"Saat langit robek dan dunia menjadi neraka, uang tak lagi berkuasa. Hanya satu angka yang berharga, yaitu.. Peringkatmu."
—
Hari itu dimulai dengan hawa panas yang luar biasa. Bumi Aksara, seorang pemuda 20 tahun yang bekerja sebagai kasir minimarket, hanya memikirkan bagaimana cara bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi.
Namun, dunia punya rencana lain. Sebuah retakan hitam membelah langit, membawa ribuan monster haus darah ke permukaan bumi.
Seketika, sebuah layar sistem muncul di depan mata setiap manusia. Dunia berubah menjadi permainan maut yang kejam. Manusia diklasifikasikan ke dalam 5 Tingkatan, dan Bumi mendapati dirinya berada di kasta terendah: Tingkat 5, Posisi 5 (Neophyte).
Dengan insting tajam yang diasah oleh kerasnya hidup di jalanan, ia mulai mendaki tangga kekuatan.
Dari seorang kasir yang dihina, Bumi berubah menjadi predator yang ditakuti. Ia akan melintasi medan perang yang kejam, demi mencapai satu tujuan mutlak... Menjadi Nomor Satu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasukan Tanpa Nama
Langit di atas Sektor 7 bukan lagi sekadar retakan merah, melainkan kanvas api. Pertarungan Bumi melawan The Executioner of Code telah meratakan tiga blok kota, namun sang algojo sistem itu hanyalah permulaan. Di bawah tanah, di nadi-nadi yang berdenyut di Zona Merah, sebuah badai yang lebih besar sedang dipersiapkan.
Bumi mendarat di tengah alun-alun pasar gelap dengan dentuman yang menggetarkan fondasi distrik. Tubuhnya berasap, zirah biologis hitamnya retak di beberapa tempat, menunjukkan daging yang berdenyut dengan cahaya ungu parasit. Di sekelilingnya, ribuan pasang mata menatap dari balik bayang-bayang kios kumuh dan bar-bar ilegal. Mereka adalah para pecundang sistem, budak yang pelariannya gagal, dan petarung bebas yang telah kehilangan harapan.
"Lihat dia..." bisik seorang pria dengan satu tangan mekanis. "Sang Peringkat Satu... dia sudah berubah menjadi monster."
Bumi tidak memedulikan bisikan itu. Ia berjalan menuju panggung pelelangan budak tempat ia hampir meledak karena amarah beberapa hari lalu. Si pedagang budak yang tambun masih di sana, namun kali ini ia memegang senapan energi dengan tangan gemetar.
"J-Jangan mendekat, Monster! Tempat ini netral! Kau melanggar aturan Zona Merah!" teriak si pedagang.
Bumi hanya mengangkat tangan kirinya. Tanpa sepatah kata pun, ia mengaktifkan [Material Transmutation: Area Burst].
SREEEETTT—KLANK!
Lantai baja di bawah kaki si pedagang budak mencair seperti raksa, lalu melesat ke atas membentuk belenggu yang mengunci tubuh pria tambun itu ke dinding. Di saat yang sama, belenggu leher pada puluhan budak di atas panggung retak dan hancur, berubah menjadi butiran debu logam.
"Aturan kalian sudah mati bersama Sektor Ash," suara Bumi menggelegar, berat dan berlapis-lapis akibat infeksi parasit di tenggorokannya. "Hari ini, tidak ada lagi budak. Tidak ada lagi umpan monster. Yang ada hanyalah Pasukan Tanpa Nama."
Bumi berbalik menghadap massa yang mulai keluar dari persembunyian mereka. "Kalian takut pada Iron Cage? Kalian takut pada angka di layar kalian? Aku berdiri di sini untuk memberi tahu kalian: angka-angka itu adalah rantai. Dan malam ini, kita akan memutuskan rantai itu bersama-sama!"
Seorang mantan tentara bayaran maju ke depan, meludah ke samping. "Bicara itu mudah, Peringkat Satu. Kami tidak punya senjata. Kami tidak punya peringkat tinggi. Bagaimana kami bisa melawan tank dan drone dengan tangan kosong?"
Bumi tersenyum tipis, sebuah pemandangan yang mengerikan di wajahnya yang bermutasi. "Siapa bilang kalian akan bertarung dengan tangan kosong?"
Bumi merentangkan kedua tangannya. Aura Veteran Posisi 1 miliknya meledak, namun kali ini energi itu tidak menghancurkan. Ia menyedot seluruh rongsokan logam, sisa-sisa mesin, dan pipa-pipa berkarat di sekitar pasar gelap. Ribuan ton materi melayang di udara, berputar membentuk pusaran raksasa di atas kepala Bumi.
[Skill Activated: Mass Transmutation - Armory of the Oppressed]
[Peringatan: Konsumsi Energi Mental di Zona Bahaya! Parasitic Synchronization: 92%!]
Visi Bumi memerah, namun ia terus memaksakan kehendaknya. Di matanya, rongsokan itu adalah susunan atom yang menunggu untuk dibentuk. Dengan teriakan yang membelah keheningan, ia menghentakkan tangannya ke bawah.
Pusaran logam itu pecah, namun tidak jatuh berantakan. Logam-logam itu membentuk diri di udara, menjadi ribuan bilah pedang hitam yang tajam, perisai yang diperkuat energi es, dan senapan-senapan rakitan yang intinya dibuat dari kristal parasit milik Bumi sendiri.
"Ambil!" perintah Bumi.
Ribuan senjata itu jatuh dan tertancap di depan setiap orang di Zona Merah. Senjata-senjata itu berdenyut dengan cahaya ungu, tersinkronisasi dengan energi Bumi. Siapa pun yang memegang senjata itu akan merasakan lonjakan status fisik sementara, sebuah "pinjaman" kekuatan dari Sang Peringkat Satu.
"Senjata ini... aku merasa bisa merobek baja dengan tangan ini!" teriak seorang budak yang baru saja mengambil sebilah pedang transmutasi.
"Kael! Berikan koordinat Inti Sektor 7!" raung Bumi melalui sistem komunikasinya.
"Sudah siap, Bumi! Pintu gerbang pembuangan di sektor timur terbuka. Jika kita bergerak sekarang, kita bisa mencapai Katedral Logistik dalam lima menit!" suara Kael terdengar penuh semangat.
"Pasukan Tanpa Nama!" Bumi mengangkat gada Winter’s Wrath-nya yang kini berukuran dua kali lipat lebih besar. "Ikuti aku, dan kita akan tunjukkan pada mereka bahwa surga di Zone 1 dibangun di atas fondasi yang salah!"
Massa itu meraung. Ribuan orang yang tadinya tidak memiliki harapan, kini berlari mengikuti Bumi, menembus terowongan bawah tanah menuju permukaan. Mereka bukan lagi kumpulan rakyat jelata; mereka adalah gelombang hitam yang dipersenjatai oleh amarah.
Saat mereka muncul di permukaan, tepat di depan pelataran Katedral Logistik, mereka disambut oleh barisan pertahanan The Cleaners dan dua unit Executioner tambahan yang baru saja diterjunkan. Lampu sorot raksasa menyapu kerumunan, dan suara tembakan meriam mesin mulai menyalak.
"Tahan posisi! Perisai depan!" perintah Bumi.
Ratusan orang dengan perisai transmutasi maju, membentuk dinding logam yang memantulkan laser dan peluru. Bumi melesat di depan, menjadi ujung tombak yang tak terhentikan. Setiap ayunan gadanya menciptakan badai es dan ledakan energi parasit yang menghancurkan barisan depan musuh.
Darah dan oli bercampur di aspal. Pertempuran itu berlangsung brutal. Bumi melihat Genta dan Sarah di sisi sayap, memimpin kelompok kecil untuk menyabotase menara sensor. Genta bergerak dengan kelincahan yang baru, menggunakan belati yang telah diperkuat Bumi untuk memotot kabel saraf robot-robot penjaga.
Namun, saat Bumi hampir mencapai pintu gerbang Katedral, tanah bergetar hebat. Sebuah proyeksi hologram raksasa muncul di atas katedral—sosok Isabella, sang perwakilan Konsorsium Epsilon.
"Bumi Aksara," suara Isabella terdengar tenang namun penuh racun. "Kau pikir memberikan senjata pada lalat akan membantumu mengalahkan singa? Kau hanya mempercepat pembantaian mereka."
"Lalat yang ribuan jumlahnya bisa memakan bangkai singa sampai habis, Isabella!" balas Bumi sambil menghancurkan sebuah drone dengan tangan kosong.
"Begitukah?" Isabella tersenyum tipis. "Aktifkan Protokol Scorched Earth. Jika rakyat tidak mau patuh, maka biarkan distrik ini terbakar bersama mereka."
Tiba-tiba, moncong-moncong satelit di langit mulai berpendar terang. Mereka tidak mengincar Bumi; mereka mengincar kerumunan Pasukan Tanpa Nama di belakangnya. Sebuah serangan orbital sedang dipersiapkan untuk memusnahkan seluruh area.
Bumi terbelalak. Jika serangan itu mendarat, ribuan orang yang mempercayainya akan musnah dalam sekejap.
"Kael! Bisakah kau meretas satelit itu?!" teriak Bumi.
"Terlalu kuat! Enkripsinya level Admin!" jawab Kael panik.
Bumi menatap orang-orang di belakangnya, lalu menatap ke arah langit. Ia tahu hanya ada satu cara. Ia harus melakukan transmutasi pada sesuatu yang belum pernah ia coba sebelumnya: energi itu sendiri.
Bumi berhenti di tengah medan tempur, membiarkan serangan musuh menghujam tubuhnya. Ia merentangkan tangan ke arah langit, memusatkan seluruh energi parasit di jantungnya ke satu titik di atas kepala.
"Kalian ingin membakar kami?" desis Bumi, matanya kini sepenuhnya merah darah. "Maka aku akan mengubah api kalian menjadi es yang membeku!"
Cahaya putih dari satelit mulai meluncur turun dengan kecepatan cahaya. Di saat yang sama, Bumi melepaskan ledakan transmutasi ke arah langit, mencoba membelokkan serangan orbital tersebut.
Dua energi raksasa itu beradu di udara, menciptakan fenomena aneh di mana langit seolah-olah retak menjadi kepingan kaca. Tekanannya begitu dahsyat hingga semua orang di medan tempur terhempas ke tanah.
Di tengah benturan energi itu, Bumi merasakan kesadarannya mulai tersedot keluar. Parasit di dalam dirinya tertawa, merasakan bahwa inilah saatnya untuk mengambil alih sepenuhnya.
"Sedikit lagi..." gumam Bumi, darah hitam mengalir deras dari matanya.
Tepat sebelum ia kehilangan kesadaran, ia melihat sebuah notifikasi sistem yang muncul dengan warna emas pucat, menutupi semua peringatan merah lainnya.
[Anomali Terdeteksi: Kehendak Subjek melampaui Protokol Admin!]
[Membuka Akses Terbatas: Terminal Zero - Saluran Darurat...]
Sesosok suara yang bukan milik Kael atau pria misterius itu terdengar di telinga Bumi. Suara yang sangat jernih, seperti suara seorang gadis kecil.
"Bumi... jangan tahan energinya. Biarkan mereka masuk ke dalam Inti. Kau butuh ledakan itu untuk menghancurkan segelnya."
Bumi tertegun. Ia menyadari sesuatu. Ia tidak perlu menahan serangan satelit itu; ia hanya perlu membelokkannya sedikit agar menghantam Inti Distrik 7 secara langsung.
"Semuanya! MENUNDUK!" raung Bumi.
Bumi menarik energinya secara mendadak, membuat serangan orbital itu meluncur miring, melewati kepalanya dan menghantam puncak katedral logistik dengan kekuatan penuh.
KABOOOOMMMMM!
Seluruh distrik putih seketika. Ledakan itu begitu besar hingga bumi seolah-olah terbelah.
Saat cahaya memudar, katedral itu telah hilang, menyisakan sebuah lubang raksasa yang mengeluarkan cahaya merah yang berdenyut kencang. Itu adalah District Core Sektor 7, dan permukaannya kini sudah retak parah akibat serangan dari majikannya sendiri.
Namun, dari dalam lubang itu, sesuatu mulai merayap keluar. Sesuatu yang ukurannya tiga kali lebih besar dari gedung mana pun, dengan ribuan tentakel cahaya yang berayun-ayun.
[Peringatan: Guardian of Sektor 7 - 'The Weeping Seraph' Telah Bangkit!]
[Status: Murka!]
Bumi jatuh berlutut, napasnya tersengal. Di depannya berdiri monster kelas Monarch pertama yang pernah muncul di dunia ini. Dan di belakangnya, Isabella tertawa dingin melalui sisa-sisa hologram yang rusak.
"Kau membukakan pintu untuk kematianmu sendiri, Bumi Aksara."
Mampukah Bumi dan Pasukan Tanpa Nama mengalahkan Guardian yang baru saja bangkit? Dan siapa sebenarnya suara gadis kecil yang memberinya instruksi di tengah pertempuran tadi?