"Kapan kau akan memberi kami cucu!!"
Hati Sherly seperti di tusuk ribuan jarum tajam setiap kali ibu mertuanya menanyakan perihal cucu padanya. Dia dan Bima sudah menikah selama hampir dua tahun, namun belum juga dikaruniai seorang anak.
Sherly di tuduh mandul oleh Ibu mertua dan kakak iparnya, mereka tidak pernah percaya meskipun dia sudah menunjukkan bukti hasil pemeriksaan dari dokter jika dia adalah wanita yang sehat.
"Dia adalah Delima. Orang yang paling pantas bersanding dengan Bima, sebaiknya segera tandatangani surat cerai ini dan tinggalkan Bima!!"
Hadirnya orang ketiga membuat hidup Sherly semakin berantakan. Suami yang dulu selalu membelanya kini justru menjauh darinya. Dia lebih percaya pada hasutan sang ibu dan orang ketiga. Hingga akhirnya Sherly dijatuhi talak oleh Bima.
Sherly yang merasa terhina bersumpah akan membalas dendam pada keluarga mantan suaminya. Sherly kembali ke kehidupannya yang semula dan menjadi Nona Besar demi balas dendam.
Lalu hadirnya sang mantan kekasih mampukah membuka hati Sherly yang telah tertutup rapat dan menyembuhkan luka menganga di dalam hatinya?! Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
-
-
Hanya cerita cerehan, semoga para riders berkenan membaca dan memberikan dukungannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Pertemuan Sherly-Bima
"Sherly, disini!!"
Seorang wanita terlihat melambaikan tangannya pada Sherly ketika wanita itu memasuki cafe tempat mereka janji untuk bertemu, dan orang itu tak lain dan tak bukan adalah Sandra. Kedua sahabat itu berencana untuk pergi berbelanja bersama.
Tapi sebelum itu mereka harus mengisi tenaga dengan sarapan bersama. Kali ini Sherly tidak sarapan di rumah, dia malas untuk sarapan sendirian karena Rey sedang berada di luar negeri.
Rey pergi sejak dua hari yang lalu. Sherly tak merasa heran apalagi terkejut, mengingat jika suaminya itu adalah seorang pebisnis dan pergi ke luar kota maupun ke luar negeri adalah sesuatu yang biasa.
"Kau ingin pesan apa? Aku belum memesan apapun karena menunggumu," ucap Sandra sambil membolak-balik buku menu ditangannya.
"Samakan saja denganmu," jawab Sherly.
Setelah menemukan menu makanan apa yang dia inginkan. Kemudian Sandra memanggil pelayan untuk memesan. Seorang pria terlihat menghampiri mereka untuk mencatat pesanan dua perempuan cantik itu.
Pelayan itu membeku ditempat saat melihat sosok cantik yang saat ini sedang bertukar pesan dengan seseorang. Orang yang dulu pernah mengisi hari-harinya. Ya, dia adalah mantan istrinya.
"Sherly!!"
Sontak Sherly mengangkat wajahnya dan matanya membulat melihat siapa yang ada dihadapannya itu. "Bima!! Kau, sedang apa kau disini?! Bukan, tapi kenapa kau bisa berada di negara ini?" Tanya Sherly sedikit terkejut.
"Sangat panjang ceritanya. Tidak disangka kita bisa bertemu kembali disini, dan selamat untuk pernikahanmu. Aku ikut bahagia untuk kalian berdua. Kau sudah menemukan pria yang baik, yang sangat mencintaimu." Ujar Bima sambil mengurai senyum simpul.
"Ya, apalagi Rey adalah pria yang sangat baik."
"Aku dan Delima sudah berpisah, kali ini aku sedang berjuang untuk menata kembali hidupku yang berantakan karena wanita itu. Dan aku sendiri tidak tau bagaimana nasibnya saat ini." Tutur Bima.
"Hm, aku turut prihatin. Dan bisakah kau menyiapkan pesanan kami sekarang? Aku dan temanku sangat lapar," ucap Sherly. Bima mengangguk.
Selepas kepergian Bima. Sherly pun langsung dicecar berbagai pertanyaan oleh Sandra. Siapa pria itu dan bagaimana Sherly bisa mengenalnya. Dan akhirnya Sherly pun memberi tau sahabatnya yang sangat kepo itu. Siapa Bima dan apa hubungan mereka, lalu bagaimana mereka bisa saling kenal.
"Dia bernama Bima, mantan suamiku!! Apa kau puas?!"
"Dia lumayan tampan juga, ya meskipun tidak setampan Rey. Tapi baguslah kau mengambil jalan yang benar, karena tidak enak membina sebuah rumah tangga dengan campur tangan orang ketiga. Apalagi orang-orang itu adalah keluarga sendiri."
Sherly menghela napas berat. "Rumah tanggaku yang sekarang juga tak jauh berbeda dari yang pertama. Bedanya Rey sangat tegas sedangkan Bima tidak. Rey memperjuangkan hubungan kita, tapi Bima malah menghadirkan orang ketiga. Perbandingannya sungguh sangat jauh sekali, dan aku beruntung bisa lepas dari rumah tangga yang seperti itu." Ujar Sherly panjang lebar.
Sandra mengangguk. "Betul juga, dan aku berharap saat menikah nanti. Aku juga bisa mendapatkan suami yang seperti, Rey."
"Lalu bagaimana dengan, Leon? Aku lihat kalian berdua juga sangat cocok dan serasi,"
Sandra mempoutkan bibirnya. "Kenapa malah bahas pria menyebalkan itu. Lagipula siapa yang mau menikah dengan manusia seperti dia!! Dia sangat menyebalkan!!" Sherly terkekeh. Obrolan mereka terintrupsi oleh Bima yang datang mengantarkan makanan pesanan mereka.
Bima ingin mengajak Sherly berbincang lagi. Tapi wanita itu malah bersikap dingin dan acuh. Dia kembali sibuk dengan ponselnya. Sepertinya Sherly sedang bertukar pesan dengan suaminya.
Bima pun langsung melenggang pergi. Lonceng di atas cafe berbunyi menandakan ada pelanggan yang datang. Seorang pria terlihat memasuki cafe lalu berjalan menuju meja Sherly dan Sandra. Mata Sandra membulat, pria itu memberi intrupsi supaya dia diam dan Sandra mengangguk.
"Happy birthday, Sayang."
Mata wanita itu membelalak melihat tulisan pada buket mawar yang kini ada di depan matanya. Sontak Sherly menoleh, Rey tersenyum lebar padanya. Wanita itu berdiri dan langsung berhambur ke dalam pelukan suaminya.
"Rey, kau membuatku ingin menangis." Ucap Sherly dengan suara serak.
Rey tersenyum. Dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Sherly."Maaf, aku terlambat mengucapkannya." Bisik Rey, Sherly menggeleng.
"Tidak sama sekali, bahkan aku lupa jika hari ini adalah ulang tahunku. Karena tidak ada yang pernah mengucapkannya apalagi merayakannya," ucap wanita itu.
Rey melepaskan pelukannya. Senyum itu masih menghiasi bibirnya. "Bukankah kau memiliki aku sekarang, yang akan selalu mengucapkannya dari tahun ke tahun. Dan aku akan jadi orang pertama yang mengingat hari spesialmu ini." Rey mengecup kedua tangan Sherly dan kembali memeluknya.
Dan sementara itu...
Bima hanya bisa terdiam melihat pemandangan yang sangat tidak mengenakan itu. Melihat bagaimana sikap Rey dan cara dia memperlakukan Sherly membuat Bima merasa minder, pasalnya selama menjadi suaminya, tak sekalipun dia memberikan kejutan ulang tahun pada perempuan itu.
Nyonya Ivanka, Tuan Robert, Leon dan Steven datang bersama-sama membawa kue ulang tahun. Nyonya Ivanka menghampiri putrinya itu lalu mencium pipinya.
"Happy birthday, Sweet Heart. Tidak ada yang lupa pada ulang tahunmu, Sayang. Kami semua mengingatnya, hanya saja tradisi keluarga kita tidak boleh ada yang merayakannya. Tapi ada orang yang dengan berani menentang tradisi itu, dan bersikeras untuk merayakannya walaupun hanya kecil-kecilan saja." Ucap Nyonya Ivanka sambil melirik menantunya. Sedangkan Rey hanya tersenyum simpul.
Tak sanggup melihat kebahagiaan itu. Bima pun memilih pergi dan kembali ke dapur. Sherly melirik pada mantan suaminya itu yang sudah melenggang pergi. Tapi dia tak mau terlalu ambil pusing. Ini adalah hari spesialnya dan dia ingin menikmatinya.
.
.
Di dapur, Bima hanya bisa terduduk lesu. Entah kenapa dia merasa tidak rela saat melihat mantan istrinya itu bahagia bersama pria lain. Bima merasa jika seharusnya dialah yang berada disisi Sherly dan membuatnya bahagia. Tapi justru orang lain yang membahagiakannya.
Tak bisa Bima pungkiri bila Sherly adalah yang terbaik yang pernah dia miliki. Selama menjadi istrinya. Tak sekalipun dia menyusahkan, dia juga tidak pernah mempermasalahkannya tentang uang belanja yang dia berikan.
"Kenapa kau malah duduk santai disini, sedangkan di luar sana pelanggan banyak berdatangan. Keluarlah dan kembali bekerja."
Bima mengangkat kepalanya. "Aku sedikit kurang enak badan. Bisakah kau saja yang menggantikan ku? Aku ijin pulang lebih awal." Ucap Bima.
"Tidak bisa!! Aku masih memiliki banyak pekerjaan. Sebaiknya kau tanggung jawab pada pekerjaanmu sendiri. Jadi banyak alasan dan cepat layani mereka!!"
"Aku akan pulang sekarang, suruh yang lain saja!!" Bima melepaskan apronnya dan pergi begitu saja. Sedangkan teman kerjanya itu hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala. Pria itu mengangkat bahunya acuh, dia masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan.
-
-
Bersambung.