Bagaimana perasaanmu ketika dibersamakan dalam ikatan halal bersama ia yang mengagumimu dalam diam?
Ini tentang kisah mereka yang saling terkagum dalam diam dan do'a. Tak berani mendekat dengan sesama, melainkan mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Hati terlebih dahulu.
Karena Allah tak pernah ingkar dengan janji-Nya. Bagi mereka lelaki baik untuk perempuan baik, dan bagi mereka lelaki tidak baik untuk perempuan tidak baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elisa_nafiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24- MASA SMA- Menyesal
Saat kau gantungkan segala harapmu pada manusia, saat itu pula Allah timpakan padamu apa itu rasa kecewa.
✿✿✿
"Sa?"
Aku mendengar suara itu semakin mendekat, terdengar hangat disela isak tangisku.
"Lo? Ngapain di sini?" tanyanya.
Aku masih tertunduk dan mengambil nafas panjang, lalu menghembuskannya dalam. Semampu mungkin menahan bulir mata agar tak keluar lagi. Mendengus kecil.
Wajahku mendongak, melihat seseorang yang kini memasang wajah khawatir di depanku.
"Hm?"
"Loh? Lo...?" Hashim melebarkan mata dengan kernyitan kecil. Memajukan sedikit mukanya menyelidik ke arahku, membuat aku langsung melengos, menyembunyikan wajahku. "Lo kenapa?" tanyanya kini sedikit merendahkan intonasi.
"Kamu ngapain di sini?" tanyaku, berusaha menutupi suara serak agar tak terdengar habis menangis.
Ia kembali menegak, menghela nafas pelan.
"Gue nanya lo kenapa di sini? Napa lo balik nanya gue?" katanya dengan sewot. Yang tak lama kembali memasang wajah kepo. "Lo nangis?" tanyanya mendesak.
Dengan segera aku mengulas senyum dan mendongak. Semakin lama menunjukkan deretan gigi. Berusaha untuk ceria.
"Enggak, siapa yang nangis tadi cuma kelilipan!" elakku menunduk mencoba mencari kesibukan dengan mengambil buku-buku yang tadi ku letakkan di bawah.
Bohong, dadaku masih terasa sesak. Ingin menangis lagi.
Hashim mengernyit, jelas ia tak akan percaya tapi aku tak peduli. Lagi pula malu sekali aku saat ini. Nangis dibalik pilar dan berbatas dinding mading sedangkan di seberang ada Fariz dan Kevin.
Hashim berdeham kecil saat aku sudah berdiri sigap seperti semula dengan pandangan ke arah lain.
"Sa, kenapa?" tanya Hashim pelan,Hashim kalau sudah seperti ini pasti sangat serius, berbeda dengan biasanya yang selalu ceria dan wajah-wajah minta dimaki. Tapi untuk keadaan seperti ini dia tak pernah main-main. Peduli dia lain bagiku, selama aku mengenalnya sebagai teman.
"Siapa yang nyakitin lo lagi? Hm?" tanya Hashim kini merunduk melihat wajahku dengan dekat, membuat aku langsung termundur menjaga jarak. Aku menggeleng, tak mau memberitahu.
Hashim kembali menghela nafas lagi, melengos dan berusaha untuk meredam emosinya menghadapi aku. Dia akan berbeda seratus delapan puluh derajat jika bertampang seperti ini.
"Ya udah ke kafetaria aja yuk? Beli makan, gue laper habis nanya-nanya lo kayak wartawan tapi ga lo jawab," tawarnya mengalihkan pertanyaannya sendiri tadi. Aku tertawa mendengar perkataannya barusan. Yang tak lama mengangguk meng-iyakan.
Hashim mendecih dengan sebal, "giliran makanan aja langsung ngangguk!"
Aku mengercutkan bibir, tak peduli.
✿✿✿
Kami berdua terdiam dari tadi di kafetaria. Duduk bersandar dengan jarak dan menatap ke depan dengan tatapan menerawang.
Hashim juga tak berani untuk bertanya lagi, karena ia tahu yang aku butuhkan saat ini ketenangan. Dia membiarkan aku untuk menenangkan diri.
Sesekali ia meneguk minuman kalengnya dan menyapa beberapa adik kelas yang lewat hanya sekedar membeli minuman.
Dia memang... friendly? Mungkin.
"Kamu... tau dibalik permainan Vian?" tanyaku akhirnya membuka suara. Hashim yang sibuk mengemili nuggetnya mengangkat alis dengan bibir terbuka belum sempat memasukkan potongan nugget untuk dikunyah.
"Hm?" Ia mengernyit, "maksudnya?"
Aku tersentak tanpa sadar hampir saja keceplosan membahas hal tersebut, aku tak ingin ada orang yang tahu apa yang aku dengar tadi. Mungkin aku salah dengar dan belum tentu itu aku.
Tapi tak mungkin. Itu adalah aku.
"Gapapa," kataku pada akhirnya. Menghela nafas dan merunduk, menyedot sesaat minuman sekotak susu milo yang dibelikan Hashim.
Hashim kembali melanjutkan makan tanpa peduli, mengunyahnya ringan. Tapi, ia mendengus kecil. "Tsk, cewek. Apa-apa bilang gapapa, padahal hatinya damage!"
Aku mengangkat alis, mengulum bibir ke dalam. "Aku beneran gapapa," kataku mengelak.
"Gapapa katanya, terus tadi ngapain nangis dibalik pilar udah kayak penunggu sekolah. Udah tau tempatnya sepi."
Aku kembali terkekeh kecil. Perasaanku lumayan meringan karena jokesnya Hashim. Pemuda yang selama ini banyak dikasih hujatan, tapi sebenernya dia hatinya sangat soft.
Hashim memang seperti itu, ia lebih memahami perempuan dengan perasaan, tapi sayangnya pemuda seperti dia diselingkuhi oleh mantannya setahun lalu. Tak banyak aku ketahui ia berpacaran disaat satu bulan MPLS selesai, hanya dua bulan pacaran tapi ia sudah mengetahui kalau ia diselingkuhi.
Dulu aku satu kelas dengannya. Pertama kali melihat Hashim sangat emosi sampai menuju kelas mantannya. Tapi perlahan ia berusaha biasa dan mengikhlaskan.
"Aku mau ke musola dulu ya, ga baik juga berduaan gini. Makasih susu milonya," kataku beranjak berpamitan untuk pergi. Hashim hanya mengangguk.
"Jangan nangis dipojokan lagiii," teriaknya mengingatkan. Aku menoleh, mengangguk dan tersenyum.
Aku segera berjalan menuju ke musola, melakukan rutinitas di waktu dhuha. Setelah melepas sepatu dan berwudhu, aku memasuki musola dengan desaign sederhana itu.
Dengan pembatas dari kayu berwarna putih gading, memberikan batas antara shaf lelaki dan perempuan.
Musola cukup ramai, alhamdulillah dengan kesadaran masing-masing mereka menjalankan solat sunnah tersebut. Solat dhuha yang apabila dikerjakan Allah akan menghapus dosa-dosa kita walau sebanyak buih lautan, Allah akan mengangkat derajat orang yang rajin solat dhuha, dan Allah mencukupkan rezeki diwaktu siang.
Puji syukur atas nikmat yang selalu Allah berikan, terkadang aku malu. Aku lebih banyak kufur atas nikmatnya.
Perasaanku semakin lega saat membasuh wajah dengan air wudhu tadi, fikiranku semakin tenang dan ada kedamaian hati tersendiri saat merajut rasa dengan Sang Maha Cinta.
Ya Rabb, Engkau yang memberikan rasa, Engkau yang memberikan cinta sebagai anugerah. Mulai saat ini hamba ingin cinta yang Engkau datangkan masih utuh terjaga dengan fitrahnya yang suci.
Aku tahu, aku salah menaruh cinta sebelumnya. Menaruh rasa kagum pada pria yang bernama Fariz Muhammad.
Ya Rabb, aku hanya hamba-Mu yang lemah, yang belum kuasa untuk menguasai cinta yang Engkau berikan. Aku tak kuasa atas rasa ini. Maka, ku titipkan segala rasa cinta, kagum, dan sayangku hanya kepada Engkau.
Kelak, jika aku jatuh cinta kembali. Jatuh cintakanlah aku pada seseorang yang mencintai-Mu. Agar bertambah pula kekuatan cintaku pada-Mu.
Selesai solat dhuha, aku berjalan keluar musola dan melewati koridor kelas sendirian. Aku melewati koridor kelas IPS, dimana pasti melewati kelas Fariz. Aku menunduk dan berjalan cepat. Baru saja berbelok menaiki tangga, Vian sudah menghadang jalanku.
"Darimana?" tanyanya menghakimi tiba-tiba.
Aku melengos, tak menjawab.
Ga usah sok kenal, ga usah sok peduli dan baik kalau cuma buat taruhan.
Aku hanya bisa berkata dalam hati. Tak bisa langsung meledak-ledak, aku takut perkataanku menyakiti mereka. Walau kerap kali aku sebenarnya juga merasa tersakiti oleh perlakuan mereka.
"Kata Hashim lo habis nangis, kenapa lagi sih?" Vian menuruni satu tangga karena tadi berjarak tiga tangga.
Emang ya Hashim itu punya gen lambe turah, untung saja aku tidak keceplosan menceritakan semuanya.
"Siapa yang nyakitin hati lo lagi?" tanyanya dengan nada tak suka dan juga menuduh.
Yang nyakitin aku, yang lagi nanyain aku disakitin siapa.
Dia enggak sadar? Dia juga berperan dalam menyakiti aku?
Ingin rasanya aku menjawab seperti itu, tapi lagi-lagi aku hanya bisa diam dan mendengus kecil. Masih tak mau membuka mulut untuk berbicara.
"Sa," panggil Vian sekali lagi. "Kenapasih?" tanyanya seperti Hashim tadi mendesak.
Aku menghela nafas kasar. Lalu mendongak, mengangkat dagu dengan tegas. Membuat Vian yang tadi merunduk dekat jadi menegak dengan kaget sampe termundur kecil ke belakang.
"Aku mau ke kelas!" kataku tak tahan, segera menaiki tangga dengan cepat, meninggalkan Vian yang memutar tubuhnya dengan mata mengikuti arah aku pergi. Aku sungguh tak peduli, ingin rasanya berteriak dan marah di depannya. Tapi aku tak ada mood untuk saat ini.
Mereka jahat.
Mataku kembali memanas. Ah rasanya baru saja tadi merasakan ketenangan. Sekarang sudah mau menangis lagi.
✿✿✿
Jangan lupa votementnya 🤗buat tetep aku semangat ya❤
Disepertiga malamku
terima kasih sebelumnyaa😉