Seoson 1.
Cilla Andini harus berjuang seorang diri membesarkan anaknya, Aji Putra. Tapi siapa yang sangka jika Aji kecil ternyata adalah seorang anak yang genius. Berkat kegeniusannya, Aji sering membantu mamanya terbebas dari suatu masalah.
Suatu hari, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang ternyata dia adalah ayah biologis Aji.
Bagaimana sikap Aji pada orang tersebut?
Apakah Aji bahagia atau amarah dan dendam lebih menguasai hatinya?
Seosen 2.
Aji hilang ingatan saat pesawat terbang yang dia tumpangi meledak karena dibajak para mafia. Luka diwajahnya yang terlalu parah, mengharuskannya untuk operasi plastik.
Saat datang ke Indonesia, samar-samar ingatannya kembali lagi tapi belum sempurna. Dia merasa pusing dan kesehatannya menurun, sehingga harus di rawat di rumah sakit.
Akankah ingatan Aji kembali?
Bagaimana nasib keluarga Aji di Indonesia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Anakku
"Jangan bilang kalau kamu itu punya kelainan ya!" teriak mami Rossa sambil mengeleng dan wajah memerah karena marah
Gilang melotot kaget mendengar perkataan mami Rossa. Dia mengeleng-gelengkan kepalanya, kemudian melangkah untuk duduk pada sofa yang ada di depan kamarnya Cilla. Aji yang masih mengantuk dia pangku untuk mendapatkan posisi yang nyaman.
"Katakan Gilang, Dia anaknya siapa? Kenapa ada sama kamu?" tanya mami Rossa ingin tahu. Dia tidak ingin anaknya itu menjadi penjahat kelamin. Apalagi dengan memiliki kelainan sek, pedofil.
"Apa karena ini juga dia tidak pernah mau jika aku kenalkan dengan gadis-gadis cantik yang lebih berkelas?" tanya mami Rossa dalam hati.
"Sejak kapan Gilang menderita kelainan ini? Kenapa aku baru tahu sekarang," tanya mami Rossa lagi di dalam hatinya sendiri.
"Dia Aji, anakku. Dia anaknya Gilang Mi."
Gilang mengatakan semuanya pada mami Rossa. Tapi tentunya mami Rossa tidak percaya begitu saja tanpa bukti. Apalagi ini mendadak dan tidak pernah terpikirkan olehnya sedikit pun.
"Mami tidak percaya. Katakan saja pada Mami jika iya, biar kita pergi berobat. Kamu harus terapi Gilang!"
Mami Rossa masih tetap tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh anaknya, Gilang. Dia berpikir jika anaknya itu menculik anak-anak dan memanfaatkan mereka di apartemen miliknya ini. Tentu dia akan bebas dari sorotan, secara apartemen ini tidak bisa dimasuki sembarang orang selain Gilang sendiri yang mengajak dan mengijinkannya.
"Dia anakku. Dia anaknya Gilang Mi!" Gilang tetap pada jawaban yang sama.
"Tadinya, aku ingin mengatakan semuanya saat ada bukti yang cukup akurat dan kuat untuk menjelaskannya. Tapi sekarang karena Mami sudah tahu lebih dulu, nanti Gilang akan jelaskan apa yang sebenarnya terjadi." Gilang melanjutkan kata-katanya yang tadi.
"Apa. Apa yang mau kamu jelaskan?" tanya mami Rossa mendesak agar anaknya itu bercerita.
"Coba Mami perhatikan. Apa tidak ada kemiripan diantara kami berdua?" tanya Gilang pada maminya itu.
Mami Rossa mengalihkan pandangannya dari Gilang ke arah Aji. Dia mengerutkan keningnya dan kaget saat mengingat jika anak yang sekarang ada dipangkuan anaknya itu adalah anak yang mereka temui di kamar istirahat toko. Anaknya Cilla.
"Dia... Dia kan anaknya Cilla Gilang? Mana mungkin bisa dia anakmu? Kamu jangan bikin alasan yang tidak-tidak," kata mami Rossa mengeleng tidak percaya.
"Iya dia anaknya Cilla. Tapi dia juga anakku Mi!" jawab Gilang masih tetap sama dengan jawabannya yang tadi.
"Sebenarnya, Gilang ingin memberitahu soal ini nanti, saat tes DNA yang aku lakukan keluar tiga minggu lagi. Tapi ternyata Mami malah kemari duluan. Ya sudah, Gilang akan kasih tahu sekarang saja." Gilang melanjutkan kata-katanya untuk menerangkan pada maminya.
"Sebentar. Mami pikir jika apa yang kamu katakan itu benar, dan kamu bukan menculiknya untuk kamu pakai, tentu saja di sini ada Cilla. Apalagi Cilla sudah keluar dari toko. Atau jangan-jangan ini sebabnya Cilla keluar dari toko?" Mami Rossa bertanya apa yang menjadi kemungkinan-kemungkinan yang ada dan yang dia pikirkan.
"Kalau tidak ada Cilla di apartemen ini, Mami akan ajak kamu untuk berobat. Dih, Mami tidak habis pikir dengan apa yang kamu lakukan ini Gilang!" Mami Rossa masih saja tidak percaya dan mengeluh tentang apa yang dia pikirkan tentang kelainan yang dilakukan oleh anaknya itu.
"Aku ada di sini Mami Rossa."
Tiba-tiba Cilla keluar dari kamar yang ada didepannya. Mami Rossa tentu sangat terkejut dengan kedatangan Cilla, tapi dia juga merasa senang dan lega karena apa yang dia pikirkan tentang anaknya itu tidak benar dan juga salah. Tapi kenapa tiba-tiba anaknya Cilla juga anaknya Gilang? Apa yang sebenarnya terjadi dan disembunyikan? Bagaimana bisa semua ini terjadi?
Mami Rossa bertanya-tanya dalam hati. Dia tidak pernah menyangka jika dia sudah memiliki cucu. Mami Rossa suka pada Aji sebagai anaknya Cilla tapi sebagai anaknya Gilang, dan itu cucunya juga, dia tidak tahu harus bagaimana menyatakan perasaannya sendiri saat ini.
"Duduk Cilla!" kata mami Rossa meminta Cilla yang masih berdiri didepan pintu kamar untuk ikut duduk di sofa.
Cilla menurut. Dia melangkah ke arah sofa dan duduk di sofa singel yang ada di sebelah mami Rossa dan itu ada di depan Gilang.
"Bisa kamu ceritakan bagaimana bisa anakmu ini adalah anaknya Gilang, dan itu artinya anakmu adalah cucu Mami?" tanya mami Rossa pada Cilla yang menundukkan wajahnya.
Cilla tidak berani menatap ke arah mami Rossa maupun Gilang. Sekilas, dia melihat Aji yang masih tertidur pulas di pangkuan Gilang.
"Cilla..." panggil mami Rossa.
"Saya... Saya..." Cilla tidak bisa berkata-kata. Dia tidak mampu bercerita tentang kejadian yang dulu. Dia tidak bisa.
"Mi. Nanti saat tes DNA itu keluar, Mami ikut juga datang. Biar dokter yang menjelaskan. Yang pasti, Aji ini adalah anakku."
Gilang membantu Cilla menjawab pertanyaan dari mami Rossa. Tapi tentu saja itu tidak membuat mami Rossa puas. Dia ingin jawaban yang pasti dan rinci mengenai kejadian yang membuat Cilla memiliki anak dari Gilang. Padahal selama ini, anaknya itu terkesan dingin dengan gadis-gadis yang dia perkenalkan. Bahkan terdengar isu jika anaknya itu penyuka sesama karena sering masuk Club tanpa berkencan dengan wanita manapun.
"Cilla. Bawa Aji tidur ke kamar!" Gilang meminta Cilla untuk membawa Aji ke kamar tidur lagi. Dia ingin bercerita pada mami Rossa tentang kejadian malam itu. Tapi dia juga tidak ingin Aji ikut mendengarkan. Meskipun posisi Aji sedang tidur, Gilang tidak mau jika itu hanya siasat Aji saja.
Cilla berdiri dan mengambil Aji yang masih tertidur. Dia mengendong Aji untuk dipindahkan ke dalam kamarnya, tapi belum sampai masuk, Gilang menegurnya. " Tidurkan dikamarku. Nanti jika dia bangun malah bingung dan banyak bertanya lagi."
Cilla menurut dan masuk ke dalam kamar Gilang. Kamar yang bernuansa Man ini benar-benar terasa dingin. Tapi Cilla kaget saat mencium aroma pengharum ruangan yang ada dikamar tersebut. Bau parfumnya, aroma Lilac.
Cilla buru-buru menaruh Aji ke tempat tidur. Dia segera keluar dari kamar agar tidak terjebak dalam keadaan yang tidak dia inginkan. Kini dia kembali melangkah mendekat ke arah kedua orang yang sedang menunggunya, terutama mami Rossa yang ingin mendengar semua cerita dari kedua orang yang ada di depannya saat ini. Gilang, anaknya dan Cilla, mantan karyawan toko miliknya yang ada di Mall.
"Sekarang ceritakan pada Mami, apa yang sebenarnya terjadi antara kalian berdua hingga kini ada Aji. Dan itu tanpa sepengetahuan Mami, bahkan Gilang juga tidak pernah mengetahuinya juga!"
Mami Rossa ingin keduanya bercerita. Mami Rossa ingin tahu, karena ini menyangkut masa depan anaknya yang sangat dia banggakan itu.