Menikahi Majikan Ibu — Season 2
Genre : Komedi Romantis
Perjalanan rumah tangga Barata Wirayudha, pemilik BW Group yang menikahi putri dari pembantunya sendiri, Bella Cantika.
Perbedaan umur, latar belakang dan karakter membuat rumah tangga keduanya menjadi berwarna.
Bara yang temperamen, arogan dan mudah terpancing emosi, tetapi ia seorang yang penyayang keluarga dan daddy terbaik untuk putra-putrinya.
Bella yang lemah lembut dan dewasa, terkadang suka ketus pada suaminya berusaha menjadi ibu terbaik untuk anak-anaknya di usia yang masih muda.
Keduanya tidak romantis tetapi bercita -cita memiliki kehidupan rumah tangga yang romantis. Apakah rumah tangga mereka tetap berjalan mulus di tengah perbedaan?
Ikuti kisah rumah tangga Bara dan Bella bersama putra putrinya, Rania Wirayudha, Issabell Wirayudha dan The Real Wirayudha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Casanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Sakit kepala tak kunjung hilang
Tiga hari sudah Rikka dan mamanya menginap di rumah Bara. Selama itu juga keduanya mulai beradaptasi dengan lingkungan dan anggota keluarga lain. Rikka yang memang menyukai anak-anak semakin mengakrabkan diri dengan Real dan Issabell, tanpa tahu kebenarannya kalau Issabell adalah putri kandung Rissa.
Untuk Rania, gadis itu memang tidak bisa terlalu dekat. Interaksi keduanya terbatas, ditambah lagi kesibukan Rania yang padat. Selain sekolah, ia juga harus mengikuti les dan kegiatan lainnya di luar sekolah.
Pagi itu, sama seperti pagi sebelumnya, Bara terbangun dengan kepala berdenyut. Dunianya berputar dengan perut juga ikut bergejolak. Sudah beberapa hari ini kondisi Bara menurun. Nafsu makannya pun jauh berkurang dibanding biasanya. Ia selalu mual dan muntah sehingga memilih mengosongkan perutnya dibanding sarapan pagi.
"Mas, sudah. Kita ke dokter saja. Ini tidak bisa dibiarkan." Bella yang sudah mandi pagi dan berpakaian rapi segera menghampiri suaminya. Bara tampak lemas, berdiri di depan wastafel. Semua isi perutnya terkuras, bahkan sampai tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan. Nyeri sampai ke ulu hati.
"Ya, nanti aku akan meminta Donita membuat janji dengan dokter," ucap Bara, membasuh seluruh wajahnya.
"Aku khawatir, Mas. Jangan anggap remeh. Mas itu sudah tidak muda lagi." Bella memijat tengkuk suaminya dengan lembut.
"Kalau dibiarkan takutnya malah tambah parah. Anak-anak masih kecil, Mas. Masih membutuhkanmu. Aku tidak mau terjadi hal buruk padamu. Lebih baik dicek secepatnya. Kalau memang ada sesuatu yang membahayakan, cepat diketahui, Mas."
"Ya, Bell." Bara menurut. Berbalik dan menjatuhkan kepala di pundak istrinya.
Pria tampan, ayah dari tiga orang anak itu terlihat lemas. Tubuh kekarnya yang hampir ambruk disandarkannya pada Bella. Bergumam tak jelas dengan kedua tangan melingkar di pinggang istrinya.
"Bell, kamu baru ganti shampo? Yang ini enak, Sayang."
"Tidak, masih sama, Mas."
"Hah! Kenapa tubuhku hari ini bersahabat denganmu, Bell." Bara tertawa sembari menegakan posisi berdirinya.
"Kamu sudah baikan, Mas?" tanya Bella sesaat melihat tubuh suaminya sudah tegak kembali.
"Sedikit, Bell. Oh ya, Pak Rudi akan mengantar Rikka dan mamanya menemui Rissa. Kamu tidak perlu ikut. Kalau mereka tidak bisa, minta ibu menemani," jelas Bara.
"Apa mereka bisa?" tanya Bella.
"Aku harus ke Bogor lagi hari ini, Bell. Kamu tidak bisa menitipkan Real padaku. Sebaiknya ibu saja yang menemani mereka. Aku tidak mau istriku terlalu sering berkunjung ke tempat itu." Bara menjelaskan alasannya.
"Baiklah. Mas ... yakin mau ke Bogor? Aku khawatir, Mas." Sorot matanya terlihat resah.
"Ya, Bell. Aku ada janji dengan klien sekalian meninjau lokasi untuk proyek baru."
Bella hanya mengangguk. Sebuah pelukan hangat dihadiahkan. "Mas, aku mencintaimu," bisik Bella di sela pelukannya.
"Aku juga mencintaimu, Sweetheart," bisik Bara.
***
Setelah mengantar anak-anak ke sekolah, Pak Rudi pun bersiap mengantar Ibu Rosma, Rikka dan mamanya membesuk Rissa. Ketiganya sudah tampak rapi, duduk menunggu sopir keluarga itu bersiap di teras rumah bersama Real dan Bella.
Bara yang sebelum pukul tujuh sudah berangkat ke kantor, berulang kali menghubungi Bella untuk memastikan kalau istrinya itu tidak ikut. Ia mengkhawatirkan Real andai saja Bella sampai memaksa ikut ke lapas.
Lambaian tangan Bella dan tangisan kencang Real mengiringi kepergian Ibu Rosma, Rikka dan mamanya. Real yang memberontak, berteriak dan menangis di gendongan benar-benar membuat Bella kewalahan.
"Sayang, jangan begini. Nanti jatuh," bujuk Bella.
"IKUT ...." teriakan Real semakin kencang saat ekor mobil Alphard hitam yang dikendarai Pak Rudi keluar dari pekarangan rumah, menghilang dari gerbang.
"IKUT ONTY ...." teriak Real semakin menjadi. Anak kecil itu melorot turun dan berlari ke arah jalanan begitu terlepas dari gendongan.
"Real ... Real!" teriak Bella ikut berlari mengejar.
Tampak penjaga keamanan yang sedang mendorong gerbang ikut berlari keluar. Tidak menyangka Real akan senekat itu, semuanya kecolongan.
Bella yang berlari di belakang bisa bernapas lega saat melihat Real yang terkejar dan berhasil digendong oleh salah satu security. Senyum mengembang di bibirnya mendapati putranya baik-baik saja. Jantungnya hampir copot melihat Real kabur secepat kilat.
Ibu dari Rania, Issabell dan Real itu baru saja hendak berbalik, tersadar ia sudah berdiri di tengah jalan. Melihat Real yang berlari menyeberang jalan, membuat Bella panik dan tidak memperhatikan jalanan.
Namun naas, mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sebuah sepeda motor yang sedang melintas di jalanan komplek terkejut melihat Bella yang tiba-tiba berlari menyeberang. Pengemudi tidak bisa lagi mengelak. Berusaha menghindar tetapi kecelakaan itu tetap terjadi.
Bunyi decitan ban yang menggesek dengan aspal terdengar begitu nyaring bersamaan dengan klakson sepeda motor. Tak lama terdengar suara benturan.
Bruk!
Sepeda motor yang sudah berusaha menghentikan lajunya itu, mengenai tubuh Bella. Seketika wanita dengan gaun batik itu terjatuh ke aspal dan sempat terseret beberapa meter sebelum laju sepeda motor berhenti.
Terdengar teriakan pengendara lain berbarengan dengan pekik nyaring beberapa asisten rumah tangga yang sedang berkumpul menunggu tukang sayur.
"Ya Tuhan ...."
"Astaga ...."
"Bu Bella ...." teriak salah seorang security yang melihat sendiri kejadiannya. Ia berlari panik. Jantungnya berdetak kencang saat melihat nyonya majikannya sudah terbaring di aspal tidak sadarkan diri.
Tangisan Real pun ikut mendominasi saat melihat sang mommy sudah tergeletak tak berdaya dikerumuni warga dan beberapa pengendara yang kebetulan melintas.
"Mommy ... Mommy ...." panggil Real berurai air mata saat melihat ibunya tidak menjawab panggilannya.
"Mommy, jangan bobok cini." ucapnya lagi saat melihat Bella yang dibopong oleh beberapa warga ke rumahnya.
***
Bara masih berada di jalan tol saat telepon genggamnya berdering. Ia mengendari sendiri mobil sportnya menuju ke Bogor tanpa menggunakan sopir. Sempat bingung saat melihat nama salah satu asisten rumahnya muncul di layar ponsel yang berkedip
"Ya, Mbak. Ada apa?" tanya Bara. Suaranya terdengar tenang, sedikit pun tidak berprasangka buruk.
"Pak ... cepat pulang. Ibu kecelakaan," ucap asisten rumah dengan suara panik.
Bara terkejut. Hampir saja menginjak pedal rem mendadak. Beruntung ia tersadar kalau saat ini sedang berada di lajur kanan tol jagorawi. Buru-buru berpindah ke lajur kiri dan memperlambat kecepatan mobil sport-nya.
"Apa yang terjadi?" tanya Bara setelah berhasil menguasai diri dari keterkejutan.
"Ibu diserempet motor di depan rumah. Sampai sekarang belum sadar," adu sang asisten rumah.
"Ya Tuhan. Real di mana? Apa anakku baik-baik saja?" tanya Bara.
"Real baik-baik saja, Pak. Sedang ditenangkan. Menangis terus sejak tadi."
"Bagaimana bisa sampai terserempet motor. Di rumah ada siapa saja? Pak Rudi sudah keluar?"
"Sudah Pak. Tidak ada siapa-siapa di rumah."
"Ya Tuhan. Tolong bawa ke rumah sakit dulu. Aku akan pulang sekarang." Bara memutuskan panggilan telepon dan segera menghubungi mantan mertuanya untuk mengurus Bella dan menjaga Real. Posisinya sudah terlalu jauh dari rumah, tidak mungkin menunggunya.
***
TBC
bacaan ringan disaat wsktu luang
hiburan bukan bacaan spiritual 🙏🙏🤭
pemahaman rumahtangga bara pasca penghianatan brenda sang mantan istri membuat ruang bella terbatas. kalau bara suamiku sudah ku tukar tambah
bara masih agak jauh dari perfeksionis seorang pimpinan dan kepala keluarga.