Berada dalam lingkungan sekolah terfavorit dan populer tak membuat Ve berkecil hati. Meski bully-an masih terus terjadi tetapi Ve punya sejuta cara untuk menghadapinya. Belum lagi Salsa yang tak pernah berhenti menganggunya.
Sayangnya ia juga harus dipusingkan dengan cinta dua lelaki tampan dan kaya raya tetapi berbeda karakter. Al sikapnya dingin, sedang Dion sangat humble. Parahnya lagi mereka mencintainya, meski tau Ve gadis miskin.
Lalu bagaimanakah kisah cinta mereka di masa putih abu-abu itu, dan siapakah yang ahirnya memenangkan hati Ve? Apakah cinta bisa menembus batas perbedaan antara si kaya dan si miskin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA VE DAN DION
"Brakkk!"
Ve menggebrak meja di depannya dengan sangat kasar. Tiba-tiba jiwa bar-bar miliknya keluar begitu saja setelah mendapat pengakuan dari teman masa kecilnya itu, siapa lagi kalau bukan si gendut, Dion.
"Jahat lu!" umpat Ve kesal.
"Sorry Ve, aku benar-benar nggak tau kalau itu kamu."
Dion terlihat pasrah dengan semua hal yang ditunjukan Ve saat ini, apalagi ketika ia mengakui semua kejahatannya yang dilakukan saat bersama Salsa tempo hari, berhasil mengukir luka trauma di hati Ve.
"Gue nggak nyangka lu berubah, Dion."
Ve benar-benar kecewa dengan sikap sahabatnya itu.
"Maaf, aku benar-benar minta maaf sama kamu. Oke aku ngaku salah, kamu berhak hukum aku sepuas kamu!"
"Oh tentu dengan senang hati," batin Ve
Ve terdiam, sebenarnya ia bukan tipikal pendendam hanya saja sikap dan kelakuannya kemarin membuatnya sakit hati. Ia harus menghukum Dion agar ia tak berbuat hal konyol seperti kemarin.
"Ve cantik, imut, yang manis kaya hatinya ..." Dion coba membujuk Ve agar ia mau memaafkan atau setidaknya memberikan hukuman padanya.
"Oke, kamu ku maafin, tapi dengan satu syarat!"
"Siap Tuan Putri, semua titah darimu akan aku lalukan sepenuh hati."
"Lu harus membuat Salsa mengakui semua perbuatannya di depan umum."
"Hm, boleh, oke gue terima syarat dari lu."
"Fix, kita battle setelah ini!"
Lalu kedua remaja sengklek itu pun adu jotos untuk merayakan kekompakan mereka yang udah balik dari masa lalu.
🍃Keesokan harinya
...⚜⚜⚜...
...SMA TUNAS BANGSA...
"Ndut, kita jadi 'kan?"
"Jadi dong, lu serahin semua ke gue, di jamin beres!"
Akhirnya pagi itu Dion dan Ve segera melancarkan aksinya. Sementara itu Salsa semakin gencar mendekati Al.
Sesekali Ve melirik Al yang mendiamkannya selama beberapa hari ini, ia tak menyangka jika Al sosok laki-laki paling menyebalkan yang ia temui. Sebenarnya Ve ingin memberitahukan kalau Dion dan dirinya sudah berdamai. Tetapi sikap Al yang semakin acuh membuatnya semakin tidak suka.
"Orang kaya mah bebas kalau kismin kaya aku mah kudu mikir-mikir dulu sebelum bertindak," batin Ve.
"Selamat pagi anak-anak?"
"Pagi, Pak."
"Oh, ya, tugas dari saya kemarin sudah selesai bukan? kalau iya, silakan dikumpulkan saat ini," titah dari Pak Prapto wali kelas 1A.
"Oh, iya, saya sampai lupa, lusa Bapak ada dinas ke luar kota, jadi Bapak sudah mempersiapkan guru pengganti buat kalian semua."
"Wow, amazing ... siapa Pak?"
"Ya, ditunggu saja, dia tampan dan seumuran kalian, kok!"
"Ha-ah!" seru Ve.
"Kok bisa, duh nggak sabar!" seru siswi-siswi cewek.
"Ve, lu nggak seneng?" tanya Tristan ketua Trio Gokil.
"Nggak, biasa aja, toh aku cuma butuh ilmunya, mau gurunya burik, ganteng, jelek, item, putih, nggak masalah."
"Good girls," ucap Tristan sambil mengacungkan kedua jempolnya pada Ve.
Sedangkan Al hanya melirik degan ekor matanya.
Sementara itu Salsa di belakang hanya memainkan kaca riasnya sambil sesekali membetulkan poni miliknya.
"Wlekk, cantik sih, tapi sayang hatinya busuk," batin Dion sambil mencibir.
"Apa lu, liat-liat," Salsa pun melotot ke arah Dion yang menaruh dagunya di meja.
"Kok kamu jadi galak sama aku sih, bukannya kita teman ya?" tanya Dion sok imut.
"Wlekk, demi Ve gue rendahin harga diri gue, padahal aku bisa membeli harga diri Salsa dengan murah."
"Oh, iya, Sa, nanti jam istirahat nanti kamu diajak Al ke rooftop, katanya mau ngasih sesuatu sama kamu."
"Oh, ya?" tanya Salsa penasaran.
"Iya, jangan sampai nggak datang ya? soalnya kata dia penting gitu."
"Oke deh, makasih."
Salsa menoleh, mulai curiga kenapa Dion bisa dekat dengan Al, tapi niatnya ia urungkan karena bel istirahat telah berbunyi.
Sementara itu Al keluar lebih dulu daripada siswa yang lain. Tujuannya kali ini bukan kantin ataupun rooftop melainkan ke ruang guru.
"Tuh liat, dia udah keluar tuh, tunggu apa lagi?"
Salsa melihat punggung Al yang hampir hilang. Lalu ia menoleh ke arah Dion.
"Oke, aku percaya sama kamu, makasih."
Setelah Salsa membetulkan riasan miliknya, ia pin menyusul Al ke rooftop.
Akhirnya es baloknya Al yg mementing kan belajar dari berpacaran akhirnya runtuh dengan kehadiran nya Veeya..
terimakasih Outhor semoga sukses selalu..🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹✌️✌️✌️✌️✌️✌️
Sabrina itu lebih gila dari anaknya Salsa...
sepertinya Lisa tau apa yg terjadi saat ini...