Awalnya Hera Athena Demeter hanya seorang manusia biasa yang mendapat beasiswa di Universitas Johannes Gutenberg Mainz, Jerman. Namun semua itu berubah ketika ia mendapati fakta bahwa ternyata ia merupakan manusia serigala. Objek yang selama ini ia teliti untuk memenuhi tugas akhirnya.
Ia juga mendapati kejadian yang berada diluar nalar manusia awam. Tidak hanya itu, ia juga mendapati kejutan-kejutan lain yang mengantarkannya pada seorang Alpha yang tertidur,
Zeus Ares Asklepios.
Salah satu dari kejutan itu adalah Hera merupakan Queen of the Earth yang berikutnya. Namun sebelum itu ia harus menemukan Queen of the Earth sebelumnya dahulu untuk melakukan perjanjian darah.
Lantas bagaimana perjalanan Hera dalam menemukan Queen of the Earth sebelumnya itu? Lalu, kejutan-kejutan apa lagi yang akan didapatkan Hera?
Ikuti kisahnya hanya di 'Queen of the Earth'. Cerita ini akan membawa kalian merasakan kehidupan di dunia fantasi yang berada diluar nalar manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ptrmyllln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
QotE 25 ∆Serangan Kecil∆
"Tunggulah sayang, kau akan ku jemput sebentar lagi."
∆∆∆
"Masih sakit?" Hera menggeleng mendengar pertanyaan orang disampingnya ini. Sebenarnya masih sakit hanya saja ia malu untuk berbicara jujur pasal nya sekarang hari sudah mendekati sore mustahil rasa sakit itu masih ada.
"Jangan malu, aku matemu, sweety mate."
Ares menghela nafas pelan. "Maafkan aku karena terlalu kasar,"
Hera meringis kala membayangkan kejadian tadi malam, bukan Ares yang kasar tetapi dirinya yang terlalu agresif hingga membuat luka-luka kecil di tubuh Ares.
Kenapa aku seperti jalang, rutuk Hera dalam hati.
"Aku suka mateku yang liar, sweety mate," bisik Ares dengan nada sensual.
Tiba-tiba wajah Hera terasa panas. "Ares, diamlah!" katanya, ia merutuki dirinya lagi karena lupa bahwa Ares bisa membaca fikirannya.
"Hahahahaha, kau sangat lucu sweety mate, aku jadi ingin memakanmu lagi--"
"Ares," peringat Hera, namun Ares masih saja tertawa. Tawa Ares membuat Hera terpana, entah kapan terakhir kali ia melihat seseorang begitu tampan saat tertawa.
"Kau sangat tampan," celetuk tanpa sadar. Ares terdiam lalu tersenyum manis pada Hera.
"Apakah kadar ketampananku semakin bertambah?" tanyanya, ia masih mempertahankan senyum mematikan miliknya.
Sialan! Kenapa Ares begitu tampan!
"Biasa saja," kata Hera berbohong.
Ares mencebik pura-pura kesal. "Kalau begini," Ares memasang puppy eyes nya seperti seorang anak yang mengharapkan permen dari ibunya.
Tawa Hera seketika pecah, bayangkan saja orang yang biasa memiliki wajah dingin dan sangar menjelma menjadi anak kecil pasti rasanya sangat ... aneh.
"Hahaha, ya ampun kenapa wajahmu seperti itu," katanya dengan tertawa.
Hera mencubit geram kedua pipi Ares. "Kau sangat lucu, hahaha." Perut Hera rasanya keram karena kebanyakan tertawa.
Ares tersenyum melihat tawa lepas matenya. Ia sebisa mungkin akan menjaga tawa itu tetap terpatri di wajah matenya meskipun ia harus bertingkah konyol.
"Aku mencintai mu, sweety mate."
Hera terdiam, otaknya blank mendengar ucapan cinta dari Ares. Entahlah ia belum tau apakah ia mencintai Ares atau tidak, ia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya.
"Ares,"
"Aku tidak berharap kau membalas perasaanku sekarang, yang terpenting aku sangat dan sangat mencintaimu, sweety mate." Ares membawa tubuh Hera ke pelukannya. Dengan senang hati Hera masuk ke dalam pelukan terhangat yang belum pernah ia dapatkan itu.
"Ares, bolehkah aku bertemu dengan Blacky?" tanya Hera. Ia ingin melihat Blacky, biar bagaimanapun Blacky juga matenya.
Ares memejamkan matanya sebentar untuk berbicara dengan Blacky, kemudian ia mengangguk. "Jangan takut dengan perubahanku, sweety mate." Hera mengangguk.
Ares lalu berjalan menjauhi Hera. "Kau mau kemana?" tanya Hera.
"Aku butuh ruangan untuk berganti shift,."
Perlahan Hera mendengar suara retakan tulang, tubuh Ares yang awalnya mulus kini ditumbuhi bulu lebat berwarna hitam. Pakaian yang ia pakai tadi sudah tidak bersisa.
Krak
Dan sekarang di depannya ini bukan lagi Ares, melainkan serigala besar dengan bulu berwarna hitam lebat. Berbeda dengan serigala yang pernah ia temui kemarin, serigala ini memiliki ukuran yang mungkin empat kali lipat lebih besar. Aura kekuasaan terasa sangat terasa di sini, mungkin itu adalah hal lazim bagi seorang Alpha.
Hera perlahan mendekati Blacky yang masih terdiam. "Bla-Blacky?"
Grrrr...
Hera menelan ludahnya, mungkinkah Blacky tidak menyukainya?
Grrrr... Aku suka mate
Hera mendengarkan suara berada di kepalanya.
"Blacky?"
Ya
Perlahan Hera menyentuh bulu lebat milik Blacky. "Wow, bulumu sangat lembut," kata Hera takjub. Sungguh meskipun berwarna hitam namun bulu Blacky sangat lembut, halus dan wangi. Entahlah apakah Blacky mandi atau tidak, intinya bulu Blacky sangat nyaman.
"Blacky, duduklah aku tak bisa menggapai lehermu," kata Hera. Wajar saja karena Blacky sangat tinggi dari Hera.
Blacky menurut, ia duduk agar mate mudah menggapainya.
Hera pun memeluk leher Blacky laku menciumi moncong Blacky. "Oh Blacky aku sangat menyukaimu, kau sangat nyaman."
Auuuuuu
Blacky menggonggong kesenangan ia menjilati wajah Hera lalu menggusalkan moncongnya ke dada Hera.
Auuuuuu
Hera tertawa. "Hahaha, oh Blacky diamlah, nanti mereka akan mendengar suaramu,"
'Kau dengar Ares, mate sangat menyukaiku,' kata Blacky pada humannya.
Ares berdecak sebal. 'Diamlah! Atau aku akan menukar shift kita lagi!' ancam Ares di dalam sana.
"Rasanya aku ingin tidur dengan memeluk bulu lembutmu ini," kata Hera.
Cukup, Ares tak tahan lagi. Ia iri dengan Blacky yang sudah mendapat pujian, pelukan, bahkan ciuman dari Hera. Sedangkan dia saja tidak. Tanpa ba bi bu Ares langsung mengganti shift nya. Hera yang tadinya memeluk Blacky tiba-tiba menghilang menjadi Ares dipelukannya.
"Ares?"
"Hmmm," Ares hanya bergumam dengan keadaan masih memeluk Hera.
"Astaga! Ares! Kau telanjang?!" pekik Hera, ia menutup wajahnya kala Ares tudak memakai sehelai benang pun.
"Kau sudah melihat semuanya, sweety mate."
"Pakai bajumu, Ares!" perintah Hera yang masih setia menutup matanya.
Dengan de akan kesal Ares mengambil boxer lalu memakainya.
Ares memeluk Hera lagi, ia ingin Hera memuji nya, memeluknya dan menciumnya seperti yang dilakukan Hera pada Berry.
"Ares?"
"Aku ingin dipuji, dipeluk, dicium seperti Blacky," rajuk Ares.
Hera membulatkan matanya. Astaga! Benarkah Ares cemburu pada serigala nya sendiri? Oh Ares, benar-benar!
Hera menuntun Ares ke ranjang. "Ya ampun, kapan aku melahirkan bayi besar ini?" kata Hera memurus kepala Ares yang bersandar di dadanya.
Ares semakin mengeratkan pelukannya ke Hera. Ia senang berada di belahan dada Hera karena aroma khas itu membuatnya nyaman.
Hera membiarkan nya saja. Cukup lama mereka berada di posisi itu hingga keheningan tercipta.
"Ares,"
"Hmm,"
"Kenapa aku seperti itu tadi malam?" tanya Hera. Tiba-tiba saja ia teringat akan hal itu.
Ares melonggarkan pelukannya. "Aku tidak bisa memastikan itu adalah Heat, tapi Heat hanya bisa dialami oleh shewolf, sedangkan kau hanyalah manusia biasa," kata Ares bingung. Entah mengapa ia semakin janggal jika matenya ini hanyalah manusia biasa terlepas dari ia titisan dari Queen Of The Earth. Ngomong-ngomong, Ares juga masih bingung dengan maksud dari Queen of the Earth. Sampai saat ini tidak ada lagi hal-hal aneh yang terjadi pada diri Hera, mungkinkah Mariana salah tafsir mengenai Hera?
"Aku ingin berbicara jujur padamu, Ares," kata Hera serius. Ares menatap Hera yang juga menatapnya.
"Aku juga sama seperti kalian, aku adalah werewolf."
Kening Ares berkerut bingung. "Kau serius? Aku tidak bisa mencium aroma serigala dalam tubuhmu,"
"Aku serius Ares, aku juga memiliki wolf dalam tubuhku, namanya Berry." Kali ini Hera sudah berhadapan dengan Ares. Ia menatap dalam mata lelaki itu.
Ares menatap mata Hera, ia yakin matenya ini tidak berbohong. "Lalu kenapa aku tidak bisa mencium aroma serigala pada tubuhmu?"
Hera menggeleng. "Aku tidak tau," ia menggenggam tangan Ares, "aku tidak bisa bertukar dengan serigala ku, Ares. Aku hanya bisa berbicara padanya." Lanjutnya.
"Ku harap setelah aku menceritakan hidupku, kau akan terus mencintaiku--"
"Aku akan tetap mencintaimu apapun dan bagaimanapun keadaannya, lanjutkan."
"Aku hidup dan besar di sebuah panti, aku tidak tau siapa ibuku, siapa ayahku dan siapa keluargaku, aku tidak tau. Mereka hanya meninggalkan secarik kertas dengan namaku dan juga liontin yang ku pakai ini," Hera menunjukan liontin yang sudah terisi empat permata itu.
"Pertama kali aku mendengarkan suara serigala ku saat umur ke 17 tahun, awalnya kufikir hanya orang iseng tetapi suara itu selalu berulang hingga sekarang.
Sekitar beberapa minggu yang lalu sebelum aku di sini, aku pernah sengaja di kunci dalam ruangan rahasia--"
"Siapa yang menguncimu?" tanya Ares datar. Rasanya ia ingin membunuh orang yang sengaja mengunci matenya ini.
"Sudahlah, Ares. Lagipula aku ingin berterimakasih kepadanya, karena berkat dirinya juga aku bisa bertemu denganmu," Hera mengelus rahang Ares. "Biarkan aku melanjutkan ceritaku,"
"Di dalam ruangan rahasia itu tak sengaja kepalaku terbentur dengan sebuah patung, saat itu aku pingsan. Setelah sadar aku mendapati seorang wanita yang mengeluarkan cahaya hijau, ia ternyata adalah kekuatanku yang tersegel. Berkat darah kepalaku yang terbentur itu segel kekuatanku terbuka, singkat cerita aku sampai di kamarku lalu Berry menceritakan identitasku yang sesungguhnya, jadi begitulah." Tutup Hera.
"Lalu kenapa liontin ini hanya berisi dua?" tanya Ares memegang liontin itu.
Hera menepis tangan Ares. "Tolong kurangi kadar kemesuman mu," kata Hera sarkas. Bukan apa, tangan Ares tidak hanya memegang liontin tetapi sedikit menekan aset kembar milik Hera.
Ares menyengir. "Sudah sifat alamiah laki-laki jantan sepertiku, sweety mate."
Hera mengabaikan ucapan Ares. Ia melanjutkan omongannya, "Liontin ku akan terisi penuh jika kekuatanku sudah terkumpul, itu yang Berry katakan."
Hera menggenggam tangan Ares, ia menatap Ares dengan penuh harap. "Bantu aku mengumpulkan kekuatanku, Ares."
∆∆∆
"Wow, kalian tumbuh sangat subur," kata wanita itu seraya mengelus tanaman mawar yang ia rawat beberapa waktu lalu. Ia sedang berada di taman miliknya. Ada berbagai macam bunga yang tumbuh di sana membuat taman yang tadinya gersang menjadi indah.
Wanita itu terus saja mengajak tanamannya berbicara meskipun tiada respon yang diberikan oleh tanamannya. Ia memotong dahan yang mati, mengumpulkan dedaun kering dan sebagainya. Ia melakukan hal itu dengan senang hati.
Namun, tanpa ia sadari sepasang mata sudah sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya di atas pohon dengan busur yang sudah siap ia bidikan pada objeknya saat ini.
Orang itu menyeringai dibalik topeng yang ia pakai. "Selamat tinggal, Luna."
Splasshh
"HERA!!!"
AKHHH!!!
∆∆∆
Heat : masa dimana werewolf perempuan harus melakukan penyatuan setelah penandaan dilakukan.
(Haii, makasih ya udah mau mampir di sini, makasih yang udah ngasih jempol, makasih yang udah ngoment, makasih udah nambahin novel ini ke favorit kalian :) buat yang belum kasi jempol plis jangan dilupain jempolnya😭 semakin banyak jempol semakin semangat juga saya nulis, jadi plisss jempolnya dan komentar lambe nya jangan lupa😭)
(Oh iya, makasih yaa buat kalian yang udah kasi bintang buat saya, dukung terus novel ini semoga novelnya bisa tembus 100k reader aamiinn :)
imajinasi nya dapat banget
seperti asli
saya membaca novel ini seperti saya ikut dalam alur ceritanya
cerita gak berbelit2
pokoknya the best banget
rekomendasi banget