'Ternyata mencintaimu, bagai duri dalam daging'
Saat keperawanan menjadi penghalang terbesar untuk kelanjutan hubungan Mega dan Damar. Mega yang memiliki masalalu yang kelam karena kebodohannya sendiri terlalu mempercayai seorang laki-laki yang jelas-jelas tidak memiliki rasa cinta terhadapnya.
Mega yang selalu berusaha merahasiakannya dari Damar, hingga akhirnya Damar mengetahui tentang keadaan dan masalalu Mega melalui laki-laki yang telah merusak Mega 2 tahun silam.
"Aku cinta kamu, tapi.... aku tidak bisa," ucap Damar.
Bagaimanakah kehidupan Mega selanjutnya setelah ditinggalkan oleh Damar? Akankah Mega menemukan seseorang yang benar-benar mencintainya dengan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StrawCakes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MELELAHKAN
"Yes! berhasil Don!" pekik Pinkan setelah mematikan dan menyimpan video tersebut.
"Ayok kita kembali ke Mega," ajak Dona dan mereka pun kembali ke kafe sebelumnya.
Sesampai di kafe, Mega masih memperhatikan Damar yang masih berdiri sejajar lurus dengan tempat Mega duduk.
Dona dan Pinkan pun datang.
"Hei Ga, sudah kali lihatinnya nanti gak bisa move on loh," ledek Dona.
"Apaan sih," timpal Mega.
"Bagaimana berhasil?" tanya Mega.
"Iya dong, lalu kapan mau diberikan kepada Damar?" tanya Pinkan yang suah tidak sabar.
"Setelah ini, tapi sebelumnya aku harus memastikan bahwa Damar benar-benar sendiri," jawab Mega lalu keduanya pun mengangguk.
*****
Hari pun semakin sore, namun Mega, Dona dan Pinkan masih berada di kafe tersebut untuk menunggu April pergi dari Damar. Mereka bahkan sudah hampir sepuluh kali memesan makanan dan juga minuman.
"Ga aku ngantuk lama-lama kalau perut kenyang seperti ini," ucap Dona sambil menepuk-nepuk perutnya yang rata.
"Sabar dong," timpal Mega.
Benar apa yang di bilang oleh Mega, April pun terlihat keluar dari cafe itu seperti mendapat telepon dari seseorang.
"Gaes, April keluar! Ga kamu samperin Damar sekarang cepet," ucap Pinkan dan Mega pun mengangguk.
Mega berjalan melewati sekat ruangan tersebut lewat pintu kecil didalamnya menghampiri Damar yang sedang duduk sendiri.
"Hai Dam," sapa Mega sambil tersenyum.
"Hai Ga, kamu disini juga?" tanya Damar pura-pura tidak tahu.
"Iya, aku kesini hanya ingin memberi tahukan kamu mengenai ini," jawab Mega sambil memberikan ponsel pada April.
Damar pun ternganga melihat ponsel Mega adalah ponsel keluaran terbaru dan harganya cukup fantastik. Damar melihat video yang ada si ponsel tersebut.
Damar melihat dengan lekat dan mendengarkan dengan baik video yang Mega berikan padanya. Hatinya begitu tersentak saat videonya selesai diputar.
"Mega maksud kamu apa memberitahukan aku mengenai video ini? darimana kamu mendapatkannya?" tanya Damar yang berubah wajahnya menjadi panik.
Mega menghela napas, "kamu gak tahu aku dapat dari mana? yang jelas, aku hanya ingin kamu tahu kebenarannya. Maaf aku ga bermaksud untuk mengacaukan semuanya, tapi aku sadar aku memang mencintaimu tapi cukuplah cintaku ini hanya aku yang merasakannya. Aku terlalu mencintaimu sehingga aku tidak bisa melihat kamu kecewa nantinya," jelas Mega dengan santai.
"Terima kasih telah memberitahukan kepadaku, tapi maaf aku tidak bisa membalas cintamu lagi Mega," ucap Damar membuat hati Mega hancur berkeping-keping.
Walau nada bicara Damar santai, namun perasaan Mega yang kacau. Mega pun langsung pamit ke tempat parkir.
Ia berlari sekencang mungkin.
Tuhan kenapa? kenapa aku tidak bisa bersama dengan orang yang aku cintai, kemarin ayah dan ibu, sekarang Damar. Tuhan, aku terlalu naif jika aku bilang baik-baik saja.
Melihat Mega pergi keluar dari kafe, Pinkan dan Dona pun ikut keluar juga.
"Ga kamu kenapa nangis 'sih?" tanya Dona.
"Bodoh Don! aku bodoh! aku benci Damar!" jawab Mega sambil mengerutuki dirinya sendiri.
Pinkan dan Dona langsung memeluk Mega bersamaan. Setelah Mega merasa sudah puas menangis, mereka pun melepaskan pelukannya.
Mereka masuk ke dalam mobil dan memilih untuk pergi ke mall.
"Gaes, kita adu basket lagi yuk kemarin kan belum selesai," usul Pinkan.
"Oke siapa takut," kata Mega.
Mereka langsung menuju tempat bermain.
"Kartu yang kemarin masih ada gak isinya?" tanya Mega.
"Masih kok, masih banyak malah," jawab Dona.
"Oke yuk kita main, siapa dulu nih?" ajak Mega saat mereka sudah berada di depan mesin basket lalu bertanya pada Pinkan dan Dona.
"Aku dulu dong," jawab Dona.
"Eh tunggu kan mesinnya ada tiga ya, kita barengan aja kalau begitu," ucap Mega.
"Oke, ke posisi kalian masing-masing," kata Pinkan.
Mega, Pinkan dan Dona sudah berdiri di depan mesin basket masing-masing.
"Siap," ucap Mega dengan masing-masing tangan sudah berada diatas tombol start.
"Mulai," sambung Mega lalu mereka menekan tombol start tersebut.
Mega meluapkan segala kekesalan dan kekecewaannya, tanpa ia sadar kalau ia memenangkan babak pertama permainan mereka dengan mendapat kartu sebanyak seribu kartu.
Mata Pinkan dan Dona membulat dengan sempurna.
"Mega kamu sekali main bisa mendapat boneka besar yang di sana loh," ucap Pinkan.
"Oh ya? aku hanya meluapkan yang ada di hatiku aja," kata Mega.
"Main lagi yuk masih banyak nih isinya," ajak Dona lalu Pinkan dan Mega pun mengangguk bersamaan.
Mereka pun memulai permainan kembali. 3 jam mereka beradu basket sampai Pinkan dan Dona sudah duduk di lantai karena kelelahan namun Mega masih terus bermain.
"Mega aku sudah lelah, makan dulu yuk!" ucap Pinkan sambil mengatur nafasnya.
Mega pun langsung tersadar dari lamunannya dan menoleh kearah Pinkan dan Dona.
"Astaga kalian ngapain duduk dilantai seperti itu?" tanya Mega sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Pinkan dan Dona hanya menghela nafas lalu berdiri.
"Kami lapar sekali Meles," jawab Dona.
Mega langsung tertawa, namun saat dia mendapat tatapan tajam dari Pinkan dan Dona, ia langsung menghentikan tawanya.
"Maaf maaf, yuk kita makan," ajak Mega.
Mereka menuju sebuah restoran Korea di dalam mall tersebut. Pinkan dan Dona tak tanggung-tanggung memesan makanan sampai meja mereka penuh. Sedangkan Mega hanya pasrah karena dia telah membuat kedua sahabatnya kelelahan.
"Kalian lapar atau doyan?" tanya Mega tercengang melihat Pinkan dan Dona yang begitu lahap.
"Doyan Ga," jawab Pinkan dan Dona pun mengangguk.
Mega hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Beberapa menit kemudian mereka pun telah menyelesaikan makanan dan membayarnya.
"Setelah ini kita mau kemana ?" tanya Dona.
"Aku ingin belanja, karena sepertinya aku akan ikut dengan nenek aja ke Belanda," jawab Mega.
"Apa kamu yakin Mega?" tanya Pinkan memastikan.
Mega pun mengangguk, "iya, kalian bisa main kok kesana jika kalian mau," jawab Mega.
"Kita pasti bakalan kangen denganmu Meles," ucap Dona sambil memeluk Mega.
"Aku juga sama, kalian adalah sahabatku yang terbaik," kata Mega.
"Yaudah yuk kita belanja, kalian beli aja apapun yang kalian butuhkan nanti biar aku yang bayar," ucap Mega.
Mega sebenarnya tidak tahu apa yang akan ia beli, namun ia tetap berkeliling untuk mendapatkan barang yang menarik seleranya. Alih-alih mendapatkan sebuah barang, namun ia bertemu Bimo dan Clarissa yang sedang berbelanja di pusat perbelanjaan yang sama.
"Eh Bimo, Clarissa," sapa Mega.
"Hai Ga, lagi belanja juga?" tanya Clarissa.
"Iya, tuh bareng kedua sahabatku," jawab Mega sambil menunjuk Pinkan dan Dona yang lagi sibuk memilih barang yang akan mereka beli.
"Kalian sudah selesai belanjanya?" tanya Mega.
"Sudah, aku hanya beli perlengkapan baby aja," jawab Clarissa dan Mega pun hanya ber oh ria.
"Yasudah kalau begitu kami dulua ya Ga," ucap Bimo dan Mega pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Bimo dan Clarissa pun langsung pergi dari hadapan Mega.
Semoga Bimo bisa menjaga Clarissa dengan baik, tapi kenapa tidak ada Sahrul? bukankah Clarissa dan Sahrul telah menikah? terus ngapain mereka beli perlengkapan baby sampai ke Solo?
Mega pun langsung melanjutkan belanjanya. Beberapa jam kemudian mereka pun telah selesai berbelanja dan juga membayarnya.
Hari pun semakin sore, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
****
Makan malam pun tiba, Mega dan Nina sudah berada di ruang makan. Para pelayan sedang menata makanan diatas meja makan.
"Ga, besok pagi nenek akan kembali ke Belanda, apa kamu mau ikut?" tanya Nina pada Mega.
"Iya nek, aku akan ikut bersama nenek dan tinggal di sana. Aku ingin memulai hidupku yang baru tanpa bayang-bayang masa laluku lagi," jawab Mega dan Nina pun tersenyum.
"Baiklah, yuk habiskan makan malam mu, setelah itu pergi beristirahat," ucap Nina dan Mega pun mengangguk.
Setelah makan malam, Nina langsung kembali ke kamarnya dan Mega pun demikian. Sesampai di kamar, Mega langsung menyiapkan sebuah koper besar dan memasukkan barang-barang yang tadi ia beli.
Sebelum itu, Mega menelepon kepala butik untuk memberitahukan kepergian Mega ke Belanda. Hampir satu jam keduanya berbincang, telepon itupun diakhiri oleh Mega.
Mega tersenyum kala menemukan sebuah pakaian yang sama dengan Pinkan dan Dona. Mereka sengaja membelinya karena untuk kenang-kenangan ketika mereka sedang berjauhan.
Semoga kelak kita bisa bertemu kembali Pinkan, Dona.
Setelah merapihkan barang-barangnya, Mega pun pergi ke alam mimpi.
****
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Mega telah bangun dan bergegas untuk mandi. Ia pun berendam air hangat dengan susu. Cukup lama Mega berendam, ia pun langsung membersihkan tubuhnya.
Mega keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian. Di ruang makan, Nina telah menunggu Mega untuk sarapan bersama.
Tak butuh waktu lama, Mega keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang makan.
"Selamat pagi nek," sapa Mega.
"Pagi sayang, yuk kita sarapan," ajak Nina dan Mega pun mengangguk.
****
Waktu telah menunjukkan pukul delapan pagi, Mega dan Nina berangkat ke Bandara. Pesawat pribadi mereka sudah menunggu sejak setengah jam yang lalu.
Beberapa jam kemudian, mobil yang ditumpangi Mega dan Nina sampai di Bandara. Mega merasa hatinya sudah yakin untuk meninggalkan tanah kelahirannya.
Keduanya naik ke dalam pesawat, tak lama pesawat pribadi mereka pun take off. Sepanjang perjalanan, Mega memilih untuk tidur. Karena dengan tidur, pikirannya akan merasa lebih jernih serta membaik. Sementara Nina asik menonton film jadul kesukaannya.
****
Tiga belas jam kemudian, pesawat yang ditumpangi Mega dan Nina mendarat dengan aman di Belanda. Mega membuka matanya yang sedikit membengkak karena terlalu banyak tertidur.
"Sayang ayok turun," ajak Nina dan Mega pun mengangguk.
Saat keluar dari pesawat, Mega menghirup oksigen sebanyak-banyaknya lalu menghembuskannya perlahan.
Akhirnya aku sampai disini yang sangat jauh dari mereka yang telah menyakitiku dan membuat hatiku terasa mati. Semoga disini aku bisa menemukan kebahagiaanku.
Mega dan Nina masuk ke dalam mobil, dan koper mereka pun telah di masukkan kedalam bagasi. Mobil yang mereka tumpangi pun melaju.