Spion Off "Tuan Muda Amnesia"
Di hari yang seharusnya menjadi momen terindah, kabar buruk menyergap kediaman Alexander. Calon mempelai putra sulung mereka menghilang, tanpa jejak, tanpa pesan.
Namun, upacara tetap disiapkan, tamu tetap berdatangan, akan tetapi kursi di samping Liam Alexander kosong. Liam bersikeras menunggu, meski semua orang mendesaknya untuk menerima kenyataan.
Semakin lama Liam bertahan, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tak beres, dan hilangnya calon istrinya bukanlah kejadian kebetulan
Follow instagram @Tantye untuk informasi seputar novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencurigai semua orang
Usai membaca tulis tangan Arumi yang merupakan sebuah keluhan, kini Liam mendapatkan sedikit gambaran tentang pelaku. Bisa saja orang tersebut sangat dekat dengan Arumi sehingga wanitanya tidak enak jika harus menegur atau memarahinya. Mengingat Arumi adalah tipe manusia tidak enakan pada orang-orang di sekitarnya.
Pria itu keluar dari ruangan Arumi, mencari keberadaan Sevia untuk mempertanyakan sesuatu. Gerakan bibirnya yang hendak memanggil Sevia ia urungkan melihat gerak-gerik asisten kekasihnya tampak Aneh.
Wanita itu celingak-celinguk seolah memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Liam pun mengikuti kemana Sevia pergi. Ia membuka pintu ruang kontrol sangat pelan sehingga melihat dengan sendirinya Sevia mengotak-atik cctv secara terburu-buru.
"Apa yang kamu lakukan Sevia!" tanya Liam yang kini membuka pintu lebar-lebar, membuat wanita dihadapannya tersentak.
"Tu-tuan Liam," ucapnya gugup. "Saya-saya sedang mencari tahu siapa saja yang ...."
"Tapi kamu baru saja menghapus rekaman cctv Sevia!"
Rahang Liam mengeras, berjalan mendekat sampai Sevia terpojok pada meja komputer. Emosinya tidak stabil akhir-akhir ini dan ia paling tidak suka jika ada seseorang yang mencurigakan berada di sekitarnya.
"Apa yang kau sembunyikan, hm?"
Sevia mengeleng, keringat di kening mulai bermunculan satu persatu mendapati tatapan tajam Liam.
"Saya tidak menyembunyikan apapun Tuan. Saya berani bersumpah."
"Kamu saya pecat!"
"Tapi Tuan ...."
Liam tidak memberi waktu untuk Sevia bicara. Dia kembali ke ruangan Arumi dan mencari hal yang mungkin bisa menjadi petunjuk selanjutnya. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis melihat layar depan laptop Arumi adalah foto mereka berdua.
Foto di mana saat mereka bepergian berdua ke sebuah bukit, mengingatkan Liam akan kenangan keduanya yang duduk di rumah pohon tidak terlalu besar, menikmati pemandangan alam. Arumi bersandar di dadanya dan membaca novel romantis. Kaki keduanya terbungkus kain tidak terlalu tebal. Sesekali Liam mencium kening Arumi dan tertawa bersama.
"Hanya aku yang tahu tempat ini mas, tempatnya indah dan nyaman bukan?"
"Iya Sayang, dan sekarang bukan hanya kamu tapi mas juga tahu tempat ini berkatmu."
"Oh iya." Arumi tertawa lebar, terlebih keningnya kembali dikecup manja oleh Liam. "Dan awas saja kalau ada orang selain kita yang tahu," lanjutnya dengan mimik wajah dibiarkan galak.
Kenangan manis itu terus berputar di pikiran Liam membuat sejenak perasaanya membaik setelah berhari-hari terbelenggu dengan kecurigaan orang sekitarnya.
"Bagus banget fotonya, ini dimana?" celetuk seorang pria berhasil mengambil kesadaran Liam.
"Kamu ngapain di sini? Bukannya sebentar malam adalah pesta pernikahanmu?"
"Justru karena itu aku datang."
"Kenapa?" Kening Liam mengerut.
"Pakai nanya lagi, aturannya sebelum salah satu dari kita menikah, kita harus memperkenalkan satu sama lain."
"Sorry aku terlalu sibuk sampai melupakan kesepakatan." Liam menutup laptop Arumi dan mengajak Seaven meninggalkan studio.
"Aku tahu nggak mudah keluar dari rasa sakit, tapi nggak harus terbelenggu kan?" ujar Seaven dengan nada candaan.
Selalu saja jika bepergian berdua Seaven akan mendapatkan jatah menyetir sebab Liam paling anti akan hal itu, kecuali pergi bersama Arumi.
"Aku baru saja memecat Sevia," lirih Liam sembari menyandarkan punggungnya pada jok mobil.
"Loh? Terus studio Arumi bagaimana? Kok kamu pecat sih?"
"Aku memergokinya mengacak-acak rekaman cctv di studio. Salah nggak kalau aku curiga padanya?" Kali ini Liam menatap Seaven yang tampak fokus pada jalanan.
"Nggak salah, tapi nggak seharuanya kamu curigaan ke semua orang Liam. Dulu adikmu, sekarang Sevia yang sudah seperti saudara Arumi. Apa mungkin selanjutnya kamu akan mencurigaiku?"
....
Bab ini pendek banget, yang penting ibu bucin up dulu. Tadi benar-benar nggak bisa curi-curi waktu di tempat kerja sakin sibuknya😔
jijik