Sesion 1
Gadis itu bernama lee Renzai, dia adalah putri ketiga dari seorang jenderal di istana, tetapi dia juga seorang jenderal di masa lalu yang kejam, yang berasal dari kerajaan Ochtosk.
Karena kekejamannya, dia akhirnya berubah menjadi buih karena meminum air keramat yang berasal dari sungai kyusu, siapapun orang yang kejam dan meminumnya akan menghilang bersama derasnya air sungai.
Mampukah Sang jenderal untuk merubah takdirnya, akankah dirinya yang kejam akan berubah ketika dia terlahir kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayzani01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vol 26
Sore itu Renzai berlari bersama Kang Gun Wu menuju ke rumahnya, dilihatnya kak Hana dan ibunya sedang memilih-milih kain sutera yang berwarna-warni.
"Renzai." panggil sang kakak kepadanya.
"Ada apa? kau terlihat pucat dan marah, kau kenapa?" tanyanya.
Tanpa berkata apapun, Renzai berbalik kemudian bertemu dengan ayahnya Lee gem ling di gerbang kediamannya. Renzai memberi hormat kepada ayahnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada ayahnya.
"Renzai, apa kau sudah melihat pengumuman itu?" tanyanya. Renzai berusaha menahan amarah yang tertahan di dalam dirinya.
"Iya Ayah." ucapnya.
"Kakakmu Hana dan kau terpilih mengikuti seleksi pemilihan calon putri mahkota." Ucap jenderal Geem. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya.
"Iya ayah." Wajah Renzai tetap tertunduk, tanpa ekspresi senang atau sumringah, wajahnya masih sama, datar dan sulit ditebak apa yang sedang di pikirkannya.
"Aku tahu kau tidak akan senang, apalagi usiamu yang masih belia di bandingkan dengan kakakmu Hana yang sudah cukup umur, tetapi ayah tidak bisa berbuat apa-apa, ini adalah peraturan langsung dari istana kerajaan." ucapnya.
Renzai hanya memasang wajah datar patennya.
"Ayah, saya pergi dulu, ibu menyuruhku untuk ke toko kain sutra di pasar." ucap Renzai berbohong.
"Baiklah, tetapi segeralah kembali, hari sudah mulai malam."
"Baik ayah."
~
Pasar Hanjang
"Peraturan istana konyol," gumam Renzai di antara kerumunan orang-orang di pasar. Gun wu berlari-lari kecil, membuntuti kemanapun Renzai pergi. Dia kini berjalan di sampingnya sambil meliriknya.
"Renzai, jadi kau akan bagaimana?" tanyanya.
"Apa kau akan tetap mengikuti seleksi pemilihan putri mahkota itu, bukankah kau paling benci dengan istana, apalagi menjadi anggota keluarga kerajaan." ucapnya lagi.
"Diam, perhatikan suaramu gun wu, bagaimana kalau ada orang istana yang mendengarmu." tegur Renzai kepada gun wu.
"Bagaimanapun, melihat karaktermu yang seperti itu," Gun wu menggelengkan kepalanya. "Mustahil dan tidak masuk akal." ucapnya sambil tertawa tertahan.
"Diamlah, kau berisik, aku sedang berpikir, bagaimana caranya agar aku tidak mengikuti seleksi konyol itu." ucapnya.
"Oh ya, kenapa tiba-tiba istana mengganti calon putri mahkota?" tanya Renzai.
"Kau tidak tahu ya, putri mahkota sekarang ini sedang sakit-sakitan," Gun wu kemudian memutar jari telunjuknya di kepalanya. "Kata orang dia sedang tidak waras." bisiknya.
"Benarkah? mereka berjalan, lalu tiba-tiba Renzai menghentikan langkahnya, dia kemudian memukul kepala Gun Wu. "Ini semua gara-gara kau gun wu."
Renzai kembali berjalan, meninggalkan gun wu dengan wajah bingungnya. Renzai dan gun wu menyusuri pasar, mereka menatap segala pernak-pernik yang di jual di sepanjang jalan. Tiba-tiba Gun wu menunjuk seseorang.
"Hei Renzai, bukankah mereka itu pengawal putri?" ucap gun wu tampak kagum kepada mereka yang tampan. Kelima Akai berjalan bersama. Renzai memandang mereka berlima, dan dia mengetahui bahwa ketiga dari mereka, mengetahui kejadian di hutan itu. Apalagi saat itu Renzai melepaskan topengnya. Renzai sangat penasaran, dia kemudian membuntuti kelima Akai dan turut mampir ke sebuah rumah makan.
Renzai bersama Gun wu masuk ke rumah makan, hanya ingin memastikan bahwa mereka mengingat kejadian pada waktu itu.
"Tidak biasanya kau mengajakku ke rumah makan, memangnya kau bawa uang?" Ucap Gun wu menatap Renzai dengan pandangan bingung.
"Berisik, diam dan ikuti aku." Renzai mengambil meja makan yang cukup jauh dari meja makan tempat para Akai berkumpul. Mereka pun belum menyadari kehadiran Renzai yang sedang memata-matai mereka.
Renzai sekali lagi menatap kelima pria itu, apakah ketiga prajurit itu melaporkannya ke istana? pikir Renzai. Tetapi anehnya, tidak ada yang menyinggung mengenai sosok bertopeng dan penyerangan itu, andaikan ketiga prajurit itu melaporkannya, tentu sudah lama ayahandanya sendiri yang akan menangkap Renzai.
"Mengapa mereka tutup mulut?" Gumam renzai. "Siapa mereka sebenarnya." gumamnya lagi.
Gun wu sejak tadi memperhatikan Renzai yang komat Kamit tiada henti dan tatapannya jatuh kepada kelima pria tampan yang duduk di sana. Lalu pemahaman konyol muncul begitu saja di kepala gun wu.
"Apakah kau menyukai salah satu dari kelima pria-pria tampan itu, Renzai?" tanya gun wu sambil berbisik, meskipun begitu, suara gunwu cukup besar di telinga Renzai, bahkan meja di sebelahnya dapat mendengar bisikan gun wu.
Dia tersenyum penuh arti kepada Renzai. "Katakan yang mana, yang mana, aku penasaran bagaimana tipe pria yang kau sukai." ucap gun wu sambil terkikik.
Renzai menggertakkan giginya, kembali dia memukul gun wu. "Jangan bicara yang bukan-bukan, gunwu." Ucap Renzai. "Bicara sekali lagi, kita tidak jadi makan dan aku akan keluar dari rumah makan ini." Ancamnya.
"Baiklah..baiklah," Ucap gun wu, tetapi gun wu masih menatap heran kepada Renzai.
"Kalau kau tidak menyukai salah satu di antara mereka, mengapa kau terus memandanginya?" tanyanya.
"Aku memandang mereka karena ada sesuatu yang aneh dari kelima pria itu, aku hanya ingin tahu saja, apa yang mereka sembunyikan." ucap Renzai.
"Hem, ya mereka berlima memang aneh, lihat saja wajah mereka semua tampan-tampan, dan lihat gadis-gadis di sekeliling mereka, semua menatap ke arah mereka, bukan hanya kau saja Renzai." ucap gun wu sambil tertawa.
"Kau seharusnya terlahir sebagai seorang perempuan gun wu, kau cerewet sekali." ucap Renzai.
"Renzai, mereka tampaknya akan segera pergi," ucap gun wu menunjuk-nunjuk ke arah mereka dengan sangat mencolok mengundang perhatian siapapun. Renzai menutup sebagian wajahnya, dia kemudian menendang kaki gun wu di bawah meja sambil berdesis kepadanya.
"Kecilkan suaramu bodoh !"
Renzai kemudian tertunduk, pura-pura menikmati makanannya, dia tidak memperdulikan gun wu yang kesakitan memegang kakinya yang kesakitan.
~
Rui tiba-tiba menyadari sesuatu, dia terkejut ketika menatap seseorang di salah satu meja makan tidak begitu jauh dari mereka duduk. Rui berdiri mematung, membuat kemacetan di jalanan.
"Hei Rui, ada apa?" tanya Tutsima, dia mengikuti arah pandang Rui.
Tutsima menyenggol lengan Otaru, "Jenderal ada di sini." ucapnya. Hatachi dengan terang-terangan menarik baju Matsue lalu menunjuk ke arah Renzai sembunyi-sembunyi.
"Kembali ketempat duduk." ucap Hatachi. Mereka berlima, kembali ke tempat duduk mereka, dan seperti halnya Renzai, mereka mengamati Renzai dari kejauhan.
~
"Aneh sekali." Gumam Gun wu sambil mengerutkan keningnya.
"Ada apa gun wu." ucap Renzai sambil menyuap makanannya.
"Mereka berlima kembali duduk, ketika salah satu dari mereka berbalik dan menatapmu, ke lima-limanya kembali ke tempat duduk mereka."
"Benarkah?"
Sudah kuduga, mereka mengetahui identitasku sewaktu penyeranganku di Hutan. Apa yang akan mereka lakukan? melaporkanku, atau menyerangku karena hendak membunuh tuan putrinya? coba saja aku ingin melihat kemampuan pedang mereka.
"Rui, Rui coba lihat, mengapa dia menatap kita dengan pandangan seperti itu? dia terlihat marah kepada kita." bisik Hatachi.
"Tatapan yang sama ketika dia membunuh seluruh pasukan istana." ucap Hatachi cemas .
Otaru bersedekap, lalu memandang meja makan, kemudian kembali memandang Renzai. Otaru lebih bijak dalam menyikapi sesuatu, dia cukup ahli dalam menilai sesuatu hal. "Menurutku, jenderal penasaran dan ingin tahu tentang kita, karena dia tahu bahwa tiga dari kita sudah mengetahui wajahnya saat dia menyerang pasukan putri sewaktu di hutan." ucapnya. "Dan yang terpenting, kita tidak melaporkannya dan tetap merahasiakan identitasnya." ucap Otaru.
~
"Sampai kapan kita seperti ini? ini sudah 1 jam Rui, sampai kapan kita duduk di sini?" bisik Hitachi.
Gun wu juga cukup lelah, menatap mereka yang saling memandang antara kelompok Akai dan Renzai, dia menggaruk-garuk kepalanya, bingung dengan keadaan yang berlangsung.
"Renzai, ayo kita pulang, paman pasti khawatir, dia pasti sedang mencarimu." ucap gun wu.
"Baiklah," Renzai kemudian berdiri, tetapi pandangannya masih mengarah kepada mereka berlima. Renzai berjalan begitu saja melewati meja kelima Akai, meskipun begitu mata mereka semua tertuju kepada Renzai.
Renzai berjalan bersama gun wu hendak pulang, tetapi sesuatu membuatnya sangat penasaran, dia ingin mengetahuinya, dan inilah saatnya.
"Gun wu sebaiknya kau pulang dulu, Sebentar lagi aku akan menyusul." ucap Renzai.
"Jangan lama-lama, aku tidak bisa berbohong kepada paman, dia bisa menebak kebohonganku."
~
Renzai berjalan seorang diri di jalanan, dia bisa merasakan ada seseorang yang mengikuti langkahnya, dengan cepat dia berlari dan kemudian bersembunyi di suatu tempat.
Derap kaki kelima Akai berhenti di sebuah sudut jalan yang sepi. "Kita kehilangannya lagi, kemana dia pergi." ucap Hatachi menengok kiri dan kanan, lalu menatap jejak kaki di atas tanah.
Terdengar bunyi kaki yang melompat dari sebuah pohon, mereka semua berbalik dan memandang sosok yang di carinya. Renzai berjalan beberapa langkah di hadapan kelima Akai.
"Kenapa kalian mengikutiku?" ucap Renzai.
ditunggu season 2 nya😁😁
Sehat selalu 🙏🙏
Semoga dikehidupan nanti mereka berubah menjadi lebih baik👍🙏
Semangat terus berkarya Outhor, Qutunggu cerita2x yg lainnya💪🙏👍
Dan apakah Jendral Geem ayah dari Renzai tidak bisa membuat anaknya kembali menjadi baik🤔? Semangat Up dan sehat selalu buat Outhor💪🙏
Semangat terus ya Thor🙏👍
Semangat selalu outhor💪🙏
Lanjut Up dan Up, semangat 💪🙏