Sebuah spin off dari novel CINTA WINARSIH
Baca. Karya ini beda. Pasti suka. Lalu, jatuh cinta.
Selamat datang di dunia imajinasi juskelapa.
***
Sebuah keresahan menerpa tiga ayah muda tampan, kala sebutan 'Genk Duda Akut' itu melekat dalam persahabatan mereka. Bagaimana tak resah? Yang duda hanya seorang, kenapa yang lainnya harus turut dipanggil dengan sebutan sama?
Mampukah tiga pria tampan beristri ini mencarikan seorang wanita bagi sahabat mereka tanpa tersandung masalah dengan istri sendiri?
originally story by juskelapa ©2021
Instagram : @juskelapa_
Facebook : Anda Juskelapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juskelapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Adu Ketahanan Mental (2)
Toni pasti sudah buta, pikir Dean. Sudah jelas-jelas sekretarisnya itu terlihat begitu menyukai temannya sendiri, tapi sahabatnya itu selalu menyangkal. Dean tidak mengharapkan apapun, ia hanya ingin Toni mengakuinya. Itu saja. Titik.
Dean baru tiba di kantor Toni dan ia sedkit heran dengan ketidakhadiran sahabatnya di sana. Di antara mereka semua, Toni adalah sosok yang paling setia kawan. Ia lebih mudah meluangkan waktu sejak dulu, dibanding mereka semua. Toni juga jarang berpacaran. Toni selalu menyebut wanita yang bersamanya dengan ‘sekedar jalan’.
Selama Toni menduda, tiga orang sahabatnya sering mengingatkan soal pentingnya hubungan jangka panjang. Namun, Toni selalui berkilah. Selalu tertutup tentang wanita yang dikencaninya. Dan satu hal yang tak bisa mereka pungkiri bahwa, Toni adalah pria dewasa yang bebas. Selama dia bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya, para sahabat tak berhak mengatur hidupnya. Ada batas yang tak bisa mereka lewati sebagai sahabat.
Mereka semua tak akan berbuat apapun, sampai seseorang meminta bantuan seseorang lainnya.
Sore itu, membiarkan Dean menunggu, bukan ciri khas Toni. Dean merasa ada yang aneh. Sejak ia keluar dari lift dan pandangannya bertumbuk dengan Musdalifah, ia merasa sesuatu akan terjadi. Dan ternyata, apa yang diperkirakannya benar.
“Ngapain kamu di sini?” tanya Dean pada Tasya. Mantan pacar Toni itu duduk menyilangkan kaki dan membaca majalah bisnis. Dean masih berdiri di depan pintu dengan kedua tangan berada di sakunya.
“Ih, kok nanyanya gitu? Sadis banget. Nemuin mas Toni dong …” jawab Tasya.
“Emang ada urusan apa lagi sih, ama Toni?” tanya Dean dengan wajah sebal. Ia sebal pada Tasya. Terlalu kekanak-kanakan. Padahal usianya hanya selisih satu tahun dengan Winarsih.
“Ada yang mau aku omongin. Memangnya gak boleh?” Tasya balik menantang Dean.
Dean memalingkan wajahnya sejenak dan melangkah ke arah sofa. Ia duduk di bagian ujung sofa berbentuk L. Paling dekat dengan pintu. Sedangkan Tasya duduk di bagian ujung satunya lagi.
Dean melemparkan tatapan tak suka pada Tasya. Dan gadis itu, kembali membalas tatapannya dengan cibiran.
“Memangnya kamu mau ngomongin apa lagi? Toni sebentar lagi bakal nikah,” ucap Dean santai. Ia kemudian mengambil sebuah majalah bisnis dan ikut menyilangkan kakinya dengan elegan.
“Gak mungkin! Gak percaya aku. Dengan siapa?” tanya Tasya.
“Gak percaya tapi nanya dengan siapa,” dengus Dean. “Sekali mantan ya tetap mantan, Tasya …” sambung Dean.
“Aku hampir dua tahun jalanin dengan Mas Toni.”
“Yah, terus mau apa? Mau disambung jadi lima tahun? Mau top up kredit?”
“Aku nggak percaya mas Toni mau nikah lagi,” ujar Tasya lagi.
“Wah, sama ternyata penyakitnya.” Dean menurunkan majalah yang sejak tadi hanya ia bolak balik. “Trus? Kamu jadikan waktu hampir dua tahun itu untuk nahan-nahan Toni? Kamu kira dia kasi kamu ini-itu karena masih sayang? Bukan! Jangan geer kamu. Itu biar kamu gak berisik. Yang dia kasi ke kamu itu belum ada apa-apanya. Toni kaya. Harusnya kamu minta lebih banyak lagi. Kalo dia ngasi sertifikat rumahnya, saham perusahaan, baru artinya dia cinta kamu. Dia bakal jadi gembel kalo ngelepasin kamu gitu aja,” ujar Dean berdecak kemudian mengendurkan dasinya. Tampaknya hari ini dia harus memberi waktu untuk Tasya berkonsultasi gratis.
“Aku tau mas Toni masih sayang—”
“Ngapain putus kalo masih sayang? Dia yang mutusin, kan?”
“Udah, ah Mas … Mas Dean gak usah ikut campur.” Tasya kembali membuka majalahnya.
“Toni—bakal—menikah. Ngerti gak kamu?” tanya Dean mulai emosi. Kalau saja Tasya itu adiknya, ia pasti akan menempeleng kepala wanita itu.
“Sama siapa? Aku, kan tadi nanya. Sama perempuan yang—” Perkataannya berhenti.
“No—kamu kira perempuan cantik yang keluar kamar bareng dia? No. Toni bakal kembali dengan mantan istrinya. Jadi, kamu gak usah ke sini lagi. Biarlah Toni hidup tenang dan bahagia. Lagi pula, selama menjalin hubungan dengan dia, kamu gak ada diapa-apain, kan? " Dean meneliti raut Tasya dengan seksama.
"Dari wajah kamu, jawabannya pasti no. Nah ... Toni tau kamu cewe baik-baik, Tasya ….”
“Aku masih sayang sama mas Toni.”
“Nyatanya, Toni enggak. Toni gak sayang kamu,” sergah Dean.
“Tapi katanya mas Toni juga sayang, makanya dia mau aku bahagia. Ngebebasin aku. Kata mas Toni selama ini aku gak bahagia karena bareng dia.” Tasya sudah hampir menangis.
“Hahaha—” Dean tertawa terbahak-bahak. “Si anjing alasannya gak pernah berubah.” Dean bergumam dan melanjutkan tawanya.
Tasya akhirnya menangis karena merasa diolok-olok oleh Dean.
“Mas sebenarnya gak berhak ngomong gitu ke aku. Ini urusan aku dan mas Toni. Mas Dean tau apa—”
“Mas Dean ini tau banyak. Tau banyak. Kamu yang nggak tau,” potong Dean. “Aku cuma bantu menyederhanakan hal ini untuk kamu dan Toni. Konsultasi ini gratis. Sekarang dengerin aku ….” Dean memajukan letak duduknya.
Tasya terisak. Namun Dean tak peduli. Ia sudah bosan dengan drama panjang kisah Toni-Tasya yang dinilainya basi dan tak ada habis-habisnya. Sudah tak ada hubungan, tapi masih merajuk dan meminta ini-itu.
“Denger Tasya … aku ini temennya Toni. Selama kamu pacaran sama dia, aku gak pernah memberi pendapat pribadiku. Itu hak Toni. Nah setelah kalian putus, aku rasa hidup kalian kembali seperti semula. Dan aku rasa, waktunya kalian bersama udah selesai. Toni gak pernah berhenti mencintai Wulan barang sehari pun. Gak pernah.”
Tangis Tasya semakin keras.
“Aku masih mau ngomong lho …” ucap Dean kemudian menghela napas. “Toni itu hanya perlu trigger untuk bisa kembali ke istrinya. Mungkin selama ini, pikirannya sepolos kamu. Wulan gak akan bisa ke lain hati. Tapi itu gak mungkin. Semua manusia punya limit untuk mengenang. Seandainya aku meninggal, istriku pasti—” Dean berhenti sejenak untuk berpikir.
Perumpamaan yang akan ia ucapkan terdengar kurang enak. Mengibaratkan ia ditinggal Winarsih pun rasanya tak menyenangkan. Hidupnya pasti kacau sekali. Anaknya bersama Winarsih banyak. Bagaimana kalau Winarsih tiba-tiba pergi meninggalkannya? Dean merinding.
“Oke, aku lanjutin. Ganti contoh. Seandainya si Mus meninggal, gak mungkin pacar atau suaminya gak nikah lagi. Itu gak mungkin,” ujar Dean yakin.
“Aku masih sayang,” isak Tasya. “Aku gak rela kalo mas Toni nikah lagi,” sambung Tasya.
“Jadi Toni disuruh ngapain seumur hidupnya? Bertapa di bawah beringin? Atau dia membelah diri biar bisa punya keturunan?”
“Aku, kan juga perempuan, Mas …” lirih Tasya yang sekarang memangku sekotak tisu.
“Ih! Udah ah! Terserah! Jangan nangis-nangis. Entar dikira orang, aku ngapa-ngapain kamu. Kamu masih muda, cantik, masa doyannya duda? Selisih 9 tahun, mau ngapain kamu dengan laki-laki usia matang segitu?” Dean langsung membayangkan jika ia menanyakan hal itu pada Winarsih yang memiliki selisih usia delapan tahun dengannya.
Mau berbuat apa dengan laki-laki usia segitu? Dean hampir tertawa karena kata-katanya sendiri. Dean sendiri sampai lupa, ia dan istrinya sudah melakukan apa saja. Banyak pokoknya. Anak mereka saja, sekarang sudah hampir empat.
Tasya masih menangis. Kemudian pintu yang terbuka diketuk dua kali. Musdalifah muncul dengan nampan kecil berisi dua cangkir teh.
“Kandungan asam amino di dalam secangkir green tea bisa membantu orang menjadi lebih tenang, saat mereka dalam keadaan stress dan tertekan. Juga bisa membangun suasana hati lebih baik. Saya permisi.” Musdalifah mundur kemudian berlalu dari ruangan itu.
“Teh?” Dean mengangkat satu cangkir dan menawari Tasya. Padahal ia berbicara dengan nada lembut, tapi Tasya berdiri dengan wajah basah dan meraih tasnya. Wanita itu pergi berjalan keluar ruangan. Dean hanya mengangkat bahu kemudian menyesap teh hangat.
15 menit kemudian, saat Dean tengah menggulir layar ponselnya, Toni tiba sedikit terburu-buru.
“Woi!” sapa Toni. Dean mendongak.
“Lo didatengin fans tadi!” Dean meringis.
“Untungnya lo dateng lebih awal. Kalo gak ….” Toni mengangkat bahunya. “Susah banget jelasin ke Tasya itu. Ampun gue!”
“Gue dateng lebih awal?” Dean mengangkat alisnya. Tiba-tiba ia merasa baru saja dimanfaatkan. Dean melontarkan tatapan sinis pada perempuan yang berada di balik tubuh Toni sambil memeluk clear holder-nya.
To Be Continued
aaaampuuun dah dean..
hahahahahahahahaha
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣