Selama tiga tahun, Ye Chen hidup sebagai menantu benalu di keluarga Su. Dia mencuci pakaian, memasak, dan menerima setiap hinaan tanpa melawan demi melindungi istrinya yang dingin namun cantik jelita, Su Yuhan. Semua orang memanggilnya anjing pecundang, tanpa tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah keluarga paling berkuasa di ibu kota.
Ketika sebuah konspirasi mengancam nyawa istrinya dan mertuanya memaksanya untuk bercerai demi menikahkan Yuhan dengan tuan muda kaya, sebuah liontin giok peninggalan ibunya menyerap darah Ye Chen dan membangkitkan Warisan Tabib Naga Sakti. Di saat yang sama, iring-iringan Rolls-Royce hitam dari ibu kota tiba di depan rumahnya.
Mulai hari ini, sang naga telah membuka matanya. Mereka yang pernah menghinanya harus berlutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Naga Emas Membelah Danau dan Kehancuran Sang Dewa Pedang
Waktu seolah membeku di Danau Bintang.
Serpihan cahaya putih dari energi pedang raksasa itu turun perlahan bagaikan hujan salju, memantulkan cahaya senja sebelum akhirnya lenyap tertiup angin malam.
Di paviliun VIP, cerutu mahal yang dihisap Su Zheng terjatuh dari sela bibirnya, mendarat tepat di atas celana mahalnya dan membakar kain sutra itu. Namun, Su Zheng sama sekali tidak merasakan panasnya. Matanya melotot nyaris keluar dari rongganya, tubuhnya kaku layaknya patung batu.
Di sebelahnya, Penatua Gu jatuh berlutut dengan suara berdebum keras. Pria tua yang merupakan penasihat spiritual Keluarga Su itu menggigil hebat hingga giginya bergemeretak.
"D-dua jari..." Penatua Gu meracau, kewarasannya hancur lebur. "Dia menghancurkan tebasan Pelepasan Qi Dewa Pedang hanya dengan dua jari?! I-itu mustahil! Bahkan seorang Grandmaster Puncak pun akan terbelah menjadi dua jika mencoba menahannya secara fisik! Kecuali... kecuali dia..."
"Kecuali dia apa?!" jerit Su Zheng panik.
"Kecuali dia telah menembus batas manusia fana! Dia... dia adalah legenda yang hanya ada dalam mitos... seorang Master Alam Ilahi (Divine Realm)!"
Kata-kata Penatua Gu bagaikan palu godam yang menghantam jantung seluruh elit Jiangbei yang mendengarnya.
Alam Ilahi? Di usia dua puluhan?! Bahkan Ketua Asosiasi Bela Diri Tiongkok di Ibu Kota Negara pun baru mencapai tahap itu di usia tujuh puluh tahun!
Di tengah danau, Jian Nantian yang berdiri mengapung di atas buluh bambu tampak seperti disambar petir. Wajahnya yang arogan dan penuh wibawa kini dipenuhi oleh teror yang tak terlukiskan.
"T-tidak mungkin... Siapa kau sebenarnya?!" suara Jian Nantian bergetar. Sepuluh tahun ia bertapa menahan kesepian di atas gunung es, hanya untuk mengetahui bahwa tebasan terkuatnya dihancurkan layaknya ranting kering oleh seorang pemuda!
Ye Chen menepuk-nepuk tangannya pelan, seolah baru saja membuang debu kotor.
"Sudah kubilang, teknikmu terlalu lemah," ucap Ye Chen.
Alih-alih diam di tepian, Ye Chen mulai melangkah maju. Saat ujung sepatunya menyentuh permukaan air Danau Bintang, ia tidak tenggelam. Tepat di bawah telapak kakinya, sebuah riak air berwarna keemasan menyebar, menopang tubuhnya sekeras lantai beton.
Tap... Tap... Tap...
Ye Chen berjalan di atas air dengan kedua tangan kembali masuk ke dalam saku jaketnya. Setiap langkahnya membuat seluruh permukaan danau seluas puluhan hektar itu bergetar pelan seirama dengan detak jantungnya.
"Berjalan di atas air tanpa menggunakan pijakan benda apa pun..." Jian Nantian menelan ludah dengan susah payah. Kakinya yang menapak di atas buluh bambu mulai goyah. Menggunakan benda untuk mengapung dan benar-benar berjalan di atas air murni adalah dua tingkat kultivasi yang sangat jauh berbeda!
"Jian Nantian," suara Ye Chen bergema, seolah datang dari segala penjuru. "Kau menantangku untuk membayar nyawa anak buahmu. Sekarang aku ada di sini. Keluarkan semua yang kau pelajari selama sepuluh tahun itu, atau malam ini akan menjadi malam terakhirmu memegang pedang."
Merasa harga dirinya sebagai Dewa Pedang diinjak-injak di depan ribuan mata, ketakutan Jian Nantian seketika berubah menjadi amarah yang membakar kewarasannya.
"JANGAN MEREMEHKANKU, BOCAH!"
Jian Nantian mengaum. Ia menggigit ujung lidahnya hingga berdarah, lalu menyemburkan esensi darahnya sendiri ke atas bilah pedang peraknya. Ini adalah teknik terlarang! Membakar esensi umur dan darah demi mendapatkan kekuatan absolut dalam waktu singkat.
WUSSS!
Aura Jian Nantian meledak tiga kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Pedang perak di tangannya kini memancarkan cahaya merah darah yang menyilaukan. Permukaan danau di sekitarnya mendidih, menciptakan kabut uap yang tebal.
"Terimalah kematianmu! Seni Pedang Badai Darah: Seribu Bayangan Membelah Langit!"
Jian Nantian melompat ke udara setinggi dua puluh meter. Ia mengayunkan pedangnya ratusan kali dalam satu kedipan mata. Ratusan bilah energi pedang berwarna merah darah terbentuk di udara, melesat bagaikan hujan meteor yang jatuh dari langit, mengunci seluruh arah pelarian Ye Chen!
Melihat hujan pedang darah yang menutupi langit itu, para penonton di tepian menjerit histeris dan berlarian mencari tempat berlindung. Satu tebasan saja bisa membelah batu karang, apalagi ratusan tebasan sekaligus?!
"MATI KAU, YE CHEN! MATIII!" Su Zheng berteriak kegirangan dari balik meja perlindungannya di paviliun.
Di tengah hujan kematian itu, Ye Chen berdiri dengan santai di atas air. Ia mendongak menatap Jian Nantian yang melayang di udara.
Cahaya keemasan tiba-tiba meledak dari sepasang pupil mata Ye Chen.
Ia menarik tangan kanannya dari saku, mengepalkan tinjunya, dan menariknya ke belakang pinggang. Udara di sekitar tinju Ye Chen mulai terdistorsi hebat, tersedot ke dalam pusaran energi True Qi emas yang membutakan mata.
Ini adalah pertama kalinya Ye Chen menggunakan serangan fisik murni dari warisan aslinya secara terbuka.
"Tinju Penakluk Naga: Bentuk Pertama... Naga Mengaum Membelah Lautan!"
Ye Chen meninju lurus ke arah langit!
GARRRRRRR!!!
Sebuah raungan binatang purba yang menggetarkan jiwa meledak dari tinju Ye Chen. Gelombang suara dari raungan itu begitu dahsyat hingga membuat kaca-kaca paviliun VIP pecah berantakan dan membuat telinga ribuan penonton berdarah.
Dari kepalan tangan Ye Chen, sesosok proyeksi raksasa berbentuk kepala Naga Emas Timur melesat keluar! Naga emas murni yang terbentuk dari True Qi itu membuka rahangnya lebar-lebar, menerjang ke atas langit.
Hujan seribu bayangan pedang darah milik Jian Nantian menghantam kepala naga emas itu. Namun, alih-alih melukainya, pedang-pedang darah itu hancur berkeping-keping begitu menyentuh sisik sang naga, bagaikan ranting kayu yang dilemparkan ke dalam mesin penggiling baja!
"T-TIDAK MUNGKIIIIN!" Jian Nantian menjerit putus asa saat bayangan naga emas itu menelan seluruh serangannya, lalu menabrak tubuhnya dengan telak di udara.
BOOOOOOMMM!!!
Ledakan energi emas menerangi langit senja Jiangbei layaknya matahari kedua yang terbit di malam hari.
Gelombang kejut dari ledakan itu menciptakan tsunami kecil setinggi lima meter di Danau Bintang, menyapu bersih sebagian dermaga dan membasahi seluruh penonton di tepian.
Dari tengah ledakan itu, sesosok tubuh hangus meluncur jatuh dengan kecepatan peluru, menghantam lantai paviliun VIP tempat Keluarga Su berada.
BRAKKK!
Lantai kayu pualam paviliun hancur berantakan. Tubuh itu berguling-guling hingga menabrak kaki Su Zheng.
Itu adalah Jian Nantian.
Sang Dewa Pedang kini terlihat sangat mengenaskan. Jubah putihnya hangus dan compang-camping. Seluruh tulang rusuknya remuk, meridiannya hancur lebur tanpa sisa, dan pedang perak kebanggaannya patah menjadi belasan bagian yang menancap di sekitarnya. Jian Nantian memuntahkan darah hitam dalam jumlah besar, matanya membelalak menatap langit-langit paviliun, napasnya tinggal satu helaan putus asa.
"K-Kau... kau bukan manusia... kau adalah Dewa..." Jian Nantian bergumam pelan, sebelum akhirnya kepalanya terkulai ke samping. Ia tidak mati, namun kultivasinya selama puluhan tahun hancur total. Ia kini tak lebih dari seorang kakek tua yang lumpuh cacat.
Hening.
Danau Bintang yang baru saja dilanda tsunami kini sunyi senyap. Hanya terdengar suara air yang beriak kembali normal.
Ribuan penguasa Jiangbei mematung, kaki mereka gemetar begitu hebat hingga banyak dari mereka yang langsung jatuh berlutut di tanah berlumpur, tidak berani mengangkat kepala mereka untuk menatap sosok di tengah danau.
Ye Chen menurunkan tinjunya. Ia menepuk-nepuk jaketnya yang sama sekali tidak terkena sepercik air pun. Ia berjalan di atas permukaan danau, perlahan menuju paviliun VIP Keluarga Su.
Setiap langkah Ye Chen bagaikan detak jam kematian bagi Su Zheng.
Penguasa konglomerasi Keluarga Utama Su itu kini tidak memiliki sisa-sisa keangkuhannya. Air kencing hangat mengalir membasahi celananya, menetes ke lantai paviliun yang hancur. Saat Ye Chen melangkah naik ke atas puing-puing paviliun, belasan pengawal elit Keluarga Su membuang senjata mereka dan langsung bersujud di lantai.
Su Zheng terhuyung mundur hingga punggungnya menabrak dinding.
"Y-Ye Chen... J-Jangan bunuh aku! Aku paman istrimu! Di tubuh kita mengalir darah yang sama!" Su Zheng menangis histeris, wajahnya berantakan oleh ingus dan air mata. Pria yang kemarin dengan arogan menjebak Yuhan di KTT Bisnis kini memohon nyawanya layaknya anjing liar.
Ye Chen berdiri tepat di depan Su Zheng, menatap pria paruh baya itu dengan jijik.
"Darah yang sama? Kau mengirim keponakanmu sendiri untuk diboikot, difitnah, dan kau berencana menjualnya jika aku kalah hari ini. Kau tidak pantas menggunakan kata keluarga."
Ye Chen mengulurkan tangannya, mencekik leher Su Zheng, lalu mengangkat tubuh gempal itu hingga kakinya melayang dari lantai. Su Zheng memberontak, mencengkeram tangan Ye Chen, namun tangannya terasa seperti memegang batangan baja.
"Dengar baik-baik, Su Zheng," suara Ye Chen dingin dan tanpa belas kasihan. "Kematian terlalu mudah bagimu. Aku akan membiarkanmu hidup, agar kau bisa melihat sendiri bagaimana kekaisaran yang kau banggakan hancur."
"Beri tahu seluruh pemegang saham Keluarga Utama Su. Dalam waktu 24 jam, seluruh aset konglomerasi Su, baik di Provinsi Jiangbei maupun di cabang mana pun, harus ditransfer secara legal atas nama Su Yuhan."
Mata Su Zheng melotot ngeri. Menyerahkan segalanya?! Ratusan miliar aset keluarganya?!
"Jika besok malam, di atas meja istriku belum ada dokumen serah terima itu..." Ye Chen mendekatkan wajahnya, membisikkan kalimat yang membuat jiwa Su Zheng melayang, "...aku akan mendatangi setiap rumah kerabat Keluarga Utama Su, dan aku akan mencabut nyawa kalian satu per satu dari generasi tertua hingga bayi yang baru lahir. Paham?"
"P-Paham! Paham! Ampuni nyawaku!" Su Zheng mengangguk histeris. Ia tidak punya pilihan. Menolak berarti pemusnahan massal.
Ye Chen melepaskan cengkeramannya, membiarkan Su Zheng jatuh tersungkur dan terbatuk-batuk dengan rakus menghirup udara.
Ye Chen berbalik, menatap ribuan elit Jiangbei yang masih berlutut di tepi danau. Tatapannya menyapu mereka semua, menanamkan rasa takut yang akan diturunkan hingga generasi cucu mereka. Mulai malam ini, tidak ada satu orang pun di seluruh Provinsi Jiangbei yang berani menyebut nama Ye Chen atau Su Yuhan dengan nada tidak hormat.
Sang Naga telah meratakan Ibu Kota Provinsi di bawah kakinya.
Pukul tujuh malam. Hotel Ritz-Carlton.
Su Yuhan sedang mondar-mandir di ruang tamu Presidential Suite. Layar laptopnya menampilkan laporan bisnis yang luar biasa, namun pikirannya sama sekali tidak tertuju ke sana. Wajahnya tegang, tangannya terus-menerus meremas ponselnya.
Master Tang berdiri di sudut ruangan, sama tegangnya, menunggu kabar dari informan Asosiasi Harimau Putih.
Cklek.
Suara pintu elektronik terbuka.
Yuhan langsung menoleh, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
Ye Chen melangkah masuk sambil menenteng sebuah kantong kertas dari restoran terkenal. Pakaian kasualnya bersih, tidak ada noda debu, apalagi darah. Senyumnya begitu cerah dan hangat, sangat kontras dengan pembantaian epik yang baru saja ia selesaikan setengah jam yang lalu.
"Maaf aku sedikit terlambat," ucap Ye Chen, mengangkat kantong kertas itu. "Antrean untuk membeli bebek panggang ini ternyata sangat panjang. Kau pasti sudah kelaparan, kan?"
Melihat suaminya pulang dengan utuh dan tersenyum, benteng ketegaran Yuhan runtuh seketika.
Ia berlari melewati meja tamu, dan langsung menghambur ke pelukan Ye Chen, memeluk pria itu dengan sangat erat seolah takut ia akan menghilang.
"Kau bodoh! Bodoh!" Yuhan menangis tersedu-sedu di dada Ye Chen, memukul punggung pria itu pelan. "Aku sangat khawatir! Kau berjanji akan pulang sebelum makan malam!"
Ye Chen tertawa renyah, sebelah tangannya membalas pelukan istrinya dengan lembut, sementara tangannya yang lain masih memegang bebek panggang agar tidak tumpah.
"Aku sudah pulang, Yuhan. Semuanya sudah selesai," bisik Ye Chen, mencium puncak kepala istrinya.
Master Tang yang melihat pemandangan itu dari sudut ruangan diam-diam mengusap air mata harunya, lalu menunduk hormat dan menyelinap keluar ruangan tanpa suara.
"Benarkah semuanya sudah selesai?" Yuhan mendongak, matanya yang basah menatap Ye Chen. "Lalu... lalu bagaimana dengan Ketua Jian Nantian itu? Dan Keluarga Utama?"
Ye Chen tersenyum tipis. "Ketua Jian ternyata adalah orang tua yang sangat masuk akal. Kami duduk mengobrol di tepi danau, dan dia menyadari kesalahannya. Soal Keluarga Utama Su... kurasa besok pagi kau akan menerima banyak sekali dokumen pengalihan aset untuk ditandatangani. Cabang perusahaanku sepertinya harus berekspansi lebih cepat dari dugaanmu."
Yuhan menatap Ye Chen, tahu bahwa suaminya pasti berbohong soal 'mengobrol' itu. Tapi melihat senyum tenang Ye Chen, Yuhan memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.
Di matanya, Ye Chen bukanlah monster pembunuh atau dewa perang yang tak terkalahkan. Ye Chen adalah pria yang akan membelah dunia demi melindunginya, lalu pulang membawakan makan malam untuknya. Dan itu sudah lebih dari cukup.
"Ayo makan," Yuhan tersenyum manis, menghapus sisa air matanya. "Aku memang sudah sangat lapar."
Malam itu, di saat seluruh konglomerat Provinsi Jiangbei merinding ketakutan dan sibuk menyusun strategi untuk menyembah penguasa baru mereka, Ye Chen dan Yuhan duduk dengan tenang di sofa hotel, menikmati bebek panggang berdua layaknya pasangan suami istri paling bahagia di dunia.