Belvania, gadis desa yang selalu di bully karena penampilannya yang udik. Tapi ketika dirinya sudah glowing, maka disitulah pembalasan pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_Les, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# 26. Permintaan Belva
Bukan hanya pakaian dinas peranjangan yang Nyonya Kalina siapkan. Bahkan sangking inginnya Nyonya Kalina, Bams dan Belva langsung melakukan ritual malam pertama, Nyonya Kalina juga mengatur suhu ruangan di paling rendah. Pastinya bukan hanya ruang tidur, tapi ruang tamu tempat Bams tidur juga sudah di atur di suhu terendah.
"Rrrr... sss... rrr." Gigi Bams menggertak karena kedinginan.
Bagaimana tidak kedinginan kalau Bams hanya memakai bathrobe.
Tak tahan dengan rasa dingin yang menusuk kulit tembus ke tulang-tulangnya, Bams pun pindah ke ruang tidur.
Untung saja Belva tidak mengunci ruang tidur, ah.. bukan tidak mengunci, tapi karena kuncinya tidak ada. Siapa lagi yang melakukan itu kalau bukan Nyonya Kalina, karena kalau kunci tertinggal di handle pintu, pasti Belva akan mengunci pintu ruang tidur dan Bams tidak akan bisa masuk.
Bams pun naik ke atas ranjang lalu menarik selimut yang menghangatkan tubuh Belva dengan sangat perlahan agar Belva yang sudah tidur tidak menyadari kedatangannya.
Lima belas menit...
Tiga puluh menit...
Masih aman. Mereka masih tidur dengan posisi saling membelakangi.
Empat puluh lima menit...
Posisi mereka sudah sama-sama telentang.
Enam puluh menit...
Belva pun memeluk Bams.
Bams yang juga sudah terbawa mimpi pun membalas pelukan Belva. Dan mereka pun tidur berpelukan.
Tiga menit...
Lima menit...
Dari alam bawah sadarnya, Belva seperti mencium bau mint, bau yang berasal dari nafas Bams. Sama seperti Belva, dari bawah alam sadarnya Bams seperti mencium bau vanila, bau yang berasal dari aroma rambut Belva.
Masih di alam bawah sadar dan masih dengan mata yang tertutup, Belva pun mendongakkan wajahnya, mengendus asal bau mint itu.
Mata Belva dan Bams pun mengerjap perlahan.
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
"Aaaaargh...." Belva dan Bams pun sama-sama berteriak.
Jika Belva berteriak karena sadar sedang memeluk Bams, sedangkan Bams berteriak karena kaget mendengar teriakkan Belva.
"Kakak kok bisa disini?" Teriak Belva sambil mendorong tubuh Bams sambil menarik semua selimut.
"Rrrr.... aku kedinginan Bel." Jawab Bams dengan gigi yang menggertak karena kedinginan. Sangking dinginnya, bibir Bams sampai kebiruan.
Melihat itu, Belva pun tidak tega. Ia memberikan sebagian selimutnya pada Bams tapi tetap menjaga jarak dengan Bams.
"Pakai ini." Ucap Belva.
Cepat-cepat Bams menarik selimut yang Belva berikan.
"Aku tidur disini yah, please. Aku gak tahan tidur di sofa, apalagi cuma pake bathrobe doang." Mohon Bams.
Belva menghela nafasnya kasar.
Karena remote pendingin ruangan tidak tau dimana rimbanya, Belva pun mau tak mau mengijinkan Bams untuk seranjang dengannya.
"Ya udah. Tapi jangan macem-macem yah!!" Ancam Belva.
"Iya. Kan udah aku bilang, kalau kamu belum kasih ijin untuk aku macem-macemin kamu, aku gak akan macem-macemin kamu." Balas Bams.
Sebagai perlindungan diri, Belva pun menaruh bantal guling di tengah-tengah mereka.
Kini Belva dan Bams berbaring dengan posisi telentang, sambil menatap langit-langit ruang tidur.
"Kak..."
"Hemh.."
"Kita bikin surat perjanjian yuk."
Bams mengernyitkan keningnya, lalu menoleh ke arah Belva.
"Surat perjanjian? Semacam perjanjian pranikah gitu?"
Belva menggelengkan kepalanya lalu menoleh ke arah Bams.
Kini bola mata mereka saling beradu.
"Aku mau kita menikah hanya enam bulan atau maksimal setahun. Setelah itu kita bercerai."
"Hah.." Bams ternganga mendengar kata-kata Belva.
"Kontrak pernikahan maksud kamu?" Tanya Bams sekedar meyakinkan Belva dengan ucapan Belva.
Belva menganggukkan kepalanya.
"Jadi selama itu, gak perlu ada nafkah lahir dan nafkah batin." Ucap Belva.
"Kamu sadar gak sih apa yang udah kamu bilang barusan?"
"Sadar."
"Kok kamu bisa sih kepikiran kesitu? Sedangkan aku aja gak kepikiran sama sekali kesitu loh Bel. Buat aku nikah itu sekali seumur hidup." Balas Bams.
"Okelah kalau kita hanya sekedar pura-pura menikah dengan surat pernikahan palsu. Lah ini kita menikah sungguhan, membuat janji di depan Tuhan dan tercatat resmi di catatan sipil. Aku gak mau." Kata Bams lagi.
"Ini semua kan gara-gara kakak, aku kan gak mau!!!" Balas Belva dengan suara yang meninggi.
Bams menghela nafasnya kasar.
"Sekarang jujur sama aku, alasan kamu mau bikin kontrak pernikahan apa? Apa kamu punya laki-laki lain yang kamu suka?"
"Itu bukan urusan kamu!!!" Balas Belva ketus.
Bams menghela nafasnya kasar lagi. Tiba-tiba ia sangat emosi dengan jawaban Belva.
"Ya udah, terserah kamu!!! Kalau kamu mau buat surat kontrak atau surat perjanjian atau apalah itu, buat saja!!!" Ucap Bams emosi sambil membalikkan tubuhnya membelakangi Belva.
"Kenapa kamu gak bisa ngertiin perasaan aku sih Bel? Apa kamu masih sakit hati sama aku gara-gara dulu aku nolak kamu?" Gumam Bam dalam hatinya.
"Maaf kak atas permintaan aku yang ingin pernikahan kita hanya sebatas pernikahan kontrak. Aku gak mau bermimpi dan berharap terlalu jauh lagi seperti dulu lagi. Dari pada aku harus merasakan sakit hati lagi, jadi lebih baik dari sekarang aku membatasi diri aku." Gumam Belva dalam hatinya begitu melihat Bams membelakanginya.
***
Keesokan paginya.
"Eugh..." Belva merentangkan tubuhnya sambil mengerjapkan matanya.
Matanya langsung mengarah pada Bams yang sudah memakai pakaian lengkap.
"Pakaian dari mana? Bukannya tadi malam kak Bams gak punya pakaian ganti?" Gumam Belva dalam hati saat melihat pakaian yang Bams pakai.
Merasa ada yang memperhatikannya, Bams pun menoleh ke arah ranjang.
"Udah bangun? Mandi sana. Ini ada pakaian ganti untuk kamu." Ucap Bams.
"Pakaian ganti dari mana?"
"Aku tadi telepon Mama dan maksa untuk bawain pakaian ganti untuk kita." Jawab Bams.
"Udah sana mandi. Habis itu sarapan, aku tunggu di bawah." Ucap Bams lagi.
Bams pun keluar dari ruang tidur meninggalkan Belva yang sedang bingung melihat sikap Bams yang tiba-tiba menjadi dingin.
"Kak Bams kenapa?" Lirih Belva begitu mendengar pintu kamar hotel tertutup.
Belva pun turun dari atas ranjang dan berjalan ke dalam kamar mandi. Ia pun mulai membersihkan dirinya di bawah pancuran air shower sambil terus memikirkan sikap Bams.
Setengah jam kemudian.
Kini Belva sudah berada di restoran hotel bersama dengan Bams yang sudah lebih dulu berada disana dan sudah menyelesaikan sarapannya.
"Cepet habisin sarapannya. Habis itu kita pulang." Ucap Bams.
Belva tidak menjawab dan memilih menuruti kata-kata Bams.
Setelah Belva selesai menyantap sarapannya mereka pun kembali ke kamar untuk mengambil barang-barang mereka, setelah itu turun lagi kebawah.
Dan disini lah Belva dan Bams sekarang, di dalam mobil menuju kediaman utama Simeon.
"Kak.."
"Aku lagi nyetir. Kalau mau ngomong di rumah aja." Balas Bams.
"Kak Bams kenapa sih? Apa dia marah gara-gara permintaan aku kemaren?" Gumam Belva dalam hati.
Setelah hampir setengah jam berada dalam perjalanan. Akhirnya mobil yang Bams kendarai sampai juga di pelataran kediaman utama Simeon.
Sambutan hangat pun di berikan Nyonya Kalina. Tak ada lagi Tuan Simeon karena Tuan Simeon harus kembali pada dunia bisnisnya.
Bersambung...