Angel hidup dengan dendam yang membara. Kakaknya ditemukan tewas mengenaskan, dan semua bukti mengarah pada satu nama
Daren Arsenio, pria berbahaya yang juga merupakan saudara tiri dari Ken, kekasih Angel yang begitu mencintainya.
bagaimana jadinya jika ternyata Pembunuh kakaknya bukan Daren, melainkan Pria yang selama ini diam-diam terobsesi padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNUR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma Daren
Lampu ruang kerja itu masih menyala, tapi bagi Daren, dunia sudah berubah menjadi lorong gelap tanpa ujung.
Napasnya tercekik. Dinding terasa menyempit.
Suara-suara itu teriakan, benturan, darah kembali menghantam kepalanya tanpa ampun.
Daren berlutut, lalu meringkuk di bawah meja, kedua lututnya dipeluk erat. Tubuhnya bergetar hebat, jemarinya mencengkeram celana sendiri seolah jika ia melepaskan sedikit saja, semuanya akan runtuh. Air mata jatuh tanpa bisa ditahan, membasahi lantai dingin.
“Bukan aku… bukan aku…”
Suaranya parau, nyaris tak terdengar, seperti doa putus asa yang tak tahu pada siapa harus dipanjatkan.
Pandangannya kabur. Jantungnya berdegup terlalu cepat, terlalu keras seakan ingin keluar dari dadanya. Setiap tarikan napas terasa menyakitkan, seolah paru-parunya menolak udara.
Angel melangkah dengan percaya diri melewati tatapan mata para staf. pandangan sinis dan kagum sudah biasa dia dapatkan.
setelah sampai di lantai paling atas, matanya langsung tertuju pada Adrian yang berdiri kaku di depan pintu ruangan kerja CEO.
Angel melangkah mendekat menepuk bahu Adrian. "Ada apa? " tanyanya penasaran.
Adrian menoleh wajahnya yang semula tegang perkahan-lahan mulai melunak
"aku tidak tahu, tapi di dalam tuan daren sedang mengamuk. "
Angel mengernyit bingung jika tuannya sedang marah lalu apa yang Adrian lakukan di sini. toh bukanlah sudah biasa daren mengamuk, dia rasa memang pekerjaannya setiap hari hanya mengamuk dan menyakiti orang lain.
"lalu apa masalahnya? " tanya angel dengan acuh sedangkan Adrian menghela napas berat "tidak biasanya tuan daren bersikap seperti ini. "
"biarkan saja Adrian. lagi pula untuk apa kamu berdiri di depan ruangannya seperti ini. tidak ada gunanya. " Dengan acuh angel mulai melangkah menjauh meninggalkan Adrian.
namun sahutan dari Adrian membuat dia membeku di tempat.
"Trauma." Ucap Adrian dengan suara pelan, memastikan tidak ada orang lain yang bisa mendengar ucapannya.
Angel berbalik, kernyitan di dahinya menandakan bahwa dia penasaran.
"apa maksudnya? "
" Kemari! " Titah Adrian. Angel menurut kaki kecilnya kembali mendekat pada Adrian.
"Daren memiliki sebuah trauma. tapi aku tidak tahu apa traumanya dan apa yang pernah di alami. entah itu sama dengan trauma yang dimiliki ken atau berbeda. selama trauma itu kambuh dia selalu mengurung diri di ruang kerjanya. Tidak ada seorangpun yang bisa masukk ke dalam sana. " Bisik Adrian dengan suara pelan. matanya tetap waspada memandang sekeliling mereka dengan tajam.
"benarkah? " tanya Angel.
Adrian mengangguk, wajah tenangnya kembali diliputi kegelisahan. urat di leher Adrian menegang menandakan pemiliknya sedang tidak tenang.
"bisakah aku masuk? "
Adrian terpaku mendnegar perkataan angel. apa dia tidak paham dengan yang di jelaskan barusan. bahwa tidak ada siapapun yang bisa masuk ke dalam ruangan daren.
"bolehkah? " tanya angel kembali memecah lamunan Adrian.
"tidak bisa angel. ruangannya di kunci. " ucap Adrian dengan tegas.
"aku akan menemuinya, ini akan menjadi salah satu jalan lintas untukku. " seru angel dengan semangat menggebu. bibirnya tersenyum miring senyum mengerikan yang jarang muncul.
Adrian memandang angel dengan ragu, namun angel malah berdecak kesal dan mendorong Adrian menjauh dari pintu. dengan kasar membuka pintu dan cklekk. pintu terbuka dengan mudah sedangkan Adrian hanya membulatkan kedua mulut dan matanya.
"ckkk.. kau bilang di kunci lalu ini apa lihatt! " dengan kesal angel membuka pintu ruangan bertuliskan CEO itu lalu menutupnya kembali dengan kasar.
Mata hitamnya menyapu sekeliling ruangan daren, tapi tidak di temukan sosok daren di sana. Hanya ada keheningan yang mencekam.
"Tuan daren. " panggil angel dengan suara pelan. hatinya mulai tak tenang, debaran jantungnya bahkan terdengar menggila di ruangan yang sepi ini.
"Tuan daren" panggilnya kembali, tapi tidak ada sahutan sama sekali. apakah Adrian sudah berani membohongi dirinya.
"tidak ada siapapun di sini, sekedar nyamuk pun tidak ada. " gumam angel dengan kesal.
saat keluar nanti ia berjanji akan membogem Adrian dengan kuat berani beraninya dia membual bahkan membuat karangan palsu yang seperti nyata. Tubuhnya hendak berbalik namun tanpa sengaja matanya menemukan Daren yang sedang meringkuk dengan batu bergetar di bawah kolong meja. kedua tangan kokoh pria itu menutupi telinganya.
Angel menyipitkan matanya memastikan bahwa itu adalah Daren. setelah yakin dia melangkah setengah berlari, kedua lututnya dia tekuk menyamakan posisinya dengan posisi daren.
"tuan.. tuan daren. " panggil angel pelan
Ia berlutut perlahan, tak berani membuat gerakan tiba-tiba. Di hadapannya, pria yang selalu terlihat dingin dan tak tersentuh itu kini hancur, matanya merah, wajahnya pucat, tubuhnya menggigil seperti anak kecil yang ketakutan.
“Hey… aku di sini,” bisik Angel lembut, tangannya terulur namun berhenti beberapa senti dari tubuh Daren. “Kamu aman. Daren, dengar aku… ini aku, Angel.”
Daren menggeleng keras.
“Pergi… jangan dekat-dekat… aku tidak mau melihat darah lagi…”
Tangisnya pecah. Bahunya naik turun tak terkendali.
Angel tak tahan lagi. Ia mendekat, lalu memeluk Daren erat, mengabaikan tubuh itu yang sempat menegang. Tangannya mengusap punggung Daren berulang kali, pelan, penuh kesabaran.
“Lihat aku,” katanya sambil menahan air mata. “Kamu berada di ruang kerjamu sendiri. tidak ada siapa-siapa yang akan menyakitimu. Semuanya sudah berlalu.”
Daren mencengkeram jas Angel kuat-kuat, seolah Angel adalah satu-satunya hal yang menahannya tetap hidup. Tangisnya menggema di dada wanita itu liar, patah, penuh ketakutan yang disimpan bertahun-tahun.
“Aku, akuu--, Angel…” suaranya pecah. “Aku takut… aku selalu takut…”
Angel menutup mata, air matanya akhirnya jatuh.
“Aku tahu,” bisiknya sambil memeluk lebih erat. “Dan kamu tidak sendirian lagi. Aku di sini. Aku tidak akan pergi.”
Di bawah meja itu, di tengah trauma yang masih membekas, Daren akhirnya membiarkan dirinya rapuh untuk pertama kalinya, di hadapan seseorang yang bahkan berniat membalaskan dendam padanya.
"tenang lahh. oke.. " kedua tangan angel masih mengelus punggung daren, setelah sekian lama akhirnya punggung itu mulai tenang. Tidak ada lagi isakan akan yang lolos dari mulut daren.
"tuan" panggil angel pelan. tidak ada sahutan
"tuann." panggilnya lagi namun daren masih sama sekali belum bersuara. Napasnya mulai teratur.
Karena sudah mulai merasa kesal, dengan kasar angel melepaskan daren dari pelukannya. kedua matanya membulat melihat daren yang sudah tertidur pulas. Dia menahan berat tubuhnya dengan tersiksa sedangkan sang empu malah menikmati kenyamanan itu tanpa ada rasa bersalah.