Putri Regina Prayoga, gadis berusia 28 tahun yang hendak menyerahkan diri kepada sang kekasih yang telah di pacari nya selama 3 tahun belakangan ini, harus menelan pahitnya pengkhianatan.
Tepat di hari jadi mereka yang ke 3, Regina yang akan memberi kejutan kepada sang kekasih, justru mendapatkan kejutan yang lebih besar. Ia mendapati Alvino, sang kekasih, tengah bergelut dengan sekretarisnya di ruang tamu apartemen pria itu.
Membanting pintu dengan kasar, gadis itu berlari meninggalkan dua manusia yang tengah sibuk berbagi peluh. Hari masih sore, Regina memutuskan mengunjungi salah satu klub malam di pusat kota untuk menenangkan dirinya.
Dan, hidup Regina pun berubah dari sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26. APD Boy Habis.
Di waktu yang sama, saat William masih menunggu Alisha, Regina sedang berbelanja di salah satu supermarket.
William meminta di buatkan nasi daun jeruk, tumis kangkung dan ayam goreng saus kecap. Wanita itu menyanggupi, masakan itu tidaklah sulit. Hanya saja, bahan makanan yang di minta, tidak ada di apartemen. Maka Regina memutuskan untuk membelinya terlebih dulu.
“Beli beras yang 5 kilo saja, ya.” ucapnya saat berada di tempat beras. Ia memasukkan ke dalam troli belanjaannya, kemudian mendorong kereta belanja itu, menuju tempat dimana sayur dan daging berada.
Biasanya, Regina akan berpikir dua kali, mengambil beberapa pilihan, membandingkan harga produk satu sama lain, sebelum membayar. Tetapi, kali ini, ia hanya melihat kualitas barangnya saja, kemudian mengambilnya. Tak lagi memikirkan harga, karena ia menggunakan kartu yang di berikan oleh William.
Tak hanya membeli bahan makanan, Regina juga membeli beberapa cemilan, serta kebutuhan dirinya yang lain. Ia ingat, Jimmy hanya membelikannya beberapa barang saja. Jadi mumpung belanja, ya sekalian saja.
Merasa semua barang yang di carinya sudah di dapat, Regina pun mendorong troli menuju kasir. Namun, belum juga sampai, sebuah suara wanita dewasa terdengar memanggil namanya, membuat langkah wanita itu terhenti.
“Gina, sayang?” Regina menoleh ke arah sumber suara. Ia mendapati mama dari Alvino berada tak jauh darinya.
“Mama?” Ucapnya.
Wanita paruh baya itu mendekat, mereka saling merangkul, dan membenturkan pipi satu sama lain.
“Apa kabar sayang? Kenapa tidak pernah main kerumah?” Tanya mama Alvino.
Regina diam sejenak. Ia memutar otaknya, mencari jawaban, yang sekiranya bisa di terima akal sehat.
“Aku sibuk akhir-akhir ini, ma. Atasanku baru, sekarang di gantikan putranya. Jadi, aku harus bekerja extra.”
Mama Alvino menganggukkan kepalanya.
“Kemarin juga, kata Alvino kamu ke luar kota. Padahal mama ingin sekali mengajak kamu jalan.”
Alis Regina mengerenyit. Ia ingat kemarin akhir pekan, dan sebelumnya, sudah menjadi agenda rutin bagi wanita itu mengunjungi calon mertuanya.
“Ah, iya ma. Aku di minta menemani direktur yang baru, karena dia belum begitu mengerti.”
‘Maafkan aku, ma. Aku harus berbohong. Ini semua karena putramu yang telah mengkhianati ku lebih dulu.”
“Oh ya, kamu belanja banyak sekali, sayang?” Mama Alvino meneliti isi troli yang berada di hadapan Regina.
Alisnya hampir menyatu, kala ia mendapati keperluan pria di dalam kereta dorong itu.
“Kenapa kamu membeli peralatan cukur pria, sayang? Apa Alvino yang menyuruhmu?”
Deg!!
Regina tersentak. Ia ikut menoleh ke arah pandangan wanita paruh baya itu. Dan sialnya, ia menaruh alat cukur itu paling atas.
Ia membeli itu William. Karena milik pria itu sudah tidak bisa di gunakan lagi. Sementara, ada rambut halus yang tumbuh di beberapa titik tubuh pria itu, yang ingin di cukurnya.
“Ah, bukan ma. Ini atasanku yang menyuruh untuk berbelanja, untuk mengisi apartemennya.” Ucap Regina beralasan.
“Atasan mu bukannya pria? Itu kenapa ada kebutuhan wanita juga?” Tanyanya lagi, meneliti isi troli itu.
Astaga.. kenapa nyonya Mahendra menjadi cerewet begini? Ingin rasanya Regina mendorong troli itu secepatnya.
“Ah, itu milik kekasih atasanku, ma. Sekalian katanya.”
Nyonya Mahendra berdecak sebal.
“Kok seenaknya sih, nyuruh-nyuruh kamu? Kamu juga kenapa mau saja di suruh membeli perlengkapan pribadi begitu.”
Regina menghela nafasnya pelan.
“Aku di kasih upah, ma. Makanya mau. Kalau tidak, aku tidak akan mau.” Wanita itu mengakhiri kaliamatnya dengan senyum lebar. Ia ingin menunjukkan kepada mama Alvino jika dia adalah seorang yang materialistis.
Tak jauh dari sana, Tamara melihat interaksi kedua wanita beda usia itu, membuat hatinya tercubit. Nyonya Mahendra begitu hangat kepada Regina. Namun, tidak dengannya.
“Kita akan lihat, nyonya Mahendra. Siapa yang akan menjadi menantumu kelak. Meski bukan aku, tetapi aku pastikan, bukan Regina.
******
“Honey, i’m home.”
Begitu teriak William saat pria itu membuka pintu apartemennya. Ia kemudian bergegas ke arah dapur, saat melihat sang sekretaris plus-plusnya sedang sibuk berkutat di di depan kompor.
“Honey?” Pria itu kembali menyapa, sembari melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang sekretaris. Tak lupa William menumpangkan dagunya pada pundak wanita itu.
“Will, lepas dulu. Aku belum selesai.” Ronta Regina, ia merasa geraknya terbatas saat pria itu menempel padanya.
William menengok ke arah wajan yang ada di atas kompor. Terlihat, beberapa potongan ayam yang berwarna coklat di dalam benda berbentuk bulat bertangkai itu.
Pria itu pun melepaskan belitan tangannya. Namun, sebelum itu ia tak lupa mengecup pipi Regina.
“Apa ini nasinya, Hon?” William menatap mangkok besar berisi nasi yang asap masih mengepul.
“Ya, tolong bawa ke meja.”
“Siap, nyonya.”
Beberapa saat kemudian, hidangan yang lain pun siap. Regina mengisi piring untuk William.
Pria itu menatap Regina dengan mengulum bibirnya. Ia merasa seperti seorang suami yang sedang di layani oleh istrinya.
“Kenapa?” Tanya Regina melihat pria itu mengulum bibirnya.
“Aku merasa sedang di layani oleh istriku.” Ucap pria itu tersenyum.
Mendengar ucapan William, membuat pipi Regina memanas. Ia pun memalingkan wajahnya, agar pria itu tak menyadarinya.
“Emm… enak sekali.” Ucap William ketika ia mengunyah makanan yang di hidangkan oleh sekretarisnya.
“Benarkah?” Tanya Regina sembari duduk di sebelah kiri pria itu. Ia pun ikut mencicipi makanan yang ia buat.
Kepala William menggangguk. “Kamu ternyata tak hanya pandai di ranjang, tetapi juga pandai memasak.”
Regina seketika tersedak mendengar ucapan sang atasan. Dengan cepat pria itu memberikan gelas air yang ada di hadapannya.
“Pelan-pelan, Hon. Tak ada yang akan merebut makanan mu.”
Mereka kembali menikmati makan malamnya. Sesekali William menyuapi sekretarisnya. Setelah makan, William membantu mencuci piring.
“Siapa yang biasanya membersihkan apartemen ini, Will?” Tanya Regina, kini mereka tengah bersantai di ruang tamu.
“Istrinya Jimmy. Dua hari sekali, Jimmy akan datang kesini bersama istrinya.” Jelas William yang sedang fokus dengan ponselnya.
Regina menganggukkan kepalanya.
“Lalu pekerjaan pak Jimmy apa?”
“Dia asisten ku, dia bisa melakukan apa saja.”
Hening..
Tidak ada lagi topik pembicaraan, hingga Regina merasa hembusan angin menerpa tengkuknya.
“Kita ke kamar sekarang, ya.” Bisik William. Hidung pria itu sudah mengendus kesana kemari.
“APD nya boy habis.” Ucap wanita itu. Ia sudah ingat saat di supermarket tadi. Namun, ia tak berani membeli.
William berdecak kesal. Kenapa wanita ini baru mengingatkannya sekarang.
“Kita lakukan seperti pertama kali, boy muntah di luar.” Ucap pria itu, dan tanpa menunggu jawaban, ia langsung meraup tubuh sang sekretaris, membawanya ke dalam kamar.
****
“Bagaimana, apa William mengangkat telpon mu?” Tanya Alisha kepada Romi, pemilik showroom mobil tempat William membeli mobil untuk Regina.
Kini mereka tengah berada di klub malam milik William. Mereka bertiga sudah berteman sejak di hari pertama kuliah. Berlanjut hingga sekarang.
Beberapa hari sekali, mereka akan melakukan kumpul bersama. Terkadang di klub William, terkadang di kafe milik Alisha.
“Tidak.” Jawab Romi dengan mengedikan bahunya.
“Mungkin dia sedang bersama kekasihnya.” ucap pria itu lagi.
Alis Alisha hampir menyatu. William punya kekasih? bukannya pria itu mengatakan perasaannya masih di gantung?
“William punya kekasih?” Tanyanya memastikan.
“Seperti begitu, beberapa hari yang lalu dia datang ke showroom membawa seorang wanita dan membelikannya mobil keluaran terbaru.”
“Tetapi dia mengatakan padaku, jika wanita itu belum menerima cintanya.” Ucap Alisha.
“Apa mungkin William dekat dengan dua wanita? Karena yang aku dengar, William memanggil wanita itu dengan sebutan Honey.” Jelas Romi yang kembali mengedikan bahunya.
“Kenapa? Apa kamu masih menyimpan perasaan untuk William?” Tanya pria itu lagi.
Alisha menghela nafasnya pelan. Romi memang tau jika dia memiliki perasaan kepada sahabat mereka.
“Apa aku masih punya harapan, Rom?”
Kali ini Romi yang menghela nafasnya.
“Harapan mungkin ada, Al. Tetapi kamu harus ingat, meski kalian se-Amin tetapi kalian tidak se-Iman.”
Deg!!
Ucapan Romi membuat Alisha tersentak. Benar yang di ucapkan pria itu. Orang tua Alisha pasti tidak akan merestui hubungan mereka, jika seandainya cintanya terbalas.
.
.
.
Bersambung.