Melati harus menelan pil pahit ketika dirinya harus di benci oleh suaminya.
Kesalahan melati di masa lalu, membuatnya mau tak mau menerima luka demi luka akibat pernikahannya yang berawal dari fitnah yang ia lakukan terhadap Faisal.
Duka demi duka ia lalui.
Pedih demi kepedihan ia lewati.
Hingga ia tak tahan dan memilih pergi.
Sayangnya, keputusannya untuk pergi menjauh, membuatnya menyesali segalanya.
Untuk kembali pun, Melati tak lagi memiliki nyali.
Hatinya seakan mati seiring penyiksaan yang Faisal lakukan terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Pagi ini, gerimis berjatuhan lirih di sertai desah angin yang cukup menusuk tulang. Langit mendung betapa melukiskan besarnya kepedihan bumi pagi ini.
Suasana hening dengan beberapa Isak tangis mengalun mengerikan di pemakaman keluarga Winata.
Jejak-jejak tetesan pelan air hujan, di sertai semerbak harum bunga pemakaman, melengkapi suasana berkabung keluarga Pramono.
Malam tadi, usai pernikahan Fian-Melati di gelar secara mendadak dan di percepat, pagi ini tergantikan dengan duka atas meninggalnya Rianti, menantu Pramono.
Di sisi kiri makam Rianti, Faisal bersimpuh dengan mengusap pelan batu Nissan dengan ukiran indah nama Rianti.
Ada banyak kata yang tak mampu ia bahasa kan.
Ada banyak kalimat yang tak mampu ia ucapkan.
Ada banyak sajak yang tak mampu ia ungkapkan.
Semua berjalan begitu cepat. Ia tak menyangka Rianti akan se-terpukul itu. Pantas saja.
Memangnya istri mana yang akan baik-baik saja saat suaminya sendiri mengungkapkan, bahwa suaminya telah memperkosa wanita lain demi bisa memilikinya?
Kini, Faisal hanya bisa menyesali kebodohannya.
Tak jauh dari Faisal, Pram, Ratri dan Fian berdiri menunggui Faisal yang tak kunjung bangkit.
Sebenci apapun orang tua terhadap anaknya atas kebodohan anaknya, mereka tetaplah orang tua yang tak akan meninggalkan anaknya dalam keadaan terpuruk.
Hanya saja, mereka masih kecewa.
"Ayo pulang, nak. Kasihan putri sama Risti sudah menunggumu. Mereka juga butuh kasih sayangmu"
Pandangan mata sembab Faisal beralih pada keluarganya yang masih tersisa di pemakaman. Setelan hitam-hitam, mendominasi mereka saat ini.
Maka, Faisal segera bangkit dan menatap keluarganya bergantian.
Melati tidak hadir.
Pantas sudah.
Faisal sendiri yang memancing kemarahan wanita itu terhadapnya.
"Bapak, Fian.... Dan ibu.... Faisal minta maaf".
Lirihnya. Tanpa menjawab, Pramono dan Fian segera berlalu meninggalkan Faisal tanpa peduli.
Ratri kembali menumpahkan air matanya.
"Yang sabar, le. Bapak dan adikmu butuh waktu. Mereka masih kecewa terhadapmu.
Ibu yakin, seiring berjalannya waktu, mereka pasti mengerti. Kamu harus sabar dan banyak-banyak berdoa. Jangan ulangi lagi kesalahanmu. Ikhlaskan Melati. Dia sudah menjadi adik ipar mu sekarang".
Ratri mengusap pelan bahu dan lengan putranya menguatkan.
"Iya, Bu. Ibu pulanglah dulu. Bapak dan Fian sudah menunggu. Faisal ingin sendiri".
Tanah pemakaman masihlah sangat basah. Faisal semakin terpukul dengan kenyataan ini.
Sikap keluarganya yang sudah telanjur kecewa terhadapnya, membuahkan sebuah tekad kuat untuknya memutuskan sesuatu.
Dengan menggenggam erat tanah pemakaman rianti yang masih basah, Faisal menggumam lirih.
"Saya berjanji akan membahagiakan anak-anak kita, Rianti. Saya akan bawa mereka pergi jauh dari sini. Membuka lembaran baru. Mungkin, saya tak akan sering-sering kemari mengunjungimu, tapi saya usahakan, saya akan membuat kamu bahagia dengan merawat anak kita dengan baik".
Lantas, langkah Faisal mantap meninggalkan tempat pemakaman umum. Wajahnya sendi dengan mata sembabnya. Bagaimana pun, Rianti telah menemani dirinya selama satu dekade.
~~
~~
"Melati....."
Melati lantas menoleh dan mendapati pria yang telah menjadi suaminya ini. Senyum kaku tercetak di wajahnya.
Setelah mendengar kabar tadi pagi tentang meninggalnya Rianti, Fian melarang Melati untuk datang. Hal itu tentu saja di dasari oleh rasa enggan mempertemukan Melati-Faisal.
"I..injeh, mas".
"Mikirin apa?".
Fian mendudukkan dirinya di samping Melati. Saat ini, mereka tengah duduk berdampingan di sofa ujung ranjang Mereka.
Malam tadi, meski mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri, tak menjadikan Fian lantas lancang menggumuli istrinya. Ia sadar bahwa Melati, tidak siap melayani nya karena musibah yang di alami istrinya siang kemarin.
Bahkan, Fian dan Melati berpindah ke kamar tamu yang tentu saja, berukuran lebih kecil di banding kamar Fian. Fian tak mau istrinya merasa tak nyaman akibat teringat akan kejadian kemarin siang di kamarnya.
"Tidak ada, mas".
"Jangan bohong".
Diam. Nyatanya, yang diucapkan Fian benar adanya.
"Saya... hanya sungkan tidak datang ke pemakaman mbak Rianti".
Fian menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan Melati. Kemudian lengan sebelahnya melingkar di bahu Melati.
Melati gugup dan kaku setengah mati. Tubuhnya menegang. Mungkin, karena pengaruh trauma akan sentuhan setelah Faisal melecehkannya dengan sangat kejam. Sendi-sendi Melati seperti kaku seketika.
"Jangan tegang. Saya tidak akan menyentuhmu sebelum kamu benar-benar siap menyerahkan diri kamu untuk saya. Saya mencintaimu, Melati. Dari dulu hingga kini, dan nanti. Saya tak akan menyakitimu".
Lirih Fian sembari merebahkan kepala istrinya ke bahunya dengan perlahan.
Dalam diam, Melati menangis lirih, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar isakannya tak keluar.
Hatinya tersentuh oleh perlakuan Fian yang begitu menghargai dan menghormatinya sebagai seorang wanita.
Hal itu tentu memunculkan reaksi kuat, sebuah tekad untuk membahagiakan Fian dengan sisa-sisa kehormatannya yang tersisa.
~~
~~
Ini adalah hari ke dua belas setelah meninggal nya rianti.
Faisal tengah mengajukan surat mutasi ke kantornya. Ia ingin pergi jauh. Alasannya, karena keluarganya begitu kecewa padanya, seolah tak memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri.
Bahkan, hingga tujuh hari acara tahlil Rianti, Baik Fian dan Pram tak kunjung bicara padanya, meski dirinya telah mendapat balasan yang setimpal, Faisal berusaha berbicara baik-baik dengan mereka.
Pintu untuk Faisal seperti tertutup dalam keluarga Winata.
Hanya Ratri yang bersikap biasa saja dan tak mengabaikannya. Sebagai seorang ibu, tentu Ratri tak bisa mengabaikan putranya begitu saja. Terlebih saat ini, Faisal tengah dalam keadaan terpuruk.
Setibanya Faisal di rumah setelah jam kantor usai, Faisal segera menemui kedua putrinya yang dalam pengasuhan mbok Ijah.
"Mbok.... ".
Mbok Ijah terkejut akan kemunculan Faisal yang secara tiba-tiba.
"Anak-anak mana, mbok?".
"Non putri masih belum pulang dari tempat ngaji nya, ndoro. Non Risti nya nya, baru saja tidur".
Jawab mbok Ijah lembut.
"Saya ingin bicara dengan simbok. Ikut saya".
Mbok Ijah hanya mengangguk dan mengekor di belakang Faisal.
Setelah mereka tiba di ruang keluarga, Faisal mengungkapkan apa yang akan menjadi tujuannya setelah ini.
"Saya.... Setelah ini saya akan pergi jauh setelah surat mutasi saya di kantor di terima, mbok."
Mbok Ijah tak bisa menyembunyikan rona keterkejutannya.
"Ma...maksud ndoro?".
"Mbok terpaksa saya pulangkan ke kediaman bapak dan ibu setelah saya pergi nanti. Tapi tolong, mbok. Tolong saya. Jangan beritahu siapapun mengenai hal ini sebelum saya benar-benar pergi".
Mata mbok Ijah sudah berkaca-kaca. Dirinya sudah menjadi pengasuh Faisal sejak Faisal balita. Membayangkan kini ia harus berpisah dari majikannya, membuat mbok sedih, tentu saja.
"Ndoro mau pergi kemana?".
"Ketempat yang jauh dari sini mbok, membawa kedua anak-anak saya. Saya... sudah tidak di terima di keluarga besar Winata, akibat kebodohan saya, mbok.
Simbok tau tidak?
Pagi tadi sebelum saya berangkat ke kantor, saya menemui Gibran, karena saya tidak bertemu dengan putra saya semenjak tragedi hari itu.
Tapi bapak.... bapak dan Fian bersikeras tidak mengijinkan saya bertemu dengan anak saya. Memangnya, kelakuan buruk saya, tidak pantas di maafkan ya, mbok?".
....
....
....
ingat loh masih punya istri gak mikir apa udah punya dua anak sama rianti,, mau melati juga🤣🤣🤣
bawangnya banyak banget 😩😩😩😩😩