NovelToon NovelToon
Luka Yang Tak Bersuara

Luka Yang Tak Bersuara

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Cintapertama / Enemy to Lovers / Cinta Murni
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: wnd ayn

Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.

Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.

Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.


Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.

Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 sore.

Suasana kelas mulai berubah. Para siswa bergerak cepat, merapikan barang-barang mereka, memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas. Riuh suara obrolan dan langkah kaki memenuhi ruangan. Ada yang santai berjalan menuju pintu, ada pula yang berlari kecil, tak sabar ingin meninggalkan sekolah dan menikmati waktu bebas mereka.

Di tengah keramaian itu, Alice berdiri di dekat pintu kelas, siap melangkah pulang. Namun sebuah suara menghentikannya.

“Alice, tunggu!” panggil Danzel, menyusul dari arah belakang.

Alice menoleh dan tersenyum ketika melihatnya menghampiri. “Ada apa?” tanyanya lembut.

“Tidak ada,” jawab Danzel sambil tersenyum kecil. “Aku hanya… ingin berjalan bersama.”

Alice sedikit terkejut, lalu bertanya, “Kamu tidak bersama teman-temanmu?"

Danzel menggeleng pelan. “Tidak, lain kali."

Saat itu juga, Rey, Mike, Stella, dan Megan—geng Danzel yang terkenal—berjalan mendekati pintu. Rey menepuk bahu Danzel sambil menyapa, “Danzel, kita pulang duluan.”

Namun matanya melirik tajam ke arah Alice, menyiratkan ketidaksukaan yang jelas.

“Ya, hati-hati di jalan,” balas Danzel santai.

Mereka melangkah keluar kelas. Megan, yang berjalan paling belakang, tiba-tiba menabrakkan tubuhnya ke arah Alice dengan sengaja.

Bruk!

Alice hampir terjatuh, tapi Danzel dengan sigap menangkap lengannya.

“Kendalikan jalanmu, Megan,” tegur Danzel tajam.

“Ups, maaf… tidak sengaja,” sahut Megan dengan senyum mengejek, lalu pergi begitu saja.

Danzel menghela napas panjang, lalu menatap Alice. “Kamu tidak apa-apa?”

Alice mengangguk. “Tidak apa-apa, Danzel. Terima kasih…”

“ayo, kita pulang,” ajak Danzel.

Alice membalas dengan anggukan, lalu mereka melangkah keluar bersama.

Selama ini, hanya Danzel satu-satunya teman yang benar-benar peduli pada Alice. Di tengah lingkungan sekolah yang keras dan penuh ejekan, kehadiran Danzel seperti cahaya kecil yang membuat Alice bertahan. Ia selalu melindunginya, menyemangatinya, dan menjaganya dari para pembully yang tak henti menyerangnya.

Meski begitu, Alice masih tak memahami alasan di balik semua kebencian yang diarahkan padanya. Apakah karena penampilannya yang sederhana? Rambut yang dikepang rapi, kacamata besar, dan pakaian yang tak pernah mengikuti tren?

Namun Alice percaya—penampilan seharusnya tak menjadi penghalang dalam berteman. Sayangnya, tidak semua orang berpikir sama.

Untuk saat ini, Alice hanya ingin bertahan. Ia mencoba menahan diri, tidak membalas, dan tetap fokus pada tujuannya: belajar sebaik mungkin demi masa depan yang lebih cerah.

Dan selama ada Danzel di sisinya, langkahnya terasa sedikit lebih ringan.

Sesampainya di halaman depan sekolah,

"Mau ku antar pulang Alice?" tawar Danzel

"Oh tidak perlu Danzel, sudah ada pak supir yang menjemputku." tolak Alice

"Oke baiklah, Kamu duluan saja. Hati-hati di jalan." ujar Danzel menyentuh pundak Alice sembari tersenyum manis

Alice terpesona oleh senyuman Danzel. gadis itu tersenyum mengangumi seseorang yang memiliki wajah tampan, hidung mancung, alis yang tebal dan juga mata yang indah. tak lupa pria itu juga memiliki hati yang lembut dan baik hati. Sungguh ciptaan tuhan yang sempurna di mata nya.

Danzel mengerutkan keningnya melihat Alice yang terus tersenyum menatapnya, berulang kali ia mencoba memanggilnya namun tak di dengar oleh Alice sendiri.

"Al, ada apa denganmu. kamu baik-baik saja?" tanya Danzel masih berusaha menyadarkan Alice

Deg!

Alice tersadar dari lamunannya dan mengubah ekspresinya, lalu sedikit berdeham gugup.

"emm, M-maaf" lirih Alice. bisa bisanya ia memandangi Danzel seperti tadi

Danzel hanya tersenyum kecil."segeralah pulang, mungkin supirmu sudah menunggu di luar gerbang."tutur Danzel

"oh ya tentu, A-aku akan segera pulang."ucap Alice dengan gugup dan langsung bergegas pergi begitu saja

"Alice tunggu dulu."henti Danzel membuat Alice menghentikan langkahnya untuk sejenak

Alice memejamkan matanya meremas bajunya gugup. setelah beberapa saat barulah ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Danzel kembali.

"ya?"

"Gerbang sekolah disana, kenapa kamu berjalan memasuki sekolah kembali?"

"Astaga Alice kenapa kamu terlihat bodoh sekali!" ucap Alice dalam hati merutuki dirinya sendiri

"emm, aku lupa." ujar Alice menggaruk kepalanya yang tidak gatal

detik berikutnya ia kembali berjalan dengan cepat menuju gerbang sekolah sembari menunduk menutupi wajahnya yang memerah karena malu

Sedangkan Danzel terkekeh kecil, menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alice yang terlihat sangat lucu.

**

Sore hari menuju petang

Alice berjalan lebih dulu di ikuti oleh pak supir yang membawa dua kantong plastik berukuran besar. di dalamnya berisikan beberapa kotak makanan siap saji.

Di bawah jembatan layang yang tinggi, di pinggir jalan yang ramai. sekelompok anak jalanan berkumpul bersama. pakaian anak-anak jalanan itu terlihat lusuh dan kotor, menggambarkan kehidupan yang keras dan penuh keterbatasan.

"Hai semuanya." sapa Alice tersenyum kepada mereka

"hallo kak Alice." balas mereka bersamaan

"hari ini kakak membawa makanan untuk kalian." ujar Alice, memerintahkan pak supir untuk membagikan satu persatu kepada mereka

"oh iya, dimana yang lain?"tanya Alice kepada salah satu dari mereka

"Mereka masih bekerja kak."

"emm begitu ya."

"kak Alice tenang saja, kami akan memanggil mereka semua agar segera pulang."

"Baiklah." kata Alice tersenyum 

Sebagian dari mereka masih bekerja, ada yang berjualan makanan ringan, berjualan tisu keliling ataupun barang-barang kecil lainnya.

Tidak lama kemudian, seorang gadis turun dari sepeda yang di kendarai nya. 

"Alice..."panggilnya

Alice menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. "Rania."sapa Alice kepada gadis itu

"Kamu baru saja pulang?"lanjut Alice dibalas anggukan oleh Rania

Alice tersenyum sembari memberikan satu kotak makanan untuk Rania.

"Terimakasih."ucap Rania

"Sama-sama."

"oh ya bagaimana penjualan hari ini? apakah bunga yang kamu jual sudah habis?"tanya Alice 

"ya aku sangat senang sekali Alice, karena ada orang baik yang memborong semua bungaku."

"Wah benarkah? aku ikut senang mendengarnya."

Rania, adalah gadis penjual bunga keliling dengan sepeda kecilnya. usia nya tak jauh berbeda dari Alice. Rania juga termasuk anak jalanan yang tinggal di bawah kolong jembatan itu. Rania adalah sahabat dekat Alice, begitupun dengan semua anak jalanan disana adalah teman Alice.

1
Sari Nilam
terlalu lemah juga gak bagus thor katakter utamanya
Sari Nilam
bodohnya danzel
Sari Nilam
rachel jaih lebih licik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!