Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyamanan
Pagi itu berbeda, tapi tidak dramatis.
Tafana sudah rapi ketika Ravindra keluar kamar. Tidak ada aroma kopi. Tidak ada suara piring. Dapur pun bersih, terlalu bersih.
“Aku nggak sempat siapin sarapan,” kata Tafana sambil mengenakan jam tangan. “Ada urusan sama Sierra. Mungkin seharian.”
“Oh.” Ravindra mengangguk refleks. “Iya.”
Tafana mendekat, menyalim tangannya seperti biasa. Mencium keningnya—singkat, hangat, tepat di tempat yang sama setiap pagi. Rutinitas dijalankan dengan rapi.
“Hati-hati,” kata Ravindra.
“Kamu juga,” jawab Tafana, lalu melangkah pergi.
Pintu tertutup. Sunyi.
Ravindra berdiri beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan. Ia menoleh ke meja makan, kosong. Tidak ada piring, tidak ada cangkir, tidak ada sesuatu yang menunggu.
Ia membuka kulkas. Terisi, tapi terasa asing.
Saat mengambil roti, ia lupa di mana selai disimpan. Kopinya terlalu panas. Rotinya hampir gosong. Ia mematikan kompor dengan gerakan kesal.
Ia duduk sendiri di meja makan, menatap kursi di seberangnya. Biasanya ada suara atau gerak kecil. Ada pertanyaan ringan yang tak penting tapi menandai pagi.
Sekarang tidak ada.
Ia baru sadar betapa banyak hal di rumah ini berjalan tanpa ia pikirkan, karena Tafana yang memikirkannya lebih dulu. Bukan dengan ribut. Bukan dengan menuntut. Dengan hadir.
Dan pagi itu, untuk pertama kalinya, Ravindra merasakan rumah sebagai bangunan kosong.
Layak huni. Tapi tidak hidup.
-oOo-
Siang itu, Ravindra menempati rumahnya dengan perasaan yang aneh, lega sekaligus waswas. Ia tahu Tafana tidak akan pulang seharian. Rumah ini kosong. Dan untuk pertama kalinya, ia mengisinya dengan orang lain.
Yunika datang dengan gaun kasual yang terlalu pas untuk sekadar bertamu. Wajahnya cerah, matanya menyapu ruang tamu perlahan, seperti mencatat. Sofa. Rak buku. Bingkai foto yang sengaja tidak dipajang terlalu banyak. Ia tersenyum, lalu duduk tanpa diminta.
"Selamat datang di kediamanku," Ravindra menyambut malu-malu. "Maaf jika banyak barang istriku."
“Rumah kamu nyaman,” katanya. “Tenang.”
Ravindra mengangguk, bangga tanpa sadar.
Siang itu ia menyajikan pesanan yang baru tiba di meja makan. Nasi dan sapo tahu seafood, uapnya masih mengepul.
Yunika menatapnya sebentar. Lalu alisnya mengerut. “Maaf,” katanya pelan, dengan ekspresi geli yang tidak ia sembunyikan. “Aku nggak makan dari sembarang restoran.”
Kalimat itu menampar pelan. Ada rasa nyes yang tak sempat Ravindra tahan. Bayangan Tafana lewat begitu saja, perempuan yang tak pernah ribet, tak pernah mengeluh, meski standar hidupnya jauh lebih tinggi.
“Kalau gitu… kita bisa pesan yang kamu mau,” Ravindra berkata panik.
“Masakin aku aja,” potong Yunika cepat, tersenyum manis. “Biar manis. Tunjukin effort kamu.”
Masak?
Kata itu terasa asing. Ravindra tak pernah dituntut. Tak pernah juga menuntut. Tapi janji yang sudah ia ucapkan membuatnya berdiri menuju dapur.
Ia membuka lemari, mencari-cari. Akhirnya, sarden dan telur. Bau minyak panas memenuhi dapur. Telur dadar terlalu cokelat di pinggir, sarden dipanaskan sekadarnya.
Yunika mencicipi, lalu tersenyum. “Enak kok. Setidaknya kamu usaha.”
Ravindra menghela napas lega.
Ia tidak melihat tatapan Yunika yang singkat—menilai. Cuma ini bisanya?
"Oh iya," ia berkata lagi, "aku mau bunga di setiap pertemuan."
"Bunga?" heran Ravindra. Ia saja baru sekali memberi bunga ke istrinya, kemarin. Karena Tafana tidak pernah memintanya.
"Ini bare minimum dalam berkencan, kamu nggak tahu?" heran Yunika.
Ravindra menggeleng. "Maaf. Kalau begitu, akan aku usahakan."
Yunika tersenyum, "Maaf juga, aku bukan wanita yang mudah terkesan."
Dalam hati ia membatin. Aku sulit ditaklukkan, tidak seperti istrimu.
-oOo-
Sementara itu, di tempat berbeda, Butik Sierra sore itu lebih ramai dari biasanya.
Pintu kaca nyaris tak pernah benar-benar tertutup. Staf mondar-mandir membawa gantungan baju, ponsel di tangan mereka terus bergetar, satu panggilan belum selesai sudah disusul pesan lain.
Tafana berdiri di dekat meja kasir, memegang majalah mode yang masih terasa asing di tangannya. Kertas tebal, layout rapi, dan di salah satu halamannya, tertulis brand Samara dengan font elegan, dan rubik hasil wawancara dengannya.
“Ini lo,” kata Sierra lagi, suaranya bergetar antara tak percaya dan bangga. Ia tiba-tiba memeluk Tafana erat. “Lo tahu nggak sih, sejak majalah ini keluar, order masuk kayak banjir.”
Tafana tertawa kecil, agak kikuk menerima pelukan itu. “Segitunya?”
“Lebih,” sahut Sierra sambil melepas pelukan, lalu menyeret Tafana ke belakang meja. Ia membuka laptop, memperlihatkan email yang belum sempat dibalas. “Ini stylist artis. Ini manajer penyanyi itu. Ini… staf panggung buat acara penghargaan.”
Nama-nama besar berderet di layar.
Tafana menelan ludah. Dadanya menghangat, ada rasa bangga yang pelan tapi penuh. Ia membalik halaman majalah lagi, membaca ulang jawabannya sendiri tentang desain yang memberi ruang pada tubuh perempuan tanpa harus minta izin pada siapa pun.
“Semua mau fitting cepat,” lanjut Sierra. “Ada yang minta eksklusif.”
Tafana mengangguk, otaknya sudah mulai menyusun jadwal. “Gue harus lebih sering ke sini,” katanya. “Produksi harus rapi. Gue nggak mau asal.”
Sierra tersenyum lebar. “Lihat lo ngomong kayak gini aja gue senang.”
Di tengah hiruk-pikuk itu, Tafana berdiri lebih tegak. Ia sadar, mulai sekarang hidupnya akan lebih sibuk, lebih penuh tenggat. Tapi bukan lelah yang ia rasakan, melainkan keyakinan.
Ini hasil tangannya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa sedang berdiri di tempat yang tepat.
-oOo-
Sore menjelang. Yunika bersiap pulang. Di ruang tamu, ia berhenti sejenak, berpura-pura mencari ponselnya. Lipstiknya ia keluarkan, lalu—tanpa Ravindra sadari—diselipkan di sudut sofa, tersembunyi dari pandangan.
Jejak kecil. Penanda.
Ketika pintu tertutup di belakang Yunika, rumah itu kembali sunyi. Ravindra berdiri di tengah ruang tamu, merasa aneh, seolah sesuatu telah berubah tempat, meski ia belum tahu apa.
-oOo-
Pintu tertutup di belakang Yunika dengan bunyi pelan. Ravindra berdiri sesaat di ruang tamu, menatap sofa, meja, udara, seperti mencari sisa-sisa yang tak kasatmata. Napasnya baru benar-benar keluar setelah ponselnya diangkat.
“Bisa datang sekarang?” katanya singkat pada staf pembersih rumah. “Bersihkan menyeluruh.”
Satu jam kemudian, rumah itu kembali seperti brosur properti: wangi netral, permukaan licin, bantal tersusun simetris. Tidak ada gelas, tidak ada remah, tidak ada jejak. Ravindra berkeliling sekali lagi, memeriksa sudut-sudut, memastikan tidak ada yang tertinggal. Baru setelah pintu tertutup kembali, bahunya mengendur.
Ia duduk. Lelahnya datang belakangan, bukan lelah fisik, melainkan kelelahan berpura-pura. Menjadi tuan rumah, menjadi kekasih, menjadi suami yang “normal”. Semua peran itu menuntut energi yang tidak sedikit.
Malam turun.
Ketika Tafana pulang, Ravindra sudah siap dengan senyum yang sama, nada yang sama. “Capek?” tanyanya lembut. Terlalu lembut.
Tafana mengangguk, melepas sepatu, lalu menjatuhkan diri di sofa. “Sebentar ya,” katanya. “Aku duduk dulu.”
Ravindra ke dapur, menghangatkan sapo tahu seafood yang siang tadi tak jadi disentuh. Panci berdenting pelan.
Di ruang tamu, Tafana merogoh tasnya, lalu berhenti. Di pojok sofa, terselip benda kecil berwarna merah marun. Lipstik.
Ia terhenyak sepersekian detik. Jantungnya berdenyut, tapi wajahnya tetap tenang. Tafana memungutnya, menimbang kemungkinan dengan cepat. Punya staf pembersih jatuh? Atau… ada tamu?
Ia menyelipkan lipstik itu ke tas, rapi. Ia tidak membahas itu, tidak sekarang. Ia akan mencari tahunya sendiri dalam diam.
Ravindra muncul membawa piring. “Makan dulu.”
Tafana mengangguk, lalu bertanya sambil lalu, “Tadi ada yang datang?”
Ravindra terlalu cepat menjawab. “Nggak.” Lalu berhenti. “Eh, ada sih. Staf cleaning service. Biasa, kan.”
Nada suaranya naik setengah oktaf, tangannya merapikan serbet yang sudah rapi.
“Oh,” kata Tafana ringan.
Ia tidak menatap Ravindra lama-lama. Tapi ia tahu: jawaban itu berbunyi lebih keras daripada seharusnya.
Ravindra menyajikan sapo tahu seafood ke meja. Uap tipis naik, aromanya hangat.
Tafana langsung makan tanpa ragu atau berkomentar panjang. Suap demi suap dihabiskan dengan tenang, bahkan kuahnya disendok sampai hampir bersih.
“Enak,” katanya singkat. Lalu menatap Ravindra. “Makasih ya. Kamu udah siapin semuanya.”
Kalimat itu sederhana. Tapi Ravindra terdiam.
Biasanya Tafana yang memasak, menata, memastikan meja siap. Malam ini tidak. Dan Tafana tidak membandingkan, tidak menilai. Ia hanya menerima.
Ravindra teringat wajah Yunika yang mengernyit siang tadi, ucapannya yang dingin: "Aku bukan wanita yang mudah terkesan."
Ia kembali menatap Tafana. Perempuan itu mengelap mulutnya pelan, lalu berkata, “Capek, tapi pulang dengan disajikan makanan hangat rasanya… bikin tenang.”
Ravindra mengangguk. Dadanya terasa lebih ringan.
Makanan yang ditolak Yunika habis di meja ini.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, Ravindra sadar: kenyamanan bukan soal membuat orang terkesan, tapi tentang dihargai tanpa harus berusaha terlalu keras.
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅