Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Jeritan histeris pecah menggema ke seluruh penjuru pusat perbelanjaan. Para pengunjung berlarian tak tentu arah dalam kegelapan total, saling bertabrakan satu sama lain untuk mencari jalan keluar.
Di tengah kekacauan itu, Bima berdiri tegak bagaikan batu karang yang diterjang ombak. Mata telanjangnya memang tidak bisa melihat dalam gelap, namun bagi seorang ahli bela diri tingkat tinggi yang telah memulihkan tenaga dalamnya, kegelapan justru menajamkan indra-indra lainnya.
Bima menarik pinggang ramping Clara dengan lengan kirinya, mendekapkan tubuh gadis yang sedang gemetar hebat itu ke dadanya yang bidang.
"Tutup matamu dan percayakan semuanya padaku," bisik Bima dengan suara berat yang mengalahkan bisingnya kepanikan di sekitar mereka.
Clara mengangguk cepat. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Bima, menghirup aroma maskulin bercampur wangi cologne mahal dari jas baru pemuda itu. Rasa takutnya perlahan menguap, digantikan oleh rasa aman yang luar biasa pekat.
Wush!
Sebuah hembusan angin yang sangat tajam membelah udara dari arah jam dua belas. Pembunuh pertama menerjang maju dengan pisau belati beracun, memanfaatkan kegelapan untuk menusuk jantung Bima.
Bima mendengus dingin. Tanpa menggeser kakinya dari tempat ia berpijak, Bima hanya memiringkan bahunya sedikit. Pisau itu mendesing melewati kemejanya. Di saat yang sama, tangan kanan Bima melesat maju bagaikan kilat.
Bugh!
Dua jari Bima menotok keras titik meridian mematikan di pangkal leher pembunuh itu. Pria berbaju hitam itu bahkan tidak sempat mengeluarkan suara rintihan sebelum tubuh besarnya ambruk ke lantai, lumpuh total layaknya boneka putus tali.
Namun serangan belum berakhir. Dari arah kiri dan kanan, dua niat membunuh menyergap secara bersamaan. Mereka menyerang dari sudut mati, mengincar Clara yang berada dalam dekapan Bima untuk memecah konsentrasi pemuda itu.
"Taktik murahan," gumam Bima.
Jari-jemari kanan Bima bergetar pelan. Tiga buah jarum perak seketika berpindah dari saku jas ke sela-sela jarinya. Ia memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat, menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng bagi Clara.
Sring! Sring!
Dengan jentikan pergelangan tangan yang dipenuhi oleh tenaga dalam murni, jarum-jarum perak itu meluncur bagaikan bintang jatuh di tengah malam. Suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam oleh teriakan pengunjung.
Jleb! Jleb!
"Argh!"
Dua suara erangan tertahan terdengar bersamaan. Senjata tajam berdenting jatuh membentur lantai marmer. Jarum perak Bima dengan akurasi tingkat dewa telah menembus tepat di saraf pergelangan tangan dan lutut kedua pembunuh tersebut. Mereka tersungkur jatuh, menggeliat menahan rasa sakit luar biasa yang membakar jalur saraf mereka.
Tiga pembunuh tingkat elit telah ditumbangkan hanya dalam waktu kurang dari lima belas detik.
Namun, insting Bima mendadak berteriak memberikan peringatan maksimal. Bulu kuduknya berdiri. Ancaman terbesar bukan berasal dari darat, melainkan dari lantai dua!
Di atas balkon yang gelap, pembunuh keempat sang penembak jitu telah membidikkan sebuah crossbow kecil berperedam. Anak panah beracun berwarna hitam legam meluncur tanpa suara, mengarah tepat ke kepala Bima.
Kecepatannya terlalu tinggi untuk dihindari, apalagi dengan posisi Bima yang sedang melindungi Clara.
Di detik yang sangat genting itu, Bima memusatkan seluruh tenaga dalamnya ke telapak tangan kanannya. Udara di sekitar tangannya seolah terdistorsi oleh hawa panas yang tak kasat mata.
Sret!
Bima mengangkat tangannya dan secara gila menangkap anak panah beracun itu dengan tangan kosong! Gesekan anak panah dengan telapak tangannya memercikkan sedikit bunga api kecil di kegelapan sebelum akhirnya berhenti total hanya dua sentimeter dari pelipisnya.
Sang pembunuh di lantai dua melebarkan matanya tak percaya. Ia berniat melarikan diri, namun terlambat.
Bima membalikkan arah anak panah itu dan melemparkannya kembali ke atas dengan kekuatan penuh, dibarengi dengan satu jarum perak terakhir sebagai pendorong.
Wush! Jleb!
"Ugh..."
Terdengar suara tubuh yang merosot dari balik pagar kaca lantai dua, sebelum akhirnya terdengar bunyi gedebuk keras menandakan sang penembak jitu jatuh pingsan tak berdaya.
Hening sejenak. Hanya nafas memburu Bima dan detak jantung Clara yang terdengar berpacu kencang.
Tiba-tiba, lampu darurat menyala. Cahaya keemasan kembali menerangi pusat perbelanjaan, disusul oleh lampu-lampu utama yang berkedip menyala satu per satu.
Orang-orang yang tadinya tiarap mulai berdiri perlahan, kebingungan. Satpam mall berdatangan dari berbagai penjuru sambil meniup peluit.
Di tengah lantai dasar, pengunjung memekik kaget melihat tiga pria berpakaian hitam tergeletak kaku di lantai dengan pisau-pisau berserakan di sekitar mereka.
Di antara tubuh-tubuh yang lumpuh itu, Bima berdiri tegak tak tersentuh. Jas kasualnya bahkan tidak kusut sedikit pun. Clara membuka matanya perlahan, mengedipkan matanya yang basah karena tegang. Ia mendongak menatap wajah Bima dari jarak yang sangat dekat. Pemuda itu memancarkan wibawa dan kekuatan yang membuat lutut Clara lemas, bukan karena takut, melainkan karena kekaguman yang teramat dalam.
"K-kau... kau tidak terluka, Bima?" tanya Clara dengan suara bergetar sambil menyentuh dada Bima.
Bima menurunkan tangannya dari pinggang Clara dengan sopan. Ia tersenyum tipis, meredakan aura membunuh yang tadinya meluap-luap.
"Saya baik-baik saja, Clara. Lalat-lalat ini sudah dibersihkan."
Beberapa satpam dan pihak kepolisian yang sedang berpatroli segera mengamankan lokasi. Bima menunjukkan identitas khususnya sebagai pengawal utama keluarga Herman, yang membuat para petugas langsung memberikan ruang dan rasa hormat yang tinggi.
Setelah memastikan para pembunuh bayaran itu diborgol dan diangkut untuk diinterogasi lebih lanjut, Bima menuntun Clara keluar dari pusat perbelanjaan menuju mobil anti peluru yang sudah menunggu di lobi.
Sesampainya di dalam mobil, Clara yang sedari tadi menahan emosinya, langsung memeluk lengan Bima dengan erat.
"Mereka... mereka tidak akan pernah berhenti mengincar kita, kan?" bisik Clara. Ada ketakutan di suaranya, namun genggaman tangannya pada lengan Bima sangat kuat, menandakan ia tidak ingin melepaskan pemuda itu sedetik pun.
Bima menatap lurus ke luar jendela mobil yang mulai basah oleh rintik hujan. Pandangannya menggelap dan sedingin es batu. Pertahanan pasif tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Selama Organisasi Serigala Malam masih bernapas, Clara dan keluarga Herman tidak akan pernah bisa hidup tenang.
"Mereka memang tidak akan berhenti, Clara," jawab Bima datar. Ia lalu menoleh dan menatap mata gadis itu dengan penuh keyakinan. "Karena itu, malam ini, saya sendiri yang akan mendatangi sarang mereka dan mencabut taring mereka sampai ke akar-akarnya."