi tubuh yang mengenaskan.
“Beres bos.”
“Bagus.”
**
Kamar di sebuah club
Lili perlahan bangun. Ia membuka mata. Badannya terasa lemas. Lili memegang pinggangnya yang terasa sakit. Tubuhnya lengket. Sisa-sisa percintaannya dengan Santoso masih menempel di tubuhnya.
Lili memejamkan mata. Ingatan tadi saat bercinta muncul di dalam pikirannya. Ia menyibak selimut. Matanya melebar. Tubuhnya penuh dengan tanda merah. Tidak hanya satu bahkan hampir di seluruh tubuhnya.
Lili menggeleng. Ia tidak percaya dengan apa yang sudah ia perbuat. Ia bercinta dengan Santoso. Bercinta dengan si tua bangka itu.
Arrggghh Sial
Lili menjambak rambutnya sendiri. Merasa kesal dan marah dengan apa yang sudah terjadi.
Lili ingat Santoso berkali-kali membuang benihnya di dalam. Lelaki itu hanya mencabut miliknya saat ronde pertama. Di ronde berikutnya lelaki itu terus membuang miliknya di dalam tubuh Lili.
“Ah, Sial. Aku harus segera minum obat jika tidak ingin hamil anak si tua bangka sialan itu.”
wah dalton akhirnya muncul ayo bikin bsyu menyesal dan malu
duh kemana si dalton ko GK muncul