**Buat pecinta novel romantis, belum lengkap rasanya kalau belum membaca novel yang satu ini.**
Rianty adalah kembang desa di kampungnya. Oleh karena suatu hal, Rianty harus meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke kota.
Dia dibantu pamannya untuk berangkat ke kota, tapi tidak disangka pamannya juga mempunyai niat yang tidak baik.
Seperti lepas dari mulut harimau masuk ke dalam mulut buaya, itulah perumpamaan yang cocok untuk Rianty.
Rianty akhirnya harus kehilangan kesuciannya yang sudah dijaga selama ini. Pria yang merenggut kesucian Rianty juga tidak pernah mengenal Rianty. Bahkan Rianty akhirnya harus mengandung dan membesarkan anaknya seorang diri.Dalam penderitaan Rianty, untungnya Rianty mempunyai seorang anak genius, yang bertekad akan menemukan ayahnya.
Akankah anak genius ini menjembatani hubungan ayah dan ibunya?
Buat yang penasaran, ayo ikuti lebih lanjut ceritanya
Jangan lupa like, comment dan vote untuk author ya🙏🙏🙏 Semoga terhibur selalu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anny Djumadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mirip
Sebelum pergi mengikuti sekretaris Kim, Aldi pamit pada Rianty terlebih dulu.
"Mi, Al pergi dulu ya sama Om Kim, mami juga cepat bobok, biar cepat sembuh", ujar Aldi.
"Iya Al, di tempat orang lain jangan nakal ya!", ujar Rianty sambil menepuk-nepuk punggung tangan Aldi yang masih berada di genggamannya.
Rianty merasa senang ketika Gerald juga ikut berjalan keluar bersama sekretaris Kim.
"Ah, untung saja tuan Gerald ikut bersama mereka", pikir Rianty merasa menjadi lebih tenang.
"Bawa Al ke mansion ku, langsung ke kamarku agar tidak usah bertemu Monica", instruksi Gerald.
"Baik Tuan, sudah dapat hasilnya belum?", tanya sekretaris Kim.
"Sudah. Memang betul dia, dan dia juga sudah mengaku padaku. Besok baru kita bahas lagi Kim" ujar Gerald memberi tanda ke Kim , karena Aldi sedang berada di antara mereka.
"Apakah Tuan Gerald tetap di sini?", tanya sekretaris Kim lagi.
"Iya", sahut Gerald mengangguk.
"Baiklah tuan, saya bawa Aldi pergi dulu", ujar sekretaris Kim mengakhiri pembicaraan mereka, sesudah itu menatap ke Aldi dan berkata, "Ayo ikut Om".
"Om jaga mamiku baik-baik ya, Al ucapkan terimakasih sudah menolong Al dan mami Al", ujar Aldi kepada Gerald, sebelum mengikuti sekretaris Kim yang melangkah pergi dari lorong rumah sakit itu.
Sesudah bayangan kedua orang itu hilang Gerald membuka pintu dan melangkah masuk kembali ke kamar Rianty dirawat.
********
Rianty yang tadinya sudah bernafas lega karena Gerald keluar dari kamarnya, langsung kaget dan segera memejamkan matanya berlagak tidur, saat melihat Gerald melangkah masuk ke kamar lagi .
Gerald setelah masuk ke dalam, melangkah mendekati tempat tidur Rianty dan memandang Rianty cukup lama. Sepertinya memperhatikan apakah Rianty benar-benar sedang tidur.
Sesudah itu Gerald kembali duduk di tempat duduknya tadi. Kemudian melipat kedua tangannya ke dada dan melayangkan pandangannya ke Rianty lagi. Memang kebetulan kursi yang diduduki Gerald itu posisinya berada di depan Rianty.
"Ah.. kenapa dia menunggu di sini?",
desah Rianty dalam hati merasa tidak tenang lagi.
"Apakah dia akan di sini terus? Aduh aku harus bagaimana ini? pikir Rianty tambah resah setelah dia mengintip dan melihat Gerald duduk dan tidak kelihatan akan beranjak pergi dari kamarnya.
Sebenarnya Gerald tahu kalau Rianty berlagak tidur, dia bisa melihat bulu mata Rianty yang bergetar saat mengintipnya.
Entah mengapa dia senang membuat Rianty takut, dan dia ingin melihat Rianty akan bertahan di posisinya seperti itu sampai kapan.
Entah mengapa Gerald merasa senang bisa mengerjai Rianty.
********
Begitu sampai di Mansion Gerald, rasa kantuk Aldi langsung hilang.
"Wah.. rumahnya seperti istana om!", seru Aldi kagum.
Sekretaris Kim tersenyum mendengar ucapan Aldi.
"Aku harus sabar menghadapi anak ini, kalau mau mengorek keterangan dari dia", pikir sekretaris Kim dalam hati.
"Om akan membawamu keliling kalau kamu mau", sahut sekretaris Kim.
"Enggak om, mami Al bilang kalau bertamu ke tempat orang lain gak boleh suka-suka dan berkeliaran ke mana-mana, gak sopan!", sahut Aldi.
"Lho! kan om Kim yang bawa kamu keliling, gak masalah", sahut sekretaris Kim lagi.
"Ini rumahnya Om Gerald kan?", tanya Aldi lagi.
"Iya"
"Berarti Om Kim juga gak punya hak bawa Aldi keliling, Om Kim kan tamu juga?", ujar Aldi.
"Terserah kamu saja Al", sahut sekretarIs Kim kesal.
"Huh! hadapin anak ini kesabaran aku bisa habis, sok tahu dan keras kepala. Kulihat ibunya perempuan yang lembut dan sabar, ini pasti nurunin sifat bapaknya!", pikir sekretaris Kim dalam hati.
Akhirnya Sekretaris Kim langsung ke tujuan utamanya, membawa Aldi ke kamar Gerald.
Aldi merasa setelah melalui lorong yang panjang barulah mereka sampai di kamar
Gerald.
Begitu sampai di kamar Gerald, Aldi dibuat terpana lagi ketika pintunya dibuka.
Karena kamarnya begitu luas, dan di dalamnya begitu lengkap.
Memang sejak Gerald tidur terpisah dari Monica, dia sudah merenovasi kamarnya bukan hanya untuk tidur saja, jadi semua kegiatan bisa dia lakukan tanpa harus bertemu Monica. Bahkan ada alat olahraga di dalam kamar.
Jadi setiap dia sampai Mansion nya, dia sudah tidak keluar dari kamarnya lagi.
Gerald memang mengambil keputusan untuk tetap tinggal di sana, agar tidak menimbulkan banyak pertanyaan dari keluarganya maupun keluarga Monica.
Kali ini Aldi tidak bisa menahan rasa ingin tahunya lagi, akhirnya dia mengelilingi kamar Gerald.
Ketika melihat sebuah gitar yang berdiri di stand gitar, Aldi berhenti sebentar dan kali ini tidak bisa menahan keinginannya untuk menyentuh dan mengelus gitar itu
"Boleh coba gak om? gitarnya bagus sekali?", kali ini Aldi sudah lupa ajaran maminya untuk tidak sembarang menyentuh barang kepunyaan orang lain, begitu ketemu barang kesukaannya.
"Silahkan Al", sahut sekretaris Kim, dia juga ingin melihat keahlian Aldi secara langsung, bukan hanya dari YouTube. Kalau lewat YouTube biasanya sudah diedit dan sudah tidak bisa tahu keaslian suara permainannya.
Tidak lama kemudian terdengar alunan lagu "Dear God" dari permainan gitar Aldi,
Aldi memainkannya dengan lancar dan bagus. Suaranya juga bagus, maklum saja memakai gitar bagus yang harganya mungkin mencapai puluhan juta
Sekretaris Kim sampai kagum dibuatnya, dan bertepuk tangan.
"Wah, hebat sekali permainan gitarmu!", ujar sekretaris Kim memuji.
"Tuan Gerald saja mungkin tidak bisa bermain sepertimu", sambung sekretaris Kim lagi.
"Om Gerald bisa main gitar?", tanya Aldi
"Bisa. kalau enggak untuk apa punya gitar? masak cuman buat pajangan. Hanya saja permainan Tuan Gerald tidak sehebat kamu, karena waktunya sudah habis untuk mengurus bisnis", jawab sekretaris Kim.
"Oo berarti hobinya Om Gerald sama Al sama ya?", ujar Aldi semakin tertarik dan mengagumi Gerald yang menurutnya serba bisa itu.
Kemudian Aldi lanjut mengelilingi kamar Gerald lagi, rasa ingin tahunya semakin besar, karena baru kali ini dia melihat kamar yang begitu besar, lengkap dan mewah.
Aldi kemudian berhenti di meja kerja Gerald, dia tertarik dan menunjuk ke sebuah foto di meja itu.
"Ini foto siapa om? Apakah foto om Gerald masih kecil?", tanya Aldi.
Sekretaris Kim melihat ke arah foto itu mengangguk dan mengiyakan pertanyaan Aldi.
Tapi tiba-tiba sekretaris Kim tersadar akan sesuatu, ia mengambil foto berbingkai itu, untuk melihatnya dari dekat agar lebih jelas.
Tiba-tiba dia mengerti, mengapa dia saat pertama kali bertemu Aldi merasa muka Aldi begitu familiar.
Ternyata wajah Gerald waktu kecil sangat mirip dengan Aldi.
Sekretaris Kim tentu saja kaget dengan penemuannya ini, dia memandang dengan seksama ke Aldi lagi untuk memastikan.
"Ah, mukanya benar-benar mirip Tuan Gerald waktu kecil! Mungkinkah...?", pikir sekretaris Kim dalam hati.
Bersambung........
Aku sekalian ijin promosi novel ku yang berjudul PEREBUTAN KEKUASAAN by Ira. Yuk mampir kakak di jamin seru jangan lupa like dan commen
Menjadi sosok yang berbeda bukanlah hal yang baik namun tidak juga buruk. namun apa jadinya jika seorang gadis tiba-tiba bertemu dengan keluarga yang terpandang dan kaya. Namun dia harus merelakan identitas aslinya menghilang begitu saja? Aira adalah gadis yang kehilangan namanya semua orang memanggilnya dengan Aurelia sejak hari itu semua berubah, namun itu juga awal pertemuannya dengan Dekarsa bersaudara.
Zidan memiliki cacat di wajahnya hingga membuat orang-orang membencinya dan menyebutnya monster, dia di asingkan oleh orang tuanya sendiri dan karena itu ia memiliki dendam terhadap ibunya. Dia selalu kesepian sampai dia bertemu dengan sosok Aurelia yang selalu menyemangati dan mendukungnya, dia juga yang membatunya untuk tampil Tampa sebuah topeng mengerikan itu lagi.